Bab 9. Pergi tanpa ijin.

Evelyn menggenggam kalung miliknya begitu erat sekali, dengan pikiran yang bercampur aduk. "Jual atau jangan ya?" batin gadis itu bertanya-tanya.

Evelyn akhirnya mengantongi kalung emas miliknya itu kembali dan mengurungkan niat untuk menjualnya saat ini.

Selain karena belum menemukan toko berlian besar yang cocok, ia juga tidak mempunyai waktu untuk pergi menjualnya ke pusat kota.

Alhasil gadis remaja itu pergi ke rumah sakit untuk membesuk sang ibu, tanpa membawa uang satu sen pun.

Beruntung pihak rumah sakit mengerti kondisi keuangan pasiennya dan akan menangih biaya itu jika pasien telah keluar dari rumah sakit.

...----------------...

Tiga hari kemudian.

Rumah sakit.

Setibanya di tempat tujuan, Evelyn bergegas menemui ibu Angel yang masih terbaring lemas. Sudah tiga hari, kondisi wanita paruh baya itu belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.

Sehingga sang dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan darah ulang lebih lanjut lagi terhadap ibu Angel.

Hal tersebut membuat Evelyn semakin ketar-ketir, selain bertambahnya biaya rumah sakit, gadis itu juga takut akan hasil dari pemeriksaan ulang sang ibu.

Mengingat pernyataan sang dokter yang berkata kondisi ibu Angel, menunjukkan gejala-gejala seperti seorang pasien kanker darah.

Evelyn hanya mengangguk pasrah ketika sang ibu diambil darahnya kembali oleh seorang petugas kesehatan dan menunggu hasil dengan harap-harap cemas.

Air matanya semakin mengalir, saat sang dokter menyatakan jika ibu Angel di vonis penyakit mematikan.

Leukemia.

Evelyn tidak dapat membendung air matanya lagi, disaat mengetahui jika harapan hidup sang ibu angkat hanya tinggal beberapa tahun saja, karena tingkat penyakitnya itu sudah memasuki akhir stadium tiga.

Ia juga begitu bingung, ketika rumah sakit merujuk ibu Angel agar segera dipindahkan ke rumah sakit khusus untuk menangani penderita kanker.

...----------------...

Mansion Horisson.

Evelyn tidak ada pilihan lain selain menjual kalung berharganya itu, setelah upayanya meminjam uang kepada nyonya Grace tidak membuahkan hasil.

Apa! Leukemia? Apa kau tahu penyakit seperti itu akan memakan banyak biaya, bisa-bisa sampai habis milyaran rupiah, itupun kita tidak tahu ibumu bisa sembuh atau tidak.

Sekarang pikirkan Evelyn, jika kau meminjam uang kepadaku dengan memotong gajimu setiap bulan. Berapa lama hutangmu ini akan lunas hah? Belum lagi hutang-hutang ibumu terdahulu yang masih belum lunas, bekas mengobati suaminya yang sakit parah juga.

Tidak bisa! Walau ibumu adalah pelayan tertua dan terlama di mansionku ini, tapi biaya sebesar ini. Aku tidak bisa menanggungnya, milyaran rupiah itu sangatlah besar. Belum lagi biaya yang lainnya ....

Ucapan nyonya Grace membuat Evelyn melamun seharian, pekerjaan rumah pun jadi terbengkalai karena pikiran gadis remaja itu mulai bercabang kemana-mana.

Evelyn akhirnya memutuskan untuk pergi ke toko berlian di daerah cikini gold center, tanpa meminta ijin atau memberitahu siapapun termasuk nyonya Grace.

Hal tersebut membuat nyonya besar menjadi marah, saat mengetahui Evelyn tidak ada dirumahnya dan pergi tanpa ijin.

Wanita paruh baya itu juga semakin murka, ketika pekerjaan Evelyn tidak ada yang beres satu pun.

"Dasar anak pembantu! Lihat saja, dia akan ku pecat hari juga!" geram nyonya Grace melihat tumpukan baju serta ember berantakan dimana-mana dan semua barang-barang di dalam rumahnya tidak tersusun dengan rapih.

Lalu, nyonya rumah tersebut berdecak kesal dan berjanji akan menghukum Evelyn jika kembali ke rumahnya.

...----------------...

Cikini Gold Center.

Evelyn telah tiba di salah satu pusat perbelanjaan perhiasan emas dan berlian terbesar di Indonesia, dengan diantar oleh Pak Santos yang tidak tega setelah mengetahui temannya menderita penyakit serius.

"Apa kamu yakin mau menjual kalus emasmu itu" tanya Pak Santos yang sudah menganggap Evelyn seperti anaknya sendiri.

"Iya Pak, mau bagaimana lagi. Nyonya besar tidak memberikanku pinjaman uang, tuan besar juga sedang tidak ada ditempat. Kalau tuan muda Louise, nyonya besar melarangku untuk bicara maupun bertemu dengannya," jawab Evelyn hanya bisa pasrah.

Pak Santos menghela nafasnya panjang dan turut iba melihat gadis semuda itu harus berjuang sendiri membiayai pengobatan ibunya.

"Ya sudah, cepat bawa kalungmu. Bapak tunggu disini dan jangan lama-lama ya, nanti nyonya besar bisa memarahi kita karena keluar pakai mobilnya tanpa ijin," ucap Pak Santos sedikit khawatir karena mengantar Evelyn pergi menggunakan mobilnya.

Evelyn mengangguk cepat, kemudian bergegas masuk ke dalam gedung menjulang tinggi tersebut.

Setibanya didalam Evelyn dibuat bingung, karena banyaknya gerai yang menjajakan perhiasan berharga unggulan mereka di sebuah etalase.

Ada ketakjuban dimata gadis remaja itu, dimana perhiasan yang sedang dipajang begitu indah dan juga terlihat sangat mahal.

Namun ada satu gerai cukup besar yang mampu menarik indera penglihatannya, dimana gerai tersebut memiliki beberapa batu permata berharga yang sangat berkilauan.

Dan lebih hebatnya lagi, gerai tersebut ternyata salah satu cabang yang dikelola langsung oleh perusahaan pengolah dan pembuat batu intan permata terbesar di negeri ini.

Perusahaan itu bernama PT. Indo Berlian Perkasa, dimana perusahaan tersebut dipimpin oleh seorang kakek tua. Yang kehilangan anak serta menantunya dalam peristiwa kecelakaan mobil dalam waktu belasan tahun lalu.

Begitulah sekeping informasi yang diketahui oleh Evelyn saat diceritakan oleh tuan Horisson beberapa tahun yang lalu, sebagai pengganti cerita dongeng sebelum tidurnya.

...***...

"Permisi, apa di gerai ini bisa menjual emas atau semacam batu berlian?" tanya Evelyn kepada petugas keamanan di dalam gerai tersebut.

"Iya Nona silahkan masuk," sapa hangat sang petugas melayani.

"Terima kasih," balas Evelyn kemudian menuju salah satu karyawati didalam.

"Permisi ibu, aku ingin menjual kalungku ini. Apa bisa?" tanya Evelyn begitu gugup sekali. Karena ini kali pertamanya dia berurusan dengan dunia luar maulun harta berharga.

"Sudah pasti bisa nona manis, boleh ibu melihat kalungmu?" tanya ibu-ibu karyawan gerai perhiasan berharga disana.

Evelyn menurut, kemudian menyerahkan kalungnya kepada si ibu tersebut dan menunggu diperiksa olehnya.

Sang ibu karyawan itu begitu terkejut, ketika melihat simbol kepala naga dengan mulut terbuka yang sedang menggigit batu berlian.

"Seperti pernah melihat sekali, tapi dimana ya?" batin si ibu karyawati mengingat-ingat.

"Adik kecil, kau dapat kalung ini darimana?" tanya si ibu penasaran.

"Ini kalung milikku, aku sudah memiliki ini sejak lahir." balas Evelyn apa adanya.

"Lalu dimana orang tuamu? Apa alasanmu menjual kalung ini, apa kau punya kartu identitas?" tanya si ibu bertubi-tubi.

Evelyn dicerca beragam pertanyaan dan itu membuatnya kebingungan sekali. "Ibu, orang tuaku sedang sakit. Dia terkena leukimia, aku membutuhkan uang ini segera dan aku mohon bantulah aku untuk menukar kalung ini dengan sejumlah uang," pintanya sambil menangis.

Karyawati itu merasa iba, lalu berhenti bertanya dan mengurungkan niatnya untuk curiga. "Baiklah, jangan menangis gadis manis. Maaf kalau ibu membuatmu takut, tunggu sebentar biar ibu hitung dan periksa dulu ya."

Evelyn mengangguk dan berhenti menangis, dia duduk dengan tenang sampai namanya dipanggil oleh si ibu tadi.

Dan tak butuh waktu lama sang ibu tadi kembali dan memanggil dirinya. "Adik kecil, kemarilah!" panggilnya.

Evelyn bergegas menghampiri. "Bagaimana ibu? Apa kalungku bisa diterima disini?" tanyanya penasaran.

Ibu itu tersenyum. "Tentu saja bisa, tapi nilai kalung ini sangat tinggi dan kami tidak punya uang cash hari ini. Bagaimana kalau di transfer? Tapi itu juga butuh proses selama beberapa hari."

Evelyn terdiam dan menggeleng. "Aku tidak punya rekening," balasnya lesu.

Ibu itu menghela nafasnya. "Bagaimana kalau kau kembali lagi besok, atau meminjam rekening seseorang yang lebih dewasa seperti paman atau saudaramu?" sarannya.

Karena menurut wanita itu Evelyn masih belum cukup umur jika memiliki sebuah rekening dengan nominal yang luar biasa.

Evelyn pun terdiam kembali, kali ini cukup lama gadis itu berpikir dan selintas terpikir satu nama dibenaknya. "Tuan paman," batinnya.

"Ibu baiklah, kalau begitu besok aku akan kembali lagi kesini!" ucap Evelyn.

Ibu itu mengangguk. "Silahkan," balasnya ramah.

Evelyn akhirnya kembali pulang dalam kondisi tangan hampa, dan dia tidak punya pilihan lain selain meminta tolong kepada tuan pamannya, yaitu Louise.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Senajudifa

Senajudifa

kasiannya

2023-03-08

1

auliasiamatir

auliasiamatir

itu pasti toko kakek evelin

2023-03-04

1

Mommy Ghina

Mommy Ghina

waaah pasti Evelyn ke Louise nih

2023-01-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Bayi Evelyn.
2 Bab 2. Evelyn kecil.
3 Bab 3. Lamaran Tuan Horisson.
4 Bab 4. Hanya seorang anak pembantu.
5 Bab 5. Mulai mengajari Evelyn.
6 Bab 6. Menerka.
7 Bab 7. Leukositosis.
8 Bab 8. Harga sebuah kalung.
9 Bab 9. Pergi tanpa ijin.
10 Iklan sejenak
11 Bab 10. Pecat!
12 Bab 11. Mencari Evelyn.
13 Bab 12. Membawa ke rumah sakit.
14 Bab 13. Kepergian ibu Angel.
15 Bab 14. Membawa pulang.
16 Bab 15. Kak Selvi dan Mika.
17 Bab 16. Pameran berlian
18 Bab 17. Mencocokkan.
19 bab 18. Sebuah kebenaran.
20 Bab 19. Sepenggal kisah
21 Bab 20. Mengadu
22 Bab 21. Anak pembantu milik tuan muda.
23 Bab 22. Pembatalan pernikahan.
24 Bab 23. Sanksi tegas.
25 Bab 24. Guru Les
26 Bab 25. Hanya pria kotor.
27 Bab 26. Menginap di puncak.
28 Bab 27. Kembali pulang.
29 Bab 28. Menjenguk.
30 Bab 29. Rahasia besar Louise.
31 Bab 30. Tersesat.
32 Bab 31. Menemukan.
33 Bab 32. Dimarahi habis-habisan
34 Bab 33. Malam pertama Gisella
35 Bab 34. Keberuntungan Gisella
36 Bab 35. Mengerjai Gisella
37 Bab 36. Pergi
38 Bab 37. Terus mencari.
39 Bab 38. Mendadak pulang.
40 Bab 39. Menyebut ciri-ciri
41 Bab 40. Tertangkap.
42 Bab 41. Menggoyahkan pendirian
43 Bab 42. Jujur dan mengakui
44 Bab 43. Membujuk.
45 Bab 44. Pertengkaran.
46 Bab 45. Selamat tinggal.
47 Bab 46. Lima tahun kemudian
48 Bab 47. Telah sampai.
49 Bab 48. Ikut menyusul
50 Bab 49. Siapa dia?
51 Bab 50. Wanita misterius.
52 Bab 51. Tidak menyangka.
53 Bab 52. Terjatuh.
54 Bab 53. Terpana.
55 Bab 54. Jatuh ke kolam renang.
56 Bab 55. Terpaksa.
57 Bab 56. Anak pembantu milikku.
58 Bab 57. Perjanjian.
59 Bab 58. Menunggumu kembali.
60 Bab 59. Hari kelulusan.
61 Bab 60. Menagih janji.
62 Bab 61. Memberontak.
63 Bab 62. Meminta ijin.
64 Bab 63. Kematian Anthoni.
65 Bab 64. Memberi pengertian.
66 Bab 65. Keinginan Nyonya Merry
67 Bab 66. Terhipnotis.
68 Bab 67. Kecurigaan Gisella.
69 Bab 68. Ingin bercerai
70 Bab 69. Memijat.
71 Bab 70. Nonton bioskop.
72 Bab 71. Biang kerok.
73 Bab 72. Kakak perempuannya Steve.
74 Bab 73. Kehamilan Gisella.
75 Bab 74. Amarah Evelyn.
76 Bab 75. Permintaan Evelyn.
77 Bab 76. Penyesalan Opa Bernadi
78 Bab 77. Kecemburuan Louise.
79 Bab 78. Kesedihan Evelyn.
80 Bab 79. Menyadari.
81 Bab 80. Perdebatan Louise dengan Steve.
82 Bab 81. Berganti kepemimpinan.
83 Bab 82. Mengambil alih.
84 Bab 83. Tes DNA
85 Bab 84. Menolak membiayai
86 Bab 85. Tidak ada pilihan.
87 Bab 86. Kesulitan Ekonomi.
88 Bab 87. Upaya Gisella.
89 Bab 88. Sisi gelap Steve.
90 Bab 89. Kenyataan pahit.
91 Bab 90. Pertolongan Louise.
92 Bab 91. Mengangkat kasus lama
93 Bab 92. Perhatian Evelyn.
94 Bab 93. Pembacaan tuntutan.
95 Bab 94. Perdebatan panas.
96 Bab 95. Tersadar.
97 Bab 96. Memenangkan kasus
98 Bab 97. Cerai.
99 Bab 98. Karyawan sekaligus pembantu.
100 Bab 99. Akan menikahi.
101 Bab 100. Menghindar.
102 Bab 101. Kedatangan Steve.
103 Bab 102. Lampu Hijau.
104 Bab 103. Bebas.
105 Bab 104. Pacaran.
106 Bab 105. Pergi dua bulan.
107 Bab 106. Hasutan Steve.
108 Bab 107. Mengambil foto
109 Bab 108. Pulang mendadak
110 Bab 109. Berdebat.
111 bab 110. Membuat perhitungan.
112 Bab 111. Jangan pergi.
113 Bab 112. Pesona ketampanan Louise
114 Bab 113. Mahkota yang hilang.
115 Bab 114. Sakit.
116 Bab 115. Hari pernikahan.
117 Bab 116. Malam pertama (21 plus)
118 Bab 117. Kecebong lincah.
119 Bab 118. Kedatangan Tuan dan Nyonya besar
120 Bab 119. Pernikahan Ken dan Selvi.
121 Pengumuman novel baru.
122 Bab 120. Akhir cerita (Tamat)
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Bab 1. Bayi Evelyn.
2
Bab 2. Evelyn kecil.
3
Bab 3. Lamaran Tuan Horisson.
4
Bab 4. Hanya seorang anak pembantu.
5
Bab 5. Mulai mengajari Evelyn.
6
Bab 6. Menerka.
7
Bab 7. Leukositosis.
8
Bab 8. Harga sebuah kalung.
9
Bab 9. Pergi tanpa ijin.
10
Iklan sejenak
11
Bab 10. Pecat!
12
Bab 11. Mencari Evelyn.
13
Bab 12. Membawa ke rumah sakit.
14
Bab 13. Kepergian ibu Angel.
15
Bab 14. Membawa pulang.
16
Bab 15. Kak Selvi dan Mika.
17
Bab 16. Pameran berlian
18
Bab 17. Mencocokkan.
19
bab 18. Sebuah kebenaran.
20
Bab 19. Sepenggal kisah
21
Bab 20. Mengadu
22
Bab 21. Anak pembantu milik tuan muda.
23
Bab 22. Pembatalan pernikahan.
24
Bab 23. Sanksi tegas.
25
Bab 24. Guru Les
26
Bab 25. Hanya pria kotor.
27
Bab 26. Menginap di puncak.
28
Bab 27. Kembali pulang.
29
Bab 28. Menjenguk.
30
Bab 29. Rahasia besar Louise.
31
Bab 30. Tersesat.
32
Bab 31. Menemukan.
33
Bab 32. Dimarahi habis-habisan
34
Bab 33. Malam pertama Gisella
35
Bab 34. Keberuntungan Gisella
36
Bab 35. Mengerjai Gisella
37
Bab 36. Pergi
38
Bab 37. Terus mencari.
39
Bab 38. Mendadak pulang.
40
Bab 39. Menyebut ciri-ciri
41
Bab 40. Tertangkap.
42
Bab 41. Menggoyahkan pendirian
43
Bab 42. Jujur dan mengakui
44
Bab 43. Membujuk.
45
Bab 44. Pertengkaran.
46
Bab 45. Selamat tinggal.
47
Bab 46. Lima tahun kemudian
48
Bab 47. Telah sampai.
49
Bab 48. Ikut menyusul
50
Bab 49. Siapa dia?
51
Bab 50. Wanita misterius.
52
Bab 51. Tidak menyangka.
53
Bab 52. Terjatuh.
54
Bab 53. Terpana.
55
Bab 54. Jatuh ke kolam renang.
56
Bab 55. Terpaksa.
57
Bab 56. Anak pembantu milikku.
58
Bab 57. Perjanjian.
59
Bab 58. Menunggumu kembali.
60
Bab 59. Hari kelulusan.
61
Bab 60. Menagih janji.
62
Bab 61. Memberontak.
63
Bab 62. Meminta ijin.
64
Bab 63. Kematian Anthoni.
65
Bab 64. Memberi pengertian.
66
Bab 65. Keinginan Nyonya Merry
67
Bab 66. Terhipnotis.
68
Bab 67. Kecurigaan Gisella.
69
Bab 68. Ingin bercerai
70
Bab 69. Memijat.
71
Bab 70. Nonton bioskop.
72
Bab 71. Biang kerok.
73
Bab 72. Kakak perempuannya Steve.
74
Bab 73. Kehamilan Gisella.
75
Bab 74. Amarah Evelyn.
76
Bab 75. Permintaan Evelyn.
77
Bab 76. Penyesalan Opa Bernadi
78
Bab 77. Kecemburuan Louise.
79
Bab 78. Kesedihan Evelyn.
80
Bab 79. Menyadari.
81
Bab 80. Perdebatan Louise dengan Steve.
82
Bab 81. Berganti kepemimpinan.
83
Bab 82. Mengambil alih.
84
Bab 83. Tes DNA
85
Bab 84. Menolak membiayai
86
Bab 85. Tidak ada pilihan.
87
Bab 86. Kesulitan Ekonomi.
88
Bab 87. Upaya Gisella.
89
Bab 88. Sisi gelap Steve.
90
Bab 89. Kenyataan pahit.
91
Bab 90. Pertolongan Louise.
92
Bab 91. Mengangkat kasus lama
93
Bab 92. Perhatian Evelyn.
94
Bab 93. Pembacaan tuntutan.
95
Bab 94. Perdebatan panas.
96
Bab 95. Tersadar.
97
Bab 96. Memenangkan kasus
98
Bab 97. Cerai.
99
Bab 98. Karyawan sekaligus pembantu.
100
Bab 99. Akan menikahi.
101
Bab 100. Menghindar.
102
Bab 101. Kedatangan Steve.
103
Bab 102. Lampu Hijau.
104
Bab 103. Bebas.
105
Bab 104. Pacaran.
106
Bab 105. Pergi dua bulan.
107
Bab 106. Hasutan Steve.
108
Bab 107. Mengambil foto
109
Bab 108. Pulang mendadak
110
Bab 109. Berdebat.
111
bab 110. Membuat perhitungan.
112
Bab 111. Jangan pergi.
113
Bab 112. Pesona ketampanan Louise
114
Bab 113. Mahkota yang hilang.
115
Bab 114. Sakit.
116
Bab 115. Hari pernikahan.
117
Bab 116. Malam pertama (21 plus)
118
Bab 117. Kecebong lincah.
119
Bab 118. Kedatangan Tuan dan Nyonya besar
120
Bab 119. Pernikahan Ken dan Selvi.
121
Pengumuman novel baru.
122
Bab 120. Akhir cerita (Tamat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!