Evelyn menggenggam kalung miliknya begitu erat sekali, dengan pikiran yang bercampur aduk. "Jual atau jangan ya?" batin gadis itu bertanya-tanya.
Evelyn akhirnya mengantongi kalung emas miliknya itu kembali dan mengurungkan niat untuk menjualnya saat ini.
Selain karena belum menemukan toko berlian besar yang cocok, ia juga tidak mempunyai waktu untuk pergi menjualnya ke pusat kota.
Alhasil gadis remaja itu pergi ke rumah sakit untuk membesuk sang ibu, tanpa membawa uang satu sen pun.
Beruntung pihak rumah sakit mengerti kondisi keuangan pasiennya dan akan menangih biaya itu jika pasien telah keluar dari rumah sakit.
...----------------...
Tiga hari kemudian.
Rumah sakit.
Setibanya di tempat tujuan, Evelyn bergegas menemui ibu Angel yang masih terbaring lemas. Sudah tiga hari, kondisi wanita paruh baya itu belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.
Sehingga sang dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan darah ulang lebih lanjut lagi terhadap ibu Angel.
Hal tersebut membuat Evelyn semakin ketar-ketir, selain bertambahnya biaya rumah sakit, gadis itu juga takut akan hasil dari pemeriksaan ulang sang ibu.
Mengingat pernyataan sang dokter yang berkata kondisi ibu Angel, menunjukkan gejala-gejala seperti seorang pasien kanker darah.
Evelyn hanya mengangguk pasrah ketika sang ibu diambil darahnya kembali oleh seorang petugas kesehatan dan menunggu hasil dengan harap-harap cemas.
Air matanya semakin mengalir, saat sang dokter menyatakan jika ibu Angel di vonis penyakit mematikan.
Leukemia.
Evelyn tidak dapat membendung air matanya lagi, disaat mengetahui jika harapan hidup sang ibu angkat hanya tinggal beberapa tahun saja, karena tingkat penyakitnya itu sudah memasuki akhir stadium tiga.
Ia juga begitu bingung, ketika rumah sakit merujuk ibu Angel agar segera dipindahkan ke rumah sakit khusus untuk menangani penderita kanker.
...----------------...
Mansion Horisson.
Evelyn tidak ada pilihan lain selain menjual kalung berharganya itu, setelah upayanya meminjam uang kepada nyonya Grace tidak membuahkan hasil.
Apa! Leukemia? Apa kau tahu penyakit seperti itu akan memakan banyak biaya, bisa-bisa sampai habis milyaran rupiah, itupun kita tidak tahu ibumu bisa sembuh atau tidak.
Sekarang pikirkan Evelyn, jika kau meminjam uang kepadaku dengan memotong gajimu setiap bulan. Berapa lama hutangmu ini akan lunas hah? Belum lagi hutang-hutang ibumu terdahulu yang masih belum lunas, bekas mengobati suaminya yang sakit parah juga.
Tidak bisa! Walau ibumu adalah pelayan tertua dan terlama di mansionku ini, tapi biaya sebesar ini. Aku tidak bisa menanggungnya, milyaran rupiah itu sangatlah besar. Belum lagi biaya yang lainnya ....
Ucapan nyonya Grace membuat Evelyn melamun seharian, pekerjaan rumah pun jadi terbengkalai karena pikiran gadis remaja itu mulai bercabang kemana-mana.
Evelyn akhirnya memutuskan untuk pergi ke toko berlian di daerah cikini gold center, tanpa meminta ijin atau memberitahu siapapun termasuk nyonya Grace.
Hal tersebut membuat nyonya besar menjadi marah, saat mengetahui Evelyn tidak ada dirumahnya dan pergi tanpa ijin.
Wanita paruh baya itu juga semakin murka, ketika pekerjaan Evelyn tidak ada yang beres satu pun.
"Dasar anak pembantu! Lihat saja, dia akan ku pecat hari juga!" geram nyonya Grace melihat tumpukan baju serta ember berantakan dimana-mana dan semua barang-barang di dalam rumahnya tidak tersusun dengan rapih.
Lalu, nyonya rumah tersebut berdecak kesal dan berjanji akan menghukum Evelyn jika kembali ke rumahnya.
...----------------...
Cikini Gold Center.
Evelyn telah tiba di salah satu pusat perbelanjaan perhiasan emas dan berlian terbesar di Indonesia, dengan diantar oleh Pak Santos yang tidak tega setelah mengetahui temannya menderita penyakit serius.
"Apa kamu yakin mau menjual kalus emasmu itu" tanya Pak Santos yang sudah menganggap Evelyn seperti anaknya sendiri.
"Iya Pak, mau bagaimana lagi. Nyonya besar tidak memberikanku pinjaman uang, tuan besar juga sedang tidak ada ditempat. Kalau tuan muda Louise, nyonya besar melarangku untuk bicara maupun bertemu dengannya," jawab Evelyn hanya bisa pasrah.
Pak Santos menghela nafasnya panjang dan turut iba melihat gadis semuda itu harus berjuang sendiri membiayai pengobatan ibunya.
"Ya sudah, cepat bawa kalungmu. Bapak tunggu disini dan jangan lama-lama ya, nanti nyonya besar bisa memarahi kita karena keluar pakai mobilnya tanpa ijin," ucap Pak Santos sedikit khawatir karena mengantar Evelyn pergi menggunakan mobilnya.
Evelyn mengangguk cepat, kemudian bergegas masuk ke dalam gedung menjulang tinggi tersebut.
Setibanya didalam Evelyn dibuat bingung, karena banyaknya gerai yang menjajakan perhiasan berharga unggulan mereka di sebuah etalase.
Ada ketakjuban dimata gadis remaja itu, dimana perhiasan yang sedang dipajang begitu indah dan juga terlihat sangat mahal.
Namun ada satu gerai cukup besar yang mampu menarik indera penglihatannya, dimana gerai tersebut memiliki beberapa batu permata berharga yang sangat berkilauan.
Dan lebih hebatnya lagi, gerai tersebut ternyata salah satu cabang yang dikelola langsung oleh perusahaan pengolah dan pembuat batu intan permata terbesar di negeri ini.
Perusahaan itu bernama PT. Indo Berlian Perkasa, dimana perusahaan tersebut dipimpin oleh seorang kakek tua. Yang kehilangan anak serta menantunya dalam peristiwa kecelakaan mobil dalam waktu belasan tahun lalu.
Begitulah sekeping informasi yang diketahui oleh Evelyn saat diceritakan oleh tuan Horisson beberapa tahun yang lalu, sebagai pengganti cerita dongeng sebelum tidurnya.
...***...
"Permisi, apa di gerai ini bisa menjual emas atau semacam batu berlian?" tanya Evelyn kepada petugas keamanan di dalam gerai tersebut.
"Iya Nona silahkan masuk," sapa hangat sang petugas melayani.
"Terima kasih," balas Evelyn kemudian menuju salah satu karyawati didalam.
"Permisi ibu, aku ingin menjual kalungku ini. Apa bisa?" tanya Evelyn begitu gugup sekali. Karena ini kali pertamanya dia berurusan dengan dunia luar maulun harta berharga.
"Sudah pasti bisa nona manis, boleh ibu melihat kalungmu?" tanya ibu-ibu karyawan gerai perhiasan berharga disana.
Evelyn menurut, kemudian menyerahkan kalungnya kepada si ibu tersebut dan menunggu diperiksa olehnya.
Sang ibu karyawan itu begitu terkejut, ketika melihat simbol kepala naga dengan mulut terbuka yang sedang menggigit batu berlian.
"Seperti pernah melihat sekali, tapi dimana ya?" batin si ibu karyawati mengingat-ingat.
"Adik kecil, kau dapat kalung ini darimana?" tanya si ibu penasaran.
"Ini kalung milikku, aku sudah memiliki ini sejak lahir." balas Evelyn apa adanya.
"Lalu dimana orang tuamu? Apa alasanmu menjual kalung ini, apa kau punya kartu identitas?" tanya si ibu bertubi-tubi.
Evelyn dicerca beragam pertanyaan dan itu membuatnya kebingungan sekali. "Ibu, orang tuaku sedang sakit. Dia terkena leukimia, aku membutuhkan uang ini segera dan aku mohon bantulah aku untuk menukar kalung ini dengan sejumlah uang," pintanya sambil menangis.
Karyawati itu merasa iba, lalu berhenti bertanya dan mengurungkan niatnya untuk curiga. "Baiklah, jangan menangis gadis manis. Maaf kalau ibu membuatmu takut, tunggu sebentar biar ibu hitung dan periksa dulu ya."
Evelyn mengangguk dan berhenti menangis, dia duduk dengan tenang sampai namanya dipanggil oleh si ibu tadi.
Dan tak butuh waktu lama sang ibu tadi kembali dan memanggil dirinya. "Adik kecil, kemarilah!" panggilnya.
Evelyn bergegas menghampiri. "Bagaimana ibu? Apa kalungku bisa diterima disini?" tanyanya penasaran.
Ibu itu tersenyum. "Tentu saja bisa, tapi nilai kalung ini sangat tinggi dan kami tidak punya uang cash hari ini. Bagaimana kalau di transfer? Tapi itu juga butuh proses selama beberapa hari."
Evelyn terdiam dan menggeleng. "Aku tidak punya rekening," balasnya lesu.
Ibu itu menghela nafasnya. "Bagaimana kalau kau kembali lagi besok, atau meminjam rekening seseorang yang lebih dewasa seperti paman atau saudaramu?" sarannya.
Karena menurut wanita itu Evelyn masih belum cukup umur jika memiliki sebuah rekening dengan nominal yang luar biasa.
Evelyn pun terdiam kembali, kali ini cukup lama gadis itu berpikir dan selintas terpikir satu nama dibenaknya. "Tuan paman," batinnya.
"Ibu baiklah, kalau begitu besok aku akan kembali lagi kesini!" ucap Evelyn.
Ibu itu mengangguk. "Silahkan," balasnya ramah.
Evelyn akhirnya kembali pulang dalam kondisi tangan hampa, dan dia tidak punya pilihan lain selain meminta tolong kepada tuan pamannya, yaitu Louise.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Senajudifa
kasiannya
2023-03-08
1
auliasiamatir
itu pasti toko kakek evelin
2023-03-04
1
Mommy Ghina
waaah pasti Evelyn ke Louise nih
2023-01-14
0