Tuan Horisson mencekal pergelangan tangan istrinya agar berhenti memijat sebelum ia mendapatkan jawaban.
"Sayang, kenapa tingkah lakumu hari ini sangat aneh dan sejak kapan bi Santi menjadi kepala pelayan rumah ini?" tanya tuan Horisson.
"Sayang, itulah masalahnya. Angel dan anak pembantu itu telah lalai dalam menjalankan tugasnya, mereka berdua keluar dari rumah ini saat jam bekerja tanpa ijin. Jadi aku memecat mereka karena telah melanggar beberapa peraturan rumah," jawab nyonya Grace santai.
Mendengar kata-kata dipecat, tuan Horisson langsung berubah ekspresi tidak sukanya. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam nyonya Grace yang berubah linglung.
"Apa kau bilang, dipecat? Lalu ada dimana mereka sekarang ini?" tanya tuan Horisson.
Nyonya Grace menggedikkan kedua bahunya. "Entahlah, mungkin bekerja mencari majikan yang baru," jawabnya.
Tuan Horisson mencengkram baju istrinya hingga mendekat. "Jangan katakankan padaku kalau kau sedang berbohong atau sudah merangkai semua kata-kata fitnahmu itu."
Nyonya Grace menepis lengan tuan Horisson dari bajunya. "Sayang, kenapa kau lebih mempercayai mereka daripada diriku ini. Mereka telah bersalah dan sudah sepantasnya mereka mendapatkan hukuman!"
"Angel telah bekerja sangat lama di rumah ini, dari aku masih belum menikah denganmu hingga sampai saat ini. Aku tahu apa yang menjadi sifatnya atau apa saja yang tidak pernah dia lakukan selama ini!" tegas tuan Horisson.
"Sayang, jika kamu tidak percaya padaku coba kamu tanyakan saja kepada mereka semua yang berada disini!" balas nyonya Grace menunjuk orang dimanapun mereka berada.
"Bohong!" pekik Louise.
Semua matapun tertuju kepada pria tampan yang baru saja tiba dan berdiri dengan tatapan tajamnya.
"Bohong! Semua yang dikatakan Mommy bohong Daddy!" tegas Louise sekali lagi.
"Louise!" sentak nyonya Grace dengan sorotan tajamnya.
"Louise apa kau mengetahui sesuatu yang tidak Daddy ketahui atau adakah sesuatu yang telah disembunyikan oleh mommymu tentang apa yang terjadi selama Daddy pergi ke London?" tanya tuan Horisson.
Louise mengangguk. "Benar Daddy, Louise mengetahui segalanya."
"Kalau begitu apa yang sudah kau ketahui dan katakan semua pada Daddy tanpa ragu!" ucap tuan Horisson lalu menunggu putranya menjelaskan sesuatu tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun pada nyonya Grace.
"Daddy, sebelum aku memberitahumu tentang semua kebenaran yang terjadi. Ku harap Daddy menyiapkan mental dan tidak bersedih setelah mendengarkan apa yang ku katakan hari ini," ucap Louise sama menatap ke arah ibunya.
"Baiklah, sekarang katakan pada Daddy apa yang sudah kau ketahui Louise?" tanya tuan Horisson.
"Sebenarnya apa yang kau ketahui? Kebenaran apa hah? Mommy sungguh tidak mengerti dengan apa yang ingin kau bicarakan Louise?" tanya nyonya Grace menyela pembicaraan dan berusaha tenang sebisa mungkin.
"Diam!" sentak tuan Horrison kepada nyonya Grace. "Louise lanjutkan," tegasnya meminta pada Louise.
"Daddy, ibu Angel dia telah tiada." ucap Louise.
Tuan Horisson membelalakkan kedua matanya dan menatap Louise yang berubah sendu. "T-tiada ... Apa maksudmu Louise tolong jangan bercanda tentang hidup seseorang!" sentaknya tidak percaya.
Louise mengangguk. "Aku tidak berbohong Daddy, memang kenyataannya ibu Angel telah meninggal kemarin lusa. Dia menderita kanker darah dan tidak ada biaya untuk berobat," ucaonya kemudian menatap nyonya Grace yang ketakutan.
"Ini semua gara-gara Mommy, jika saja mommy memberikan pinjaman pada Evelyn waktu itu. Louise yakin dia tidak akan pergi dari rumah ini," ucap Louise gusar.
"Apa! Evelyn juga pergi dari rumah ini, lalu ada dimana dia sekarang katakan padaku!" sentak tuan Horisson bertanya.
Nyonya Grace menautkan kedua alisnya, lalu segera menyela pembicaraan tersebut. "Sedang bicara omong kosong apa kamu Louise!" sentaknya menyangkal.
Louise berdecih, lalu mengangkat sedikit tinggi rekam medis milik ibu Angel ke depan mukanya. "Mungkin berkas ini bisa menjadi bukti untuk semua yang terjadi," ucapnya kemudian menyerahkan dokumen tersebut ke tangan tuan Horisson.
Tuan Horisson menerima berkas-berkas tersebut dan segera membacanya. Bagai terkena petir di malam buta, dia seperti terkena hantaman batu besar diatas kepala.
Pria paruh baya itu terduduk lemas, ia meremass dadanya karena merasakan sesak akibat mengetahui satu kebenaran pahit yang menimpah ibu Angel. Lalu menatap istrinya dengan tatapan kecewa.
Sedangkan nyonya Grace seketika itu juga memalingkan wajahnya yang nampak pias dan begitu gugup, ia sampai merematkan jari jemarinya, sesekali berusaha menelan ludahnya yang tercekat.
Ujung ekor matanya melirik kearah berkas tersebut, dimana tercerai berai diatas lantai karena terjatuh dari genggaman sang suami dan terkejut.
"SURAT KETERANGAN KEMATIAN".
"Surat keterangan kematian dari rumah sakit, tapi bagaimana bisa ada ditangan Louise?" batin Nyonya Grace begitu panik.
"S-sayang, aku bisa jelaskan itu semua," ucap lembut nyonya Grace, dia segera duduk disamping sang suami sambil mengelus dadanya.
Namun tuan Horisson nampaknya telah berubah murka dan segera menepis tangan nyonya Grace agar tidak menyentuh tubuhnya. Lalu salah tangan besarnya itu melayang dan mendarat tepat diatas pipi nyonya Grace hingga menimbulkan suara nyaring.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itupun tercengang, termasuk Louise yang turut menyaksikan kejadian cepat tersebut.
Ini kali pertamanya mereka melihat tuan besar keluarga terhormat Horisson berani menampar wajah mulus istrinya, hanya karena membela seorang pembantu.
Nyonya Grace terbelalak, tidak pernah dalam seumur hidupnya dia mendapatkan perlakukan kasar dari siapapun, bahkan orang tuanya sendiri.
"S-sayang, k-kau ..." ucap nyonya Grace sambil memegang pipinya yang berdenyut.
"Diam kau dasar istri durhaka! Beraninya kau berbohong seperti ini kepada suamimu sendiri! Dan masalah sebesar ini, mengapa tidak ada yang memberitahu diriku!" bentak tuan Horisson.
"S-sayang, kau tega memukulku hanya karena masalah sepele ini. Apa kau tidak lihat kalau aku adalah istrimu, orang yang paling penting dalam hidupmu. Mengapa kau mementingkan urusan pembantu dan anak pembantu sialan itu!" ucap nyonya Grace tidak terima.
"Grace!" pekik tuan Horisson. Tangannya hampir saja mendarat di pipi istrinya lagi.
"Kenapa berhenti memukulku? Kenapa!" pekik nyonya Grace. Kali ini wanita itu berderai air mata, merasakan sakit dihatinya akibat menerima perlakuan kasar dari orang yang ia cintai.
Tuan Horisson meninju udara sekitar dan menjambak rambutnya karena frustasi, lalu pria paruh baya itu naik ke lantai atas dan menuju kamarnya, untuk mengambil sesuatu.
Dan tak butuh waktu lama, ia kembali lagi sambil membawa sebuah selimut bedongan bayi berbahan sutra yang pernah mereka hadiahkan untuk anak sahabatnya yang baru lahir.
Kemudian tuan Horisson menunjukkan kain tersebut kepada istrinya.
"Lihat ini! Apa kau ingat kain ini hah!" ucap tuan Horisson.
Nyonya Grace memandangi kain sutra terebut, kemudian merabanya dengan seksama. "Bukankah ini," ucapnya teringat sesuatu.
"Iya Grace, iya! Itu kain selimut yang kita hadiahkan pada bayinya Anthoni, bayi yang baru saja lahir dan apa kau tahu siapa bayinya yang telah hilang dan belum ditemukan sampai sekarang ini hem?" tanya tuan Horisson kembali.
Nyonya Grace menggeleng, tapi firasatnya mulai tidak enak. Apakah yang dimaksud oleh suaminya, mengenai bayi sahabatnya yang telah hilang itu adalah Evelyn.
"Ya Grace, dia Evelyn. Anak yang kau bilang anak pembantu itu adalah anaknya Anthoni! Anak yang sudah aku sembunyikan selama ini, di rumah ini. Dan aku bertekad akan menjaganya sampai aku menemukan siapa pelaku dibalik kecelakaan orang tuanya!" tegas tuan Horisson.
Mau tidak mau akhirnya pria itu membongkar identitas asli Evelyn didepan istrinya dan juga semua orang.
Nyonya Grace lantas terkejut, wanita itu sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Karena sungguh tidak disangka, selama ini dia selalu memaki seorang anak juragan tambang berlian dan emas terbesar di negara ini.
Lalu tidak ada bedanya dengan nyonya Grace, Louise pun ikut terkejut. Akan tetapi dirinya bukan terkejut karena identitas Evelyn yang telah diketahui oleh semua orang.
Melainkan dirinya terkejut, karena ternyata sang ayah juga mengetahui kebenaran sebesar ini dan menyimpan rahasianya tanpa sepengetahuan orang lain.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Thariq Zh
ceraikan saja si grace
2023-01-28
3
Mommy Ghina
syukurin grace, memang enak kena tampar
2023-01-27
2
Alda Yunita Triadi
up thor
2023-01-26
1