Evelyn terus berusaha melangkahkan kaki kecilnya selangkah demi selangkah menuju tempat dimana nyonya Grace dan Gisella berada.
Tangan mungil gadis kecil itu semakin lama semakin bergetar, akibat tekanan berat benda diatas nampan yang tidak sesuai dengan usianya yang masih muda.
Hal tersebut membuat Evelyn tidak sanggup menahan bobot nampan itu lebih lama lagi dan akibatnya benda persegi panjang ditangan gadis itu pun terlepas dari pegangan dan jatuh ke lantai.
"PRANG!!"
Semua piring dan juga gelas mewah diatas nampan yang berisi makanan serta minuman itu berjatuhan kemana-kemana.
Bahkan ada pecahan beling kaca yang berasal dari alat makan pecah tersebut, kini berserakan dilantai dan mengelilingi kaki Evelyn.
Semua pelayan yang berada di dekat gadis itu terperanjat kaget dan bergegas menghampiri ingin membantu, namun Nyonya Grace dengan tegas melarang mereka semua.
"Berhenti disitu! Jika ada dari kalian yang membantu anak itu, maka jangan salahkan aku memecat kalian semua!" titahnya begitu tajam.
Ibu Angel segera menghampiri nyonya Grace disaat Evelyn sedang melakukan kesalahan, lalu memohon kepada sang tuan rumah untuk memaafkan kesalahan anak angkatnya.
"Saya mohon Nyonya Besar jangan begitu keras kepada Evelyn, dia masih sangat kecil. Kalau ingin menghukumnya, maka hukumlah saya sebagai gantinya, karena tidak becus menjaga anak saya ini," mohon Ibu Angel sambil bersimpuh menundukkan kepalanya menghadap lantai.
Nyonya Grace berdecih. "Sudah sadar jika kau tidak becus mengurus anakmu ini hah!" sentaknya.
"Iya Nyonya Besar, saya mengaku salah. Tolong kebijaksanaan Nyonya untuk tidak menghukum Evelyn begitu keras," pinta Ibu Angel.
"Baiklah, aku akan memaafkan kesalahannya kali ini. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kau mengajari anakmu itu untuk bekerja dan mengurus pekerjaan rumah maupun pekerjaan dapur. Dan bukan itu saja, mulai sekarang anakmu dilarang untuk berinteraksi atau berhubungan dengan keluarga inti di rumah ini. Mengerti!" titah Nyonya Grace.
Ibu Angel mengangguk cepat. "Baik Nyonya besar, saya akan mengajari Evelyn agar bisa berguna di rumah ini dan menerapkan beberapa peraturan yang berlaku," balasnya patuh.
"Apa maksud semua itu Ibu? Apa aku harus menjadi seperti pelayan di cerita dongengku yang melayani ratu jahat?" tanya polos Evelyn tiba-tiba dan membuat Nyonya Grace bertambah geram.
"Beraninya anak ini!" bentak Nyonya Grace. Kedua matanya membola sempurna.
Ibu Angel segera membungkam mulut Evelyn dengan satu tangannya dan menunduk berkali-kali. "Maafkan Evelyn Nyonya, maafkanlah dia."
Nyonya Grace mendengus kesal, lalu sebuah tangan halus mengelus lengannya agar tenang. "Tenanglah Tante, dia hanya anak kecil dan belum mengerti dengan semua itu," ucap Gisella kemudian mengajak calon mertuanya untuk duduk.
Nyonya Grace menghela nafas panjang, lalu menoleh ke belakang dan tersenyum menatap Gisela. "Kau benar sayang, untung ada dirimu yang bisa menenangkan Tante. Kalau tidak semua orang disini, sudah Tante pecat," ucapnya menatap tajam Evelyn dan semua pembantu yang sedang mengutip pecahan kaca dilantai.
Evelyn menatap Gisela dan seketika itu dia berbinar. "Dia sangat cantik, seperti putri cerita dongengku. Dia juga bisa membujuk ratu jahat agar menjadi tenang lagi, kalau begitu aku harus menjaga nona Gisela agar bisa menikah dengan tuan paman dan menjadi nyonya bibiku suatu hari nanti," batin anak itu bergumam sendiri.
...***...
Ibu Angel mengajak Evelyn untuk pergi ke dapur untuk memberinya sedikit pengertian. Ia tersenyum dan mengusap tangan mungil anak angkatnya.
"Evelyn sayang, mulai sekarang jangan pernah berbicara atau mendekati tuan muda Louise lagi ya," ucap Ibu Angel menasehati.
"Kenapa aku tidak boleh berbicara dengan tuan paman?" tanya Evelyn.
"Sayang, kita hanya seorang pembantu disini dan tugas kita hanyalah bekerja mengurus semua pekerjaan rumah dan melayani mereka sebagai tuan rumah. Selain itu kita juga harus menjaga sikap dan mengerti akan posisi pekerjaan kita," balas Ibu Angel memberitahu.
Evelyn menunduk lesu. "Jadi, aku tidak boleh bermain dengan tuan paman lagi?"
Ibu Angel menarii dagu Evelyn agar menatap wajahnya. "Bukan hanya tuan paman, tapi seluruh anggota keluarganya. Ingatlah Evelyn, mereka semua adalah orang kaya. Uang dan kekuasaan berada ditangan mereka, kita disini bekerja untuk mencari uang. Jadi, jika kita ingin tetap bisa makan, maka patuhilah semua perintah dari tuan rumah ini."
Evelyn mengangguk mengerti. "Baiklah Ibu, Evelyn berjanji akan mematuhi semua peraturan rumah ini dan menuruti semua perkataan Ibu."
Ibu Angel tersenyum. "Gadis pintar, sekarang ikut dengan Ibu. Karena ibu akan mengajarimu beberapa pekerjaan rumah yang ringan," ucapnya.
"Baiklah," patuh Evelyn.
Semenjak saat itu Evelyn mulai belajar mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari membersihkan debu dan juga pekerjaan ringan lainnya.
Gadis kecil itu juga selalu menjauh jika ada Louise yanh sedang mencarinya, atau menolak siapapun agar berhenti bermain karena dia ingin sekali membantu sang ibu bekerja agar tidak dimarahi lagi oleh nyonya besar.
...----------------...
Enam tahun kemudian.
Enam tahun telah berlalu dan Evelyn kecil mulai tumbuh menjadi anak remaja dan kini dia telah menginjak usia 16 tahun.
Gadis itu telah mahir melakukan pekerjaan rumah, baik segala jenis pekerjaan ringan maupun pekerjaan berat lainnya.
Selain mahir dan cekatan dalam mengerjakan setiap pekerjaan rumah, nyatanya gadis itu semakin tumbuh besar, semakin cantik pula rupa wajahnya.
Walau hanya berpakaian seragam pembantu sederhana dan tanpa memakai riasan apapun diwajahnya. Namun mampu membuat pria manapun jatuh hati padanya.
Selain itu, lekuk tubuhnya semakin terlihat jelas. Menambah keyakinan, jika gadis itu akan sempurna jika sudah tumbuh dewasa nanti.
Hal tersebut membuat Nyonya Grace semakin panas dingin, terlebih melihat tatapan mata Louise yang berbeda saat melihat Evelyn tengah membersihkan meja kaca, serta barang pecah belah lainnya di dalam ruangan dimana keluarga Horisson sedang duduk berkumpul.
"Louise kau sudah berusia 32 tahun, sampai kapan kau akan menikahi Gisela?" tanya Nyonya Grace membuyarkan tatapan Louise dari Evelyn.
"Benar sayang, kau sudah bertunangan cukup lama. Tapi belum ada kepastian kau akan menikahinya," sela Tuan Horisson.
Louise menatap kedua orang tuanya. "Aku belum siap," balasnya enteng.
"Apa alasanmu belum siap Louise? Kau sudah bertunangan, umurmu juga sudah cukup untuk menikah. Kau punya jabatan bagus diperusahaan, bahkan kau telah punya rumah sendiri untuk berkeluarga nanti." Nyonya Grace merasa geregetan melihat putranya yang cuek bebek.
"Benar Louise, Daddy juga berasa tidak enak dengan keluarga Anderson. Mereka sudah mencecar pertanyaan itu dan memaksa Daddy untuk segera menikahkan mu dengan putrinya," ucap Tuan Horisson menimpali.
Louise mendesaah kecil. "Baiklah, aku akan menikahinya tahun depan."
Nyonya Grace dan Tuan Horisson lantas bergembira, saat mengetahui anaknya siap untuk menikah dengan wanita pilihan mereka. Begitu pula Evelyn yang mendengar hal tersebut dari kejauhan, dia terlihat senang sekali.
"Bagus! Kalau begitu Mommy akan mengabari kabar baik ini kepada Gisela, dia pasti akan senang sekali." Nyonya Grace berlonjak kegirangan kemudian pergi ke kamarnya untuk menelepon Gisela.
Lalu Tuan Horisson meraih ponsel dan menghubungi tuan Anderson untuk memberitahu hal tersebut serta membicarakan bisnis yang telah direncanakan sebelumnya.
Sementara itu Louise kembali menatap Evelyn yang telah selesai membersihkan debu pada benda-benda di dalam almari besar ruangan itu.
Kemudian beranjak dari tempat duduknya, sesaat melihat Evelyn pergi dari sana dan mengikutinya hingga ke dapur.
Pria itu tersenyum lembut, lalu berdiri tepat dibelakang gadis itu berada dan hendak mengejutkan Evelyn yang sedang mencuci tangan.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
auliasiamatir
evelin cocok jadi anak mu, luise
2023-02-24
1
Yuli Fitria
Iya, Evelyn. 🤧
2023-02-12
1
anan
up lagi k
2023-01-06
2