Sepuluh tahun kemudian.
Pada malam hari.
Evelyn kecil telah berusia sepuluh tahun dan sedang menyandarkan kepalanya diatas pangkuan sang ibu angkat, yang sedang membacakan dirinya sebuah cerita dongeng.
Suatu kebiasaan sebelum gadis itu tidur, karena Evelyn tidak akan bisa tertidur pulas jika sang ibu angkatnya belum membacakan satu penuh cerita dongeng kesukaannya.
"Ibu, apakah Cinderela itu orang miskin seperti kita?" tanya Evelyn setelah Ibu angkatnya itu selesai membacakan cerita.
Ibu Angel tersenyum dan menarik selimut untuk putri angkatnya. "Benar, Cinderela itu seperti kita."
"Apakah nanti ada seorang pangeran yang datang untukku?" tanya Evelyn.
Ibu Angel tersenyum. "Sudah pasti sayang, sekarang tidurlah." Tidak lupa memberikan satu kecupan hangat di dahi Evelyn.
Tak lama setelah itu, Evelyn pun tertidur dan pergi ke dunia mimpinya. Sesekali tersenyum dan memeluk boneka kesayangannya seperti guling.
Sedangkan Ibu Angel menatap putri angkatnya yang telah tumbuh menjadi anak remaja, sesekali menangis jika mengingat masa kecil anak itu yang cukup kelam.
...----------------...
Keesokan harinya.
Evelyn kecil kini telah telah tumbuh menjadi anak yang pintar dan rajin, serta memiliki wajah cantik nan manis tanpa cacat cela sedikit pun.
Ia memiliki rambut panjang, berhidung mancung dengan kedua bola mata biru yang indah dan memukau.
Keimutan dan juga tingkahnya yang lucu dalam mengerjakan suatu pekerjaan rumah, membuat Evelyn menjadi primadona di mansion Horisson tersendiri.
Tuan besar Horisson bahkan menganggap Evelyn termasuk bagian dari keluarganya dan memilih untuk tidak memberitahu anak tidak berdosa itu sesuatu kepahitan tentang keluarga aslinya agar tidak bersedih.
Dan membiarkan Evelyn hidup bebas, sebagai seorang anak pembantu yang disayangi oleh semua orang.
Evelyn kecil selain rajin dan cekatan, dia juga pintar mengambil hati serta menarik perhatian siapa pun mata yang melihatnya.
Termasuk Tuan muda Louise Alexander Horisson, putra tertua dari Tuan besar Horisson.
Pria muda tampan berusia 26 tahun itu, baru saja pulang dari Inggris setelah menyelesaikan studi dasar hingga S2 nya disana.
Ia segera melayangkan pandangannya kepada sesosok gadis kecil manis yang sedang bermain di dekat taman rumah.
"Siapa anak itu Daddy?" tanya Louise kepada Tuan Horisson.
"Dia anak yang kuceritakan padamu waktu lalu," jawab Tuan Horisson.
"Bukankah waktu itu dia masih bayi," ucap Louise.
"Ya, sekarang dia sudah berusia 10 tahun." Tuan Horisson kemudian memanggil Evelyn untuk menghampiri dirinya.
"Evelyn, kesini sayang!" panggil Tuan Horisson.
"Iya Tuan Besar!" sahut Evelyn lengkap dengan suara menggemaskannya. Kemudian berlari menghampiri Tuan Horisson.
"Iya Tuan besar, ada apa memanggilku dan siapa paman yang tampan ini," ucap Evelyn menatap Louise dan memujinya.
Tuan Horisson tertawa. "Lihat dia menggemaskan bukan," ucapnya pada Louise.
Dan Louise pun tersenyum. "Kau benar Daddy," ucapnya lalu menatap Evelyn dan sedikit membungkukkan badan. "Gadis manis, kau bisa saja memujiku. Apa kau menginginkan hadiah dari Paman hm?" tanyanya.
Evelyn menggeleng. "Tidak Paman, kau memang tampan dan mirip seperti seorang pangeran dalam cerita dongengku," balasnya polos.
"Benarkah? Lalu siapa putri dongeng yang kau sukai?" tanya Louise lalu memangku Evelyn agar duduk di atas pangkuannya.
"Aku menyukai Cinderella," balas Evelyn dengan senyum di bibir mungilnya.
"Kenapa kau menyukai Cinderella?" tanya Louise.
"Karena Cinderella sama sepertiku, cantik dan juga rajin," balas Evelyn.
"Kau benar, Cinderella sangat cantik dan rajin. Paman juga menyukai Cinderella," balas Louise.
Kedua bola mata berwarna biru Evelyn seketika berbinar menatap Louise. "Kalau begitu jadilah pangeranku Tuan Paman," ucapnya meminta.
Louise terkekeh dan mengusap puncak kepala Evelyn. "Paman akan menjadi pangeranmu, tapi tunggulah hingga kau menjadi dewasa nanti."
"Hore! Akhirnya aku punya seorang pangeran tampan!" seru Evelyn kemudian berlarian sambil mengangkat kedua tangannya keatas dan memberi tahu siapa pangeran tampannya kepada semua orang.
Hal tersebut membuat semua orang yang melihat tingkah lucu Evelyn menjadi tertawa, tapi tidak untuk Nyonya besar keluarga Horisson yang bernama Grace Horisson.
Istri dari Tuan besar Horisson menganggap Evelyn sebagai ancaman, karena gadis kecil itu bisa saja merebut hati Louise jika sudah besar nantinya.
Hal itu membuat Nyonya Grace merasa cemas, karena dia telah menjanjikan untuk menikahkan Louise dengan seorang wanita cantik bernama Gisella Anderson.
Seorang putri dari keluarga Anderson yang kaya serta terpandang dan berstatus sama dengan keluarga Horisson sendiri.
"Tidak akan ku biarkan anak pembantu miskin itu mendekati putraku," gumam Nyonya Grace menatap tajam kejadian menggemaskan yang sedang terjadi luar rumahnya.
...***...
Setelah keadaan telah sepi Nyonya Grace menghampiri Evelyn yang sedang bermain ayunan di taman.
"Evelyn," panggil Nyonya Grace.
Evelyn menoleh dan segera beranjak dari ayunannya. "I-iya Nyonya besar!" sahutnya dengan sedikit menunduk.
"Kau tinggal disini harus bisa berjaga sikap, ingatlah akan statusmu itu dan jangan terlalu dekat dengan putraku," balas Nyonya Grace memperingati.
"Kenapa aku tidak boleh mendekati Tuan Paman Nyonya besar?" tanya Evelyn tidak tahu.
"Turuti saja perintahku atau aku akan mengusirmu dari sini!" tegas Nyonya Grace.
Evelyn mulai menangis terisak dan menggeleng. "Jangan Nyonya besar, jangan usir aku dari sini. Nanti aku tinggal dimana?" mohonnya sambil mencubit baju sang majikan dengan tangan mungilnya.
Nyonya Grace menghela nafasnya. "Evelyn, jangan menangis. Kau tinggal disini sebagai anak pembantu, jadi bersikaplah layaknya seorang pembantu. Tuan Louise akan segera menikah dan aku tidak ingin kau mengganggu hidupnya."
"Apa artinya itu, aku tidak mengerti Nyonya besar," balas Evelyn mengusap air matanya di pipi.
"Suatu saat nanti kau akan mengerti," balas Nyonya Grace lalu meninggalkan Evelyn untuk masuk ke dalam rumah.
Evelyn kemudian berjongkok. "Menikah? Apa itu? Apa mungkin aku akan punya nyonya bibi?" tanyanya pada bunga-bunga di taman yang sedang bermekaran.
"Kalau begitu aku harus menjaga tuan paman agar tidak ada wanita lain yang berani mendekatinya, sampai nyonya bibi datang kemari dan menikah dengan tuan paman," oceh Evelyn sendirian.
Lalu ia bertekad akan menjaga tuan pamannya itu dari godaan wanita lain, sampai tiba waktunya sang nyonya bibi datang ke rumah ini.
...***...
Louise memanglah pria yang tampan, wanita manapun akan jatuh hati setelah melihat dirinya.
Apalagi disaat pria itu sedang tersenyum, bagaikan turunnya air hujan di daratan tanah yang tandus. Membuat wanita manapun akan merasa teduh jika menatap dirinya.
Namun siapa sangka dibalik wajah tampannya itu, faktanya banyak orang yang tidak mengetahui sifat asli dari Louise Alexander Horisson.
Yang ternyata pria itu memiliki kebiasaan buruk selama dirinya belajar dan tinggal di London, yaitu sering bermain-main dengan seorang wanita tanpa diketahui oleh keluarga besarnya.
Louise kerap dianggap sebagai pria cassanova oleh wanita yang pernah bermain atau menjadi teman ranjangnya.
Bagaimana tidak, karena hanya dengan merasakan sentuhan tangannya saja. Membuat wanita manapun akan terperangkap masuk ke dalam permainannya itu begitu saja tanpa ada penolakan yang berarti.
Namun walau begitu Louise tidak pernah ada sekalipun niat serius untuk menikahi salah satu wanita yang pernah menjadi teman ranjangnya.
Karena dia tidak ingin terikat oleh hubungan apapun dengan wanita manapun di dunia ini, mengingat statusnya yang tidak pernah serius menjalani sebuah ikatan pernikahan.
.
.
Bersambung.
Hai kenalkan aku Evelyn kecil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Puspa Rani
cantik ya evelin kecil 😘😘😘
2023-06-13
2
Senajudifa
msh kecil aj cantik
2023-03-08
1
auliasiamatir
ahj keren ceritnya.
2023-02-18
1