"Louise! Evelyn!" sentak Nyonya Grace tidak suka melihat kejadian tersebut.
Evelyn segera turun dari pangkuan Louise dan menunduk takut saat nyonya Grace melolot ke arahnya.
"Mom, kenapa kau berteriak seperti itu. Lihatlah Evelyn, dia sangat ketakutan." Louise mendekap tubuh mungil Evelyn yang gemetaran.
"Louise, menjauhlah dari anak pembantu itu. Apa kau sadar tindakanmu itu sangatlah tidak pantas? Bagaimana kau bisa berdekatan dengan anak yang statusnya jauh diatas keluarga kita," ucap Nyonya Grace menekankan posisi keluarganya.
Louise menghela nafas kasar, kemudian melepaskan Evelyn agar pergi dari tempatnya berada, lalu menatap tidak suka ibunya itu.
"Mom, dia hanyalah anak kecil. Mengapa kau menunjukkan status sosial kepadanya, dia tidak akan mengerti. Dan asal Mommy tahu saja, sikap keras Mommy kepadanya itu bisa mempengaruhi mental maupun psikisnya," ucap Louise sambil menyugar rambutnya.
"Masa bodo, yang jelas Mommy tidak suka kamu berdekatan dengan anak pembantu itu lagi. Titik!" tegas Nyonya Grace.
"Kenapa aku tidak boleh mendekati anak itu? Apa karena dia adalah seorang anak pembantu? Dia hanya seorang anak kecil biasa yang masih suka bermain. Bahkan di usianya yang sekarang itu seharusnya dia sedang mengeyam pendidikan, tapi apa? Kau tidak mengijinkan dia bersekolah dimanapun," ucap Louise kemudian pergi menjauh dari ibunya dengan perasaan kesal.
"Louise!" pekik Nyonya Grace memanggil.
"Tante sudahlah jangan memarahi Louise lagi, dia tidak bersalah dan menurutku anak pembantu itulah yang selalu mendekati Louise," serobot Gisella sambil mengusap-usap lengan Nyonya Grace agar tenang.
"Benar, pasti anak pembantu itu yang selalu saja mendekati Louise dengan segala kepolosan dan tingkah manjanya. Jika tidak, bagaimana mungkin Louise maupun orang-orang disini amat menyukainya," balas Nyonya Grace sedikit geram jika mengingat perhatian suaminya terhadap Evelyn yang begitu berlebihan.
"Sudahlah, Tante. Bagaimana kalau kita shoping ke mall, bukankah Tante bilang ingin mengajakku berbelanja?" rayu Gisella agar Nyonya Grace melupakan kekesalannya.
Nyonya Grace pun menepuk jidatnya. "Ah iya kau benar sayang. Tante hampir saja lupa, ini semua gara-gara anak pembantu itu. Yu kita pergi sekarang!"
Gisella tersenyum, kemudian menggandeng lengan Nyonya Grace dan mengajaknya pergi ke luar untuk bersenang-senang.
...***...
Kamar pembantu.
Disisi lain Louise menghampiri kamar pembantu dimana Evelyn berada sekarang, pria tampan itu jalan berjinjit-jinjit dan mengintip ke dalam kamar tersebut.
Louise tersenyum dan menatapi punggung mungil Evelyn yang sedang berbaring dikasurnya sambil memeluk sebuah boneka yang sedikit termakan usia.
"Duarr!!"
"Aakkhh!!
Louise mengejutkan Evelyn, hingga gadis kecil itupun terjingkrak bangun dan refleks memeluk Louise karena saking terkejutnya.
Kedua matanya terpejam erat, sambil mengalungkan kedua lengan mungilnya di leher kekar Louise.
"Hehe ..." Louise terkekeh dan berusaha menenangkan Evelyn yang ketakutan didalam pelukannya itu.
"Evelyn ini Tuan Paman, maaf ya kalau membuatmu takut." Louise mendorong lembut Evelyn agar melepaskan pelukannya. Lalu menatap lekat wajah cantik gadis mungil itu. "Buka matamu Evelyn, ini tuan Paman. Pangeran tampanmu," ucapnya tersenyum.
"Tuan Paman ...." Evelyn membuka kedua matanya perlahan dan menatap baik-baik wajah yang telah berhasil mengejutkannya.
"Kau jahat sekali!" sentak Evelyn kemudian menangis terisak sambil menutupi wajahnya.
"Iya maaf, tuan paman telah salah. Sekarang berhentilah menangis, karena tuan paman punya sesuatu untukmu." Louise berdiri lalu menarik tangan Evelyn untuk ikut dengannya.
"Tuan Paman kita mau kemana? Aku tidak ingin ikut denganmu," balas Evelyn menggelengkan kepala, sambil menarik lengan mungilnya agar tidak melangkah maju.
Louise menoleh ke belakang. "Kenapa tidak mau ikut tuan Paman, Evelyn?" tanyanya.
"Nanti nyonya besar akan marah lagi padaku, dan aku takut nyonya besar nanti memecat ibu dan mengusir kami berdua dari sini," jawab Evelyn menunduk.
Louise menghela nafasnya dan memikirkan ada benarnya juga perkataan gadis kecil itu. "Baiklah, tuan Paman tidak jadi memintamu untuk ikut. Tapi sebagai gantinya, kau harus tersenyum lagi dan tidak boleh menangis seperti tadi."
Evelyn mengangkat wajahnya dan menatap Louise si sang pangeran tampannya, kemudian mencoba tersenyum.
"Gadis pintar," seru Louise tersenyum, sambil mengusak puncak kepala Evelyn.
...***...
"Tuan Paman, apa wanita tadi itu adalah nyonya bibiku?" tanya polos Evelyn yang sedang duduk, sambil mengayun-ayunkan kakinya.
"Hem ... Dia akan menikah dengan tuan Paman," jawab Louise.
"Kalau begitu cepatlah menikah dan buatlah bayi, biar aku punya adik untuk bermain."
Louise seketika menoleh dan terkekeh. "Buat bayi?" batinnya merasa lucu. Mengingat dirinya tidak pernah serius berhubungan dengan seorang wanita, menjadikan pria itu tertawa sendiri.
"Kenapa tuan Paman tertawa? Bukankah menikah itu sangat diimpikan oleh setiap orang. Tuan Paman sangat tampan dan nyonya bibi tadi sangat cantik, pasti kalian berdua akan bahagia seperti cerita dongengku," balas Evelyn.
"Evelyn, tidak semua cerita dongeng sama dengan dunia nyata. Kau masih terlalu kecil untuk mengetahui dunia para orang dewasa itu seperti apa kenyataannya," ucap Louise. Namun Evelyn hanya bengong saja tidak mengerti.
...***...
Nyonya Grace bersama calon menantunya telah tiba di rumah, wanita glamor itu segera menghempaskan tubuhnya di sofa berharga ratusan juta untuk melepas lelah karena berjalan-jalan di mall demi membeli kebutuhan pribadi yang sebenarnya tidak perlu untuk dibeli.
Namun, demi menyenangkan hati sang calon menantu, wanita paruh baya itu tidak memusingkan biaya pengeluaran yang ia keluarkan untuk berbelanja tadi.
Nyonya Grace memanggil salah satu pelayan tumahnya untuk memijat kedua kakinya yang sudah diangkat diatas meja kecil dalam ruangan itu, begitu pula dengan Gisella yang meminta jasa layanan pijat keluarga Horisson.
"Pijat kaki kami berdua!" titah Nyonya Grace.
"Baik Nyonya besar!" seru sang pelayan.
Namun kedua netra wanita paruh baya itu merasa gatal saat melihat Evelyn berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Evelyn!" panggil Nyonya Grace sedikit memekik.
Evelyn pun terperanjat kaget, lalu menoleh ke arah sumber suara yang telah memanggilnya. Kedua bola mata gadis itu membulat, melihat sang nyonya nesar menatap tajam dirinya.
"Kesini kamu!" titahnya lagi.
"B-baik nyonya besar!" sahut Evelyn, kemudian menghampiri Nyonya Grace.
"Minta ibumu untuk membuatkan kami cemilan ringan dan buatkan jus jeruk, lalu bawakan kesini. Cepat!" titah nyonya Grace begitu tegas.
Evelyn menggangguk cepat. "B-baik Nyonya," patuhnya kemudian bergegas ke dapur.
"Tante, dia masih kecil. Apa bisa melakukan itu semua?" tanya Gisella merasa ragu.
"Tidak apa, Tante ingin membuat dia menyadari sesuatu, bahwa statusnya disini hanyalah seorang anak pembantu," balas Nyonya Grace.
Tak berapa lama kemudian Evelyn datang dengan memegang nampan besar berisi makanan dan juga minuman, nampan tersebut bahkan lebih besar daripada lebar tubuhnya.
Semua maid tidak tega melihat Evelyn menahan beban seberat itu, termasuk Ibu angkatnya sendiri. Namun titah nyonya Grace melarang semua maid agar tidak membantu Evelyn, membuat semua orang tidak berdaya membantu Evelyn.
"Bawa kesini makanannya!" titah nyonya Grace ketika melihat Evelyn telah muncul di kejauhan.
Gadis kecil itu sudah mengeluarkan keringat dingin, selain karena menahan beban yang begitu berat pada nampan besar dikedua tangannya, dia juga takut akan kemarahan nyonya Grace jika tidak berhasil membawa nampan tersebut kehadapan nyonya besar.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Siti Mujimah
jahat amat itu majikan .. kasihan Evelyn .pdhl sebenarnya dia juga anak orang kaya tp terbuang .. kasian amat gk sekolah y.. kenapa sih tuan besar nya gk berbaik hati untuk menyekolahkannya..
2023-11-12
2
Tatik Tabayy
JHT kalii, nyonya Grace 😭😭😭😭
2023-10-15
2
Senajudifa
lempar aj kemukax tuh evelin biar tuh nyonya kapok
2023-03-08
1