Lily mengangguk cepat.
"Bagus!" Camelia tersenyum jahat."pergilah."
Lily berlari cepat meninggalkan tempat itu. Dengan degub jantung yang cepat Lily bersandar pada tembok. Lily memegangi dadanya. Lily masih dapat mengingat dan merasakan tangan pria-pria itu meremas dadanya dengan sangat kencang.
"Kuatkan aku, Tuhan."
Setelah mengatur degub jantung dan juga tubuhnya tak lemas lagi, Lily mengayunkan kakinya perlahan. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil minum. Meminumnya dengan sekali teguk. Lalu berjalan lagi setelah perasaan dan tenaganya benar-benar pulih.
"Ini trauma terhebat yang pernah aku alami. Aku harus segera menyingkirkan, aku tak mau ini jadi kelemahan ku. Aku harus kuat, tempat ini sangat mengerikan. Dan aku hanya sendiri di sini." Gumam Lily pelan.
Lily teringat dengan mimpinya semalam. Teringat dengan pria yang dengan sorot mata lembut dan indah. Suara pria itu terlintas di kepalanya.
("Jangan bersedih, aku akan membalasnya untukmu.")
Lily tersenyum kecut. "Andai saja, kau adalah wujud yang nyata. Bukan imajinasi dari mimpiku karena aku sangat tertekan."
Lily melewati lorong yang sedikit berbeda untuk mencari suasana baru, saat akan melangkah ke kamar Axelo.
Sayup, Lily mendengar suara Camelia dan Elvan bercakap. Lily berjalan mengendap lalu berdiri di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Dari sana terdengar lebih jelas percakapan itu.
"Anak sialan itu! Kita gagal lagi membunuh Axelo."
Lily menutup mulut nya yang refleks melebar. Dengan cepat Lily mengambil hp dan menekan tombol rekam.
"Mungkin ini akan berguna untukku di kemudian hari." Gumam Lily dengan tangan bergetar.
"Sudahlah, toh Axelo kini hanya bisa berbaring tanpa bisa apa-apa. Kita nikmati dulu sembari memindahkan perlahan asetnya. Dan gadis itu, kita masih bisa menggunakan nya." Suara Elvan terdengar jelas.
Lily terus nutup mulutnya karena tak percaya dengan setiap penuturan dari paman dan bibi Axelo. Keduanya mengatakan dengan sangat jelas. Jika merekalah yang sudah menyabotase mobil yang Axelo kendarai dan menyembunyikan mobil itu di suatu tempat. Lalu menggantinya dengan mobil lain berjenis sama.
Lily tidak merekam pembicaraan itu sampai akhir. Ia berhenti saat merasa cukup bukti. Setidaknya cukup untuk membuat Camelia tak berkutik, jika berniat mengancamnya. Ia akan mengancam balik.
Lily menutup pintu kamar Axelo dan bersandar di sana sambil mengatur nafas yang memburu.
Lily menatap tubuh suaminya yang terbaring di atas ranjang. Lily merasa sangat iba pada Axelo. Gadis itu berdiri dan duduk di pinggiran ranjang.
"Suamiku, kenapa semua orang di rumah ini sangat mengerikan? Bagaimana bisa kamu memiliki bibi sejahat itu? Ya Tuhan." Lily menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kau sampai seperti ini karena mereka." Lily menggerutu, lalu Lily tertawa lirih menertawakan nasib dirinya dan Axelo."kita memang pasangan yang menyedihkan. Kamu memiliki kuasa, tapi hanya terbaring di sini tanpa bisa melakukan apapun. Sementara aku, aku hanyalah boneka malang yang tak bisa apapun. Suamiku, kenapa kita tidak bertukar tempat saja. Agar kamu bisa membalas mereka?"
Sejenak dalam keheningan.
"Aku tak bisa menyimpan bukti ini sendirian, tapi, siapa orang yang bisa di percaya?" Lily bergumam lagi sembari menatap suaminya yang setia memejamkan matanya.
"Raize?"
Lily menggeleng pelan.
"Tuan Douglas?"
Lily menggeleng lagi.
"Axelo?"
Tatapn mata Lily berubah menjadi tajam dan bertekat.
Lalu Lily berdiri dan mulai membuka nakas, mencari-cari ponsel milik suaminya. Lily memang menemukannya, tapi ponsel itu mati. Lily berdecak. Dan mulai mengisi daya.
"Suamiku, aku harap kamu tidak mengkode benda ini." Gumam Lily berharap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments