"Wah, siapa ini yang datang?" Suara ketukan sepatu pantofel dengan lantai marmer beradu diiringi sosok Clarisa yang mendekat.
Gadis cantik dengan gaun berwarna merah menyala seperti polesan lipstik di bibirnya. Menyungging senyum angkuh pada Lily yang berbanding terbalik dengan gaya Clarisa.
"Sepertinya kamu sangat nyaman tinggal di rumah ini, Clarisa."
Lily, gadis cantik yang sederhana namun memiliki hati lembut. Sikap dan sifat kerasnya adalah bukti tempaan hidup yang dia jalani.
"Sepertinya kamu sangat cocok dengan hidupmu di luar sana." ujar Clarisa memandang rendah Lily dari atas ke bawah.
"Benar. Aku menyukai hidup diluar tanpa merampas milik orang lain." Ucap Lily berjalan mendekat dan merapikan gaun Clarisa, lalu menepuk menyingkirkan debu dari pundaknya."Bersiaplah, aku sudah kembali. Mungkin nanti kamu akan merasakan lebih banyak debu di bajumu." Usai berbisik tepat di telinga Clarisa dan tersenyum sinis. Lily melangkah menuju kamar yang lama ia tinggalkan.
Dengan tangan mengepal kuat, Clarisa menatap punggung Lily.
"Sabar Clarisa, jangan membuat dia curiga dan marah. Kau tau kedatangan Lily untuk apa." Suara Bella dari sudut lain.
"Jallang itu! Selalu menyebalkan sejak dulu! Kita sudah mengusirnya, tapi dia kembali lagi." Geram Clarisa uring-uringan.
"Kita akan melemparkan nya lagi ke tempat yang lebih buruk. Kenapa kamu harus uring-uringan, Clar? Biar dia merasakan hari terakhirnya di sini sebelum dia memasuki neraka." Bella tersenyum licik.
"Papa."
Netra Lily berair, melihat sang papa kini terduduk diatas kursi roda. Sangat memprihatinkan, dengan luka lebam di wajahnya. Lukas memang sangat pandai berakting.
"Papa, apa yang terjadi? Kenapa papa jadi seperti ini?"
Lily menghampiri papanya, dan langsung bersimpuh di depan sang papa yang berwajah kuyu.
"Maafkan papa nak. Ini semua salah papa." Tangis Lukas memeluk Lily.
"Kenapa bisa seperti ini pa? Papa sakit apa?" Tanya Lily dengan mata berkaca menatap sang papa.
"Papa, sudah kehilangan satu ginjal papaa nak." Jelas Lukas berbohong hanya untuk menarik simpati anak tertuanya.
"Apa?" Lily sangat terkejut."Bagaimana bisa papa sampai kehilangan ginjal papa?"
"Ini semua salah papa nak, papa yang tidak berhati-hati dlaam memilih rekan bisnis. Papa di tipu. Hingga kehilangan jutaan dolar." Lukas terlihat sangat menyesal. Lily menjadi merasa iba sekaligus marah.
"Bagaimana papa bisa sampai di tipu? Ayo pa, kita bawa kasus ini ke jalur hukum. Aku tidak terima papa sampai seperti ini." Lily beranjak dengan wajah yang sudah sangat marah. Lukas gelagapan, karena reaksi Lily justru mengajaknya untuk membuat laporan.
"Ti-tidak bisa Lily."
"Kenapa?"
"Karena... Karena papa tak punya cukup bukti. Jadi,kita tidak bisa membawa nya ke jalur hukum."
"Pasti ada cara pa." Lily berpikir keras mencari jalan keluar, sementara Lukas melirik putri sulungnya.
"Dan papa sudah berhutang pada tuan Douglas Alfaro."
"Apa? Douglas Alfaro? Bukankah dia pria tua yang kejam dan dingin? Yang bisa membunuh siapa saja yang ia kehendaki? Seluruh keluarganya bermasalah! Bagaimana bisa papa berhutang pada orang seperti mereka?" Lily terpekik tak percaya.
"Papa terpaksa nak." Tangis Lukas menundukkan badannya.
Lily merasa iba sekaligus kesal pada papanya, merasa semua sudah runtuh dan hancur."sudahlah pa. Apa rencana papa selanjutnya?"
"Papa harus membayar hutang pada mereka."
"Iya berapa hutang yang papa punya?" Lily memijit pelipisnya.
"500juta dolar."
"Apa?"
Apa papa sudah gila? Bagaimana bisa papa memiliki hutang sebanyak itu? Bahkan jika seluruh aset kita di jual sekalipun. Tidak kan cukup."
"Karena itu, Lily..." Lukas memegangi dadanya untuk memperkuat aktingnya dan bernafas berat berkali-kali. "Mereka menginginkan putri papa...."
"Tidak!" Sela Lily tegas."Jangan pernah berpikir untuk menjadikanku penebus hutang mu papa!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
A Creapa
so far no bad. suka Lyli yg gak menye2. makasih Thor 🔥
2022-12-31
0