Lily, menutup pintu kamar Axelo. Mendekat pada tubuh yang tergolek lemah di atas ranjang. Menatap sejenak suaminya dengan perasaan yang ia sendiri tak tau. Ingin menyalahkan Axelo, namun ini bukan sepenuhnya salah suaminya. Dirinya yang tidak berdaya. Sudah bisa lepas dari pria-pria yang sudah melecehkan nya saja Lily sangat bersyukur.
Lily duduk di kursi samping ranjang dengan lemas. Lalu melipat kedua tangannya di atas ranjang dan membungkuk menyembunyikan wajahnya di sana. Bahu mungil dan rapuh itu bergetar perlahan, suara isakan lirih terdengar dari mulut Lily.
Lily menangis, ia tak pernah mendapatkan pelecehan seperti itu selama hidupnya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Selama hampir satu jam Lily menangis menumpahkan semua kesedihan nya. Sampai ia merasa puas, Lily menatap sendu wajah suaminya yang setia terlelap itu.
Lalu Lily beranjak dan melepas jas milik Raize. Berjalan memasuki kamar mandi. Selama lebih dari dua jam Lily di kamar mandi. Dan keluar dari sana dengan bathrobe dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Lily terkejut Raize sudah berada di dalam kamar tak jauh dari ranjang suaminya yang terbaring. Pria tampan itu tersenyum padanya. Itu sedikit membuat Lily canggung. Pria berwajah dingin dan kaku itu tiba-tiba saja melempar senyum padanya. Itu membuat Lily bergidik.
"A-apa yang terjadi?" Tanya Lily, mendekat dengan perasaan tak enak.
"Tidak ada nona. Saya hanya mengambil jas saya."
"Kenapa cara bicaranya jadi menakutkan seperti ini?" Gumam Lily dalam hati merasa aneh.
Setelah Raize pamit, Lily mengganti pakaiannya. Lalu kembali menemani Axelo dan tidur cukup nyenyak malam itu. Entah, dia juga tak tau kenapa? Tiba-tiba merasa sangat ngantuk setelah makan malam bersama dan berbaring di sisi suaminya.
Malam itu, Lily bermimpi, seorang pria yang ia tak tau siapa. Menyentuh wajahnya, lalu menyentuh beberapa gores luka di tubuhnya karena ia menggosok sangat kuat. Saat membersihkan diri di kamar mandi hingga lebih dari dua jam.
"Apa ini sakit?" Tanya pria itu. Lily mencoba menatap wajah pria itu, namun tak bisa, seperti terhalang sesuatu hingga hanya nampak samar saja.
Lily tak menjawab, lidahnya serasa kelu. Pria itu terus menyentuh semua bagian tubuh nya yang terlihat tergores. Lantas pria itu mencium satu persatu bekas goresan itu.
"Jangan bersedih, aku akan membalasnya untukmu."
//////
Keesokan harinya, Lily sudah merasa lebih baik walau merasa aneh dengan mimpinya semalam. Tapi ia tak ambil pusing.
Pagi itu setelah sarapan, Lily di panggil oleh Camelia. Lalu kembali ke kamar Axelo dengan membawa sebuah botol dalam genggaman nya. Lily melirik suaminya. Lalu menghela nafasnya berat.
________
"Aneh sekali, paman dan bibimu memintaku mencampurkan ini ke dalam makan atau minuman. Mereka bilang ini adalah obat yang biasa kamu konsumsi. Benarkah itu suamiku?" Gumam Lily sembari menggoyangkan botol kecil di depan wajah suaminya yang tentu saja tak bisa menjawab semua pertanyaannya.
"Kenapa bukan dokter Yu yang memberikannya? Ini obat atau racun?" Gumam Lily lagi. Merasa aneh karena dokter pribadi Axelo, Yu bahkan tidak memberikan obat,, hanya suntikan yang kadang tidak ia lihat menusuk dalam kulit suaminya.
"Hemmm.... Jika ini racun, dan sesuatu terjadi padamu... Maka orang pertama yang jadi tersangka adalah aku. Tapi, jika ini benar adalah obat... Maka, itu berarti aku sudah menghambat kesembuhan mu..." Lily bergumam lagi, otaknya menimbang-nimbang mana yang lebih menguntungkan dan merugikan dirinya. Terlebih dia sudah mendapatkan ancaman dari Camelia agar menjadi gadis yang penurut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Sena_cantik9
heemmm.... sepertinya ada sesuatu.
2023-01-09
0