Sepulang dari sekolah, Nachya langsung mengganti bajunya dan bergegas menuju ke kamar Boy dengan membawa alat tulisnya.
Boy yang sedang berbaring di ranjangnya sambil memainkan ponsel langsung terbangun melihat Nachya yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Ya Ampun, Nach!" pekik Boy dengan wajahnya yang sangat terkejut.
"Bikin kaget aja sih! Kenapa asal masuk, bukannya ketuk pintu dulu?" tanya Boy kesal.
"Ck, gak usah protes deh!"
"Buruan mana soalnya! Biar aku kerjain di sini!" balas Nachya sambil menarik kursi belajar Boy dan duduk manis sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
Boy mengeringkan matanya ke Aah Nachya. "Kamu tuh penasaran banget ya? Sampe rela mau kerjain 100 soal math dari aku?" tanya Boy yang masih duduk di tepi ranjangnya.
"Ya iyalah!"
"Makanya kasih tau aja sekarang, apa yang udah kamu omongin sama Pak Adit tadi pagi!" pinta Nachya sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
"Enak aja!" Boy langsung menuju ke meja belajarnya dan mencari kertas yang tadi ia selipkan di antara buku-buku.
Posisi Boy yang membungkuk tepat di depan Nachya, membuat Nachya menelan ludahnya kasar.
'Aduh! Kenapa harus dag dig dg begini sih kalo deket sama Boy?' rutuk Nachya dalam hati.
'Padahal Boy itu gak ngapa-ngapain loh Nach!' Nachya terus saja bermonolog dalam hati.
Ia tidak sadar jika Boy kali ini menoleh ke arahnya dan terus saja memandanginya.
'Ck, ni anak malah melamun sih! Aku cium bau tau rasa!' batin Boy yang mendapati Nachya terus memperhatikannya.
Perlahan Boy mendekatkan wajahnya ke wajah adiknya yang masih dalam pandangan Kosong nya.
"Ngelamunin apa sih?" tanya Boy membuyarkan lamunan Nachya.
"Ck, apaan sih!" Nachya langsung mendorong Boy agar menjauh darinya dan merebut kertas yang dipegang oleh Boy.
"Kalo mau melamun jangan di sini! Ntar kalo kesambet malah aku yang repot!" timpal Boy yang balik lagi naik ke atas ranjangnya.
"Biarin aja! Biar aku acak-acak sekalian kamar kamu!" balas Nachya sambil membuka lembaran soal dari Boy.
"Sepuluh soal doang ini!?" tanya Nachya sambil mulai mengerjakan soal dari Boy.
"Iya sepuluh dulu buat pemanasan! Abis itu kamu mandi dulu biar kamar aku gak bau acem!" balas Boy kembali memainkan ponselnya.
"Enak aja acem! Meski aku gak mandi sepuluh hari, baunya tetep wangi tauk!"
"Gak percaya tuh! Buktiin coba?" pinta Boy yang tidak dihiraukan oleh Nachya yang sudah mode serius mengerjakan soal math dari Boy.
"Lagian apa sih yang bikin kamu penasaran banget pingin tau?" tanya Boy untuk kesekian kalinya.
"Diem napa!"
"Lagi fokus nih!"
Protes dari Nachya kali ini membuat Boy menutup mulutnya rapat - rapat dan memandangi Nachya yang sedang fokus mengerjakan soal darinya.
'Aku gak bisa ngebayangin gimana jadinya kalo kamu tau aku bukan abang kandung kamu, Nach!'
'Aku takut kamu menjauh dan menjaga jarak dari aku.'
'Aku takut kita gak sedekat ini lagi. Tapi aku bebas mengutarakan perasaan aku yang sudah lama mencintaimu!'
Boy terus saja bergumam dalam hati sambil memandangi Nachya. Lama kelamaan tanpa ia sadari, Boy tertidur sambil menopang kepalanya memandangi Nachya.
15 menit berlalu dan Nachya selesai mengerjakan 10 soal math dari Boy.
"Well Done!" pekik Nachya membuat Boy langsung membuka matanya.
"Sini aku cek dulu!" pinta Boy sambil mengulurkan tangannya ke arah Nachya.
"Soal selanjutnya cari diselipan buku yang tadi!" titah Boy saat Nachya sudah memberikan hasil pekerjaannya kepada Boy.
Nachya pun langsung mengambil soal yang selanjutnya. Namun tanpa sengaja, ia melihat foto mereka berdua saat masih kecil yang sengaja disimpan oleh Boy.
"Kamu masih simpen foto kita Boy?" tanya Nachya sambil mengusap gambarnya saat masih kecil.
"Hemm!" jawab Boy singkat.
"Aku cantik banget yaa!"
"Iya, dulu cantik, imut, gemesin, tapi sekarang ENGGAK!" balas Boy membuat Nachya langsung manyun.
Nachya langsung bangun dan duduk di samping Boy sambil menyandarkan kepalanya di bahu Boy.
"Tapi kamu masih sayang kan sama aku?" tanya Nachya sambil memegang foto kecil mereka dan memperlihatkannya kepada Boy.
"Hemm!" jawab Boy dengan dehemannya lagi.
"Kita foto kayak gini lagi yuk, Boy!" ajak Nachya membuat Boy menelan ludahnya kasar.
'Aduh, Nachya! Kamu ini sadar gak sih kalo sikap kamu yang kayak gini itu sangat berbahaya!' pekik Boy dalam hati.
Nachya langsung merebut ponsel Boy dari tangannya, tapi Boy cepat-cepat merebutnya kembali.
"Jangan pakai ponsel aku!" ucap Boy yang tampak sangat was-was saat ponselnya dipegang oleh Nachya.
Nachya langsung menjauhkan sedikit tubuhnya dari Boy sambil mengerutkan keningnya.
"Kenapa hayoo?!"
"Pasti di ponsel kamu ada foto cewek kan?" tebak Nachya sambil berusaha merebut kembali ponsel Boy.
'Iya! Dan ceweknya itu kamu!' batin Boy yang cepat cepat menyembunyikan ponselnya di belakang punggungnya.
Namun karena Nachya begitu antusias ingin melihat apa yang disembunyikan Boy di ponselnya, ia pun terus meraih tangan Boy sampai tidak sadar jika posisinya kali ini ada di atas tubuh Boy dan menindihnya.
Tiba-tiba saja pintu kamar Boy terbuka dan tampak mama Ecca sedang berdiri di tengah pintu sambil menutup mulutnya.
"Ya Ampuun!" pekik Mama Ecca histeris.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Mama Ecca membuat Nachya tersadar jika posisinya kali ini benar-benar menunjukkan jika dia cewek agresif.
"Ini gak seperti yang mama duga!" jawab Nachya sambil menjauh dari Boy dan merapikan kaosnya.
"Nachya lagi mau pinjem ponsel Boy, Ma. Tapi, Boy pelit banget!"
"Nachya yakin Boy pasti dari tadi lagi chat sama ceweknya, padahal Nachya masih ngerjain soal math dari Boy!" balas Nachya memberi penjelasan.
Mama Ecca membuang nafasnya kasar. 'Ck, tapi kalian bukan saudara kandung dan kalian berdua sudah sama-sama sudah beranjak dewasa!' gumam Mama Ecca dalam hati.
'Aku harus segera membicarakan ini kepada Nachya! Ini tidak boleh ditunda lagi, terlebih Boy sudah tau jika ia bukan abang kandung Nachya!'
"Kalian berdua, ikut mama ke ruang kerja! Ada yang ingin mama sampaikan sama kalian!" pinta mama Ecca yang langsung meninggalkan kamar Boy.
"Tuh kan! Kamu sih jadi cewek agresif banget!" gerutu Boy kesal.
"Kok jadi aku sih! Makanya jadi orang tuh jangan pelit, Boy! Salah siapa coba!" balas Nachya geram.
"Bukan pelit, tapi ini privasi, Nach!" tegas Boy. "Ada hal yang tidak boleh orang lain tau, terutama kamu!"
Boy langsung meninggalkan Nachya begitu saja.
"Jadi bener, kamu dah punya cewek spesial, Boy?" tanya Nachya saat langkah Boy sampai di pinti kamarnya.
"Iya!" jawab Boy singkat.
Deg!
Jawaban Boy kali ini membuat hati Nachya sedikit terasa nyeri.
'Ayo Nach. Jangan tenggelam dalam perasaan cinta yang salah!'
'Boy ituu abang kamu! Kamu gak seharusnya jatuh cinta sama Boy!' gumam Nachya dalam hati.
Dengan langkah kaki yang terasa begitu berat, Nachya pun memenuhi panggilan mamanya di ruang kerja.
☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Ita rahmawati
perasaan emang gk bisa dibohongi,,tau sendiri walaupun blm diberi tau klo mereka gk sekandung 😅🥰
2023-12-03
0
Rice Btamban
bnr juga ortu hrs ksh tau ke anak nya kshn si Boy ya
2023-01-18
0
☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ
ikut deg-degan menunggu mama Ecca mengatakan yang sebenarnya..
2023-01-13
1