"Jadi papa yang udah usil kempesin ban mobil Nachya?"
Pertanyaan Nachya langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Papanya. "Bukannya kemarin udah dikasih tau, besok kalo mau kesini bareng sama Boy!" timpal Papa Belva.
"Ck, papa nih ngeselin banget sih. Ngapain coba ada mobil, gak dipake?"
"Ini rodanya malah dikempesin lagi!" gerutu Nachya kesal.
Bukan hanya kesal, bahkan ia sedikit merasa malu sudah menuduh Boy yang tidak-tidak.
"Ya udah, papa minta maaf deh cantik!" rayu papa Belva sambil menoel hidung Nachya. "Nanti papa benerin lagi ban mobilnya. Okey?"
"Asal Nachya janji sama papa gak akan keluyuran malem. Gimana?" tukas Papa Belva yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Nachya.
"Iya papa, Nachya janji!"
🌛🌛🌛
Dua malam yang lalu,
"Halo Ruby!" Nachya menghubungi sahabatnya.
"..."
"Papa sama mama kebetulan lagi ada meeting malam. Kita hang out yuk nongkrong di cafe deket kampus hijau!" ajak Nachya yang sudah siap menggunakan tanktop hitam yang dipadukan jaket dengan warna senada dan juga celana jeans panjang.
"..."
"Oke, aku jemput ya!"
Nachya langsung turun ke bawah dan menemui asisten rumah tangganya.
"Bik Surti!" panggil Nachya sambil mengetuk pintu kamar Bik Surti.
"Iya Non..." jawab Bik Surti yang langsung membuka pintu kamarnya.
"Nachya pergi sama Ruby dulu yaaa. Cuma ke cafe deket kampus hijau kok beli roti bakar."
"Tapi ini udah jam 8 malem loh non."
"Bentar aja. Gak lama kok!" timpal Nachya yang langsung pergi.
Malam ini pertama kalinya Nachya nongkrong di cafe berdua dengan sahabatnya, Ruby. Berbeda dengan Ruby yang tidak begitu dikekang oleh orang tuanya seperti Nachya.
Mengendarai mobil untuk pertama kalinya, membelah jalanan kota di malam hari membuat Nachya merasa begitu senang dan bahagia. Bibirnya juga terus saja tersenyum menikmati pengalaman pertamanya.
10 menit kemudian mereka berdua pun sampai di cafe yang dituju.
"Gimana rasanya nongkrong malem?" tanya Ruby sambil menikmati roti bakar yang sudah ia pesan.
"Awalnya agak deg degan sih. Tapi ternyata asyik juga," balas Nachya.
Ternyata kebersamaan Ruby dan Nachya yang hanya menikmati roti bakar dan coklat panas di cafe malam itu tertangkap oleh Papa Belva dan juga Mama Ecca yang kebetulan sedang meeting di restoran depan cafe dimana Nachya nongkrong.
"Ma, ada Nachya tuh!" bisik Papa Belva sambil menunjuk ke arah cafe.
Mama Ecca pun langsung melihat ke arah yang ditunjukkan oleh suaminya. "Nanti mama kasih tau Nachya pelan pelan. Papa jangan langsung marahin Nachya ya!" pinta Mama Ecca yang langsung diangguki oleh suaminya.
Mama Ecca pun langsung mengambil gambar Nachya dari jauh dan langsung mengirimkan ke ponsel Nachya.
✉️ Mama Ecca
Ini foto siapa ya?
Nachya yang mendapat pesan dari Mama Ecca langsung mengangkat kepalanya dan berputar mencari dimana keberadaan Mama Ecca.
"Kenapa Nach?" tanya Ruby melihat sahabatnya celingukan.
Nachya pun memperlihatkan ponselnya yang menampilkan isi pesan dari mamanya kepada Ruby.
"Mama sama Papa ternyata meeting di restoran depan cafe!" jawab Nachya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaaah, baru juga nyampe. Ini kita mau langsung balik lagi?" tanya Ruby yang langsung diangguki kepala oleh Nachya.
Akhirnya mau tidak mau mereka berdua pun pulang ke rumah setelah nongkrong yang belum ada 15 menit sudah harus pulang ke rumah.
🎍🎍🎍
"Memangnya Nachya nongkrong dimana sayang?" tanya uti Aleya.
"Di Cafe deket kampus, Uti. Sama Ruby loh padahal dan itu pun gak ada 15 menit langsung pulang."
"Apapun itu kalo memang Nachya mau keluar malem harus didampingi sama papa atau mama. Bukannya udah sering ya di ajak jalan malem sama papa mama?" timpal Uti Aleya.
"Itu beda uti. Kalo sama papa mama kan namanya makan malam di luar. Kalo sama temen, baru namanya nongkrong!" jawab Nachya membuat papa dan mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putri cantiknya.
"Ya udah, lain kali papa akan izinkan kamu nongkrong tapi dengan syarat ajak Boy. Jadi Papa gak risau!"
Bukannya senang, Nachya justru makin cemberut.
"Sama aja bo'ong paa. Apalagi Boy kaku dan gak asik gituh. Mending enggak deh!" balas Nachya mengingat semalam Boy menipunya.
"Hari ini papa mau ajak Boy liat-liat kampus, Nachya mau ikut gak?" tanya Papa Belva.
"Gak deh pa. Nachya mau nungguin uti bikinin kue aja."
Penolakan Nachya barusan membuat Boy sedikit kecewa mendengarnya. Namun mengingat kali ini ia akan pergi berdua dengan papanya, Boy jadi memiliki kesempatan untuk bertanya siapa ayah dan ibunya yang sebenarnya.
"Ayo Boy, kita berangkat!" ajak Papa Belva dan Boy langsung berdiri dan mengikuti langkah papanya.
🎍🎍🎍
"Pa, apa Boy boleh bertanya sesuatu sama papa?" tanya Boy saat Keduanya sudah sama-sama berada di dalam mobil.
"Tentu saja!" jawab Papa Belva sambil mengendarai mobilnya.
"Sebenernya Boy anak siapa Pa?" tanya Boy to the point yang sudah sangat ingin memastikan bahwa dirinya bukanlah abang kandung Nachya.
Deg!
Pertanyaan Boy barusan membuat papa Belva terdiam cukup lama. Lidahnya pun mulai terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari putranya itu.
Melihat Papa Belva terdiam dan tidak langsung menjawab pertanyaannya, membuat Boy semakin yakin jika ia bukanlah akan kandung dari Papa dan mamanya.
"Tidak perlu sungkan dan canggung untuk menjelaskan semuanya, Pa. Boy siap mendengarkan semua kebenarannya." tukas Boy dengan tegas.
Papa Belva pun menghela nafasnya panjang. 'Mungkin memang ini saatnya Boy mengetahui semua tentang dirinya!' gumam Papa Belva dalam hati.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti ini?" tanya Belva kemudian sebelum menceritakan semuanya kepada Boy.
"Boy hanya tidak sengaja mendengar obrolan Mama Ecca dan juga Uti Aleya," jawab Boy.
Papa Belva pun kemudian menceritakan tentang masa lalu Boy perlahan-lahan agar Boy tidak merasa sakit hati.
"Kamu adalah anak dari kakak angkat Mama Ecca yang melakukan hubungan terlarang dengan pemilik Hotel Carl, tempat ibu kandungmu bekerja."
"Karena saat itu ibumu sangat takut terkena amukan dari Akung Mario, akhirnya ia mencoba mengancam Papa agar mau menikahinya. Padahal saat itu papa sudah mencintai mama Ecca."
Kali ini Boy sangat tertegun mendapati sikap ibu kandungnya yang menurutnya sangat memalukan.
Namun, ia tetap mendengarkan cerita dari Papa Belva dimana Ibu kandungnya akhirnya diceraikan oleh Papa Belva dan akhirnya Belva menikahi Ecca dan merawat Boy sejak bayi.
"Mau siapa pun ayah dan ibu kandungmu, Boy tetaplah anak papa dan mama!" ucap papa Belva yang benar-benar tidak ingin Boy merasa sakit hati.
"Terima kasih banyak, Pa sudah merawat dan menyayangiku sejak bayi, dan sampai saat ini."
"Aku bangga dan sangat bersyukur memiliki papa dan mama seperti kalian berdua."
Papa Belva cukup terkesan dengan apa yang Boy sampaikan barusan.
Boy benar-benar tidak menuruni watak Nuna yang picik dan jahat. Bahkan sikap tegasnya sangat mirip dengan Belva.
Hanya saja paras tampan Boy sangat mirip dengan ayah kandungnya, Hendy Carlson saat masih muda.
"Jangan pernah merasa kecil hati setelah mendengar cerita papa kali ini, Boy!"
"Tentu saja tidak papa. Papa dan Mama tetap orang tua Terbaik ku sampai kapan pun!" balas Boy membuat Papa Belva kini bisa bernafas lega.
'Aku justru sangat bersyukur telah mengetahui kebenaran ini, pa. Berarti perasaanku yang ingin terus melindungi dan menyayangi Nachya seumur hidupku bukanlah perasaan yang salah dan sama sekali tidak di larang!' gumam Boy yang terus bersorak dalam hati.
...☘️☘️☘️...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Ban nya,bukan roda nya..
2024-01-21
0
Ita rahmawati
boy,,ternyta ada kebahagian di antata pahitnya kenyataan 🤣🤣🤣
2023-12-02
0
Rice Btamban
tetap semangat
2023-01-13
0