Nachya langsung mengganti bajunya dengan kilat dan meraih tas selempangnya kemudian cepat-cepat berlari menuruni anak tangga. Sesampainya di depan mansion, senyum Nachya langsung merekah melihat Boy masih menunggunya. Nachya pun langsung naik ke atas motor Boy sambil menepuk lengan abangnya.
“Ayo kita come on, Boy!” ajak Nachya.
Bukannya kembali menyalakan motornya Boy justru menoleh ke arah Nachya hingga bibir mereka hampir saja bersentuhan. Lagi-lagi jantung Nachya berdebar tidak karuan terlebih saat nafas Boy terasa menyapu kulit wajahnya.
“Pegangan yang bener! Aku gak mau kamu jatuh nanti!”
Tangan Nachya langsung mencengkeram erat jaket Boy. “Udah!” jawab Nachya sambil mengalihkan pandangannya dari Boy.
“Yakin sudah?” tanya Boy saat melihat pegangan Nachya tidak sesuai dengan harapannya. Boy fikir Nachya akan memeluknya dengan sangat erat saat membonceng motornya. Sayangnya harapannya kali ini tidak sesuai dengan kenyataannya.
“Hemm!” jawab Nachya dengan berdehem.
Boy pun menghela nafasnya panjang dan mulai menyalakan mesin motornya. Kemudian ia pun sengaja menjalankan motornya dengan kencang dan membuat Nachya yang hampir saja jatuh langsung memeluk Boy dengan erat.
“Boy! Gak bisa pelan apa?” teriak Nachya sedikit merasa ketakutan. “Aku takuuut!”
“Bisa, asal kamu tetap pegangan!” balas Boy berteriak.
“Iyaaa!” balas Nachya dan Boy pun mulai memelankan sedikit kecepatan motornya.
Nachya masih memeluk Boy dengan sangat erat. Harum parfum maskulin Boy membuat Nachya sangat nyaman memeluk abangnya. ‘Aku sangat merindukanmu, Boy! Tapi kau sangat berubah sekarang,’ batin Nachya yang semakin mengeratkan pelukannya.
Senyum Boy semakin merekah mendapati Nachya yang semakin mengeratkan pelukannya. ‘Mulai saat ini, aku akan terus menjadikanmu Ratu di hatiku, Nach. Aku akan terus mencintai dan menyayangimu dengan caraku!’ batin Boy sambil terus memandangi Nachya dari kaca spion motornya.
Keduanya kini saling terdiam dengan fikiran yang berkecamuk dalam benak mereka masing-masing. Sampai akhirnya Boy menghentikan motornya di suatu tempat yang sepi namun pemandangannya sangat indah.
“Woow. Ini indah sekali Boy!” pekik Nachya girang melihat gugusan bintang yang sangat terang di langit. Nachya pun turun dari motor Boy dan berdiri memandang keindahan lukisan malam yang belum pernah ia temui selama ini.
Ia bisa melihat lampu kota yang sangat indah dari tempatnya berdiri. Tidak hanya itu, terangnya sinar bulan purnama membuatnya semakin takjub dan berdecak kagum.
“Katakan padaku, darimana kau menemukan tempat seindah ini, Boy?” tanya Nachya.
“Rahasia!” jawab Boy sambil mengulum senyumnya. Boy pun langsung berjalan menuju batu besar dan duduk di atasnya.
“Ck, gorila ini masih saja menyebalkan!” gumam Nachya sambil mengikuti langkah Boy dan duduk di sampingnya.
Nachya langsung mengambil ponselnya dan langsung menangkap gambar yang menurutnya sangat indah. Setidaknya ia harus mengabadikan momen langka nya kali ini.
Boy yang menangkap kegembiraan di wajah Nachya pun diam-diam tersenyum. Sampai ia tidak sadar jika Nachya diam-diam juga memperhatikannya.
‘Aduh, itu senyum Boy kenapa manis banget sih!’ gerutu Nachya dalam hati.
“Boy!” panggil Nachya yang seketika membuyarkan lamunan Boy. “Fotoin aku dong!” pinta Nachya sambil memberikan ponselnya ke arah Boy.
Boy yang sedikit tergagap pun langsung menerima ponsel Nachya dan membidik adik perempuannya itu. Sayangnya karena Boy terlalu fokus memandangi Nachya yang sedang bergaya di depan kamera, ia tidak sadar jika bidikannya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Nachya.
“Coba aku lihat hasilnya, Boy!” Nachya berlari mendekat ke arah Boy dan membuatnya sedikit kikuk.
Melihat hasil bidikan Boy yang ternyata hanya memotretnya dari pinggang ke bawah membuat Nachya kembali mendengus kesal.
“Boooy!” teriak Nachya kesal sambil memperlihatkan ponselnya.
“Ini kenapa kamu motretnya cuma yang bawah doang sih?!” protes Nachya kesal.
“Ck, sini aku ulang lagi!” Boy pun langsung merebut kembali ponsel Nachya dan siap untuk membidik ulang adik perempuannya itu.
Sayangnya Nachya sudah terlampau kesal dengan Boy dan sudah malas untuk bergaya di depan kamera. Hasilnya Boy justru membidik wajah Nachya yang sedang cemberut. Bahkan Boy juga mengirim beberapa foto Nachya ke nomor ponselnya.
“Udah nih. Kita pulang yuk!” ajak Boy sambil mengembalikan ponsel Nachya.
Dengan kesal pun Nachya menerima ponselnya dan langsung memasukkannya ke dalam tas.
“Gak usah cemberut gituh! Jelek tauk!” ucap Boy.
“Bodo amat!” balas Nachya kesal.
“Mau cobain jajan enak gak?” tawar Boy yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Nachya.
“Udah kenyang!”
“Ooooh!” jawab Boy singkat dan mulai bersiap untuk mengendarai motornya.
Kali ini Boy tidak mengarahkan motornya ke jalan pulang, melainkan menuju ke pusat jajan malam yang sangat digandrungi banyak anak muda.
Meski sedang kesal dengan Boy, Nachya tetap memeluknya dengan sangat erat karena ia tidak mau menanggung risiko jika jatuh dari motor Boy. Padahal kali ini Boy sengaja tidak membawa motornya kencang karena tidak ingin melewatkan kebersamaan mereka berdua.
Sesampainya di pusat jajan malam, Nachya kembali berdecak kagum melihat keramaian anak muda seusianya yang mengerumuni setiap pedagang yang berjualan di sana.
"Boy, aku mau beli sate ayam yang ada di sana!"
Nachya langsung menarik tangan Boy saat Boy sudah turun dari motornya.
"Katanya tadi udah kenyang!?" ledek Boy sambil mengikuti langkah Nachya.
"Itu kan tadi. Sekarang beda!" jawab Nachya.
"Sayang dong kalo duit yang dikasih papa dianggurin, ntar kalo aku gak jajan malah kamu lagi yang habisin!" lanjut Nachya.
Kesempatan kali ini pun tidak di sia sia kan oleh Boy. Ia pun langsung mengambil ponselnya dan membidik tangan Nachya yang sedang menarik nya dengan sangat erat.
"Boy, pesenin 2 porsi ya buat kita!" pinta Nachya sambil mendorong Boy ke dekat gerobak sate.
"Iya..."
"Sate ayam 2 porsi ya bu, gak usah pake nasi, gak pake kecap juga, cabenya sedikit aja!" pesan Boy kepada penjual sate.
Nachya langsung membulatkan matanya saat Boy mengingat dengan jelas apa yang ia suka saat memesan sate ayam.
"Kok kamu masih inget sih kesukaan aku?" tanya Nachya dengan matanya yang berbinar.
"Kalo gak inget itu namanya lupa, Nach!" jawab Boy sambil menoel hidung adiknya itu.
"Ish, gak nyambung!"
Pedagang sate yang melihat tingkah mereka berdua pun ikut gemas sambil berceletuk, "Waaah, kalian berdua ini so sweet banget sih pacarannya. Yang cewek imut, dan cantik. Cowoknya juga ganteng banget!"
"Haaah?! Kita gak pacaran kok bu!" sanggah Nachya.
"Oooh, baru pendekatan yaa?" tanya pedagang sate lagi sambil menyodorkan pesanan mereka.
"Bisa dibilang begitu bu!" jawab Boy sambil menerima pesanannya.
Jawaban Boy barusan membuat Nachya langsung mencubit pinggang Boy.
"Ngawur aja kalo ngomong!" protes Nachya. "Bikin orang ilfeel loh sama kita."
"Mana ada abang adek pacaran?!" lanjut Nachya sambil mengambil piring sate ayam miliknya dari tangan Boy.
"Katanya gak mau punya abang kayak aku?" timpal Boy sambil memandangi Nachya secara intens.
"Sebenarnya sih emang gak mau, tapi mau gimana lagi. Udah takdir kan!" balas Nachya sambil menikmati sate ayamnya.
"Trus kalo misalnya kamu ternyata bukan adek aku, gimana?"
"Mau gak pacaran sama aku?"
☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Ita rahmawati
ish si boy 🥰🥰
2023-12-02
0
Nirwana Asri
cie boy
2023-01-22
1
Nirwana Asri
othor ny all out bgt dah bisa aj bikin adegan ginian
2023-01-14
0