“Aditya Carlson?!” tanya papa Belva yang baru sampai bersama Mama Ecca.
“Iya Om. Bagaimana kabarnya?” tanya Adit yang langsung berdiri menyalami papa Belva dan mama Ecca secara bergantian.
“Baik. Bagaimana kabar papa kamu?” balas Papa Belva balik bertanya.
“Baik juga Om, kebetulan tadi Papa kirim salam buat Om Belva sekeluarga!” lanjut Adit lagi.
Keduanya pun kemudian saling berbincang tentang pesan mendiang Mama Wita kepada Adit sebelum meninggal untuk menjalin komunikasi yang baik dengan adik tirinya yang dirawat oleh Belva Quiero. Sedangkan Mama Ecca memilih masuk ke dalam kamar putrinya untuk melihat Nachya.
“Hai sayang, bagaimana sekolahnya hari ini?” tanya Mama Ecca.
Nachya yang sudah mengganti pakaiannya pun langsung menyalami mamanya yang baru pulang kerja.
“Baik, Ma! Mama tumben udah pulang?”
“Mama sama papa kebetulan meeting nya diganti malam. Jadi bisa pulang cepet deh. Lagipula mama sedikit khawatir loh dengar kabar kamu dapat kursus math gratis. Kamu gak lagi kesulitan kan memahami matematika di hari pertama sekolah?” tanya Mama Ecca.
“Diih, mama ini. Kayak anaknya o-on banget sampe berfikiran kayak begitu!”
“Kebetulan Pak Adit itu mengadakan kursus matematika gratis untuk siswa terpilih. Dan setelah diacak, Nachya yang terpilih tahun ini!” jelas Nachya.
“Oooh gituh. Ya udah, Pak Adit diajakin makan dulu yuk. Nanti baru mulai kursusnya!” ajak Mama Ecca.
Sedangkan Boy yang tadinya hendak turun untuk menanyakan tujuan kedatangan guru Nachya pun mengurungkan niatnya saat melihat Papa Belva tampak begitu dekat berbincang dengan guru Nachya tersebut. Saat ia berbalik hendak masuk ke dalam kamarnya, Mama Ecca yang baru saja keluar dari kamar Nachya langsung memanggilnya.
“Boy, ikut turun ke bawah yuk. Kenalan sama gurunya Nachya!” ajak Mama Ecca.
“Iya ma, nanti Boy nyusul sama Nachya!” jawab Boy dan mama Ecca pun langsung turun ke bawah.
“Ngapain pake nungguin segala!” tanya Nachya yang baru keluar dari kamarnya.
“Biar kelihatan akur dong!” balas Boy sambil merangkul adiknya.
Nachya sedikit terkejut dengan sikap Boy barusan yang tentunya membuatnya sedikit salah tingkah. Dengan cepat Nachya melepaskan tangan Boy yang kini melingkar di lehernya.
“Ck, lepasin Boy!” pinta Nachya sedikit menggeliat kan tubuhnya.
“Udah nurut aja! Aku cium nih kalo masih protes!” ancam Boy membuat Nachya cepat-cepat menutup mulutnya.
Keduanya pun akhirnya menuruni anak tangga bersama-sama.
‘Aku yakin, guru Nachya pasti menyimpan perasaan khusus dengan Nachya. Jika tidak, mana mungkin ia mengantarkan Nachya pulang ke rumah dan memberikan kursus secara gratis!’
‘Ini pasti scandal yang sengaja ia buat untuk menjerat Nachya. Dan aku tidak akan pernah rela jika Nachya menjalin hubungan khusus dengan pria mana pun kecuali aku,’ gumam Boy dalam hati.
Sedangkan Nachya yang merasakan begitu nyaman didekap oleh Boy pun berkali-kali menepis perasaannya.
‘Aku gak boleh jatuh cinta sama Boy! Perasaan ini dilarang dan seharusnya aku tidak merasakan debaran ini setiap berdekatan dengan Boy!’
‘Tapi dekapan Boy bener-bener bikin aku nyaman banget! Aduuh, bisa gak sih waktunya diputar lagi? Buat Boy itu bukan abang aku. Atau buat aku bukan anak papa dan mama, biar aku tidak tersakiti dengan perasaan terlarang ini?’ batin Nachya.
“Nah, Adit. Itu yang namanya Boy. Abangnya Nachya!” ucap papa Belva menunjuk ke arah Boy yang sedang menuruni anak tangga bersama dengan Nachya.
Adit yang melihat paras Boy langsung membeliakkan matanya dengan sempurna. “Boy, mirip papa!” gumam Adit pelan.
“Ya, parasnya memang sangat mirip dengan papamu. Tapi sikap dan perilaku Boy sangat mirip denganku!” tegas Belva.
Adit pun terkekeh pelan mendengar ucapan Belva barusan. “Tenang saja om, saya tidak akan merebut Boy dari Om Belva. Saya hanya ingin menjalin komunikasi saja dengannya.”
‘Bahkan bertemu dengan Boy hanyalah sedikit alasan untuk mendapatkan hati putri Anda, Om Belva!’ batin Adit.
“Terima kasih, Adit!”
Papa Belva pun langsung memperkenalkan Adit kepada Boy. Keduanya pun saling berjabat tangan, hanya saja sorot mata mereka kini menggambarkan persaingan ketat di antara mereka.
... 💕💕💕...
Setelah makan bersama, Nachya langsung belajar bersama Adit di meja taman belakang. Sedangkan Boy diam-diam memperhatikan keduanya dari jarak yang sangat dekat, namun tidak terlihat.
“Pak Adit, kalo yang ini ngerjainnya pakai rumus yang mana ya?” tanya Nachya sambil menyodorkan kertas soalnya ke arah Adit.
“Oh, kalo mencari sisi miring dari bidang datar pakai rumus Pythagoras, Nach!” jawab Pak Adit yang kemudian memberikan rumus Pythagoras yang mudah dipahami oleh Nachya.
“Wah, rumus yang ini mudah dipahami pak. Kalo kayak gini, saya bisa jatuh cinta ini sama matematika!”
Keduanya terlihat begitu dekat dan membuat Boy semakin geram, terlebih saat mendengar Nachya mengatakan bisa jatuh cinta dengan matematika. Boy yang sudah tidak bisa menahan rasa cemburunya pun langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan duduk di samping Nachya.
“Ck, rumus kayak begitu mah gampang, Nach. Aku juga bisa ajarin kamu, bahkan gak cuma matematika. Semua pelajaran pun aku bisa!” timpal Boy sambil merebut kertas soal Nachya dan mulai menuliskan rumus yang lebih mudah untuk Nachya pahami.
“Yang ini, caranya lebih mudah dari pada rumus yang diberikan sama Pak Adit!” balas Boy sambil menatap tajam ke arah Adit.
“Boy, bener loh kata kamu. Cara yang ini lebih mudah ternyata untuk mencari sisi miringnya!” balas Nachya dengan mata berbinar.
“Jadi, mulai besok tidak perlu ikut kursus gratis lagi kan, Nach?” tanya Boy.
“Kasih kesempatan teman kamu dong biar bisa mendapat kursus matematika gratis dari Pak Adit. Jadi adil. Bukan begitu Pak Adit?”
“Kalau saya tinggal bagaimana Nachya saja!” balas Adit yang langsung memberikan keputusan kepada Nachya.
Nachya mulai bimbang untuk memutuskan hal ini, di sisi lain rumus yang diberikan oleh Boy memang sangat mudah dimengerti. Tetapi jika ia belajar secara privat dengan Boy, Nachya akan semakin menderita dengan perasaan terlarangnya belakangan ini.
Nachya menghela nafasnya panjang, “Minggu ini biar aku kursus sama Pak Adit dulu ya Boy. Minggu berikutnya, Pak Adit bisa pilih lagi siapa murid yang akan kursus matematika secara gratis.”
“Tidak masalah bukan, pak?” tanya Nachya membuat senyum di bibir pak Adit langsung mengembang sempurna.
“Tentu saja tidak, Nachya!” balas Adit sambil memandang remeh ke arah Boy.
Boy kembali mengepalkan tangannya dengan geram di bawah meja. ‘Sepertinya aku harus bicara baik-baik dengan Nachya. Dia tidak sadar jika gurunya ini benar-benar sudah terpikat dengan pesonanya!’ gumam Boy dalam hati.
Sedangkan Pak Adit pun mulai bertanya-tanya dalam hati dengan sikap Boy dengan Nachya barusan. 'Apa Boy sudah tahu jika dia bukan abang kandung Nachya? Kenapa sikapnya begitu possessive terhadap Nachya?'
...🎍🎍🎍...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Rice Btamban
tetap semangat
2023-01-13
0
Rita
Boy sdh tau bang bkn anaky om Belva,dan iya Boy sudah bucin ma posesif ma Nachya
2023-01-01
1
Oz An
si Boy kan anaknya Nuna ya kan thor...trus si Adit ini, anaknya Nuna jugak .. tolong penjelasan nya thor,, aku lupa 🤣🤣🤣🤣
lanjut lanjut lanjut
2023-01-01
4