Perasaan Aneh Nachya

Nachya yang baru selesai membuat kue bersama uti Aleya pun kini sedang menikmati kue buatannya di taman dekat kolam renang. Tiba-tiba saja Boy datang dari belakang dan merebut toples kue yang saat ini Nachya pegang.

“Ck, Boy!” pekik Nachya terkejut mendapati kue kesukaannya sudah berpindah tangan.

Tanpa rasa bersalah pun Boy langsung menikmati kue buatan utinya itu.

“Waah, enak juga ternyata!” gumam Boy sambil membawa pergi toples kue yang baru saja di rebutnya dari tangan Nachya.

“Hei, Boy! Balikin kue aku!” teriak Nachya yang langsung mengejar langkah Boy.

Boy yang tahu persis jika Nachya akan mengejarnya pun berbalik sambil mengangkat toples kuenya tinggi ke atas, dan membuat Nachya langsung menabrak dada bidang Boy.

“Awh!” Nachya langsung mengusap dahinya dan mengangkat wajahnya hingga keduanya kini saling memandang.

Deg!

Deg!

Deg!

Lagi-lagi Nachya merasakan debaran aneh saat bersitatap dengan Boy. Entah kenapa, paras Boy yang saat ini sangat dekat dengannya membuatnya terpaku sejenak memandangi ketampanan Boy dan melupakan toples kue yang kini ada di tangan Boy.

Perlahan Boy mendekatkan wajahnya ke wajah Nachya dan seketika membuat semburat merah di pipi Nachya tercetak jelas. Melihat Boy semakin mendekatkan wajahnya, membuat debaran di dada Nachya terasa begitu sesak. Tanpa Nachya sadari, ia pun memejamkan matanya dan mengira Boy akan mendaratkan ciumannya tepat di bibirnya.

“Bagaimana jika kali ini, kita menikmati kue buatan uti Aleya bersama?” tawar Boy yang sengaja berbisik di telinga Nachya.

Bisikan Boy kali ini membuat Nachya tersadar dan langsung mendorong tubuh Boy agar menjauh darinya.

“Habisin saja kuenya! Aku sudah kenyang!” balas Nachya yang langsung berlari menuju ke kemarnya dan meninggalkan Boy yang masih berdiri di taman.

Boy pun langsung tersenyum melihat tingkah Nachya barusan yang menurutnya sangat menggemaskan. Ia pun kembali duduk di taman sambil menikmati kue buatan utinya.

Sedangkan Nachya yang sudah masuk ke dalam kamarnya, langsung menutup pintu dan bersandar sambil mengatur nafasnya yang sudah tidak karuan.

“Huft, aku pasti sudah gila! Bisa-bisanya sih aku merasa berdebar-debar saat berdekatan dengan abangku sendiri!” gerutu Nachya sambil menepuk-nepuk pipinya yang masih terasa panas.

“Bahkan aku malah memejamkan mataku dan membayangkan hal yang tidak-tidak!”

“Ya Ampun, kenapa aku bisa sebodoh ini sih?” tanya Nachya bermonolog.

Nachya pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci mukanya.

“Perasaan ini benar-benar sangat aneh! Dan ini baru kalinya aku merasakan seperti ini!” Nachya kembali mencuci mukanya dan menepuk kedua pipinya secara bersamaan.

“Gak mungkin! Aku gak mungkin suka sama Boy!” gumam Nachya sambil memandangi wajahnya di kaca.

Perlahan ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Aku gak boleh jatuh cinta dengan abangku sendiri!”

“Ya, aku yakin ini pasti bukan cinta!”

Nachya terus berusaha mengesampingkan perasaannya barusan terhadap Boy. Ia pun memutuskan untuk diam di kamar dan menenangkan dirinya sendiri.

Sampai malam tiba, Nachya baru turun ke bawah saat makan malam. Itu pun jika Uti Aleya tidak datang memanggilnya ke kamar, sudah dipastikan Nachya mungkin tidak turun.

Namun saat Nachya sampai di meja makan, Uti dan juga Akungnya sudah selesai makan. Sedangkan Boy justru baru menyendokkan nasi ke piringnya beserta dengan lauknya.

“Papa sama Mama kemana Uti?” tanya Nachya sambil menarik kursi yang berseberangan dengan Boy duduk. “Kok gak kelihatan?”

“Oh, mereka kan harus bertemu dengan klien yang kemarin. Kebetulan klien papa dan mama kamu itu bisanya bertemu di malam hari,” balas Uti Aleya.

“Yaudah, kalian makan dulu ya. Uti sama Akung ke kamar mau nonton TV!” ucap Uti Aleya yang kemudian meninggalkan ruang makan bersama Akung Mario.

Setelah Uti dan Akungnya masuk ke dalam kamar, Nachya kembali merasa canggung karena hanya berdua dengan Boy. Ia pun memilih diam dari pada harus bersilat lidah dengan Boy di meja makan.

Sayangnya Boy justru berdiri dan berpindah duduk tepat di samping Nachya, membuat dada Nachya kembali berdebar-debar.

“Ngapain sih pindah duduk di sini?!” tanya Nachya dengan nada ketus menutupi rasa canggungnya setiap berdekatan dengan Boy.

“Kamu itu gak bisa ya kalo volume suaranya dikecilkan sedikit?” tanya Boy.

“Gak bisa!”

Jawaban Nachya kali ini membuat Boy menghela nafasnya panjang. Dia pun kemudian meletakkan kue yang tadi ia rebut dari Nachya tepat di hadapan adiknya itu.

“Ini, aku balikin kuenya. Aku tadi cuma cicip sedikit kok!” ucap Boy membuat Nachya sedikit tertegun.

‘Loh, jadi Boy gak habisin kuenya?’ tanya Nachya dalam hati.

Ada sebersit rasa aneh yang kembali memenuhi relung hatinya, namun cepat cepat Nachya tepis karena ia sangat takut tenggelam lebih dalam dengan perasaan aneh tersebut.

“Thanks!” jawab Nachya singkat menutupi rasa gugupnya.

“Mau aku ajak jalan gak malam ini?” tawar Boy. “Janji deh gak bohong!” lanjutnya lagi membuat Nachya bimbang kali ini.

Jika dia pergi dengan Boy malam ini, dia takut tidak bisa menepis perasaan terlarangnya dengan abangnya sendiri. Tapi, kesempatan yang Boy tawarkan kali ini benar-benar sangat menggiurkan bagi Nachya.

“Aku juga sudah bilang sama papa mau ajak kamu jalan malam ini. Ini, papa malah kasih uang buat jajan.” Boy mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari sakunya dan meletakkannya di atas meja makan.

“Sayangnya aku sudah gak minat!” balas Nachya yang sudah menyelesaikan makan malamnya dan segera membawa piringnya ke tepat cuci piring untuk ia cuci.

Boy yang masih menghabiskan makan malamnya pun memandangi ke arah Nachya yang begitu sangat mengacuhkannya.

‘Kenapa dia semakin cantik jika cemberut seperti itu?’ gumam Boy dalam hati tanpa mengalihkan pandangannya dari Nachya.

“Gak usah liat-liat!” sarkas Nachya ketus. “Aku colok baru tahu rasa ini!”

Boy hanya terkekeh melihat sikap Nachya yang terlihat sangat menggemaskan.

“Yaudah kalo gak mau ikut gak usah marah-marah begitu dong!” balas Boy. “Emangnya salah ya kali aku ngeliatin adikku sendiri?”

“Cantik tapi galak!” ucap Boy sambil membawa piring kotornya ke tempat cuci piring.

Lagi-lagi pipi Nachya kembali merona mendengar Boy memujinya dengan kata ‘cantik’. Cepat-cepat ia mengambil toples kue di atas meja makan dan kembali ke kamarnya.

Sesampainya di dalam kamar, kebimbangan hati Nachya kembali datang antara untuk tinggal di Mansion, atau ikut Boy keluar menikmati suasana malam. Ia terus mondar mandir di kamarnya untuk menentukan pilihannya kali ini.

Sampai terdengar suara motor Boy di bawah dan siap untuk pergi, Nachya pun langsung berlari ke balkon kamarnya dan memanggil Boy dari atas.

“Tunggu Boy” teriak Nachya. “Aku ikut!” lanjutnya lagi.

Boy langsung mendongakkan kepalanya ke atas dan mengacungkan ibu jarinya ke arah Nachya.

‘Akhirnya, kamu mau juga pergi malam ini, Nach!’ sorak Boy dalam hati.

☘️☘️☘️

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Caper ya boy..Mending ungkapin aja,ntar keduluan cowok lain,kamu yg akan berputih mata..😄

2024-01-21

0

Nirwana Asri

Nirwana Asri

cie cie kamu bikin salting boy

2023-01-14

0

Rice Btamban

Rice Btamban

lanjutkan

2023-01-13

1

lihat semua
Episodes
1 Meet Again
2 Dag Dig Dug
3 Kenyataan Manis
4 Bukan Perasaan Terlarang
5 Perasaan Aneh Nachya
6 Healing Malam
7 Tertolak
8 Guru Baru Nachya
9 Diantar siapa?
10 Rivalnya Boy
11 Dilema Berat
12 Nachya Menggemaskan
13 Dugaan Ruby
14 Penasaran kan?
15 10 Soal Pertama
16 Cerita Nachya
17 Penjelasan Mama Ecca
18 Tetangga Baru
19 Dimana Soal Math Aku?
20 Percakapan di Mobil
21 Tawaran Pak Adit
22 Dering Ponsel
23 Makan Siang
24 Terlambat Jemput
25 Dilema Boy
26 Do Homework
27 Nah, Ketemu!
28 Tip Pertama Boy
29 Aku Cemburu
30 First Kiss??!
31 Les Math
32 Kenapa bukan kamu sih
33 Mengidolakan Pak Adit
34 Belum Final
35 Pagi di Rumah Nachya
36 Maaf Ya
37 Pernyataan Perasaan
38 Ditembak
39 Pindah Sekolah?
40 Kalang Kabut
41 Pagi Menyebalkan
42 Waduh!
43 Terngiang - ngiang
44 Surprise
45 Cinta Monyet
46 Tertimpa Durian
47 Plot Cepat
48 Iklaaan
49 The Day
50 Bad or Good News?
51 Shock!
52 Ketahuan kan?!
53 Sama-sama Lapar
54 Not Agree
55 Kamu, bukan Anak Papa!
56 Kita Putus, Boy!
57 Jangan Kalah Mesra!
58 Ternyata...
59 Salah Kaprah
60 Adit Kritis
61 Melepas Diri
62 Kencan Pertama
63 Menikmati Sun Set
64 Kecelakaan
65 Gubraaak!
66 Lamaran
67 Monica Menyerah
68 Otewe Kencan
69 Kencan Romantis
70 Kelulusan
71 Tantangan
72 Perpisahan (Go to London)
73 Welcome London
74 Tantangan Baru
75 Kado dari Boy
76 Dean Mulai Tertarik
77 Keputusan Dean
78 Rencana Baru
79 Dua Minggu Kemudian
80 Penemuan Baru Nachya
81 Tersulut Emosi
82 Sisi Lain Nachya
83 Akung Keras Kepala
84 Nachya VS Akung Mario
85 Boy Arrived
86 Bertemu dalam Diam
87 Ketahuan Bo-ong
88 Epping Forest
89 Yonna Is Nachya
90 Pertolongan Pertama
91 Boy Pamit
92 Kedatangan Papa Belva dan Mama Ecca
93 Terbongkar
94 Kemarahan semuanya
95 Boy Meet Nachya
96 Ini Serius?
97 Pulang dari RS
98 Menuju Hari H
99 The Day
100 In room with you
101 You're Mine
102 Ke Rumah Sakit
103 Minuman Racikan Uti
104 Efek Racikan Uti
105 Penawaran Boy
106 Tugas Nachya
107 Nakal ya
108 Tidak tega
109 Jelous
110 Perhatian Boy
111 Istri Sempurna
112 Bayar Hutang
113 Once again
114 Pencapaian Nachya
115 Menuju ke London
116 Kedatangan Boy
117 Pentas Budaya
118 Perpisahan dan Perjumpaan
119 Meluahkan Rindu
120 The End
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Meet Again
2
Dag Dig Dug
3
Kenyataan Manis
4
Bukan Perasaan Terlarang
5
Perasaan Aneh Nachya
6
Healing Malam
7
Tertolak
8
Guru Baru Nachya
9
Diantar siapa?
10
Rivalnya Boy
11
Dilema Berat
12
Nachya Menggemaskan
13
Dugaan Ruby
14
Penasaran kan?
15
10 Soal Pertama
16
Cerita Nachya
17
Penjelasan Mama Ecca
18
Tetangga Baru
19
Dimana Soal Math Aku?
20
Percakapan di Mobil
21
Tawaran Pak Adit
22
Dering Ponsel
23
Makan Siang
24
Terlambat Jemput
25
Dilema Boy
26
Do Homework
27
Nah, Ketemu!
28
Tip Pertama Boy
29
Aku Cemburu
30
First Kiss??!
31
Les Math
32
Kenapa bukan kamu sih
33
Mengidolakan Pak Adit
34
Belum Final
35
Pagi di Rumah Nachya
36
Maaf Ya
37
Pernyataan Perasaan
38
Ditembak
39
Pindah Sekolah?
40
Kalang Kabut
41
Pagi Menyebalkan
42
Waduh!
43
Terngiang - ngiang
44
Surprise
45
Cinta Monyet
46
Tertimpa Durian
47
Plot Cepat
48
Iklaaan
49
The Day
50
Bad or Good News?
51
Shock!
52
Ketahuan kan?!
53
Sama-sama Lapar
54
Not Agree
55
Kamu, bukan Anak Papa!
56
Kita Putus, Boy!
57
Jangan Kalah Mesra!
58
Ternyata...
59
Salah Kaprah
60
Adit Kritis
61
Melepas Diri
62
Kencan Pertama
63
Menikmati Sun Set
64
Kecelakaan
65
Gubraaak!
66
Lamaran
67
Monica Menyerah
68
Otewe Kencan
69
Kencan Romantis
70
Kelulusan
71
Tantangan
72
Perpisahan (Go to London)
73
Welcome London
74
Tantangan Baru
75
Kado dari Boy
76
Dean Mulai Tertarik
77
Keputusan Dean
78
Rencana Baru
79
Dua Minggu Kemudian
80
Penemuan Baru Nachya
81
Tersulut Emosi
82
Sisi Lain Nachya
83
Akung Keras Kepala
84
Nachya VS Akung Mario
85
Boy Arrived
86
Bertemu dalam Diam
87
Ketahuan Bo-ong
88
Epping Forest
89
Yonna Is Nachya
90
Pertolongan Pertama
91
Boy Pamit
92
Kedatangan Papa Belva dan Mama Ecca
93
Terbongkar
94
Kemarahan semuanya
95
Boy Meet Nachya
96
Ini Serius?
97
Pulang dari RS
98
Menuju Hari H
99
The Day
100
In room with you
101
You're Mine
102
Ke Rumah Sakit
103
Minuman Racikan Uti
104
Efek Racikan Uti
105
Penawaran Boy
106
Tugas Nachya
107
Nakal ya
108
Tidak tega
109
Jelous
110
Perhatian Boy
111
Istri Sempurna
112
Bayar Hutang
113
Once again
114
Pencapaian Nachya
115
Menuju ke London
116
Kedatangan Boy
117
Pentas Budaya
118
Perpisahan dan Perjumpaan
119
Meluahkan Rindu
120
The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!