Tak lama kemudian terdengar pintu ruangan Adit yang diketuk dan Adit pun langsung mempersilakan untuk masuk. Namun raut wajah Adit langsung tampak kecewa saat mendapati Nachya tidak sendiri.
“Ini bukunya saya taruh di mana ya pak?” tanya Nachya.
“Emm, taruh di sini saja. Saya akan langsung koreksi!” jawab Pak Adit.
Ruby yang sangat peka jika kehadirannya sangat tidak dinantikan oleh Pak Adit pun langsung mencari alasan untuk meninggalkan Nachya duluan.
“Nach, aku duluan ya. Sakit perut ini!” kilah Ruby yang langsung lari meninggalkan Nachya di ruangan Pak Adit.
“Iya!” balas Nachya yang masih menata buku yang baru saja ia letakkan di atas meja Pak Adit.
“Sudah pak!” ucap Nachya yang sudah siap meninggalkan ruangan Pak Adit.
“Terima kasih, Nachya. Bisa duduk sebentar?” tanya Pak Adit. “Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu!”
Nachya pun mengangguk dan langsung menarik kursi di depan meja Pak Adit.
“Kebetulan sekali saya akan mengadakan kursus math secara gratis untuk siswa terpilih tahun ini. Dan ternyata setelah diacak, kamu adalah siswa yang terpilih kali ini Nachya!” jelas Pak Adit dengan hati-hati. Ia sedikit takut rencananya kali ini tidak berjalan dengan mulus karena memang ia sedang mengada-ada.
“Waah, saya beruntung banget dong pak!” timpal Nachya dengan mata yang berbinar. Terlebih ia sedang asyik dengan beberapa rumus baru yang diberikan oleh Pak Adit.
Adit pun mengangguk sambil tersenyum. “Yap, sangat beruntung. Jadi, bagaimana jika nanti sepulang sekolah saya langsung ke rumah kamu?” tanya Pak Adit.
Nachya langsung mengerutkan dahinya mendengar guru barunya ini mau langsung datang ke rumahnya.
“Ke rumah saya?” tanya Nachya membuat Adit sedikit tergagap. “Kursusnya bukan di sekolah ya pak?”
“Emm, tentu saja tidak. Sebab nanti justru akan membuat kecemburuan sosial dengan siswa yang lainnya bukan?” tanya Pak Adit.
“Jadi nanti sepulang sekolah, saya langsung antar kamu pulang. Bagaimana?”
“Oh iya, jangan khawatir karena setelah ini saya juga akan memberikan informasi tentang hal ini dengan kedua orang tua kamu!” timpal Pak Adit lagi.
“Baik pak!” jawab Nachya sambil menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu, saya permisi dulu ya pak!”
Nachya pun langsung undur diri dari ruangan Pak Adit.
☘️☘️☘️
Sepulang sekolah, Ruby memutuskan tidak jadi main ke rumah Nachya setelah mengetahui jika kali ini Nachya akan pulang bersama dengan Pak Adit.
“Fix, kali ini dugaan aku gak salah Nach. Pak Adit pasti naksir berat sama kamu!”
“Gak mungkin, Ruby. Gak ada hubungannya kursus sama naksir!” sanggah Nachya.
“Bagaimana kalo kita taruhan kali ini!”
Tawaran Ruby kali ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Nachya.
“Ogah banget!”
“Jangan-jangan kamu juga suka ya sama Pak Adit?” tanya Ruby lagi membuat Nachya memutar bola matanya malas.
“Please deh Ruby! Jangan mikir yang enggak-enggak deh!” balas Nachya.
Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil yang terparkir tidak jauh dari Nachya dan Ruby berdiri.
“Itu, udah ditunggu sama Pak Adit!” ucap Ruby sambil menunjuk ke arah mobil dengan plat nomor H 4 DIT.
“Aku duluan ya, nanti kalo mau main ke rumah kabarin aja!” tukas Nachya sambil melambaikan tangannya ke arah Ruby.
Nachya pun langsung membuka pintu belakang mobil guru barunya itu dan duduk di seat belakang. Ternyata Adit juga duduk di belakang karena yang di depan adalah sopir pribadinya.
“Eh, saya duduk di mana ini pak?” tanya Nachya yang awalnya mengira Pak Adit membawa mobilnya sendiri tanpa sopir pribadi.
“Masuk saja dan duduk di samping saya!” titah Adit dan Nachya pun langsung masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Nachya mulai canggung dan terus memikirkan ucapan Ruby jika guru barunya ini naksir dengannya.
‘Duh, perasaan aku kok jadi gak enak gini ya?’ gumam Nachya dalam hati.
“Nachya biasanya kalo belajar sama siapa?” tanya Adit mencairkan suasana.
“Sendiri pak!”
“Ooh, kirain belajar bareng sama pacarnya! Biasanya anak SMA kan belajarnya bareng sama cowoknya biar semangat!” balas Adit yang mulai mengorek informasi tentang Nachya.
“Pinginnya sih gitu pak. Tapi belum dibolehin pacaran sama Mama!” timpal Nachya lagi membuat hati Adit kali ini bersorak gembira.
“Bagus dong! Berarti kamu belum pernah pacaran sama sekali ya?” tanya Adit lagi yang langsung diangguki kepala oleh Nachya.
‘Yes, berarti ada peluang besar untuk pendekatan sama Nachya. Kalo ditaksir usianya masih 17 tahun sih. Jadi selisih 8 tahun sama aku!’ gumam Adit dalam hati.
‘Gak masalah deh, itung-itung sekalian jalin komunikasi sama anak Papa yang selama ini dirawat sama Om Belva!’
Tak lama kemudian mereka pun tiba di depan rumah Nachya. Nachya pun langsung turun dari mobil dan mempersilakan gurunya masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Boy yang melihat Nachya pulang diantar oleh seorang pria dari balkon kamarnya pun hatinya langsung terasa sangat panas.
“Ck, Nachya pulang sama siapa sih?” gerutu Boy yang langsung masuk ke dalam kamarnya dan siap menemui adik perempuannya itu.
“Pak Adit mau minum apa?” tawar Nachya yang terdengar jelas oleh Boy yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Teh saja!” jawab Pak Adit.
Nachya pun segera ke pantry untuk minta dibuatkan teh untuk gurunya, sedangkan Nachya undur diri untuk mengganti seragamnya lebih dahulu sebelum mengikuti kursus math dengan gurunya.
Sesampainya di lantai atas, tangan Nachya pun langsung ditarik oleh Boy masuk ke dalam kamarnya.
“Siapa dia?” tanya Boy yang sudah mengunci tubuh Nachya di dinding kamarnya.
“Guru aku Boy!”
Boy langsung berdecit kesal mendengar jawaban dari Nachya.
“Cih, guru macem apa yang nganter muridnya sampai ke rumah?” tanya Boy dengan ketus sambil mengikis jaraknya dengan Nachya.
“Kamu gak tau ya dari pagi aku tunggu kabar dari kamu kapan aku harus jemput kamu pulang sekolah?!” gertak Boy kesal.
“Ya, kalo aku gak kasih kabar, berarti aku gak perlu dijemput kan?” balas Nachya yang tidak terima dengan gertakan Boy barusan.
“Jadi, kamu lebih milih dianter sama guru cowok kamu itu dari pada aku jemput ya?” tanya Boy lagi yang semakin mengikis jaraknya dengan Nachya.
Nachya menelan ludahnya kasar saat mendapati mereka berdua semakin tidak berjarak. Jantungnyakembali berdegup kencang setiap berdekatan dengan Boy, terlebih harum khas Boy membuatnya sangat nyaman berlama-lama ada di dekat abangnya itu.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil papa Belva yang sudah pulang dari kantor dan membuat Nachya mendorong tubuh Boy dengan kasar.
“Ck, Awas! Aku mau ganti baju terus mau kursus sama Pak Adit!” ucap Nachya yang enggan menjawab pertanyaan Boy barusan. Nachya pun langsung masuk ke dalam kamarnya sambil mengatur debaran jantungnya.
Sedangkan Boy langsung mengusap wajahnya kasar dan keluar dari kamarnya untuk menemui guru Nachya sekaligus menanyakan tujuan kedatangannya kali ini.
☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Nirwana Asri
modus banget sih nih guru, esmosi jadinya
sorry lagi makan rujak 🤣🤣🤣
2023-02-15
0
Nenk mulyani
saingan barh nich......
2023-01-14
1
Rice Btamban
Boy cemburu heheee
2023-01-13
1