Dilema Berat

Setelah selesai memberikan kursus gratis untuk Nachya, Pak Adit pun undur diri. Nachya yang mau mengantar Pak Adit sampai depan gerbang pun langsung dicegah oleh Boy.

“Biar aku aja yang antar Pak Adit sampai gerbang, kamu mandi aja gih. Udah sore loh!” titah Boy.

Nachya yang sudah merasa sangat lengket pun langsung mengangguk setuju dan bergegas menuju ke kamarnya. Sedangkan di taman kini tinggal Boy dan juga Adit yang masih ada di sana.

“Hai Boy, akhirnya aku bisa bertemu denganmu!” ucap Adit sambil melangkahkan kakinya menuju gerbang.

“Apa sebelumnya kita pernah kenal?” tanya Boy yang langsung dijawab Adit dengan gelengan kepalanya.

“No!” jawab Adit dengan singkat. “Tapi wajahmu sangat mirip dengan papaku!”

Deg!

Ucapan Adit barusan membuat Boy menelan ludahnya kasar. Ia paham betul apa maksud dari perkataan guru baru Nachya barusan.

“Siapa kamu sebenarnya?!” tanya Boy dengan nafas yang mulai bergemuruh.

“Aditya Carlson!” jawab Adit membuat Boy semakin terhenyak mengetahui kenyataan pahit di depannya.

Ia mengingat betul saat Papa Belva memberitahukan siapa ayah dan ibu kandungnya. Dia hanyalah anak Nuna yang selingkuh dengan Hendy Carlson saat masih bekerja di Carl Hotel. Bahkan karena perselingkuhan ibu kandungnya itu, Hendy Carlson hampir bercerai dengan istri sahnya yang bernama Juwita, pemilik sekolah Nachya yang baru saja meninggal satu bulan yang lalu.

Ada perasaan minder dalam diri Boy saat mengetahui jika dia hanyalah anak kandung seorang pelakor di hadapan Adit yang merupakan anak kandung dari Hendy dan juga Juwita.

Melihat keterkejutan Boy, Adit pun langsung menepuk bahu adik tirinya itu.

“Tidak perlu sungkan denganku, Boy. Kau pasti sudah mendengar cerita masa lalumu dari Om Belva bukan?” balas Adit yang berusaha dekat dengan Boy.

“Sebelum mama meninggal, ia berpesan kepadaku agar mencarimu untuk menjalin komunikasi dan hubungan baik denganmu. Mau bagaimana pun juga, kata mama kamu tetaplah anak papa! Dan kau adalah adikku!” ucap Adit yang langsung memeluk Boy dengan sangat erat.

Dengan sangat canggung, Boy pun membalas pelukan abang tirinya dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.

“Aku pulang dulu ya, ini alamat rumahku.” Adit memberikan kartu namanya kepada Boy. “Datanglah berkunjung akhir pekan. Papa dan adikku Adel sangat ingin bertemu denganmu!” ucap Adit sebelum masuk ke dalam mobilnya.

Boy hanya terdiam sambil memegangi kartu nama Adit. Dengan langkah gontai ia pun berjalan masuk ke dalam rumah dan terduduk lesu di teras rumahnya.

Papa Belva yang sedang membaca koran di ruang tamu pun langsung mendekati Boy yang duduk di teras rumah sambil memegang kartu nama Adit.

“Are you okey, Boy?” tanya Papa Belva sambil mengusap bahu Boy.

Boy memaksakan senyumnya sambil memperlihatkan kartu nama Adit di tangannya.

‘Jadi Adit sudah memberitahukan Boy jika dia adalah abang tirinya?’ gumam Papa Belva dalam hati.

Melihat Boy yang masih diliputi rasa keterkejutannya, Papa Belva pun mengajak Boy berbincang-bincang di ruang kerjanya. “Ikut papa ke ruang kerja!” titah Papa Belva dan Boy pun langsung mengikuti langkah papanya.

Sesampainya di ruang kerja papanya, Boy pun langsung duduk di sofa berdampingan dengan papa Belva.

“Papa tahu kau sangat terkejut dengan kenyataan ini, Boy!” ucap Papa Belva membuka pembicaraan.

“Aku malu pa, aku hanyalah anak seorang pelakor!” balas Boy dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Mama Ecca yang kebetulan masuk ke dalam ruang kerja untuk mengecek berkas dan tidak sengaja mendengar ucapan Boy pun langsung mendekat dan duduk di samping Boy.

“Kata siapa kamu anak pelakor?” tanya Mama Ecca yang tidak setuju dengan ucapan Boy barusan. “Apa kamu menganggap mama sebagai pelakor, Boy?”

Pertanyaan Mama Ecca kali ini membuat Boy merasa semakin bersalah, “Bukan Ma! Boy tidak bilang seperti itu!” sanggah Boy.

“Aku bukan kandung mama kan? Aku hanya anak dari bude Nuna yang sering kita jenguk di Rumah Sakit Jiwa!” ucap Boy yang menahan dirinya untuk jangan sampai mengeluarkan air mata.

Ucapan Boy kali ini membuat Mama Ecca justru langsung menitikkan air matanya.

“Sampai kapan pun, kau adalah anak papa dan mama. Apa pun kenyataannya, kau tetap anak Mama Ecca, Boy!”

“Kenapa kau justru tidak menganggap Mama yang sudah merawatmu sampai sebesar ini?” tanya Mama Ecca yang terdengar begitu pilu.

“Kenapa kau lebih merasa menjadi anak bude Nuna dari pada menjadi anak Mama, Boy?”

Boy langsung memeluk mamanya dengan sangat erat, “Jangan menangis, Ma. Boy minta maaf sudah menyakiti hati mama!”

“Boy hanya minder setelah mengetahui semuanya, Ma! Boy sangat bersyukur memiliki papa dan mama yang sangat peduli dengan Boy!”

“Kalau begitu, jangan pernah merasa jika kau orang lain dalam keluarga ini, Boy! Meski kau tidak lahir dari rahim Mama, kau tetap mama anggap sebagai anak kandung mama!” jelas Mama Ecca membuat Boy semakin berat untuk melangkah.

‘Aku tidak tahu harus merasa bahagia atau tidak kali ini? Ternyata kenyataan ini membuatku sangat sulit untuk melangkah dan menentukan pilihan!’

‘Aku sangat mencintai, Nachya. Kenyataan jika aku bukan abang kandungnya membuat aku merasa sangat bahagia! Tapi sekarang, mama Ecca bersikukuh menganggapku sebagai anak kandungnya meski kenyataannya tidak!’

‘Jika seperti ini, sangat sulit bagiku untuk menggapai cinta Nachya dan memperjuangkannya. Terlebih sekarang Adit sudah datang dan ingin menjalin hubungan yang baik denganku.'

'Aku tidak mungkin mengkhianati niat baiknya yang dengan sukarela menganggap aku sebagai saudaranya, meski aku lahir dari wanita yang hampir merusak rumah tangga orang tuanya!’

“Boy!” panggil papa Belva membuyarkan lamunan Boy.

“Jangan sungkan untuk berbagi cerita dengan papa! Luahkan semua hal yang saat ini mengganggu pikiranmu, Boy!” ucap papa Belva membuat Boy hanya menyunggingkan senyumnya.

“Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana jika Nachya mengetahui semua ini!” timpal Boy membuat Mama Ecca dan juga Papa Belva menghela nafasnya panjang.

“Suatu saat Nachya pasti akan tahu kebenaran ini, Boy!” balas Mama Ecca.

“Tapi jangan khawatir, Nachya pasti akan menerima kenyataan ini sebagai angin lalu. Karena baginya, kau adalah abang kandungnya yang sedari dulu menemani Nachya!”

Boy menelan ludahnya kasar mendengar penjelasan dari mama Ecca. Harapannya untuk terus memperjuangkan perasaannya pupus sudah. Kali ini Boy tidak boleh egois untuk mengedepankan perasaannya tanpa memikirkan perasaan orang lain yang ada di sekelilingnya.

‘Baiklah, kali ini aku akan pasrahkan semua jalan hidup dan cintaku kepada Tuhan. Biarkan Tuhan yang mengatur semuanya dan aku harus ikhlas menghadapi takdir yang memang sudah dituliskan untukku!’ gumam Boy dalam hati.

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

klo aku diposisi boy juga pasti dilema lah 😭😭😭

2023-12-03

0

unknown

unknown

loh bukannya satu ayah ya Thor,seharusnya kan saudara kandung,beda cerita kalau satu ibu beda ayah baru saudara tiri

2023-01-27

1

Rice Btamban

Rice Btamban

menurut Adat kami Boy dan Adit satu Bapa berarti saudara kandung bukan saudara tiri

2023-01-13

1

lihat semua
Episodes
1 Meet Again
2 Dag Dig Dug
3 Kenyataan Manis
4 Bukan Perasaan Terlarang
5 Perasaan Aneh Nachya
6 Healing Malam
7 Tertolak
8 Guru Baru Nachya
9 Diantar siapa?
10 Rivalnya Boy
11 Dilema Berat
12 Nachya Menggemaskan
13 Dugaan Ruby
14 Penasaran kan?
15 10 Soal Pertama
16 Cerita Nachya
17 Penjelasan Mama Ecca
18 Tetangga Baru
19 Dimana Soal Math Aku?
20 Percakapan di Mobil
21 Tawaran Pak Adit
22 Dering Ponsel
23 Makan Siang
24 Terlambat Jemput
25 Dilema Boy
26 Do Homework
27 Nah, Ketemu!
28 Tip Pertama Boy
29 Aku Cemburu
30 First Kiss??!
31 Les Math
32 Kenapa bukan kamu sih
33 Mengidolakan Pak Adit
34 Belum Final
35 Pagi di Rumah Nachya
36 Maaf Ya
37 Pernyataan Perasaan
38 Ditembak
39 Pindah Sekolah?
40 Kalang Kabut
41 Pagi Menyebalkan
42 Waduh!
43 Terngiang - ngiang
44 Surprise
45 Cinta Monyet
46 Tertimpa Durian
47 Plot Cepat
48 Iklaaan
49 The Day
50 Bad or Good News?
51 Shock!
52 Ketahuan kan?!
53 Sama-sama Lapar
54 Not Agree
55 Kamu, bukan Anak Papa!
56 Kita Putus, Boy!
57 Jangan Kalah Mesra!
58 Ternyata...
59 Salah Kaprah
60 Adit Kritis
61 Melepas Diri
62 Kencan Pertama
63 Menikmati Sun Set
64 Kecelakaan
65 Gubraaak!
66 Lamaran
67 Monica Menyerah
68 Otewe Kencan
69 Kencan Romantis
70 Kelulusan
71 Tantangan
72 Perpisahan (Go to London)
73 Welcome London
74 Tantangan Baru
75 Kado dari Boy
76 Dean Mulai Tertarik
77 Keputusan Dean
78 Rencana Baru
79 Dua Minggu Kemudian
80 Penemuan Baru Nachya
81 Tersulut Emosi
82 Sisi Lain Nachya
83 Akung Keras Kepala
84 Nachya VS Akung Mario
85 Boy Arrived
86 Bertemu dalam Diam
87 Ketahuan Bo-ong
88 Epping Forest
89 Yonna Is Nachya
90 Pertolongan Pertama
91 Boy Pamit
92 Kedatangan Papa Belva dan Mama Ecca
93 Terbongkar
94 Kemarahan semuanya
95 Boy Meet Nachya
96 Ini Serius?
97 Pulang dari RS
98 Menuju Hari H
99 The Day
100 In room with you
101 You're Mine
102 Ke Rumah Sakit
103 Minuman Racikan Uti
104 Efek Racikan Uti
105 Penawaran Boy
106 Tugas Nachya
107 Nakal ya
108 Tidak tega
109 Jelous
110 Perhatian Boy
111 Istri Sempurna
112 Bayar Hutang
113 Once again
114 Pencapaian Nachya
115 Menuju ke London
116 Kedatangan Boy
117 Pentas Budaya
118 Perpisahan dan Perjumpaan
119 Meluahkan Rindu
120 The End
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Meet Again
2
Dag Dig Dug
3
Kenyataan Manis
4
Bukan Perasaan Terlarang
5
Perasaan Aneh Nachya
6
Healing Malam
7
Tertolak
8
Guru Baru Nachya
9
Diantar siapa?
10
Rivalnya Boy
11
Dilema Berat
12
Nachya Menggemaskan
13
Dugaan Ruby
14
Penasaran kan?
15
10 Soal Pertama
16
Cerita Nachya
17
Penjelasan Mama Ecca
18
Tetangga Baru
19
Dimana Soal Math Aku?
20
Percakapan di Mobil
21
Tawaran Pak Adit
22
Dering Ponsel
23
Makan Siang
24
Terlambat Jemput
25
Dilema Boy
26
Do Homework
27
Nah, Ketemu!
28
Tip Pertama Boy
29
Aku Cemburu
30
First Kiss??!
31
Les Math
32
Kenapa bukan kamu sih
33
Mengidolakan Pak Adit
34
Belum Final
35
Pagi di Rumah Nachya
36
Maaf Ya
37
Pernyataan Perasaan
38
Ditembak
39
Pindah Sekolah?
40
Kalang Kabut
41
Pagi Menyebalkan
42
Waduh!
43
Terngiang - ngiang
44
Surprise
45
Cinta Monyet
46
Tertimpa Durian
47
Plot Cepat
48
Iklaaan
49
The Day
50
Bad or Good News?
51
Shock!
52
Ketahuan kan?!
53
Sama-sama Lapar
54
Not Agree
55
Kamu, bukan Anak Papa!
56
Kita Putus, Boy!
57
Jangan Kalah Mesra!
58
Ternyata...
59
Salah Kaprah
60
Adit Kritis
61
Melepas Diri
62
Kencan Pertama
63
Menikmati Sun Set
64
Kecelakaan
65
Gubraaak!
66
Lamaran
67
Monica Menyerah
68
Otewe Kencan
69
Kencan Romantis
70
Kelulusan
71
Tantangan
72
Perpisahan (Go to London)
73
Welcome London
74
Tantangan Baru
75
Kado dari Boy
76
Dean Mulai Tertarik
77
Keputusan Dean
78
Rencana Baru
79
Dua Minggu Kemudian
80
Penemuan Baru Nachya
81
Tersulut Emosi
82
Sisi Lain Nachya
83
Akung Keras Kepala
84
Nachya VS Akung Mario
85
Boy Arrived
86
Bertemu dalam Diam
87
Ketahuan Bo-ong
88
Epping Forest
89
Yonna Is Nachya
90
Pertolongan Pertama
91
Boy Pamit
92
Kedatangan Papa Belva dan Mama Ecca
93
Terbongkar
94
Kemarahan semuanya
95
Boy Meet Nachya
96
Ini Serius?
97
Pulang dari RS
98
Menuju Hari H
99
The Day
100
In room with you
101
You're Mine
102
Ke Rumah Sakit
103
Minuman Racikan Uti
104
Efek Racikan Uti
105
Penawaran Boy
106
Tugas Nachya
107
Nakal ya
108
Tidak tega
109
Jelous
110
Perhatian Boy
111
Istri Sempurna
112
Bayar Hutang
113
Once again
114
Pencapaian Nachya
115
Menuju ke London
116
Kedatangan Boy
117
Pentas Budaya
118
Perpisahan dan Perjumpaan
119
Meluahkan Rindu
120
The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!