Tetangga Baru

Malam harinya, rumah Papa Belva kedatangan tamu tetangga baru yang kini menempati samping rumah mereka. Boy dan Nachya yang kebetulan baru selesai makan malam pun akhirnya turut menemani Papa Belva dan Mama Ecca menyambut kedatangan tamunya.

“Kenalkan, Saya Pak Hery yang baru saja menempati rumah kosong yang ada di samping,” ucap Pak Hery memperkenalkan diri.

“Dan ini istri saya, Tini dan anak perempuan saya, Bunga!” lanjutnya memperkenalkan istri yang sedikit gemoy dengan potongan rambut bob ala mamah sosialita dan juga putrinya, Bunga yang sedikit menor mengenakan riasan di wajahnya dan sedikit terlihat seperti wanita yang berusia sekitar 25 tahun ke atas.

Papa Belva pun memperkenalkan anggota keluarganya juga. Bahkan sedikit lebih detail dari yang disampaikan oleh Pak Hery tadi.

“Saya Belva, dan ini istri saya Ecca,” balas Papa Belva memperkenalkan istrinya.

“Sedangkan yang ini putra sulung saya, Boy. Kebetulan sebentar lagi akan mulai kuliah di jurusan hukum. Kalau yang cantik ini putri bungsu saya, Nachya. Sekarang sedang duduk di kelas 12.”

“Salam kenal Om Hery, Tante Tini, dan Kak Bunga!” sapa Nachya dengan ramah.

“Salam kenal juga Nachya!” Bunga langsung mengulurkan tangannya ke arah Nachya. “Semoga kita bisa jadi teman main yang seru ya!”

“Oh, iya kak!” Nachya langsung membalas uluran tangan Bunga.

“Hai Boy, salam kenal ya!” setelah bersalaman dengan Nachya, Bunga pun mengulurkan tangannya ke arah Boy.

Boy pun membalas uluran tangan Bunga sepintas dan segera melepaskannya lagi.

“Boy, kuliah dimana? Aku juga ambil jurusan hukum loh. Siapa tahu kampus kita sama!” tanya Bunga kemudian.

“Kampus Hijau!” jawab Boy singkat dengan menyebutkan inisial kampusnya.

“Waah, sama dong Boy. Berarti kita bisa berangkat dan pergi kuliah bareng dong!” ucap Bunga yang seketika membuat hati Nachya panas membara.

“Bunga! Kamu kan ada motor, bisa berangkat ke kampus sendiri dong. Jangan bikin repot deh!” tegur Tini, mamanya Bunga.

“Ya kalo nanti pulang kampus malem kan, Bunga takut Ma!” balas Bunga yang sedari awal datang ke rumah Papa Belva, pandangannya tidak lepas memandang ke arah Boy.

“Aduh bagaimana ya Pak Belva, Bu Ecca. Bunga ini malah ada-ada saja!” timpal Bu Tini.

“Kalo kita sih bagaimana Boy saja, bu!” balas Papa Belva dan semua mata kini langsung tertuju pada Boy.

Begitu juga dengan Nachya yang langsung menatap tajam ke arah Boy menunggu jawaban yang keluar dari bibirnya.

“Kita liat nanti ya Tante Tini. Lagi pula kan kuliahnya baru akan mulai minggi depan!” jawab Boy.

Akhirnya setelah berbincang dan saling bertukar nomor ponsel, Keluarga Pak Hery pun kembali ke rumahnya. Boy pun langsung naik ke kamarnya, sedangkan Nachya buru-buru mengikuti langkah Boy yang kini menaiki anak tangga.

“Boy, kamu mau pergi kuliah bareng ondel-ondel?” tanya Nachya yang seketika membuat Boy  menghentikan langkahnya.

“Ondel-ondel?” tanya Boy sambil mengerutkan dahinya. “Bunga maksud kamu?”

“Nachya pun langsung mengangguk membenarkan tebakan Boy kali ini.

“Ya kalo memang searah gak masalah bukan?” Boy kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar.

“Terus aku gimana?” tanya Nachya lagi. “Kamu kan masih harus anterin aku ke sekolah, Boy!”

Papa Belva yang tanpa sengaja mendengarkan protes dari Nachya pun langsung berteriak dari lantai bawah.

“Kan udah papa belikan mobil Nachya!” teriak papa Belva. “SIM kamu juga udah jadi kan? Kalo kesiangan nanti papa yang anter.”

Jawaban papa Belva dari bawah kini membuat Nachya langsung mendengus kesal.

“Itu, kamu denger kan apa kata papa?” Boy langsung memegang kedua pundak Nachya dan membalikkan tubuh Nacya lalu mendorongnya menuju pintu kamar Nachya sendiri.

“Udah malem, Nachya. Dan sekarang waktunya kamu istirahat!” ucap Boy yang siap untuk kembali ke kamarnya.

“Tapi kan aku baru ngerjain 10 soal dari kamu, yang 90 soal kapan?” tanya Nachya.

’90 soal?’

‘Jadi Nachya masih mau ngerjain 100 soal math dari aku?’ tanya Boy bermonolog dalam hati.

‘Bukankah tadi Mama Ecca sudah cerita panjang lebar sama Nachya? Tapi kenapa sekarang masih nagih 100 soal dari aku?’

“Kamu sudah janji kan mau cerita sama akau kalo aku selesai ngerjain 100 soal math dari kamu!” Nachya kini berdiri tepat di depan Boy sambil menengadahkan tangannya ke arah Boy.

“Jadi, mana sisanya? Kasih ke aku secepatnya!” pinta Nachya.

“Yakin, masih mau ngerjain 90 soal lagi?” tanya Boy sambil menyipitkan matanya.

“Gak gampang loh Nach! Dan aku lelah gak bisa bantu kamu kalo ada kesulitan!”

“Emangnya aku butuh bantuan kamu?! Jangan ngadi-ngadi deh! Apa aku ambil sendiri di kamar?” balas Nachya yang sudah siap membuka hendel pintu kamar Boy.

Tangan Boy pun langsung mencegah Nachya yang hendak membuka pintu kamarnya dengan memegang tangan Nachya yang kini memegang handel pintu. Hanya karena sentuhan Boy kali ini, jantung Nachya kembali berdebar-debar. Terlebih saat kedua netra mereka bertemu.

Bukan hanya Nachya yang berdebar-debar, Boy sendiri juga mulai dadanya terasa sesak setiap berdekatan dengan Nachya. Namun, cepet-cepat Boy bisa menguasai dirinya sendiri.

“Jangan! Biar aku nanti yang ambil buat kamu dan kamu kerjain di kamar kamu sendiri!” ucap Boy sambil melepaskan tangan Nachya yang masih memegang handel pintu dan segera masuk ke dalam kamarnya. Boy langsung bersandar di dinding kamarnya sambil mengatur nafasnya.

“Buruan Boy! Aku tunggu di kamar!” teriak Nachya sambil menggedor pintu kamar Boy.

“Iya Bawel! Gak sabaran banget sih!” balas Boy yang langsung menuju ke meja belajarnya dan mengambil 30 soal selanjutnya untuk Nachya.

Kali ini Boy sengaja mengambil soal yang susah agar Nachya terdorong untuk memanggilnya dan memintanya untuk mengajari Nachya. Setelah mendapatkan soalnya, Boy pun langsung menuju ke kamar Nachya.

“Nach, ini soalnya!” ucap Boy dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamar Nachya.

“Aku lagi ganti baju!” teriak Nachya dari dalam. “Selipin saja dari bawah pintu Boy!”

Boy pun langsung mengikuti arahan Nachya dan kembali lagi ke kamarnya. Namun saat sampai di kamarnya, Boy terus saja bertanya-tanya tentang Nachya.

‘Adakah Nachya memang belum tahu mengenai status ku?’ gumam Boy dalam hati.

‘Jika memang belum tahu, itu sungguh tidak mungkin. Sebab Mama Ecca sudah ingin memberitahukan kepada Nachya tentang asal usul ku!’

‘Tapi jika Nachya sudah tahu, untuk apa ia masih rela mengerjakan soal matematika dari ku?’

Berbagai pertanyaan kini memenuhi benak Boy.  Namun kemudian ia pun tergerak untuk keluar dari balkon kamarnya yang menghubungkannya dengan kamar Nachya. Diam-diam Boy pun memperhatikan Nachya yang sedang fokus mengerjakan soal dari Boy dari balkon kamarnya.

Namun baru saja 15 menit, Nachya langsung memanjangkan tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya dan tak lama kemudian ia pun tertidur.

“Ck, udah tahu ngantuk, masih juga ngotot mau ngerjain soal!” gumam Boy pelan.

Boy pun langsung duduk di kursi balkon sambil menikmati suasana malam. Ia tidak sadar jika keberadaan Boy kali ini diam-diam diabadikan oleh Bunga.

“Aku pasti akan mendapatkan hati Boy secepatnya!” gumam Bunga yang menyimpan gambar Boy di ponselnya dan sengaja ia jadikan wallpaper.

☘️☘️☘️

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

sllu ada yg ke 3 diantara hubungan 2 manusia,,apapun it bentuk dn statusnya 😁

2023-12-03

0

Yulie Punggelan

Yulie Punggelan

Cih ada sja ulat bulu

2023-02-04

2

Rice Btamban

Rice Btamban

cpt Boy Utara kan perasaan cinta nya sm Nachya

2023-01-18

0

lihat semua
Episodes
1 Meet Again
2 Dag Dig Dug
3 Kenyataan Manis
4 Bukan Perasaan Terlarang
5 Perasaan Aneh Nachya
6 Healing Malam
7 Tertolak
8 Guru Baru Nachya
9 Diantar siapa?
10 Rivalnya Boy
11 Dilema Berat
12 Nachya Menggemaskan
13 Dugaan Ruby
14 Penasaran kan?
15 10 Soal Pertama
16 Cerita Nachya
17 Penjelasan Mama Ecca
18 Tetangga Baru
19 Dimana Soal Math Aku?
20 Percakapan di Mobil
21 Tawaran Pak Adit
22 Dering Ponsel
23 Makan Siang
24 Terlambat Jemput
25 Dilema Boy
26 Do Homework
27 Nah, Ketemu!
28 Tip Pertama Boy
29 Aku Cemburu
30 First Kiss??!
31 Les Math
32 Kenapa bukan kamu sih
33 Mengidolakan Pak Adit
34 Belum Final
35 Pagi di Rumah Nachya
36 Maaf Ya
37 Pernyataan Perasaan
38 Ditembak
39 Pindah Sekolah?
40 Kalang Kabut
41 Pagi Menyebalkan
42 Waduh!
43 Terngiang - ngiang
44 Surprise
45 Cinta Monyet
46 Tertimpa Durian
47 Plot Cepat
48 Iklaaan
49 The Day
50 Bad or Good News?
51 Shock!
52 Ketahuan kan?!
53 Sama-sama Lapar
54 Not Agree
55 Kamu, bukan Anak Papa!
56 Kita Putus, Boy!
57 Jangan Kalah Mesra!
58 Ternyata...
59 Salah Kaprah
60 Adit Kritis
61 Melepas Diri
62 Kencan Pertama
63 Menikmati Sun Set
64 Kecelakaan
65 Gubraaak!
66 Lamaran
67 Monica Menyerah
68 Otewe Kencan
69 Kencan Romantis
70 Kelulusan
71 Tantangan
72 Perpisahan (Go to London)
73 Welcome London
74 Tantangan Baru
75 Kado dari Boy
76 Dean Mulai Tertarik
77 Keputusan Dean
78 Rencana Baru
79 Dua Minggu Kemudian
80 Penemuan Baru Nachya
81 Tersulut Emosi
82 Sisi Lain Nachya
83 Akung Keras Kepala
84 Nachya VS Akung Mario
85 Boy Arrived
86 Bertemu dalam Diam
87 Ketahuan Bo-ong
88 Epping Forest
89 Yonna Is Nachya
90 Pertolongan Pertama
91 Boy Pamit
92 Kedatangan Papa Belva dan Mama Ecca
93 Terbongkar
94 Kemarahan semuanya
95 Boy Meet Nachya
96 Ini Serius?
97 Pulang dari RS
98 Menuju Hari H
99 The Day
100 In room with you
101 You're Mine
102 Ke Rumah Sakit
103 Minuman Racikan Uti
104 Efek Racikan Uti
105 Penawaran Boy
106 Tugas Nachya
107 Nakal ya
108 Tidak tega
109 Jelous
110 Perhatian Boy
111 Istri Sempurna
112 Bayar Hutang
113 Once again
114 Pencapaian Nachya
115 Menuju ke London
116 Kedatangan Boy
117 Pentas Budaya
118 Perpisahan dan Perjumpaan
119 Meluahkan Rindu
120 The End
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Meet Again
2
Dag Dig Dug
3
Kenyataan Manis
4
Bukan Perasaan Terlarang
5
Perasaan Aneh Nachya
6
Healing Malam
7
Tertolak
8
Guru Baru Nachya
9
Diantar siapa?
10
Rivalnya Boy
11
Dilema Berat
12
Nachya Menggemaskan
13
Dugaan Ruby
14
Penasaran kan?
15
10 Soal Pertama
16
Cerita Nachya
17
Penjelasan Mama Ecca
18
Tetangga Baru
19
Dimana Soal Math Aku?
20
Percakapan di Mobil
21
Tawaran Pak Adit
22
Dering Ponsel
23
Makan Siang
24
Terlambat Jemput
25
Dilema Boy
26
Do Homework
27
Nah, Ketemu!
28
Tip Pertama Boy
29
Aku Cemburu
30
First Kiss??!
31
Les Math
32
Kenapa bukan kamu sih
33
Mengidolakan Pak Adit
34
Belum Final
35
Pagi di Rumah Nachya
36
Maaf Ya
37
Pernyataan Perasaan
38
Ditembak
39
Pindah Sekolah?
40
Kalang Kabut
41
Pagi Menyebalkan
42
Waduh!
43
Terngiang - ngiang
44
Surprise
45
Cinta Monyet
46
Tertimpa Durian
47
Plot Cepat
48
Iklaaan
49
The Day
50
Bad or Good News?
51
Shock!
52
Ketahuan kan?!
53
Sama-sama Lapar
54
Not Agree
55
Kamu, bukan Anak Papa!
56
Kita Putus, Boy!
57
Jangan Kalah Mesra!
58
Ternyata...
59
Salah Kaprah
60
Adit Kritis
61
Melepas Diri
62
Kencan Pertama
63
Menikmati Sun Set
64
Kecelakaan
65
Gubraaak!
66
Lamaran
67
Monica Menyerah
68
Otewe Kencan
69
Kencan Romantis
70
Kelulusan
71
Tantangan
72
Perpisahan (Go to London)
73
Welcome London
74
Tantangan Baru
75
Kado dari Boy
76
Dean Mulai Tertarik
77
Keputusan Dean
78
Rencana Baru
79
Dua Minggu Kemudian
80
Penemuan Baru Nachya
81
Tersulut Emosi
82
Sisi Lain Nachya
83
Akung Keras Kepala
84
Nachya VS Akung Mario
85
Boy Arrived
86
Bertemu dalam Diam
87
Ketahuan Bo-ong
88
Epping Forest
89
Yonna Is Nachya
90
Pertolongan Pertama
91
Boy Pamit
92
Kedatangan Papa Belva dan Mama Ecca
93
Terbongkar
94
Kemarahan semuanya
95
Boy Meet Nachya
96
Ini Serius?
97
Pulang dari RS
98
Menuju Hari H
99
The Day
100
In room with you
101
You're Mine
102
Ke Rumah Sakit
103
Minuman Racikan Uti
104
Efek Racikan Uti
105
Penawaran Boy
106
Tugas Nachya
107
Nakal ya
108
Tidak tega
109
Jelous
110
Perhatian Boy
111
Istri Sempurna
112
Bayar Hutang
113
Once again
114
Pencapaian Nachya
115
Menuju ke London
116
Kedatangan Boy
117
Pentas Budaya
118
Perpisahan dan Perjumpaan
119
Meluahkan Rindu
120
The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!