Nachya yang baru saja mandi, langsung menuju ke kemar Boy dan menunggu di dalam kamar sambil membawa bukunya. Boy yang baru dari ruang kerja papanya pun langsung terkejut melihat Nachya yang sudah duduk dengan tangan yang dilipat di atas meja belajarnya sambil menindih buku yang ia bawa.
“Kamu ngapain di sini, NACHYA?!” tanya Boy sambil menekan kalimatnya.
Baru saja Boy bertekad untuk mengikhlaskan perasaannya terhadap Nachya. Tapi ini Nachya malah sudah duduk manis di kamarnya dan menunggu kedatangan Boy.
“Ajarin lagi dong rumus yang tadi!” pinta Nachya dengan puppy eyesnya yang membuat Boy semakin gemas.
“Lagi asyik banget ini ngerjain soal matematika!” timpal Nachya lagi membuat Boy mau tidak mau harus memenuhi permintaan Nachya karena sebelumnya memang ia sendiri yang menawarkan Nachya untuk belajar dengannya.
Boy langsung menarik kursi yang satunya dan duduk di samping Nachya. “Yang mana?” tanya Boy sambil melihat ke arah buku matematika Nachya.
“Kalo bangun datar yang gabungan ini rumus asyiknya ada gak Boy?” tanya Nachya dengan nada yang terdengar begitu manja di telinga Boy.
“Bisa gak sih nada bicaranya itu biasa saja?!” tanya Boy dengan nada yang sedikit keras.
“Kenapa sih Boy? Gitu aja marah-marah?” balas Nachya yang tangannya sudah terulur mengusap dada Boy naik turun. “Sabar Boy, sabar! Kalo sering marah-marah nanti cepet tua loh!”
Usapan tangan Nachya kali ini membuat dada Boy langsung bergemuruh tidak karuan. Sikap Nachya kali ini justru membuat Boy semakin ingin mendapatkan Nachya dan tidak bisa merelakannya begitu saja.
Boy mengusap wajahnya kasar dan menjauhkan tangan Nachya agar tidak menyentuhnya lagi.
“Nachya!” panggil Boy sambil mengatur nafasnya. “Bisa gak kalo belajar itu yang fokus! Tangannya jangan ke mana-mana!”
Boy langsung mengambil pulpennya dan menyelipkan di jari Nachya. “Pegang bener-bener pulpennya! Aku kasih rumus asyik lagi!” titah Boy yang langsung menuliskan rumus penyelesaiannya di atas kertas.
Boy menjelaskan kepada Nachya secara detail, sayangnya Nachya bukannya memperhatikan penjelasan dari Boy. Ia justru memandangi ketampanan wajah Boy yang semakin tampak mempesona ketika mengajari Nachya. Saking terpesonanya, Nachya memandangi Boy sampai tertidur di atas telapak tangannya.
“Gimana, Udah paham atau belum?” tanya Boy sambil mengalihkan pandangannya ke arah Nachya.
“Ya Ampun, Nachya! Bisa-bisanya malah tidur sih!” gumam Boy yang semakin gemas dengan tingkah Nachya.
Boy pun memandangi wajah Nachya yang sedang tertidur di atas pangkuan tangannya.
“Kalo kita terus kayak gini, aku justru semakin tidak bisa menepis rasa cintaku, Nachya!” gumam Boy yang tidak lepas memandangi adiknya.
Perlahan Boy mengangkat tubuh Nachya dalam pelukannya dan merebahkannya di atas tempat tidur. Boy pun menarik selimut untuk menutupi tubuh Nachya dan kemudian ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tepat saat Boy selesai mandi dan memakai pakaiannya, terdengar suara Mama Ecca yang memanggil namanya dari luar kamar.
“Boy!” panggil Mama Ecca dan Boy langsung membuka pintu kamarnya.
“Kamu lihat Nachya gak? Kok Mama lihat di kamarnya gak ada?” tanya Mama Ecca yang sudah mengenakan outfit kerjanya karena malam ini ada janji meeting dengan klien.
“Itu, anaknya molor di kasur Boy!” jawab Boy sambil menunjuk ke atas ranjangnya.
“Tadi minta diajarin rumus matematika, gak taunya malah tidur, Ma!” lanjut Boy lagi membuat Mama Ecca geleng-geleng kepala.
“Ya Ampuun, itu anak ya! Pantesan mama cari di kamar gak ada!”
“Yaudah, nanti kalo Nachya memang gak bangun, kamu gantian tidur di kamar Nachya ya!” tukas Mama Ecca.
“Oke Ma. Hati hati di jalan ya, Ma! Semoga meetingnya lancar!” ucap Boy sambil menyalami mamanya.
“Thanks Boy! Mama sama Papa pergi dulu ya!” Mama Ecca melambaikan tangannya ke arah Boy.
Setelah kepergian papa dan mamanya, Boy kembali masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang Nachya. Perlahan tangan Boy menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah cantik Nachya dan terus saja memandangi Nachya yang sedang tertidur pulas di ranjangnya.
“Kamu bener-bener cantik, Nach!” gumam Boy pelan sambil terus memandangi Nachya.
Tiba-tiba saja Nachya menggeliatkan tubuhnya sambil mel3nguh pelan membuat Boy cepat-cepat menjauh dari Nachya.
“Kok aku bisa tidur di sini sih?!” tanya Nachya yang sudah mulai membuka matanya.
Ia pun menyibakkan selimutnya dan duduk sambil mengedarkan pandangannya.
“Udah puas tidurnya?” tanya Boy yang berdiri di dekat nakas sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Nachya menggelengkan kepalanya sambil menutupi mulutnya yang menguap.
“Belum puas!” jawab Nachya sambil turun dari tempat tidurnya dan mengambil buku Matematika miliknya di atas meja belajar Boy.
“Belajarnya besok lagi ya Boy! Aku ngantuk!” ucap Nachya sambil keluar dari kamar Boy dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Boy hanya terkekeh pelan melihat sikap Nachya yang menurutnya sangat lucu kali ini. Diam-diam Boy merekam aksi Nachya yang setengah sadar dari ponselnya sambil terus mengikuti Nachya sampai kembali tidur di atas tempat tidurnya.
...🎍🎍🎍...
Sedangkan di sisi lain, Adit sedang mengoreksi hasil kerja siswanya hari ini pun senyam senyum sendiri saat mengecek pekerjaan milik Nachya.
“Cantik, pintar, dan sikapnya sangat sopan!” gumam Adit yang memberi penilaian terhadap Nachya. “Aku bersyukur mendapatkan amanah dari Mama untuk menjalin komunikasi dengan Boy. Dengan begini, aku bisa mendapatkan perhatian Nachya dan juga papa mamanya!”
Tiba tiba saja ponsel Adit berdering dan tampak nama Papa Hendy di layar ponselnya.
“Halo Pa, apa kabar?” tanya Adit saat panggilannya sudah tersambung.
“...”
“Aku sudah bertemu dengan Boy. Parasnya memang sangat mirip dengan papa!”
“...”
“Anaknya sangat baik, meskipun awalnya terlihat begitu kaku. Aku juga sudah bilang dengannya untuk datang ke Mansion akhir pekan ini agar bisa bertemu dengan Papa dan juga Adel!”
“...”
Panggilan mereka pun terputus dan Adit kembali memeriksa pekerjaan muridnya.
Papa Hendy memang masih memegang Hotel yang nantinya akan digantikan oleh Adit setelah adiknya menyelesaikan kuliahnya dan lulus sebagai Magister Pendidikan.
Selama Adel masih menyelesaikan tesisnya, untuk sementara waktu Adit lah yang menggantikan Adel untuk mengurus sekolah milik Mama Juwita setelah Mama Juwita meninggal dunia karena kanker otak yang diderita olehnya.
Adit dan juga Adel yang awalnya sangat terkejut mendengar cerita dari Mama Juwita jika ia memiliki seorang adik laki-laki hasil dari hubungan gelap Papa Hendy.
Namun, setelah mendengar cerita papa dan juga mamanya secara detail jika semua yang terjadi di masa lalu mereka sama sekali tidak ada kaitannya dengan anak yang dilahirkan dari hasil hubungan gelap Papa Hendy dan juga Nuna, Adit dan juga Adel pun bisa menerima dengan lapang dada jika mereka memiliki adik tiri laki-laki yang bernama Boy dan diasuh dengan Belva Quiero sejak kecil.
...💕💕💕...
Yuuuk, tinggalkan jejak kalian semua yaaa. Like dan komentar kalian adalah semangat Author 😍😍😍
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Rice Btamban
lanjut
2023-01-13
0
Rice Btamban
lanjutkan
2023-01-13
0
Rita
jangan menyerah fighting Boy
2023-01-02
1