Kali ini Nachya meminta Boy mengantarnya dengan mobil. Sepanjang perjalanan menuju sekolah Nachya keduanya sama-sama enggan untuk memulai sebuah pembicaraan.
Sampai akhirnya Boy kembali membahas tentang chat antara abang tiri nya dengan Nachya.
"Kamu sering ya chattingan sama guru baru kamu itu?" tanya Boy memecah keheningan.
"Gak usah dibahas deh kalo ujung-ujungnya ngancem aku buat dilaporin ke papa sama mama."
"Kamu gak tau kan gimana kalo mereka udah ngomel? Rasanya dah kek tersangka yang ada di pengadilan!" gerutu Nachya yang malas menanggapi pertanyaan Boy.
"Emang pernah ngerasain jadi tersangka di pengadilan?" tanya Boy sedikit terkekeh.
"Ck, makanya dulu gak usah pake acara sekolah di Ausie. Jadi ngerti dan hafal gimana rasanya masuk pengadilan rumah tangga papa sama mama!" balas Nachya sambil memainkan ponselnya.
"Mungkin kamu bandel kali, Nach! Makanya papa sama mama ngomelin kamu terus!" timpal Boy dan Nachya hanya mengedikkan bahunya.
Jika dulu antara bude Nuna dan juga Mama Ecca, bude Nuna lah yang lain susah di atur dari pada Mama Ecca.
Kali ini justru berbalik, Boy yang anak kandung Nuna justru sangat baik dan penurut. Berbeda dengan Nachya yang lebih sering mengajukan protes kepada papa dan juga mamanya.
"Nach..." panggil Boy.
"Hemm!"
"Mama cerita apa aja kemarin sama kamu?" tanya Boy.
Mendengar pertanyaan Boy kali ini, membuat Nachya ingin membalas dendam kepada Boy yang sudah memintanya ntuk mengerjakan 100 soal math hanya untuk mengetahui percakapan Pak Adit dengan Boy di kantor kemarin.
"Kenapa emangnya?" Nachya balik bertanya.
"Kamu nih ditanya dari tadi gak pernah mau langsung jawab!" gerutu Boy sambil terus mengemudikan mobilnya ke arah sekolah Nachya.
"Enak gak, kalo lagi nanya dan gak langsung dijawab?" balas Nachya.
"Makan tuh rasa penasaran!"
Nachya sengaja tidak menjawab pertanyaan dari Boy sambil terus memikirkan bagaimana caranya membalas Boy yang memintanya mengerjakan 100 soal math demi mendengarkan apa yang sudah Boy bicarakan dengan Pak Adit.
"Siapa yang penasaran?" balas Boy.
"Oh iya, akhir pekan nanti aku ajak ke rumah Pak Adit ya!"
"Mau ngapain ke rumah Pak Adit?" tanya Nachya yang ingin memposisikan jika dirinya belum tahu tentang hubungan Boy dengan guru barunya itu.
"Serius, kamu belum tau tentang siapa Pak Adit?"
Kali ini Boy sengaja melihat gerak gerik Nachya yang tampak acuh dengan ajakan Boy.
"Emang kenapa sama Pak Adit?" balas Nachya santai.
"Ya udah deh! Kalo emang gak tau, akhir pekan aku ajak Bunga aja ke rumah Pak Adit buat nemenin aku!"
"Yaah, itung-itung biar deket sama tetangga baru!" ucap Boy yang sengaja memanas-manasin Nachya.
Mendengar nama Bunga terucap di bibir Boy, membuat darah Nachya langsung mendidih.
"Oooh, gitu sekarang yaa." Nachya langsung menyimpan ponselnya k dalam tas dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam ke arah Boy.
"Sekarang udah pinter yaa sok sok-an genit sama anak tetangga! Ajak Bunga aja kalo kayak gitu! Gak perlu pake acara nawarin ke aku segala!" sarkas Nachya kesal.
"Kenalin sekalian sama keluarga kamu kalo cewek yang kayak ondel-ondel itu gebetan baru kamu!"
"Dasar Gorila!" umpat Nachya yang langsung melukiskan senyuman tipis di wajah Boy.
Hanya mengeluarkan sedikit pancingan saja, Boy kini sudah paham jika Nachya pasti sudah mengetahui statusnya yang sekarang. Bahkan Boy juga mulai mendapatkan bahan baru untuk mengancam Nachya, yaitu 'Bunga'.
Setelah melihat gelagat Nachya semalam yang tampak tidak suka dengan kehadiran Bunga, membuat Boy sedikit ada harapan jika Nachya memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Meskipun harapan Boy sangat tipis.
Boy terkekeh pelan mendengar umpatan kesal Nachya.
"Kamu cemburu?" tanya Boy to the point
"What?! Cemburuin cowok kayak kamu itu hanya buang-buang waktu!" balas Nachya membuat Boy semakin yakin jika Nachya benar-benar sudah mengetahui statusnya yang memang bukan abang kandung Nachya.
"Oke, kali ini aku udah tau jawabannya. Dan kamu udah gak bisa ngelak lagi dari aku, Nach!"
"Kamu udah tahu kan siapa aku?!"
Suara Nachya kali ini tercekat. Belum sampai ia berfikir bagaimana cara membalas Boy tersiksa dengan rasa penasarannya, Nachya justru sudah terjebak dengan beberapa kalimat pancingan dari Boy.
'Sial! Kenapa aku gampang terpancing gini sih sama Boy!' gerutu Nachya dalam hati.
'Pinter banget lagi si Boy nih! Pantesan dia mau jadi pengacara kayak papa sama mama!'
'Ck, aku kan anak pinter. Tapi kenapa setelah ketemu Boy jadi bego' gini sih!'
Nachya memandang kesal ke arah Boy.
"Emang kenapa kalo udah tau?"
Pertanyaan Nachya kali ini menjadi jawaban yang membuat hati Boy mulai bimbang harus bagaimana lagi memperlakukan Nachya.
"Kamu gak ilfeel sama aku setelah kamu tahu semuanya jika aku bukan abang kandung kamu?" tanya Boy membuat hati Nachya sedikit berdesir mendengarnya.
'Gimana bisa ilfeel sih Boy? Gak mungkin lah aku ilang feeling sama kamu. Yang ada malah tambah feeling!' batin Nachya.
'Ups! Tenang Nachya. Tahan diri kamu biar gak keliatan bego di depan Boy!'
Nachya pun menghela nafasnya panjang.
"Gak lah. Mau gimana pun cerita dan asal usulnya, kamu tetep abang aku yang paling ngeselin!" jawab Nachya.
"Abang yang tiap hari bikin aku naik darah karena terus ngibarin bendera perang sama aku! Iya kan?"
Boy langsung tersenyum mendengar ucapan Nachya barusan. Setidaknya bisa mengurangi sedikit rasa mindernya yang memang bukan siapa-siapa lagi.
Namun jauh dalam lubuk hatinya merasakan sedikit rasa kecewa karena Nachya masih menganggapnya sebagai abang kandung yang setiap hari mungkin akan menemaninya bertengkar.
"Trus akhir pekan gimana? Mau ikut atau gak?" tawar Boy yang langsung diangguki kepala oleh Nachya.
"Mau dong! Gitu aja pake nanya!" balas Nachya membuat senyum Boy kembali terlukis.
"Dari pada ngajakin ondel-ondel, mendingan ajak aku. Putri cantiknya Mama Ecca. Iya kan?"
"Iya deh iya! Kalo aku bilang enggak nanti ngambek lagi!" balas Boy yang mulai menepikan mobilnya di depan gerbang sekolah Nachya.
"Ya udah nanti jangan telat jemput aku! Dah Boy.." Nachya melambaikan tangannya ke arah Boy dan langsung keluar dari mobilnya.
Boy pun memerhatikan Nachya yang terus berjalan masuk ke gerbang sekolahnya.
"Sampai kapan pun, kamu juga akan menjadi putri cantik untukku, Nach!"
"Dan aku juga akan berjuang memantaskan diriku untuk bersanding denganmu, nanti!" gumam Boy.
☘️☘️☘️
Terkadang kalo lagi jatuh cinta, yang pinter emang jadi sedikit bego kan yaa?
Ini bukan berarti Nachya gak pinter loh.
Sambil menunggu update selanjutnya, mampir dulu yuk ke Novel bestie aku. Dijamin ceritanya menarik dan seru.
I Love You, Ibu Guru
Author: AYi
Raka, 18 tahun, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang wanita yang ditolongnya. Dia tidak tahu jika wanita itu adalah guru baru di sekolahnya, dan juga anak pengusaha sukses yang terkenal di kota sebelah.
Setelah dia tahu jika wanita yang pernah ditolongnya adalah guru barunya, akankah dia tetap memendam perasaan itu atau dia akan memperjuangkan cintanya?
Shafiyah (22 tahun) atau biasa disapa Shofie, baru saja dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Memilih melamar pekerjaan sebagai guru di SMA swasta di kota lain.
Selama di kota baru itu, dia selalu ditolong oleh muridnya. Akankah rasa cinta tumbuh di antara mereka?
Ikuti kisah mereka di I Love You, Ibu Guru!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Rice Btamban
lanjutkan
2023-01-18
0
HenyWahyuni_09
Direm dikit napa kalau ngomong nach., Mosok dipancing dikit udah kena ama Boy 😂
2023-01-06
2
Rita
Nachya orangy ceplas ceplos ucul
2023-01-06
1