Ku Terima Hinaan Kalian | 16
"Sekarang jelaskan pada ibu kenapa kau bisa berada dalam masalah seperti ini? Kau jelas tidak akan bertindak kony*l bermain-main dengan dua pria saat kau dapan memiliki pangeran manapun!" tekan Ratu Beatrix.
Pertanyaan Ratu Beatrix membuat kedua tangan Allea mengepal kuat. "Aalis! Ini semua karena j*lang si*lan itu!" geram nya. "Aku akan memb*nuh pel*cur itu!" Ia melangkah melewati ibunya.
Tatapan Allea sangat tajam, aura membun*h menguar begitu kuat. Para pelayan yang berpapasan dengan nya dibuat menggigil. Ia tidak pernah melihat putri favorit mereka se mengerikan ini. Selama ini Putri kedua mereka selalu terlihat lembut dan hangat.
Sampai di kediaman Aalis, ia langsung menuju kamar wanita itu. Allea menendang pintu kamar kuat hingga terbuka lebar, ia bahkan melupakan rasa sakit di organ kewanitaan nya yang masih belum sembuh. Ia masuk ke dalam sana dengan kemarahan se besar gunung.
"Pel*cur si*lan! Dimana kau!" raung nya murka. Ia melihat ke sekeliling tapi tidak menemukan Aalis di dalam kamar itu.
"Ada apa, Allea?" Aalis datang dari belakang Allea. Ia berada di taman yang ada di kediaman nya ketika Allea menendang pintu kamarnya.
"Aku akan memb*nuh mu, Pel*cur si*lan!" Allea mengarahkan pisau buah yang ia bawa dari kamarnya, hendak membun*h Aalis.
Wajah nya terlihat seperti ibl*s sekarang.
Aalis sudah memperkirakan ini sebelum nya, Allea pasti akan datang kepada nya dan menyerangnya memb*bi buta. Ia mengelak dari serangan Allea, lalu memukul tangan Allea hingga pisau terlepas dari genggaman Allea.
"Allea, apa salah ku? Kenapa kau ingin memb*nuh ku?" Aalis telah mempelajari banyak hal dari Allea. Allea bermulut manis dan pandai bersandiwara, jadi ia harus melakukan hal yang sama agar bisa mengimbangi Allea.
Sebelum nya ia terlalu naif dan tidak peduli pada sekitar. Namun, sekarang ia tidak akan melakukan hal yang sama. Siapa yang berani menghina nya maka akan ia beri pelajaran.
Siapa yang berani menggertak nya, maka akan ia pukuli sampai mat*. Meski dipandang rendah oleh orang-orang, ia tetap keturunan Raja. Tidak bisa di hina oleh sembarang orang.
Allea membalik tubuh nya. Jika ia adalah bom, maka saat ini ia akan meledak karena ucapan Aalis. Ia jelas tahu bawa Aalis adalah dalang dari yang terjadi pada nya.
"Pelac*r si*lan! Sandiwara apa yang kau mainkan, hah! Kau telah menjebak ku dengan dua pria itu, jika hari ini kau tidak mat* maka aku tidak akan pernah bisa tenang." Ia mendekat lagi ke arah Aalis dan hendak menyerang Aalis.
Namun, Aalis menghindar lagi.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Allea. Tenanglah, bicara baik baik." Seru Aalis polos.
"Kau yang telah membius ku dan mengirim ku ke dua pemerk*sa itu! Kau benar-benar keji, Aalis! Aku tidak akan pernah membiarkan kau hidup!"
Kedatangan Allea ke kediaman Aalis pagi ini hanya untuk satu tujuan, memb*nuh Aalis. Jadi, ia tidak akan berhenti sampai ia berhasil.
Ketika Allea hendak mencekik batang leher Aalis. Tangan Allea lebih dulu di tangkap oleh Aalis, kemudian Aalis memelintir nya.
"Lepaskan Allea, Aalis!" Bentak Ratu Beatrix yang sudah masuk ke dalam kamar.
Aalis menatap Ratu Beatrix tenang, mata biru samudera nya yang penuh percaya diri membuat Ratu Beatrix seolah melihat ibu Aalis.
"Aku tidak bisa melepaskan nya, Ratu Beatrix. Jika aku lepaskan Allea akan memb*nuh ku." Jawab Aalis.
"Kau telah menghancurkan hidup ku, Aalis. Aku tidak akan pernah melepaskan melepaskan mu!" Allea memberontak, tapi semakin ia memberontak Aalis semakin memelintir tangan Allea.
"Berhenti menyakiti Allea! Lepaskan dia!" Ratu Beatrix menatap tajam Aalis.
Aalis mengikuti kemauan, ia mendorong tubuh Allea menuju ke Ratu Beatrix.
"Ibu, semua yang terjadi pada ku adalah ulah Aalis. Jika aku tidak mendapat kan keadilan hari ini maka aku tidak akan bisa hidup dengan tenang." Allea menyalahkan Aalis atas apa yang telah menimpa nya.
Aalis tersenyum samar. Allea memang pandai menyalahkan orang lain.
"Apakah benar apa yang aku dengar barusan?" Raja Carlos masuk ke kamar Aalis bersama dengan Putra Mahkota Anson dan Pangeran Caesar.
Melihat kedatangan Putra Mahkota Anson, Aalis sedikit muak. Ternyata ia telah salah, ia sebelumnya berfikir. Putra Mahkota Anson sama seperti saudara nya yang lain, yang tidak peduli pada nya.
Namun, ternyata. Kakak tertua mereka itu adalah dalang di balik kejahatan Allea. Lalu tatapan nya beralih pada Pangeran Caesar.
Terlihat, Pangeran Caesar begitu jij*k menatap Allea. Aalis yakin, pria seperti Pangeran Caesar tidak akan sudi mengakui mengenal Allea, setelah apa yang terjadi pada wanita itu.
"Ayah, itu semua benar. Aalis telah menjebak ku. Dia yang telah merencanakan segala nya." Allea datang pada Ayahnya, air mata nya jatuh berderai seolah ia benar-benar menderita penganiayaan.
Wajah Raja Carlos merah padam. "Wanita keji! Bagaimana kau bisa melakukan itu pada adik mu!"
Aalis tertawa, tapi bibir nya tidak tersenyum sama sekali. "Ayah kau bahkan tidak bertanya pada ku lagi. Kau hanya mempercayai apa yang keluar dari mulut Allea."
"Jadi, apa maksud mu Allea berbohong! Jika bukan kau siapa yang bisa melakukan hal keji seperti itu. Dahulu kau mencoba memb*nuh Allea, dan kemarin kau menghancurkan masa depannya. Kau sungguh biad*b, Aalis!" Ratu Beatrix tidak menahan kata-kata nya. Ia ingin merobek wajah Aalis, lalu mengirim Aalis ke neraka.
Wanita ******* itu telah membuat hidup putri nya hancur. Ia tidak akan pernah melepaskan nya.
"Ratu Beatrix, jika kau ingin menuduh ku maka kau harus menyertakan bukti nya. Dan ingat, Aku sudah menerima lamaran Pangeran Caesar. Dan aku sudah merupakan bagian dari Kerajaan Groft. Kau pasti mengerti maksud ku."
Aalis menjawab tenang. Ia akhirnya bisa menggunakan lamaran Pangeran Caesar untuk membalas perbuatan Allea dan Ratu Beatrix.
Sudah aturan di Kerajaan Groft. Jika salah satu anggota Kerajaan mereka, atau putri yang telah dilamar oleh Pangeran mereka dan di tuduh tanpa bukti. Mereka akan mendapatkan hukuman.
Ratu Beatrix mengepalkan kedua tangan nya. Aalis yang ada di depan nya terlihat sangat berbeda dengan Aalis yang sebelumnya.
"Berhenti mengelak, J*lang! Kau yang sudah menjebak ku. Kau membius ku dan mengirim ku ke tempat si*lan itu!" raung Allea marah.
Lagi-lagi Aalis terkekeh geli. Bukan kah itu rencana Allea sendiri, jadi dia sendiri yang harus menikmati nya. "Allea, jika kau ingin menyeret ku dalam kesalahan mu kau harus menjadi sedikit masuk akal.
Aku berada di kamar ku seharian penuh. Kau bisa bertanya pada semua pelayan yang ada di sini. Lagi pula jika aku keluar dari kediaman ku, maka seseorang pasti melihat ku.
Adakah seseorang yang melihat ku keluar dari kediaman ini kemarin? Dan untuk membawa mu ke sana tidak mungkin aku menyeret mu, bukan. Setidaknya aku harus menggunakan kereta.
Lalu, katakan. Kereta kuda mana yang aku gunakan untuk membawa mu? Bukan kah Ayah sudah mencabut Otoritas Militer ku dan tidak memberi ku satu kereta kuda pun?"
Aalis memberikan Alibi yang masuk akal untuk ia ucapkan. Namun, Allea tidak menerima semuanya, yang terjadi pada nya memang ulah Aalis.
"Anda harus bersikap adil, Yang Mulia. Jika putri Allea tetap menuduh putri Aalis. Maka Kerajaan Groft yang akan memberikan hukuman."
Pangeran Caesar menyela Allea yang akan berbicara. Seketika Raja Carlos dan Ratu Beatrix sadar saat ini ada Pangeran Caesar disisi Aalis.
Aalis tersenyum kecil mendengar ucapan Pangeran Caesar. Pria ini tentu saja akan mempertahankan citra sempurna di depan banyak orang. Dasar rubah licik!
"Pangeran, ini urusan keluarga kami mohon untuk tidak ikut campur."
"Ayah, aku adalah tunangannya. Jika aku mendapatkan ketidakadilan, adalah tugas nya untuk mendapatkan keadilan untukku. Benar, kan, Yang Mulia Pangeran?"
Lagi-lagi Aalis meminta jawaban dari Pangeran Caesar.
"Ya, itu memang tugasku. " Pangeran Caesar memberi jawaban yang membuat semua orang menjadi tidak senang lagi, terutama Allea.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments