Ku Terima Hinaan Kalian | 3
"Ada apa, Putri Aalis?"
Suara Ratu Beatrix yang lembut menghentikan gerakan semua orang. Mereka menatap Sang Ratu dan Aalis.
Ah, Aalis paham. Ternyata wanita yang sama yang ingin kembali menyingkirkan nya. Tidak, belum saatnya dirinya pergi.
"Aku merasa tidak enak badan, Ratu. Bisakah aku pergi tanpa menyelesaikan jamuan ini?"
Aalis menanggapi ucapan Sang Ratu dengan tak kalah lembutnya. Ia masih bisa menahan sesak dan panas di dadanya.
Ratu memegang tangan Aalis dan menggenggam jemarinya. Tangan Aalis berkeringat dingin, ia menarik sudut bibirnya dan tersenyum.
"Ini hadiah dariku untukmu, Putri. Tadinya aku akan memberikannya setelah jamuan selesai. Namun, bila kau merasa ingin kembali maka aku memberikan ini lebih cepat"
Ratu memberikan sebuah kalung yang sangat indah dengan liontin hijau yang bersinar.
"Aku menerima hadiahnya. Terimakasih, Yang Mulia Ratu"
"Sama-sama"
Tanpa menunggu lagi, Aalis segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Semua kembali melanjutkan makan mereka, seolah Aalis hanya angin lalu.
Di perjalanan menuju kediamannya, Aalis memegang kalung dari Ratu. Ia kemudian menyadarinya, Kalung itu telah di beri racun pelumpuh.
Siapapun yang memegangnya dengan keadaan Aalis yang sudah memakan racun, menjadi pemicunya. Jari-jari nya berdar*h seperti ia mengiris jarinya menggunakan pisau.
"Yang Mulia, Jari-jari anda berd*rah!"
Pelayan setianya, Sadie. Terkejut melihat lengan majikannya. Aalis tidak menjawab ia hanya menggelengkan kepala. Sadie paham, ia menuntun majikannya agar tidak jatuh.
Sesampainya dikamar. Aalis berbaring di atas ranjangnya, dibantu oleh Sadie.
"Keluarlah, Axela!"
Sadie, yang berada di sisi ranjang majikannya tiba-tiba merasakan semilir angin dingin menerpa kulitnya. Tak lama tiba-tiba muncul seorang wanita disamping Sadie.
Rambut panjang segelap malam, kulit seputih salju, dengan iris mata berwarna hijau yang bagaikan hutan tropis. Serta bibir mungil berwarna merah muda.
Wanita itu tak kalah cantik dari majikannya. Ia adalah Axela. Seseorang yang Aalis selamatkan saat peperangan nya melawan salah satu kerajaan di benua Westland ini.
Axela tidak membenc* Aalis yang sudah menghancurkan kerajaannya. Karena ia hanya putri dari selir yang tak dianggap keberadaannya.
"Axela menghadap, Yang Mulia"
"Cepat periksa racun di tubuhku!"
Axela langsung menurut. Ia terkejut saat melihat Jari-jari Aalis yang berdar*h. Sebagai orang yang ahli dalam racun dan obat-obatan, Axela paham racun apa yang digunakan.
"Cepat ambilkan aku air minum dan larutkan sedikit garam"
Sadie mengangguk, menuruti perintah Axela. Ia tahu kondisi majikannya sedang dalam bahaya.
Tak lama ia kembali dengan air minum yang diminta.
"Minumlah, aku akan menggunakan akupuntur. Racun menyebar melalui pembuluh darah dan akan segera mengenai jantung"
Aalis menurut tanpa banyak bertanya. Ia terduduk lalu menegak air itu. Air garam berguna untuk menghentikan jalan racun sementara.
Axela memnyibak gaun yang dikenakan Aalis. Ia mulai menggunakan keahliannya dalam akupuntur, menggunakan beberapa jarum perak untuk mengeluarkan racun ditubuh Aalis.
"Ueekkk!"
Sepersekian detik kemudian, Aalis memuntahkan seteguk dar*h. Axela kembali memeriksa, tidak. Racunnya belum keluar dari tubuh Aalis.
Ia kembali melakukan hal yang sebelumnya, jika jarum perak tak ampuh makan ia harus menggunakan Jarum Emas.
"Ueeekk!"
Aalis kembali memuntahkan seteguk dar*h yang lebih banyak. Darah merah yang bercampur racun hitam pekat.
Tubuh Aalis begitu lemah. Ia kembali membaringkan tubuhnya dibantu Axela.
Axela beralih pada Jari-jari Aalis. Ia membersihkan Jari-jari itu.
"Kalung nya terjatuh, Axela"
Dengan mata terpejam. Aalis bersuara pelan, lalu Axela beralih menatap Sadie.
"Ini, Nona"
Setelah membersihkan Jari-jari Aalis. Axela meraih kalung itu. Tidak berpengaruh apapun jika orang itu tidak mengkonsumsi pemicu nya.
"Baiklah, Jaga Yang Mulia. Aku akan kembali untuk memberiksa keadaan nya"
"Baik, Nona"
Sadie mengangguk. Lalu Axela kembali pergi bagaikan angin. Dirinya memang adalah bayangan Aalis. Dia akan muncul jika Aalis memanggilnya, Sadie pun mengetahuinya. Hanya Sadie, tak ada yang lain lagi.
Kehidupan di Istana berjalan seperti biasanya. Aalis sudah kembali pulih, dan pagi ini dia sedang berjalan menuju kediaman Ratu.
Ia ingin membalas kebaikan Ratu karena telah memberinya hadiah dengan hal yang sama. Ia pun akan memberi wanita itu hadiah.
Sampai didepan kediaman Ratu. Pengawal memberitahukan kedatangan Aalis, setelah mendapatkan persetujuan. Aalis bersama Sadie di belakangnya masuk.
"Memberi salam pada, Yang Mulia Ratu"
Sembari menekuk lututnya, Kali ini Aalis bersikap sangat sopan. Didepannya Ratu tersenyum hambar.
"Silahkan duduk, Putri Aalis"
Ratu masih menjawab dengan tenang. Walaupun hatinya kesal, mengapa Aalis masih ada di depannya.
Dan tentunya Sang Ratu paham maksud kedatangan Aalis. Yaitu, Untuk mengejeknya bahwa dirinya masih hidup. Ini sebuah penghinaan untuknya, harga dirinya bagai di injak-injak.
"Maksud kedatangan ku kemari ingin memberikan ini pada Yang Mulia. Ini hanya hadiah kecil dari ku"
"Oh ya, aku juga sangat berterimakasih pada Yang Mulia. Lihat, kalung nya sangat indah. Aku sangat suka"
Seolah-olah dirinya akrab dengan sang Ratu. Aalis berceloteh dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya.
"Senang mendengarnya, Putri Aalis. Ku pikir kau akan membuang pemberianku"
"Tentu saja tidak, Yang Mulia. Pemberian mu sangat berharga"
"Baiklah, aku menerima hadiah dari mu"
"Terimakasih, Karena Yang Mulia bersedia menerimanya"
Tak ada tanggapan dari Ratu Beatrix. Ia kembali menyesap teh melati kesukaan nya. Pelayan Ratu Beatrix menuangkan teh itu untuk Aalis. Dengan senang hati Aalis meminumnya.
"Tidak ada yang tahu sedalam apakah kolam itu, bukan?"
Aalis berseru sembari menyesap teh melati yang dihidangkan pelayan Ratu Beatrix. Begitu tenang keduanya dalam mengucapkan kata-kata.
"Benar, Putri Aalis. Apa kau takut tenggelam di kolam itu?"
Ratu Beatrix menyahut sambil mengikuti arah pandang Aalis pada kolam yang berada di kediamannya.
"Ah, tentu saja tidak, Yang Mulia"
Aalis menyimpan cawan kecilnya kembali diatas tatakan yang ada. Ia kemudian bangkit dari duduknya, kunjungan nya sudah selesai dan dia akan pergi.
"Terimakasih atas teh nya, Yang Mulia"
Hanya anggukan dan senyuman manis yang Ratu Beatrix tunjukan. Aalis melangkah untuk pergi. Namun, ketika berada di sebelah Ratu Beatrix ia sedikit membungkukkan badannya.
"Kau yang akan tenggelam di kolam itu, Yang Mulia!"
Sedikit berbisik. Setelah nya ia langsung pergi dengan wajah tegasnya.
Ratu Beatrix mengepalkan lengan tangannya kuat-kuat. Hingga kuku-kukunya yang terawat dan tajam itu menusuk dagingnya.
Ekspresi yang tadinya tenang berubah seketika dipenuhi amarah. Kita lihat, siapa yang akan tenggelam di kolam itu, Aalis. Batinnya begitu kuat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments