Ku Terima Hinaan Kalian | 15

Ku Terima Hinaan Kalian | 15

Aalis telah kembali ke kamar nya. Ia berbaring di ranjang nya seolah-olah sedang terlelap.

"Putri, apa anda baik-baik saja?"

Sadie bertanya dengan penuh kesedihan. Ia begitu merasa khawatir akan Aalis yang tidak biasanya selalu ada di atas tempat tidur seharian.

"Ada apa? Aku baik-baik saja, Sadie."

Aalis membuka selimut nya kemudian ia turun dari ranjang. Ia benar-benar taman seperti seorang yang baru saja terbangun dari tidur nya.

"Syukurlah. Hamba begitu cemas dengan kondisi anda, Putri."

"Terimakasih, sudah mencemaskan ku. Aku baik-baik saja."

Tiba-tiba, suara keributan terdengar dari depan kamar Aalis.

"Bagaimana bisa kejadian buruk seperti itu menimpa, Putri Allea? Jika aku jadi dia maka aku pasti akan bun*h diri."

Seorang pelayan membicarakan tentang keadaan Allea. Beberapa menit lalu Allea telah kembali ke kediaman nya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

Berita telah menyebar lebih cepat dari kereta kuda milik Raja Carlos. Bahkan hampir seluruh orang di istana telah mengetahui apa yang terjadi pada Allea sebelum Raja Carlos sampai di istana.

"Masa depan Putri Allea hancur. Setelah ini mungkin ia akan di jatuhi hukuman istana. Aku merasa kasihan untuk nya."

Pelayan lain menghela nafas, ikut sedih atas apa yang menimpa Putri kebanggaan mereka, ya walaupun mereka pelayan di kediaman Aalis.

Di dalam kamar nya, Aalis mendengarkan perbincangan kedua pelayan di luar. Hatinya merasa sangat puas sekarang. Ia membalas mata untuk mata. Sebelumnya, Allea yang sering memperburuk citra nya, dan sekarang giliran wanita itu.

"Sadie, aku sedikit haus. Bisakah kau membuatkan teh hijau untuk ku?"

Ya, dirinya memang merasa sedikit haus. Dan rindu akan rasa teh hijau yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Baik, Putri."

Sadie melangkah pergi. Meninggalkan majikannya untuk membuat apa yang wanita itu perintahkan.

Sementara itu di kediaman Allea, tepat nya di kamar wanita itu. Ratu Beatrix tengah memeluk putrinya yang kini meraung seperti orang gil*.

"Apa yang terjadi padamu putriku? Kenapa kau berakhir seperti ini?"

Perasaan Ratu Beatrix hancur. Putri yang ia banggakan kini telah ternodai.

"Suamiku, apa yang telah terjadi? Katakan padaku?" Ratu Beatrix melirik suaminya yang kini hanya berdiri seperti patung dengan wajah muram.

Raja Carlos tidak tahu harus menjawab apa. "Tenangkan, Allea. Aku akan memanggil tabib." setelahnya ia keluar. Apa yang menimpa Allea akan sangat berpengaruh baginya.

Raja Carlos memanggil tabib, tapi ia tidak datang untuk melihat kondisi putrinya. Ia berada di dalam ruang kerjanya, yang memikirkan reputasinya yang hancur.

Entah itu putrinya di perk*sa, atau putrinya sengaja melemparkan diri ke pria lain, hal itu sama buruknya untuk citra nya sebagai seorang Raja. Belum lagi ia yang harus tetap bersikap adik.

Putrinya akan dijatuhi hukuman istana, dan keringanan memang bisa didapatkan namun tetap tidak ada hukuman yang ringan.

Memikirkan hal itu saja sudah membuat Raja Carlos sakit kepala. Namun, meski begitu ia akan mendengarkan penjelasan Allea dengan baik. Ia tidak akan membuang Allea, karena bagaimana pun Allea adalah putri kesayangan nya.

Di kamar Allea, tabib wanita memeriksa daerah kewanitaan Allea yang robek. Ia meringis, seolah ia ikut merasakan bagaimana kewanitaan Allea dimasuki paksa dan kasar.

Darah masih mengalir dari kewanitaan Allea. Tabib menyeka nya dengan kasa. Lalu ia memberikan obat di sekitar sana.

Hati Ratu Beatrix teriris. Ia terus saja menangis melihat nasib buruk putrinya. Sedangkan Allea, wanita itu kini tidak sadarkan diri karena obat bius yang di berikan oleh tabib.

"Ratu, ini adalah obat untuk luka Putri Allea. Dan ini untuk di konsumsi Putri Allea. Lukanya sudah ditangani, akan segera sembuh dalam beberapa hari."

"Terimakasih, Tabib. "

"Kalau begitu saya permisi. Jika terjadi sesuatu pada putri Allea segera beritahu saya."

"Ya, tabib."

.

.

Kelopak mata Allea terbuka. Hal pertama yang ia rasakan ketika terjaga adalah rasa sakit di organ kewanitaan nya. Sebuah ingatan mengerikan berputar di benaknya, membuat ia berteriak histeris."

Pelayan masuk ke dalam kamar Allea. "Putri, tenanglah." pelayan itu berdiri satu meter di depan Allea yang nampak seperti kerasukan setan.

Tatapan tajam Allea jatuh pada si pelayan. Ia mengambil Vas bunga yang ada di sebelah nya lalu melemparkannya pada pelayan itu hingga mengenai kepala si pelayan.

"Pergi dari sini! Pergi!" Raung Allea.

Pelayan itu segera keluar sembari memegangi kepalanya yang berdarah. Di dalam kamar, Allea melemparkan semua barang yang ada di dekatnya.

Tak lama kemudian Ratu Beatrix masuk kedalam sana. "Allea, tenagkan diri mu." Ia mendekati putrinya lalu memegangi kedua tangan Allea.

Tatapan mata Allea sekarang kosong. Yang ia rasakan hanyalah kemarahan dan rasa jij*k. Ia bahkan masih bisa merasakan setiap sentuhan dua pria bayaran yang memperk*sanya.

"Aku sudah hancur, Bu. Aku hancur." Allea bersuara serak. Wajahnya terlihat tanpa kehidupan.

Ratu Beatrix memeluk Allea.

"Jangan berbicara seperti itu. Kau masih memiliki masa depan."

Allea menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku akan bun*h diri saja! Orang-orang di luar sana saat ini pasti sedang menertawakan ku. Mereka pasti akan memandangku hina."

"Tidak ada yang berani, Sayang." Ratu Beatrix berbicara lembut dan tenang.

"Aku juga harus menerima hukuman istana, Bu!" perkataan Allea membuat Ratu Beatrix terdiam.

Pikiran Allea kacau. Ia tidak bisa menanggung malu atas apa yang telah terjadi. Ia tidak akan bisa mengangkat wajahnya ketika ia berjalan di tengah keramaian. Orang-orang yang dulu memuji nya pasti akan menatap nya iba.

Ia tidak ingin di kasihani orang lain. Ia lebih baik mat* daripada harus merasakan itu semua.

Tanpa berpikir panjang, Allea meraih pisau buah yang ada di meja. Ia hendak mengiris pergelangan tangannya, tapi segera dihentikan oleh Ratu Beatrix yang ada di sana.

Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Allea hingga bekas kemerahan terlihat di sana. "Gunakan akal sehat mu, Allea!" geram Ratu Beatrix marah.

Ia tidak pernah berpikir bahwa putrinya akan se lemah ini. Hidup putrinya belum berakhir. Yang terjadi pada Allea memang sangat buruk, tapi bukan berarti Allea harus menyerah pada hidup nya.

Saat ini orang-orang mungkin akan membicarakan Allea, tapi seiring berjalan nya waktu akan ada scandal lain yang akan jadi perbincangan. Allea hanya perlu menunggu dengan sabar.

"Sekarang jelaskan pada ibu kenapa kau bisa berada dalam masalah seperti ini? Kau jelas tidak akan bertindak kony*l bermain-main dengan dua pria saat kau dapan memiliki pangeran manapun!" tekan Ratu Beatrix.

Pertanyaan Ratu Beatrix membuat kedua tangan Allea mengepal kuat. "Aalis! Ini semua karena j*lang si*lan itu!" geram nya. "Aku akan memb*nuh pel*cur itu!"

Terpopuler

Comments

araa

araa

lanjutt thorrrrrr

2023-01-18

1

lihat semua
Episodes
1 Ku Terima Hinaan Kalian | 1
2 Ku Terima Hinaan Kalian | 2
3 Ku Terima Hinaan Kalian | 3
4 Ku Terima Hinaan Kalian | 4
5 Ku Terima Hinaan Kalian | 5
6 Ku Terima Hinaan Kalain | 6
7 Ku Terima Hinaan Kalian | 7
8 Ku Terima Hinaan Kalian | 8
9 Ku Terima Hinaan Kalian | 9
10 Ku Terima Hinaan Kalian | 10
11 Ku Terima Hinaan Kalian | 11
12 Ku Terima Hinaan Kalian | 12
13 Ku Terima Hinaan Kalian | 13
14 Ku Terima Hinaan Kalian | 14
15 Ku Terima Hinaan Kalian | 15
16 Ku Terima Hinaan Kalian | 16
17 Ku Terima Hinaan Kalian | 17
18 Ku Terima Hinaan Kalian | 18
19 Ku Terima Hinaan Kalian | 19
20 Ku Terima Hinaan Kalian | 20
21 Ku Terima Hinaan Kalian | 21
22 Ku Terima Hinaan Kalian | 22
23 Ku Terima Hinaan Kalian | 23
24 Ku Terima Hinaan Kalian | 24
25 Ku Terima Hinaan Kalian | 25
26 Ku Terima Hinaan Kalian | 26
27 Ku Terima Hinaan Kalian | 27
28 Ku Terima Hinaan Kalian | 28
29 Ku Terima Hinaan Kalian | 29
30 Ku Terima Hinaan Kalian | 30
31 Ku Terima Hinaan Kalian | 31
32 Ku Terima Hinaan Kalian | 32
33 Ku Terima Hinaan Kalian | 33
34 Ku Terima Hinaan Kalian | 34
35 Ku Terima Hinaan Kalian | 35
36 Ku Terima Hinaan Kalian | 36
37 Ku Terima Hinaan Kalian | 37
38 Ku Terima Hinaan Kalian | 38
39 Ku Terima Hinaan Kalian | 39
40 Ku Terima Hinaan Kalian | 40
41 Ku Terima Hinaan Kalian | 41
42 Ku Terima Hinaan Kalian | 42
43 Ku Terima Hinaan Kalian | 43
44 Ku Terima Hinaan Kalian | 44
45 Ku Terima Hinaan Kalian | 45
46 Ku Terima Hinaan Kalian | 46
47 Ku Terima Hinaan Kalian | 47
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Ku Terima Hinaan Kalian | 1
2
Ku Terima Hinaan Kalian | 2
3
Ku Terima Hinaan Kalian | 3
4
Ku Terima Hinaan Kalian | 4
5
Ku Terima Hinaan Kalian | 5
6
Ku Terima Hinaan Kalain | 6
7
Ku Terima Hinaan Kalian | 7
8
Ku Terima Hinaan Kalian | 8
9
Ku Terima Hinaan Kalian | 9
10
Ku Terima Hinaan Kalian | 10
11
Ku Terima Hinaan Kalian | 11
12
Ku Terima Hinaan Kalian | 12
13
Ku Terima Hinaan Kalian | 13
14
Ku Terima Hinaan Kalian | 14
15
Ku Terima Hinaan Kalian | 15
16
Ku Terima Hinaan Kalian | 16
17
Ku Terima Hinaan Kalian | 17
18
Ku Terima Hinaan Kalian | 18
19
Ku Terima Hinaan Kalian | 19
20
Ku Terima Hinaan Kalian | 20
21
Ku Terima Hinaan Kalian | 21
22
Ku Terima Hinaan Kalian | 22
23
Ku Terima Hinaan Kalian | 23
24
Ku Terima Hinaan Kalian | 24
25
Ku Terima Hinaan Kalian | 25
26
Ku Terima Hinaan Kalian | 26
27
Ku Terima Hinaan Kalian | 27
28
Ku Terima Hinaan Kalian | 28
29
Ku Terima Hinaan Kalian | 29
30
Ku Terima Hinaan Kalian | 30
31
Ku Terima Hinaan Kalian | 31
32
Ku Terima Hinaan Kalian | 32
33
Ku Terima Hinaan Kalian | 33
34
Ku Terima Hinaan Kalian | 34
35
Ku Terima Hinaan Kalian | 35
36
Ku Terima Hinaan Kalian | 36
37
Ku Terima Hinaan Kalian | 37
38
Ku Terima Hinaan Kalian | 38
39
Ku Terima Hinaan Kalian | 39
40
Ku Terima Hinaan Kalian | 40
41
Ku Terima Hinaan Kalian | 41
42
Ku Terima Hinaan Kalian | 42
43
Ku Terima Hinaan Kalian | 43
44
Ku Terima Hinaan Kalian | 44
45
Ku Terima Hinaan Kalian | 45
46
Ku Terima Hinaan Kalian | 46
47
Ku Terima Hinaan Kalian | 47

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!