Ku Terima Hinaan Kalian | 11
"Menghadap Yang Mulia Putra Mahkota Jackson."
Putra Mahkota Jackson berbalik dan mendapati Axela berlutut di belakang nya. Sebenarnya, tanpa satu orang pun tahu, Axela adalah seseorang yang Putra Mahkota Jackson tolong jauh sebelum ia bertemu dengan Aalis.
Setelah Putra Mahkota Jackson bertemu dengan Sadie. Axela melihat dan menghampiri pria itu ketika dirinya sudah sendirian.
"Hm, bangunlah."
Axela bangun dari berlutut nya. Lekas mereka berdua duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Apa yang membuat mu gelisah?"
Putra Mahkota Jackson menangkap gurat gelisah di wajah Axela. Entah apa yang membuat wanita itu gelisah.
"Maaf, Yang Mulia. Bagaimana jika Putri Aalis mengetahui bahwa saya adalah bawahan anda? Bagaimana jika dia merasa di bohongi?"
Ah, ternyata itu yang membuat nya gelisah. Kini Putra Mahkota Jackson paham, ia juga sedikit merasa bersalah karena sudah membohongi wanita yang di cintai nya itu.
Tapi demi kebaikan nya, ia menepis rasa bersalah itu. Ia tidak ingin wanita-nya ada yang menyakiti.
Putra Mahkota Jackson kembali mengingat kejadian sebelumnya.
Peristiwa itu bagaikan rekaman yang di putar kembali dalam ingatannya. Dimana di medan perang, terlihat seorang wanita dengan sayap hitamnya.
Wanita itu berusaha keras untuk melindungi bangsa nya. Sekuat tenaga ia berusaha, karena ia Putri Mahkota kerajaan itu.
Aalis, Putri Mahkota kerajaan Iblis. Bangsa yang sangat rendah di mata para Dewa, namun walaupun Iblis mereka juga memiliki hati nurani.
Disisi lain, Di kerajaan Dewa. Seorang pria terkurung dipenjara emas, Dia adalah Putra Mahkota Jackson.
Ia berusaha untuk keluar dari penjara sihir itu. Namun, sekuat tenaga ia tetap tindak bisa keluar. Karena, sang Raja langit sudah memasang sihur yang sulit untuk ia buka.
Sedangkan peperangan masih terus berlanjut. Para Dewa, para Iblis sudah banyak yang tumbang. Peperangan ini belum ada yang memenangkan.
Aalis melihat ke arah orang tuanya yang sudah tak berdaya. Demi melindungi bangsa nya, ia menarik salah satu bulu sayap nya yang berwarna merah.
"Aaaakkhhh!"
Saat itu juga ia jatuh ke tanah dengan tak bernyawa. Dan bangsa nya berhasil terselamatkan, para Dewa tak bisa menembus perisai itu.
Tetapi, ada satu Dewa yang berhasil menembus itu. Tak lain adalah Putra Mahkota Jackson, ia berhasil terlepas dari penjara nya.
Namun, tentu saja ia terlambat. Aalis sudah tewas demi menyelamatkan bangsa nya, Air mata yang menganak sungai perlahan tumpah ruah membasahi wajah rupawan nya.
Ia memeluk erat tubuh wanita yang sudah tak bernyawa itu. Perlahan tapi pasti tubuh itu menghilang menjadi butiran abu yang terbang ke langit.
"Aaarrgghhh!"
Ia berteriak sekeras mungkin, menyalahkan takdir yang begitu tak adil padanya. Memang nya mengapa jika Dewa mencintai Iblis? Apa salahnya?
"Apa tugas ku selanjutnya, Pangeran?"
Putra Mahkota Jackson terbangun dari lamunan nya. Ia kembali menatap wanita yang duduk tak jauh dari dirinya berada.
"Terus jaga Putri Aalis. Dan jangan biarkan dia mengetahui hal ini."
Axela mengangguk. Lalu ia pergi meninggalkan Putra Mahkota Jackson sendiria.Terlihat pria itu sedikit sedih.
Sedih karena Aalis tidak mengingat nya sama sekali, tapi ia akan berusaha untuk membuat Aalis mengingat nya kembali.
Di kediaman Aalis. Wanita itu terlihat duduk di taman kediamannya dengan memasang wajah di buat se ramah mungkin. Dalam hatinya ia begitu kesal pada pria yang duduk tak jauh dari nya saat ini.
Pangeran Caesar. Pria mengunjungi kediaman Aalis, dengan alasan ingin bertemu calon istrinya. Alih-alih senang di kunjungi Calon suami, Aalis justru sebaliknya.
Karena, tetap tidak akan ada pernikahan antara nya dan Pangeran Caesar. Baginya, itu hanya mimpi yang takkan pernah terjadi.
"Teh buatan mu sangat enak, Putri."
"Terimakasih, atas pujiannya Pangeran."
Hanya perbincangan ringan yang mereka bicarakan. Aalis tidak nyaman dengan tatapan penuh nafsu yang Pangeran Caesar berikan.
Ia tahu, pria di hadapannya ini sudah memiliki Lima selir. Sudah pasti dirinya pun akan menjadi selir, bukan istri sah.
Dalam impian Aalis, ia ingin memiliki suami yang benar-benar mencintai nya. Ia tidak ingin menjadi seperti Ratu Beatrix yang menghalalkan segala cara demi keselamatan posisinya.
Ia begitu benci konflik harem istana.
"Boleh aku bergabung?"
Suara lembut seorang wanita yang begitu tidak asing di telinga mereka tiba-tiba datang menghampiri. Mereka menoleh, dan mendapati Putri Allea yang sedang berdiri dengan senyum termanis nya.
Aalis sedikit menarik senyum, benar-benar permainan menjij*kan. Ingin rasanya Aalis berucap seperti itu. Ia tentu saja tahu rencana kedua orang yang berada bersama nya saat ini.
"Oh, tentu saja, Putri Allea. Bukankah Pangeran Caesar adalah Sahabat mu? Akan lebih nyaman jika diri mu berada disini."
Ya, masih jelas dalam ingatannya. Bagaimana ketika Pangeran Caesar berkunjung ke Menzel dan bermain bersama Allea. Pria itu begitu menatap nya benc* , tanpa melirik sedikitpun.
Namun, sekarang. Lihatlah, Pria itu tiba-tiba berada di sisiNya dan menyapa nya dengan alasan untuk bertemu Calon istri.
"Terimakasih, Kakak."
Putri Allea ikut bergabung bersama keduanya. Mereka melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda. Putri Allea tampak beberapa kali tertawa begitu pun dengan Pangeran Caesar.
Keduanya tampak begitu akrab, namun tidak dengan Aalis. Ia hanya sesekali menyahut dan bersuara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments