Ku Terima Hinaan Kalian | 8
"Mohon ampuni kesalahan saya, Putri. Saya akan melakukan apapun untuk anda. Tolong jangan usir saya dari istana."
Pelayan itu bersujud di hadapan Aalis. Aalis mendengus, ia sedikit kesal. Wanita paruh baya di hadapan nya sudah memotong nya berbicara.
Ia bahkan belum mengatakan tujuan nya apa. Ia tahu, wanita di hadapannya ini adalah salah satu pelayan yang benar-benar menghormati nya, bukan karena kehebatan yang Aalis miliki.
"Haish! Bibi pelayan, bagaimana bisa kau memotong ucapan ku. Bahkan aku belum selesai berbicara."
Sambil memijat kepalanya, ia bangun dari duduk nya. Membantu, wanita di hadapan nya berdiri dari sujud nya.
"Aku ingin kau bekerja di tempat teman ku. Bangunlah."
Wanita itu bangun dari sujudnya. Ia menatap Aalis sebentar, lalu kembali menundukkan pandangannya. 'Se menyeramkan itukah diriku?' Ingin rasanya Aalis bertanya hal itu.
"Antarkan ini pada Allea, dan katakan ini pemberian ibunya. Jika tidak aku akan langsung menghabisi mu dan seluruh keluarga mu."
Mendengar itu, Pelayan di hadapan Aalis semakin ketakutan. Seluruh tubuhnya bahkan bergetar. Keringat pun sudah mengucur dari pelipisnya.
"Lalu, kau harus langsung keluar dari istana ini. Dan jangan biarkan ada yang mengetahui kau pergi. Kau akan bekerja di kediaman teman ku."
Mendengar kata terakhir Aalis dengan jelas, wanita itu mengembangkan senyum bahagianya. Ia kembali bersujud di bawah kaki Aalis.
"Terimakasih atas kemurahan hati, Putri Aalis."
"Astaga, bangunlah. Aku bukan Tuhan mu!"
Ya, begitulah Aalis. Ia berbeda dari Putri dan Pangeran pada umumnya. Mungkin, anak bangsawan lain ingin para pelayan bersujud di bawah kaki mereka, tetapi tidak dengan Aalis.
Ia beranggapan semua manusia sama. Untuk apa bersujud di bawah kakinya, dirinya bukan Tuhan ataupun Raja langit.
Setelah nya, pelayan itu melaksanakan tugasnya. Mengantarkan gaun pemberian Ratu, kepada anak kesayangan Ratu.
"Ada apa?"
Penjaga Kediaman Allea menghalangi jalan masuk Pelayan suruhan Aalis.
"Maaf, tuan penjaga. Saya mengantarkan ini untuk Putri Allea, dari Yang Mulia Ratu."
Mendengar kata Ratu, kedua penjaga tersebut sedikit tidak percaya. Karena biasanya Ratu akan mengantarkan apapun untuk Allea melalui pelayan kepercayaan nya. Tapi, wanita yang ada di hadapan mereka ini. Begitu asing untuk mereka.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Salah satu dari keduanya masuk untuk menyampaikan permintaan itu pada Putri Allea.
Tak membutuhkan waktu lama. Penjaga tersebut kembali dan mempersilahkan wanita itu untuk masuk.
"Apa ini? Dan dari siapa?"
Dengan sombongnya Putri Allea bertanya pada pelayan itu. Tangannya, terlipat di depan dada. Matanya menatap rendah pelayan yang ada di hadapannya.
"Menjawab, Putri. Ini gaun dari Yang Mulia Ratu, Untuk anda gunakan saat penyambutan kedatangan Putra Mahkota Jackson dan Pangeran Kedua Caesar."
Putri Allea menatap gaun itu. Seketika mata nya berbinar bahagia. Gaun yang ia pegang saat ini begitu indah, dan apalagi jika dirinya yang memakainya.
Gaun merah dengan bordiran emas itu pasti akan semakin mempercantik dirinya. Itu yang Allea pikirkan, tanpa melihat jenis gaun apa yang Ratu berikan.
Ia justru begitu berterima kasih pada ibunya, karena mengerti apa yang dia inginkan. Ia akan berterimakasih pada ibunya setelah acara itu selesai.
"Baiklah, kau boleh pergi."
Sambil mengibaskan tangannya, Putri Allea mengusir pelayan itu. Pelayan itupun segera pergi karena urusannya sudah selesai. Ia juga segera membenahi semua barangnya, mengingat ucapan Aalis jika dirinya tidak pergi dari istana sekarang juga.
"Nyawa mu, ada pada tangan mu, Bibi pelayan."
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, setelah semua selesai. Ia mengendap-endap ke jalan yang jarang di lalui orang-orang.
Sedangkan itu. Di kediaman Ratu Beatrix. Wanita yang sudah tidak muda lagi namun masih memiliki kecantikan yang awet itu sedang menyesap teh melati kesukaan nya.
Ia begitu menikmati teh nya. Sambil kepalanya berfantasi, membayangkan kehancuran Aalis akan segera tiba. Tanpa ia sadari sebenarnya senjata miliknya tepat mengenai anak kesayangan nya sendiri.
"Kehancuran mu, akan segera tiba Aalis."
Dalam pikiran Ratu Beatrix. Aalis pasti akan memakai pemberiannya, mengingat Aalis yang hanya paham tentang peperangan. Mana mungkin wanita itu tau tentang pakaian.
Oh, sungguh bod*hnya Ratu Beatrix. Mungkin jika Aalis tahu apa yang wanita itu pikirkan, ia akan tertawa terbahak-bahak sampai terjungkal karena mengetahui pemikiran pendek Ratu Beatrix.
Disisi lain. Tepatnya di dunia langit. Kerajaan Iblis, seorang wanita yang tak lain adalah Ratu Alarice, Ratu kerajaan itu sendiri. Ia terlihat terkejut dengan pergeseran takdir yang terjadi.
Bagaimana mungkin Putrinya Aalis harus bertemu kembali dengan Putra Mahkota Jackson. Ia tidak ingin putri nya melakukan kesalahan hal yang serupa seperti sebelumnya.
"Tenanglah, Ratuku. Dia adalah wanita kuat, dia pasti bisa menghadapi takdirnya."
Raja Arland, yang tak lain adalah Raja kerajaan Iblis atau Ayah Aalis. Menenangkan Ratunya yang terlihat gusar.
"Apakah Putri ku akan mengecewakan ku lagi?"
Suaranya begitu kecil hampir tak terdengar, ia menahan sesak di dadanya. Sudah cukup, ia melihat jalan hidup Aalis yang penuh dengan duri. Kenapa Aalis harus bertemu dengan Jackson lagi?
Raja Arland tidak bisa melakukan apapun, ia bukanlah Dewa pemegang takdir. Ia hanya Raja Iblis, yang keberadaan nya sangat rendah di mata para Dewa.
Ia hanya bisa melihat perjalanan hidup putrinya tanpa bisa ikut campur. Putri nya yang memilih jalan ini. Dan sudah peraturan Dunia langit, bahwa penghuni langit tidak bisa turun ke bumi selain Dewa pemegang takdir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Nur's
saya masih belum paham thor
2023-02-02
0