Ku Terima Hinaan Kalian | 13
"Beraninya Kau!" Masih dengan amarahnya, Aalis menatap sengit Putra Mahkota Jackson. Sedangkan yang di tatap hanya mengukir senyum tipis.
"Aku Mencintaimu." Sebuah kata-kata bod*h keluar dari mulut Putra Mahkota Jackson. Dengan beraninya ia mengatakan perasaan nya pada wanita yang akan menjadi istri adik nya sendiri.
"Lancang! Aku calon istri adikmu! Aku tidak peduli walaupun kau Putra Mahkota." Aalis semakin menatap tajam Putra Mahkota Jackson.
Sebelumnya, Aalis berpikir bahwa Putra Mahkota Jackson adalah seseorang yang berwibawa. Namun, kini Putra Mahkota Jackson tak lebih rendah dari badjingan di matanya.
Tiba-tiba Jackson melangkah menghampiri Aalis. Senyuman menghiasi langkahnya, Aalis semakin waspada dan mundur beberapa langkah.
Tetapi, Happ... Jackson menarik Aalis ke pelukan nya. Aalis berusaha melepaskan pelukan itu, ia bersiap akan menancapkan belati yang ada dalam genggaman nya ke punggung Jackson.
Tapi, pergerakan nya kembali terhenti. Jackson mengelus puncak kepala Aalis, membuat gadis itu tiba-tiba terdiam. Jackson tersenyum tipis melihat nya.
Pelukan itu begitu erat. Jackson memberikan sejuta kehangatan untuk Aalis, dan melepaskan rasa rindu nya yang mendalam.
"Aku merindukan mu."
Suara samar Jackson sedikit terdengar oleh Aalis. Namun, entah mengapa ia juga merasakan rindu yang mendalam pada Jackson. Ia merasakan kehangatan dan ketenangan di dalam pelukan Jackson.
"Kau mendengar nya?"
"Emm, Ya. Ini berdetak."
Aalis yang memang memposisikan telinganya di dada Jackson bisa mendengar detak jantung itu. Tapi, jawaban tidak Aalis sadari tiba-tiba keluar begitu saja.
Deg...
Tiba-tiba ada yang sesak di dada Aalis. Ia memejamkan mata nya, kepala nya kembali merasakan sakit ketika ia selalu memimpikan kemat*annya.
"Kau mendengar nya?"
"Emmm, Ya. Ini berdetak."
Kata-kata itu terngiang di kepala Aalis. Dan seolah tidak ingin pergi, telinga nya terus mendengar kata-kata itu. Aalis begitu merasa De Javu dengan suara itu. Sama seperti suara yang baru di dengarnya.
Sekuat tenaga ia mencoba agar tetap sadar. Tapi, karena rasa sakit itu yang tak kunjung hilang, akhirnya pandangan nya menggelap dan setelah nya ia tak mengetahui apapun lagi.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Jackson pada Axela.
"Tidak perlu khawatir, Pangeran. Semuanya baik baik saja. " Axela tidak menemukan kesalahan dalam pengobatan Aalis. Besok pagi Aalis pasti sudah sadar kembali.
"Sejujurnya, Putri sering mengalami hal ini, Pangeran."
"Apa maksud mu?"
Ada sedikit nada cemas dalam ucapan Jackson. Ia tidak menduga, bahwa Aalis sering mengalami hal ini.
"Putri sering memimpikan kemat*annya, dan ia sering bercerita bahwa ada satu orang pria yang begitu menangisi kepergian nya."
Penjelasan Axela kembali mengubah raut wajah Jackson. Ia sedikit tersenyum, ada rasa senang karena perlahan Aalis pasti mengingat semuanya. Tetapi, ada rasa sedih juga karena Aalis pasti begitu kesakitan.
"Kau bisa keluar dari sini. Aku akan menjaga Aalis." Jackson duduk di tepi ranjang, ia memandangi wajah pucat wanita yang ia cintai.
"Baik, Pangeran." Axela meninggalkan Jackson.
Keringat kembali megucur di kening dan seluruh tubuh Aalis. Tidur nya kembali terganggu, dirinya terlihat ingin membuka mata namun seperti ada yang membuat matanya itu sulit untuk terbuka.
"Kau mendengar nya?"
"Emmm, Ya. Ini berdetak."
Suara-suara itu terus berputar di otak nya. Bersamaan dengan suara itu, rasa sesak di dada nya kembali terasa. Perasaan itu begitu menyayat hatinya.
"Kau hanyalah seorang Ibl*s. Kami para Dewa tidak menerima mu."
"Dia calon istri ku! Biarkan dia masuk!"
"Jangan menentang takdir, Putra Mahkota. Calon istri mu, Putri dari Dewa Surya."
"Tidak! Aku hanya akan menikahi nya!"
Hosh... Hosh... Hosh....
Akhirnya Aalis dapat terbangun dari mimpinya. Ia melihat sekitar nya yang tidak ada siapapun. Kembali menoleh ke arah jendela yang ternyata matahari sudah terik, artinya ia terbangun di siang hari.
Tiba-tiba Sadie datang dengan seorang tabib dengan tergesa-gesa. Langkah nya begitu cepat, dengan wajah yang pucat.
"Putri, Anda sudah sadar?"
Sadie bertanya dengan cemas. Aalis mengangguk agar pelayannya itu sedikit tenang.
"Aku baik-baik saja, Sadie. Tabib, kau boleh kembali."
Tabib itu hanya mengangguk, dan kembali undur diri. Aalis kembali menatap Sadie yang masih terlihat cemas.
"Maaf, Aku membuat mu cemas, Sadie. Aku sedikit kelelahan karena jamuan kemarin. Sekali lagi Maaf membuat mu cemas."
"Tidak, Putri. Anda tidak perlu meminta maaf, seharusnya hamba yang meminta maaf. Hamba tidak bisa menjaga putri dengan baik."
Sadie kembali menjatuhkan kepalanya di lantai. Ia bersujud di hadapan Aalis.
"Bangunlah. Aku lapar, tolong siapkan makanan untuk ku."
Sadie kembali bangun dari sujud nya. Ia beranjak untuk menyiapkan makanan Aalis.
Aalis pun turun dari ranjang nya. Sambil menunggu pelayan nya menyiapkan makanan ia akan berendam untuk menenangkan pikiran nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Pak Yan
INI NGEHALU SKILL TINGKAT DEWA KAK !!!!!! KUAT LIHAI INI MAH ...... MANTAP !!!!!!! 🤔🤔🤔🤔🤔😲😲😲😲😲👌👌👌👌👌👍👍👍👍👍👍👍👍👍
2023-01-21
0
araa
lanjuttt
2023-01-16
1