Ku Terima Hinaan Kalain | 6

Ku Terima Hinaan Kalian | 6

"Kau akan menikah?"

Nada sedih terdengar keluar dari mulut pria tampan dan gagah yang sedang duduk di samping Aalis.

Iris matanya berwarna abu-abu dengan begitu cerahnya bagaikan taburan bintang di langit malam. Dengan garis wajah yang terpahat sempurna.

Ia adalah Drake. Putra pertama Mentri Kehakiman. Dirinya adalah salah satu Jendral perang yang selalu bersama Aalis.

Drake adalah satu-satunya pria yang menatap Aalis dengan tatapan kagum dan hormat. Ia begitu menganggap Aalis sebagai adiknya.

Andai Aalis tahu. Bahwa pria yang selalu mendukung nya ini adalah seseorang yang begitu mencintai nya dengan tulus. Ia begitu sedih ketika mendengar bahwa Aalis mendapat lamaran dari pangeran Kedua kerajaannya Groft.

Pangeran itu memang bukan putra dari Ratu. Tetapi, jika dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang putra mentri Kehakiman, ia tentu saja bukan tandingannya.

"Tidak."

Aalis menjawab pertanyaan Drake dengan santai. Membuat pria itu menakutkan alisnya bingung.

"Kau menolak lamarannya?"

"Tidak."

"Aalis, apa maksud mu? Jangan membuat ku bingung dengan ucapan mu."

Aalis berbalik menghadap Drake. Memberikan senyuman hangat yang menenangkan. Terlihat wajah Drake yang begitu serba salah.

"Kau mengetahui diriku melebihi siapapun, Kakak. Ada apa? Mengapa kau terlihat begitu sedih?"

"Tidak ada. Diriku hanya merasa khawatir dengan adik kecil ku yang akan menikah."

Dirinya begitu sadar diri. Aalis yang seorang putri Raja menganggap nya Kakak pun ia sudah beruntung. Begitu serakah jika ia meminta lebih.

Ya, Aalis lebih menganggap Drake Kakak dari pada Putra Mahkota yang merupakan kakak sesungguhnya. Namun, selalu menunjukan tatapan hina untuk diri nya.

"Siapa yang mengatakan aku akan menikah?!"

Masih dengan tawa yang menghiasi bibir nya. Aalis kembali menjawab perkataan Drake dengan pertanyaan kembali.

"Tidak akan pernah ada pernikahan sebelum tujuan ku tercapai, Kak."

Ia kembali melanjutkan ucapannya. Drake paham, tujuan apa yang Aalis maksud.

Sebenarnya, jika Aalis mengetahui perasaan nya dan menerima cinta nya. Mungkin, Drake akan membawa Aalis sejauh mungkin, dan melepaskan dendam yang ia bawa sejak lahir.

Ia tahu, Aalis tidak bahagia dengan selalu menyimpan dendam di hatinya. Ia juga sama seperti gadis lainnya. Yang menginginkan kasih sayang orang tuanya.

Namun, takdir pahit yang ia bawa sejak lahir membuat nya tak kan pernah bisa mendapatkan apa yang ia butuhkan. Dendam, hanya pelampiasan. Agar hatinya tak terluka lebih dalam.

"Baiklah, apapun itu. Pesan ku hanya satu, jaga dirimu baik-baik dimana pun kau berada."

"Baik, Kak. Pesan mu akan selalu ku ingat."

"Sudah lama kau tidak berlatih, apa kau ingin berlatih hari ini?"

"Ya, tentu saja. Hari ku sedikit senggang kali ini, dan aku juga merasa bosan."

Akhirnya, mereka pergi berlatih pedang.

Disisi, lain. Rombongan Putra Mahkota dan Pangeran Kedua Kerajaan Groft, sudah memasuki area Menzel.

Suara riuh kaki kuda, memecah keheningan di gurun pasir perbatasan Menzel. Matahari yang mulai naik menambah terik nya panas perjalanan mereka.

Hingga suara kuda itu terhenti. Sang Putra Mahkota, yang tak lain adalah Pangeran Jackson Jenner Groft. Menghentikan langkah rombongan nya.

Pangeran kedua, Caesar Jenner Groft. Ikut menghentikan langkah kuda nya, ia menghampiri sang kakak.

Ia sedikit kesal, karena kakak nya itu selalu menghambat perjalanan nya dengan berbagai alasan. Sebenarnya, ia sudah melarang kakak nya ini ikut.

Karena, tahu itu pasti akan memperlambat perjalanan mereka. Dengan kesal ia bertanya pada kakak nya.

"Ada apa, Putra Mahkota?"

"Istirahat sebentar, Pangeran Caesar. Lagi pula, kita sudah berada di perbatasan Menzel. Hanya beberapa jam lagi kita sampai di ibukota. "

Lagi-lagi, jawaban yang membuat Caesar kesal dan ingin memukuli wajah orang yang ada di hadapan nya. Sampai kapan mereka akan terus beristirahat.

"Baiklah."

Ia pergi meninggalkan Jackson. Jackson menatap punggung adik nya yang perlahan menjauh, ia sengaja ingin membuat Caesar kesal.

Kau ingin menikahi Ratu ku? Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Bibir nya sedikit terangkat, menampilkan senyuman yang sulit untuk di artikan.

Setelah beristirahat beberapa menit. Mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Di hari yang panas itu, mereka tetap berkuda untuk sampai di istana Menzel.

Ketika Matahari akan segera terbenam, akhirnya rombongan Kerajaan Groft tiba di ibu kota Menzel. Bendera Kerajaan Groft yang berkibar, memberitahu semua rakyat Menzel bahwa calon menantu Raja itu telah tiba.

Di istana, semua orang sudah berdiri di depan Gerbang utama untuk menyambut kedatangan rombongan Kerajaan Groft.

Raja Carlos berdiri dengan gagah nya dan disamping nya berdiri Ratu Beatrix yang selalu anggun. Para selir serta putra dan putri pun sudah berdiri di sana.

Tak lama, suara kaki kuda yang perlahan mendekat itu pun tiba di depan istana. Mereka menyambut kedatangan sang tamu dengan wajah tersenyum.

Setelah itu terlihat Pangeran Jackson dan Pangeran Caesar turun dan menghampiri Raja Carlos.

"Putra Mahkota memberi salam pada Yang Mulia Raja."

"Ku terima salam mu, Putra Mahkota. Berdiri lah."

Setelah itu disusul Pangeran Caesar juga yang memberi salam.

"Pangeran Kedua memberi salam pada, Yang Mulia Raja."

"Ku terima salam mu, Pangeran kedua. Berdirlah."

Aalis yang melihat keduanya begitu dekat karena berdiri di samping Ratu yang bersebelahan dengan Raja, sedikit tertegun melihat Putra Mahkota Jackson.

Entah kenapa, tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dan memperlihatkan kedekatan nya bersama Putra Mahkota Jackson. Aalis menggelengkan kepala nya.

Tidak, bagaimana mungkin bisa. Ini pertama kali nya ia bertemu dengan Putra Mahkota Jackson, bagaimana ia bisa merasakan perasaan seakrab ini.

Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu. Putra Mahkota Jackson, melihat ke dalam mata Aalis yang begitu tenang seperti lautan namun menenggelamkan.

Begitu pun Aalis. Ia melihat Ke dalam mata hijau milik Jackson yang seperti Axela. Tidak, Iris mata Putra Mahkota Jackson tidak begitu sama dengan milik temannya.

Iris hijau itu begitu terang dan tenang, namun tatapannya menyesatkan. Ia berkedip, menyadarkan diri. Tak seharusnya ia memandangi terlalu lama Putra Mahkota Jackson.

Namun, ada sesuatu yang aneh di dalam dadanya yang bergejolak tiba-tiba. Tetapi, tidak dengan Jackson. Ia merasakan ketenangan saat memandangi wajah terutama mata biru milik Aalis.

Putra Mahkota Jackson yang memutuskan ingin langsung beristirahat dan di setujui oleh Pangeran Caesar. Akhirnya jamuan penyambutan kedatangan mereka akan dilaksanakan besok, pada akhir nya semua orang kembali ke kediaman masing-masing.

Episodes
1 Ku Terima Hinaan Kalian | 1
2 Ku Terima Hinaan Kalian | 2
3 Ku Terima Hinaan Kalian | 3
4 Ku Terima Hinaan Kalian | 4
5 Ku Terima Hinaan Kalian | 5
6 Ku Terima Hinaan Kalain | 6
7 Ku Terima Hinaan Kalian | 7
8 Ku Terima Hinaan Kalian | 8
9 Ku Terima Hinaan Kalian | 9
10 Ku Terima Hinaan Kalian | 10
11 Ku Terima Hinaan Kalian | 11
12 Ku Terima Hinaan Kalian | 12
13 Ku Terima Hinaan Kalian | 13
14 Ku Terima Hinaan Kalian | 14
15 Ku Terima Hinaan Kalian | 15
16 Ku Terima Hinaan Kalian | 16
17 Ku Terima Hinaan Kalian | 17
18 Ku Terima Hinaan Kalian | 18
19 Ku Terima Hinaan Kalian | 19
20 Ku Terima Hinaan Kalian | 20
21 Ku Terima Hinaan Kalian | 21
22 Ku Terima Hinaan Kalian | 22
23 Ku Terima Hinaan Kalian | 23
24 Ku Terima Hinaan Kalian | 24
25 Ku Terima Hinaan Kalian | 25
26 Ku Terima Hinaan Kalian | 26
27 Ku Terima Hinaan Kalian | 27
28 Ku Terima Hinaan Kalian | 28
29 Ku Terima Hinaan Kalian | 29
30 Ku Terima Hinaan Kalian | 30
31 Ku Terima Hinaan Kalian | 31
32 Ku Terima Hinaan Kalian | 32
33 Ku Terima Hinaan Kalian | 33
34 Ku Terima Hinaan Kalian | 34
35 Ku Terima Hinaan Kalian | 35
36 Ku Terima Hinaan Kalian | 36
37 Ku Terima Hinaan Kalian | 37
38 Ku Terima Hinaan Kalian | 38
39 Ku Terima Hinaan Kalian | 39
40 Ku Terima Hinaan Kalian | 40
41 Ku Terima Hinaan Kalian | 41
42 Ku Terima Hinaan Kalian | 42
43 Ku Terima Hinaan Kalian | 43
44 Ku Terima Hinaan Kalian | 44
45 Ku Terima Hinaan Kalian | 45
46 Ku Terima Hinaan Kalian | 46
47 Ku Terima Hinaan Kalian | 47
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Ku Terima Hinaan Kalian | 1
2
Ku Terima Hinaan Kalian | 2
3
Ku Terima Hinaan Kalian | 3
4
Ku Terima Hinaan Kalian | 4
5
Ku Terima Hinaan Kalian | 5
6
Ku Terima Hinaan Kalain | 6
7
Ku Terima Hinaan Kalian | 7
8
Ku Terima Hinaan Kalian | 8
9
Ku Terima Hinaan Kalian | 9
10
Ku Terima Hinaan Kalian | 10
11
Ku Terima Hinaan Kalian | 11
12
Ku Terima Hinaan Kalian | 12
13
Ku Terima Hinaan Kalian | 13
14
Ku Terima Hinaan Kalian | 14
15
Ku Terima Hinaan Kalian | 15
16
Ku Terima Hinaan Kalian | 16
17
Ku Terima Hinaan Kalian | 17
18
Ku Terima Hinaan Kalian | 18
19
Ku Terima Hinaan Kalian | 19
20
Ku Terima Hinaan Kalian | 20
21
Ku Terima Hinaan Kalian | 21
22
Ku Terima Hinaan Kalian | 22
23
Ku Terima Hinaan Kalian | 23
24
Ku Terima Hinaan Kalian | 24
25
Ku Terima Hinaan Kalian | 25
26
Ku Terima Hinaan Kalian | 26
27
Ku Terima Hinaan Kalian | 27
28
Ku Terima Hinaan Kalian | 28
29
Ku Terima Hinaan Kalian | 29
30
Ku Terima Hinaan Kalian | 30
31
Ku Terima Hinaan Kalian | 31
32
Ku Terima Hinaan Kalian | 32
33
Ku Terima Hinaan Kalian | 33
34
Ku Terima Hinaan Kalian | 34
35
Ku Terima Hinaan Kalian | 35
36
Ku Terima Hinaan Kalian | 36
37
Ku Terima Hinaan Kalian | 37
38
Ku Terima Hinaan Kalian | 38
39
Ku Terima Hinaan Kalian | 39
40
Ku Terima Hinaan Kalian | 40
41
Ku Terima Hinaan Kalian | 41
42
Ku Terima Hinaan Kalian | 42
43
Ku Terima Hinaan Kalian | 43
44
Ku Terima Hinaan Kalian | 44
45
Ku Terima Hinaan Kalian | 45
46
Ku Terima Hinaan Kalian | 46
47
Ku Terima Hinaan Kalian | 47

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!