Ku Terima Hinaan Kalian | 14
Raja Carlos duduk di singgasana nya dengan pandangan lurus ke depan. Ia menghela nafasnya, sedikit tenang karena ancaman Aalis hanya sebuah ancaman saja.
Buktinya sudah berjalan satu minggu dari ancaman Aalis, wanita itu belum menunjukkan pergerakan nya. Ia tahu, Aalis hanya akan mengancamnya saja.
Disisi lain. Allea terlihat sedang berjalan di lorong istana. Ia berjalan menuju kediaman kakaknya, Aalis.
Sesampainya di kediaman sang kakak, Allea di persilahkan masuk. Dan bertemu kakaknya yang sedang menyantap makanan yang tersaji. Ia langsung mengutarakan niatnya.
"Kak, bukankah dia hari lagi kau akan pergi ke kerajaan Groft?"
"Hm."
Aalis terlihat tidak tertarik dengan pembicaraan Allea. Ia tidak tahu apa-apa, kepergian ke kerajaan Groft atau apapun itu.
Ia pun sangat malas untuk berbicara dengan Allea. Kepalanya masih terasa berdenyut, akibat kejadian semalam.
"Aku berniat pergi mengajak mu ke penjahit pakaian terkenal di ibukota. Bagaimana pun penampilan mu harus cantik, Kak. Bagaimana menurutmu?"
"Terserah."
"Ya, baiklah. Kita akan pergi setelah kakak menghabiskan makanan itu. "
"Hm."
Tak menunggu waktu lama, Aalis telah menyelesaikan acara makannya.
"Aku sudah meminta izin Ayah dan Ibu."
Tentu saja Allea tidak mengatakan itu pada Raja Carlos ataupun Ratu Beatrix. Karena sudah aturan istana, jika tidak ada yang boleh keluar masuk sembarangan.
Allea berpikir Aalis percaya dengan perkataan nya. Namun, di balik tenangnya wajah Aalis ia sudah mulai paham rencana Allea.
"Aku juga akan memakai cadar, agar orang-orang tidak mengenali kita."
Allea memakai kain tipis yang menutupi sebagian wajah nya. Begitupun dengan Aalis, ia melakukan hal yang sama agar Allea tidak mencurigainya.
Kedua nya keluar dari istana melalui jalan belakang kediaman Aalis.
"Mengapa harus lewat belakang?"
Aalis pura-pura tidak paham, mengapa Allea membawanya ke jalan itu.
"Emmm, jika tidak. Pangeran ke lima pasti mengikuti kita, Kak. Kau tahu bukan dia selalu bersama ku?"
Allea menggunakan Pangeran ke Lima sebagai alasannya. Aalis tersenyum di balik cadar nya. Bukankah Allea sedang menggali kuburnya sendiri? Ini tentu saja akan lebih memudahkan Aalis untuk membalikan jebakannya.
Semua berjalan sesuai rencana Allea. Allea menghentikan kereta kuda yang melintas. "Antarkan kami ke penjahit Neeill." Ia menyerahkan sekantung uang pada orang yang mengemudikan kereta kuda.
Sebelumnya, Allea memang telah menyiapkan segalanya. Ia membuat kereta kuda itu tampak melewati jalan belakang yang sepi seperti sebuah kebetulan.
Dan untuk hal ini, Aalis memuji Allea. Adiknya benar-benar merencanakan sesuatu dengan matang.
"Kakak, Ayo masuk." Allea naik ke atas kereta kuda.
Aalis menyusul. Ia duduk di sebelah Allea dengan tenang. Dalam ketenangan nya ia memperhatikan gerakan Allea.
Tiba-tiba! Tangan Allea terulur dengan sapu tangan ke arah hidung Aalis. Aalis langsung meraih tangan Allea, ia menekan lengan itu ke mulut Allea sendiri.
Mata Allea membelalak, ia mencoba untuk menjerit, tapi obat bius yang ia gunakan adalah obat yang sangat kuat hingga ia tidak sadarkan diri dalam waktu satu menit.
"Pembalasan di mulai, Allea."
Senyum ibl*s muncul di wajah Aalis yang tertutup cadar.
Hari ini ia akan memulai pembalasannya dengan mengembalikan semua yang mereka berikan. Setiap rasa sakit yang ia rasakan harus di bayar lunas.
Raja Carlos, Putra Mahkota Anson dan beberapa prajurit istana mendatangi sebuah penginapan yang terletak di belakang pasar. Wajah Raja Carlos terlihat sangat gelap. Ia baru saja di beritahukan oleh seseorang bahwa Putri pertamanya mendatangi penginapan dengan dua orang pria.
Tidak akan ada yang berani memberikan berita bohong seperti ini pada nya, kecuali orang itu mencari mat*. Raja Carlos tidak tahu harus bagaimana menghadapi Aalis.
Apakah ini yang ia sebutkan yang akan mengecewakan nya karena tidak membatalkan lamaran itu? Sebod*h inikah Aalis, yang lebih memilih pria bayaran daripada seorang Pangeran untuk menjadi suaminya?
Jika saja Aalis bukan darah daging nya maka ia pasti akan membun*h Aalis sejak lama.
Dan kali ini, jika itu benar-benar Aalis, maka ia tidak akan mengampuni nya. Ia akan melakukan tindakan yang sama seperti pada ibu Aalis. Tindakan yang Aalis lakukan sama dengan penghinaan terhadap istana, dan hukuman itu adalah yang paling tepat Aalis dapatkan.
Ia telah membesarkan wanita tidak bermoral, dan ia tidak ingin semakin menceburkan dirinya ke lumpur hanya untuk terus menguidupi Putri yang hina itu. Tidak peduli, walaupun Aalis ikut andil dalam peluasan kekuasaan Menzel.
"Buka Pintunya!" Raja Carlos bersuara dengan marah.
Prajurit yang datang bersama Raja Carlos segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja Carlos. Pintu dirusak, beberapa pasang mata bisa menyaksikan apa yang terjadi di dalam sana.
Dia orang pria tengah berasa di atas tubuh seorang wanita yang wajahnya tidak terlihat karena di tutupi oleh tubuh salah seorang pria.
"Aalis!" Raja Carlos meraung marah.
Kedua pria yang berada di atas tubuh si wanita berhenti melakukan kegiatan yang mereka sukai.
"Bunuh dua pria itu!" Putra Mahkota Anson memberikan perintah dengan wajah merah padam.
Empat prajurit menangkap dua pria itu, lalu memenggal kepala dua pria tanpa busana itu.
Setelah dua orang itu tewas, Raja Carlos mendekati ranjang. Dan wajah si wanita yang berada di atas ranjang terlihat jelas di matanya. Ia seperti kehilangan pijakan, kakinya terasa lemas.
"Allea." Suara nya tercekat.
Allea yang telah menderita di bawah kekuasaan dua pria bayaran Putra Mahkota Anson kini tidak bisa mengatakan apapun. Ia terlalu hancur sekarang. Tubuh bagian bawahnya terkoyak, setiap inci kulit nya telah dinodai. Hidupnya saat ini hancur. Masa depannya yang cerah menjadi sangat gelap.
Seperti Raja Carlos, Putra Mahkota Anson tidak kalah terkejut nya. Kenapa adiknya yang ada di sana? Bukan Allea yang seharusnya ada di sana, tapi Aalis.
"Perintahkan semua orang untuk keluar dari kamar ini!" Titah Raja Carlos dengan perasaan yang campur aduk.
Semua prajurit termasuk Putra Mahkota Anson keluar dari sana.
"Putriku, apa yang terjadi pada mu?" Raja Carlos bertanya lemah.
Allea masih tidak bisa bersuara.
"Tenanglah, Ayah sudah ada di sini. Semuanya akan baik-baik saja." Raja Carlos mencoba menenangkan putrinya, tapi pada kenyataannya tidak ada yang baik-baik saja sekarang.
Beberapa orang telah melihat bahwa Allea yang ada di kamar itu dengan dua pria. Berita pasti akan menyebar dengan cepat. Masa depan putrinya hancur. Dan mungkin, akan banyak orang yang memaksa untuk dirinya menghukum Allea karena sudah melakukan penghinaan terhadap istana.
Terlebih rumor pasti akan menyebar liar. Nama baik putrinya hancur, semua orang akan memandang rendah Allea.
Di tempat yang tidak terlihat, Aalis tersenyum memandangi kejadian di penginapan. Ia sedikit terkejut karena kakak Putra Mahkota yang selalu ia anggap hanya memikirkan tahta ternyata ikut peran penting untuk menyingkirkan nya, tapi itu hanya sesaat mengingat Putra Mahkota Anson adalah Putra Mahkota Menzel.
Ia segera meninggalkan tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments