Ku Terima Hinaan Kalian | 5
"Sungguh! Ibu tidak membohongi ku?!"
Setelah dari kediaman Aalis. Allea pergi ke kediaman Ratu, ia begitu merindukan ibunya itu. Padahal mereka sering bertemu ketika jamuan Sarapan yang selalu di adakan di kediaman Ratu.
Mendengar perkataan ibu nya yang mengatakan bahwa Putra Mahkota Kerajaan Groft pun akan ikut bersama adiknya, ia menjadi begitu bersemangat.
"Ibu jujur, Putri ku. Ada apa? Apa kau menyukai Putra Mahkota?"
Ratu Beatrix menatap Putri nya itu dengan tatapan bertanya. Putri Allea yang ditatap ibunya, tertunduk malu. Bahkan wajahnya memanas karena membayangkan wajah tampan Putra Mahkota.
"Emm, ya. Bi-bisa 'kah, ibu membantuku?"
"Apa itu?"
"Aku ingin Putra Mahkota."
"Secepat itu?"
"Emm... Tentu saja, Bu. Aku ingin menjadi istrinya."
Khayalan terliar Allea adalah menjadi Ratu berikutnya kerajaan Groft. Dan tidak bisa di bayangkan bagaimana jika Ratu kerajaan Groft itu adalah Allea.
Allea memang sangat Cantik dan dinyatakan sebagai wanita tercantik di Kerajaan Menzel. Bukan hanya karena kecantikannya saja yang membuat orang-orang hormat padanya.
Tetapi, karena latar belakang yang dia miliki membuat nya semakin di sanjung. Namun, catatan dalam sejarah pun mengatakan. Allea hanya wanita yang pandai bersolek.
Sebagai putri satu-satunya Raja dan Ratu, seharusnya Allea memiliki berbagai bakat. Namun, karena kedua orang tuanya yang begitu memanjakannya. Dirinya hanya bisa menunjuk untuk mendapatkan sesuatu.
Benar-benar tidak ada yang masuk kriteria menjadi Ratu.
"Baiklah, ibu akan bicarakan dengan, Yang Mulia."
"Hah, sungguh! Terimakasih banyak, ibu."
Allea begitu bahagia. Ia memeluk tubuh ibunya. Fantasi liar nya selama ini akan segera terlaksana kan. Dan itu akan menjadi kenyataan.
Lama, ibu dan anak itu berbincang-bincang. Hingga ketika malam sudah begitu larut, dirinya memutuskan untuk kembali ke kediaman nya.
Mengistirahatkan tubuh nya yang terasa begitu lelah. Begitu pun dengan sang Ratu.
Malam, yang dingin dengan ditemani suara nyanyian hewan. Semakin membuat diri untuk bergulung dengan selimut.
Lolongan serigala terdengar begitu nyaring dan memekak telinga yang membuat tubuh menggigil.
Aalis yang sedang berada di atas ranjang nya seperti tak menikmati tidur nya malam ini.
Keringat dingin terus berjatuhan dari kening dan pelipis nya. Tangan nya bergetar, tidak bukan tangannya saja. Seluruh tubuh nya bergetar.
Matanya seperti ingin terbuka , namun sulit. Keringat pun terus membanjiri tubuhnya.
"Hosh.... Hosh... Hosh.. "
Aalis terbangun, dan langsung terduduk. Matanya mengedar menatap sekitar dengan perasaan yang campur aduk.
Lagi, dirinya memimpikan hari dimana kemat*an nya datang. Ini bukan sekali, tapi ini sudah yang ke sekian kalinya.
Pertama kali ia memimpikan hal tersebut , ketika ia berusia 8 tahun. Tepat ketika ia mengetahui bahwa dirinya lahir dari seorang tabib yang tidak tahu diri.
Aalis bersandar di sandaran ranjang. Ia memeluk lutut nya dan menenggelamkan wajahnya.
Air mata luruh begitu saja dari pelupuk matanya. Setiap setelah memimpikan itu, ia pasti akan menangis secara tiba-tiba.
Dan, bayangan saat dirinya meninggal kembali terlintas di benaknya. Bukan itu yang membuat nya sedih, tetapi di samping jasad nya terlihat samar-samar seorang pria yang menangis memeluknya.
Pria itu terlihat sangat amat sedih, dan merasa begitu kehilangan. Ia yakin, wanita yang ada di pelukan pria tersebut adalah dirinya.
"Kau bermimpi lagi?"
Suara lirih seorang wanita yang begitu sangat Aalis kenal begitu dekat dengan nya. Lantas, ia mengangkat wajahnya dan melihat keberadaan Axela di depannya.
Axela merentangkan tangannya. Dan tanpa ragu-ragu Aalis memeluk tubuh orang yang sangat dekat dengan nya ini.
"Hiks... Ini sakit...!!"
Ia menumpahkan semua kesedihannya di pundak Axela. Wanita itu mengusap punggung Aalis. Memberikan sejuta kenyamanan pada orang yang sangat di hormati nya dan di sayanginya.
"Semua akan berlalu, Putri."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Ia yang selalu menjadi bayangan Aalis, keluar dari persembunyian nya ketika mendengar isak tangis wanita itu.
Ia sudah melakukan banyak hal. Meracik obat-obatan untuk menghilangkan mimpi yang Aalis alami. Mencari tahu, dengan ilmu lain yang ia ketahui.
Tetapi, nihil. Hasilnya masih sama saja.
Lama Aalis menangis di pelukan Axela. Hingga ia kembali terlelap. Axela kembali membenarkan posisi tidur Aalis. Ia memandangi wajah cantik Aalis yang terdapat beberapa bekas luka goresan pedang.
Ia begitu menganggap wanita ini adalah adiknya. Adik yang harus ia jaga setiap saat. Jujur ia juga sedih melihat Aalis yang terus seperti itu. Namun, apalah daya dia juga hanya manusia biasa.
Setelah itu, ia bangkit dan berjalan keluar kamar Aalis. Terlihat Sadie berada di depan pintu kamar Aalis karena sedikit mendengar tangis Aalis.
"Nona... Putri?"
"Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, kembali lah ke kamar mu. Kau harus istirahat."
"Baik, Nona. Saya permisi."
"Hmmm"
Sadie kembali ke ka kamarnya. Begitu pun dengan Axela yang kembali menghilang bersama dengan hembusan angin.
Malam berganti Pagi. Bukan yang bersinar terang pun telah tergantikan oleh mentari. Suara lolongan serigala terlah berubah menjadi kokokan ayam jantan yang terdengar bersahut sahutan.
Hari memang terbilang masih cukup pagi. Embun pagi pun masih menetes di dedaunan.
Namun, di kediaman Aalis. Ia sudah berendam air hangat dengan aromaterapi bau Lavender, kesukaannya. Sensasi Lavender yang wanita membuat semua otot-otot tubuhnya rileks. Dan ia bisa melupakan kejadian semalam.
Walaupun, Aalis memiliki banyak pelayan. Tapi, untuk mandi, ataupun hal privasi lainnya. Ia melakukannya sendiri, belum ada satu orang pun yang melihat tubuhnya sejak usia 5 tahun.
Berbeda dengan Putri pada umumnya yang selalu dimandikan oleh banyak pelayan. Aalis tidak mau tubuhnya terekspos begitu saja, walaupun para pelayan itu wanita.
Setelah cukup dengan berendam. Aalis bangkit dari duduknya dan bergegas untuk berpakaian.
Selesai dengan pakaian dan riasan nya, ia berniat untuk memakan sarapan yang telah di siapkan para pelayan.
Namun, sarapan nya harus tertunda beberapa menit. Karena tiba-tiba sadie datang. Bukan kedatangan nya yang menghentikan waktu sarapan Aalis. Tapi, barang yang ada di tangannya yang membuat Aalis menatap nya.
"Apa ini?"
"Menjawab, Putri. Ini adalah gaun yang di berikan Ratu khusus untuk anda. Ia mengatakan, harus memakainya saat menyambut kedatangan Pangeran kedua dan Putra Mahkota kerajaan Groft tiba."
"Ah, begitu rupanya."
Aalis paham apa maksud tujuan Ratu memberikan gaun itu. Gaun yang cantik. Aalis begitu berterima kasih pada Ratu, dan akan membalas pemberian Ratu dengan yang lebih baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments