Ku Terima Hinaan Kalian | 7

Ku Terima Hinaan Kalian | 7

Kemeriahan Istana Menzel membuat para tamu menjadi nyaman. Mereka tidak menyangka bahwa Raja Carlos akan menyambut kedatangan mereka se meriah ini.

Acara baru dimulai, tetapi Aalis dan Allea belum memasuki Aula tempat dimana acara di gelar. Terlihat Putra Mahkota Jackson terus saja melihat ke arah pintu.

Berbeda dengan Pangeran Caesar yang sibuk mengobrol bersama Putra Mahkota Menzel. Pria itu tampak sekali menikmati acara yang dilakukan untuk penyambutan kedatangan nya.

Hingga kedatangan seseorang membuat semua mata menatap takjub ke arah nya. Mereka terpaku, seolah tersihir akan aura yang seseorang itu miliki.

Seseorang itu adalah Aalis. Dirinya masuk ke aula dengan anggun nya. Dengan gaun berwarna merah muda yang membuat nya tampak bersinar. Sulaman emas itu terlihat semakin menambah ke anggunan seorang Aalis.

Rambut panjang nya yang se gelap malam di biarkan terurai dengan sedikit hiasan rambut yang semakin mempercantik dirinya.

Semua mata menatap ke arah nya dengan berbagai tatapan. Bahkan Pangeran Caesar pun tersihir akan pesona yang Aalis miliki. Ia tersenyum sambil memandangi Aalis.

Begitu pun, Putra Mahkota Jackson. Ia begitu memuji Dewi kecantikan yang ada di depannya saat ini. Namun, melihat tatapan memuja dari banyak orang membuat nya sedikit kesal.

Tidak ada yang boleh menikmati kecantikan itu selain dirinya. Ah, begitu serakah nya Putra Mahkota Jackson. Padahal Aalis adalah seseorang yang akan menikah dengan adik nya.

Setelah memberi salam dan menyapa tamu. Aalis duduk di kursi yang di sediakan untuk nya, lebih tepat nya kursi itu berada di sebelah Putra Mahkota Jackson.

Sedangkan Pangeran Caesar, duduk di sebrang bersama Putra Mahkota Menzel. Melihat wajah datar Aalis membuat Putra Mahkota Jackson senang. Ia tahu Aalis tidak suka menebar senyum cantik nya.

Tak jauh dari Aalis duduk. Ratu Beatrix melihat Aalis dengan tatapan benc* dan kesal. Mengapa gadis itu tidak memakai gaun yang di berikan nya? Ingin Rasa nya Ratu Beatrix menghampiri Aalis dan membuat citra Aalis buruk di hadapan para tamu.

Namun, ia juga harus menjaga citra nya yang tetap diam dan tersenyum di singgasana nya yang terletak di samping Raja Carlos.

Tak lama setelah itu, seseorang kembali masuk. Kali ini bukan tatapan kagum ataupun memuji yang orang-orang berikan mereka tampak ber bisik-bisik membicarakan seseorang yang sedang berjalan itu.

Itu adalah Allea. Dengan gaun merah nya yang begitu mencolok dengan bagian dada yang begitu terbuka. Semua mencemo*h Allea dengan bisikan.

Tetapi, Allea tetap berjalan tanpa mendengar suara suara orang yang membicarakan nya. Karena, ia pikir itu adalah pujian seperti yang biasanya orang-orang itu lakukan.

Ratu Beatrix menatap terkejut putri nya. Bagaimana bisa Allea menggunakan gaun yang dirinya berikan untuk Aalis. Raja Carlos tak kalah terkejut nya dengan Ratu Beatrix.

Allea , benar-benar mempermalukan mereka di hadapan tamu kehormatan mereka. Terlihat Pangeran Caesar yang menatap Allea dengan tatapan penuh nafsu. Ia jadi berpikiran ingin memperistri Allea, bukan Aalis yang selalu memasang wajah datar.

Berbeda dengan Putra Mahkota Jackson, yang menatap dengan raut wajah tidak suka. Bagaimana, seorang putri dari Ratu dan Raja tidak mengenal tatakrama dan adab? Apakah wanita itu tidak pernah sekolah tatakrama? Itu yang terngiang di pikiran Putra Mahkota Jackson, serta para rombongan kerajaan Groft yang ikut menyaksikan.

Sedangkan Aalis. Ia terlihat menarik sedikit sudut bibir nya, jika ada yang melihat mungkin mereka akan ketakutan akan senyum Dewi kecantikan itu. Sebenarnya Aalis lebih cantik dari Allea. Namun, karena latar belakang nya ia tetap kalah dari Allea.

Aalis kembali teringat tentang gaun yang dipakai Allea. Saat satu hari yang lalu Ratu mengantarkan gaun tersebut untuk nya.

"Emmm, Putri. Apa anda akan memakai gaun ini? Maaf, saya lancang."

Sadie bertanya dengan tertunduk. Aalis menatap pelayan nya itu, tidak salah Sadie menjadi pelayan setianya. Ia begitu memperhatikan majikan nya dan tau apa yang akan terjadi jika Aalis memakai gaun itu.

"Ada apa, Sadie? Kau boleh mengatakan maksud mu."

"Menjawab, Putri. Maaf, gaun ini berwarna merah mencolok yang nanti nya bisa memperburuk citra putri di hadapan para tamu dan petinggi Istana.

Karena, warna merah di lambangkan untuk acara pernikahan yang melambangkan kesucian nya pernikahan. Jika, Putri menggunakan gaun ini saat menyambut tamu, maka mereka akan beranggapan Putri tidak punya adab.

Serta, di bagian dada gaun ini begitu terbuka. Dan akan menampilkan tubuh Putri."

Aalis mengangguk. Ia juga paham apa yang Sadie ucapkan. Namun, tiba-tiba Sadie tersadar ia sudah berbicara banyak pada majikan nya. Ia langsung bersujud di bawah kaki Aalis karena sudah lancang.

"Maafkan hamba, Putri. Hamba lancang, dan sudah banyak berbicara."

Aalis tersenyum. Menggelengkan kepala dengan tingkah Sadie. Ia tahu, Sadie tidak ingin citra nya yang buruk sebagai anak seorang tabib tidak tahu diri. Akan semakin buruk jika dirinya tidak memiliki adab.

"Aku paham maksud mu, Sadie. Aku tidak keberatan. Bangunlah."

"Terimakasih atas kemurahan hati anda, Putri."

"Ya. Baiklah, aku ingin sarapan. Makanan ku akan dingin jika aku terlalu lama berdiri di sini."

Aalis kembali berjalan menuju meja makan nya. Baru melangkah kan kaki dua langkah, ia kembali berhenti dan menoleh.

"Ah, aku paham maksud Ratu."

"Sadie, suruh pelayan yang mengantarkan gaun ini kemari."

"Baik, Putri."

Sadie undur diri untuk memanggil pelayan yang mengantarkan gaun tadi. Aalis pun kembali melangkah dan duduk di depan makanan yang sudah teraaji itu.

Selesai sarapan. Aalis pergi ke ruang baca kediaman nya. Terlihat Sadie sudah berdiri dengan seorang pelayan wanita paruh baya, yang mana ia yang mengantarkan gaun pemberian Ratu.

Ia tahu, wanita itu bukan pelayan Ratu. Wanita itu adalah pelayan yang bertugas menjaga kebun istana. Ia terlihat takut menatap Aalis yang berwajah datar.

"Kau antarkan ini pada Putri Allea. Dan katakan pada nya bahwa ini pemberian ibunya. Lalu, kau bisa keluar istana."

Mendengar ucapan terakhir Aalis pelayan tersebut terkejut. Ia langsung mengangkat wajahnya sedikit menatap Aalis. Ia langsung bersujud, bertanya apa kesalahan nya sampai Aalis menyuruhnya untuk pergi meninggalkan istana.

Ya, alasan utama nya adalah Aalis tidak ingin nama nya terbawa ke depannya. Demi membersihkan nama nya, maka dia harus membuang bukti sekecil apapun.

Terpopuler

Comments

Heni Mulyani

Heni Mulyani

lanjut author

2022-12-31

0

lihat semua
Episodes
1 Ku Terima Hinaan Kalian | 1
2 Ku Terima Hinaan Kalian | 2
3 Ku Terima Hinaan Kalian | 3
4 Ku Terima Hinaan Kalian | 4
5 Ku Terima Hinaan Kalian | 5
6 Ku Terima Hinaan Kalain | 6
7 Ku Terima Hinaan Kalian | 7
8 Ku Terima Hinaan Kalian | 8
9 Ku Terima Hinaan Kalian | 9
10 Ku Terima Hinaan Kalian | 10
11 Ku Terima Hinaan Kalian | 11
12 Ku Terima Hinaan Kalian | 12
13 Ku Terima Hinaan Kalian | 13
14 Ku Terima Hinaan Kalian | 14
15 Ku Terima Hinaan Kalian | 15
16 Ku Terima Hinaan Kalian | 16
17 Ku Terima Hinaan Kalian | 17
18 Ku Terima Hinaan Kalian | 18
19 Ku Terima Hinaan Kalian | 19
20 Ku Terima Hinaan Kalian | 20
21 Ku Terima Hinaan Kalian | 21
22 Ku Terima Hinaan Kalian | 22
23 Ku Terima Hinaan Kalian | 23
24 Ku Terima Hinaan Kalian | 24
25 Ku Terima Hinaan Kalian | 25
26 Ku Terima Hinaan Kalian | 26
27 Ku Terima Hinaan Kalian | 27
28 Ku Terima Hinaan Kalian | 28
29 Ku Terima Hinaan Kalian | 29
30 Ku Terima Hinaan Kalian | 30
31 Ku Terima Hinaan Kalian | 31
32 Ku Terima Hinaan Kalian | 32
33 Ku Terima Hinaan Kalian | 33
34 Ku Terima Hinaan Kalian | 34
35 Ku Terima Hinaan Kalian | 35
36 Ku Terima Hinaan Kalian | 36
37 Ku Terima Hinaan Kalian | 37
38 Ku Terima Hinaan Kalian | 38
39 Ku Terima Hinaan Kalian | 39
40 Ku Terima Hinaan Kalian | 40
41 Ku Terima Hinaan Kalian | 41
42 Ku Terima Hinaan Kalian | 42
43 Ku Terima Hinaan Kalian | 43
44 Ku Terima Hinaan Kalian | 44
45 Ku Terima Hinaan Kalian | 45
46 Ku Terima Hinaan Kalian | 46
47 Ku Terima Hinaan Kalian | 47
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Ku Terima Hinaan Kalian | 1
2
Ku Terima Hinaan Kalian | 2
3
Ku Terima Hinaan Kalian | 3
4
Ku Terima Hinaan Kalian | 4
5
Ku Terima Hinaan Kalian | 5
6
Ku Terima Hinaan Kalain | 6
7
Ku Terima Hinaan Kalian | 7
8
Ku Terima Hinaan Kalian | 8
9
Ku Terima Hinaan Kalian | 9
10
Ku Terima Hinaan Kalian | 10
11
Ku Terima Hinaan Kalian | 11
12
Ku Terima Hinaan Kalian | 12
13
Ku Terima Hinaan Kalian | 13
14
Ku Terima Hinaan Kalian | 14
15
Ku Terima Hinaan Kalian | 15
16
Ku Terima Hinaan Kalian | 16
17
Ku Terima Hinaan Kalian | 17
18
Ku Terima Hinaan Kalian | 18
19
Ku Terima Hinaan Kalian | 19
20
Ku Terima Hinaan Kalian | 20
21
Ku Terima Hinaan Kalian | 21
22
Ku Terima Hinaan Kalian | 22
23
Ku Terima Hinaan Kalian | 23
24
Ku Terima Hinaan Kalian | 24
25
Ku Terima Hinaan Kalian | 25
26
Ku Terima Hinaan Kalian | 26
27
Ku Terima Hinaan Kalian | 27
28
Ku Terima Hinaan Kalian | 28
29
Ku Terima Hinaan Kalian | 29
30
Ku Terima Hinaan Kalian | 30
31
Ku Terima Hinaan Kalian | 31
32
Ku Terima Hinaan Kalian | 32
33
Ku Terima Hinaan Kalian | 33
34
Ku Terima Hinaan Kalian | 34
35
Ku Terima Hinaan Kalian | 35
36
Ku Terima Hinaan Kalian | 36
37
Ku Terima Hinaan Kalian | 37
38
Ku Terima Hinaan Kalian | 38
39
Ku Terima Hinaan Kalian | 39
40
Ku Terima Hinaan Kalian | 40
41
Ku Terima Hinaan Kalian | 41
42
Ku Terima Hinaan Kalian | 42
43
Ku Terima Hinaan Kalian | 43
44
Ku Terima Hinaan Kalian | 44
45
Ku Terima Hinaan Kalian | 45
46
Ku Terima Hinaan Kalian | 46
47
Ku Terima Hinaan Kalian | 47

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!