IMORDRES (Kebangkitan) #2

~

Mereka yang telah terbangun dari meditasi sesaat merasa linglung. Dengan segera Namira melepas niewral yang melindunginya dan bergegas menghampiri cucu-cucunya bersama Varadis. Mereka berdua langsung memeluk cucu-cucunya dengan perasaan khawatir.

“Nenek…” Ucap Richey yang masih lemas,

Disisi lain,

“Kenapa Nenek sedih?” Tanya Venesia kemudian dengan muka kesal menatap Albis dan yang lainnya,

Synathisa memalingkan arah bola matanya ke arah Albis seraya mengisyaratkan bahwa Albis yang membuat Nenek mereka menangis.

Albis menyadari apa yang kakaknya lakukan, kemudian dia membalas tatapan Venesia dengan wajah panik dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

“Akhirnya kalian bangun…” Ucap Namira sambil menghapus air matanya,

“Haa..?” Dyres bingung dengan apa yang dikatakan neneknya,

“Kami hanya bermeditasi sebentar, Nek.” Ucap Richey mengusap air mata dipipi kiri neneknya,

“Kurang lebih kalian sudah duduk disana selama 8 hari…” Saut Arta yang baru saja menghampiri mereka,

Mereka terkejut mendengar hal itu. Mereka berempat melihat kembali tempat mereka bermeditasi sebelumnya. Mereka menyadari dibatu tempat mereka bermeditasi sudah terdapat tumbuhan air dan lumut yang mulai tumbuh, mengingat sebelumnya tumbuhan dan lumut itu tidak ada disana.

“Apakah benar seperti itu?” Tanya Shane tidak percaya,

“Seperti yang kamu lihat disana…” Jawab Synathisa menunjuk batu tempat mereka bermeditasi,

“Dibelakang sana kami membangun tenda untuk mengawasi kalian selama disini” Lanjutnya menunjuk tenda mereka,

“Kalian…” Ucap Venesia terharu,

“Terima kasih…” Saut Dyres menundukkan kepala bersama Richey,

Venesia dan Shane ikut menundukkan kepala untuk berterima kasih kepada semua yang telah mengawasi mereka selama ini. Mereka semua tersenyum bersama membalas ucapan terimakasih itu.

‘Krruukk...!’

Bunyi perut Richey yang memberontak setelah beberapa hari tidak dimasukkan makanan apapun. Mereka tertawa bersama karena hal itu. Raut wajah lega terlihat dari Namira dan Varadis karena cucu-cucu mereka dalam keadaan normal saja.

~

Mentari yang terlihat sayu dan angin pagi yang membawa hawa dingin masih menemani mereka di tepian sungai.

Saat itu mereka tengah menyantap ikan bakar. Mereka duduk di depan tenda dengan alas yang telah Varadis bawa dari rumah.

“Eee…Apakah kalian benar-benar merasa normal?” Tanya Albis kepada adik-adiknya,

“Apa maksud mu, Kak?” Tanya Richey yang duduk disampingnya,

“Saat kalian tersadar tadi…Pino…pilmo…Limo…” Jawab Albis mengingat ejaan kata yang tepat,

“Phylmorium…” Saut Namira sambil menuangkan teh kedalam cangkir,

“Minumlah teh herbal ini, Sayang…” Lanjutnya memberikan teh herbal kepada Shane dan Venesia,

“Aaa…hehehe…Seperti yang Nenek katakan! …Aku melihat Phylmorium kalian tiba-tiba menghilang saat bentuknya sudah menjadi jubah…” Sambung Albis,

“Karena Phylmorium kalian hilang, apakah terjadi sesuatu pada tubuh kalian?” Ucap Synathisa menjelaskan maksud Albis,

“Itu maksud anak bodoh ini…” Lanjutnya lalu memakan ikan bakar yang dia pegang,

Albis memberikan wajah kesal kepada kakaknya karena mengatakan dia bodoh. Sedangkan yang lain tertawa melihat mereka berdua.

“Jangan khawatir, Kak! Aku merasa lebih kuat dari sebelumnya…” Jawab Richey menunjukkan otot tangannya dan tersenyum,

“Hmm…” Sambung Dyres mengangguk,

“Tubuh ku terasa lebih ringan dari sebelumnya” Lanjutnya,

“Itu benar!” Saut Venesia tersenyum gembira,

“Aku…merasa…” Ucap Shane malu-malu,

Semua melihat Shane dengan heran kecuali Namira yang tengah menuangkan kembali teh herbalnya.

“Jangan tatap aku seperti itu…” Lanjutnya menunduk dan menutup wajah,

“Kalian…berhenti menggodanya” Ucap Namira memarahi mereka,

"Kami hanya ingin mendengarkannya, Nek" Jawab Albis,

Arta yang duduk disisi kiri Varadis berkata didalam hatinya,

”Aku merasa kalian menyeramkan…” Dengan wajah datar,

Suara arus sungai sesaat menengahi pembicaraan mereka. Albis teringat sesuatu dan mengatakan kepada adik-adiknya,

“Emm!…Hampir saja aku lupa” Ucapnya dan tidak sadar duri ikan menusuk jari telunjuknya,

“Ujian Masuk Kesatria Sihir akan dimulai besok…” Lanjutnya,

“Haa?!” Teriak Richey dan Dyres bersamaan lalu terkapar,

“Ahh…Kau benar. Aku sempat khawatir karena mereka belum terbangun” Saut Arta,

“Kita tidak punya waktu untuk tidur siang, Richey” Ucap Dyres putus asa,

“Kamu benar, Dyres…” Saut Richey sedih,

“Kalian baru saja tidur 8 hari!!!” Bentak Synathisa memarahi mereka berdua,

Karena terkejut dan ketakutan, mereka berdua dan Albis melompat dengan cepat ke balik sebuah pohon yang berada di belakang mereka. Badan mereka bergetar dengan wajah syok karena bentakan kakak mereka.

“Menyeramkan sekali…” Ucap Dyres,

“Dia seperti monster…” Saut Richey,

“Sebaiknya…lain kali…kalian ucapkan kalimat yang tidak menyinggungnya…” Pinta Albis dengan tubuh gemetar dan ketakutan,

“Kenapa kakak ikut ketakutan?” Tanya Dyres yang juga masih gemetaran,

“Kalian sudah tahu jawabannya…” Jawabnya,

“Kamu benar, Kak” Saut Richey,

“Apa kata kalian tadi…?” Ucap Synathisa berdiri dengan aura menyeramkan,

Yang lain hanya tertawa melihat tingkah laku mereka.

“Sudahlah…” Ucap Varadis melerai mereka,

“Apakah ada hal lain yang ingin kalian lakukan?” Tanya Namira,

“Hmm?” Venesia berpikir,

Richey dan Dyres kembali duduk lalu melihat neneknya.

“Dyres…” Ucap Shane dengan pelan seperti memberikan isyarat,

“Emm…Sebenarnya masih ada satu hal yang harus kita lakukan…” Jawab Dyres setelah mengingat sesuatu,

“Kita harus berlatih menggunakan sesuatu  yang baru saja kita dapatkan, Nek” Sambung Venesia,

“Itu pesan yang kita dapatkan dari bayangan yang ada dipikiran kita, Nek” Saut Shane,

“Hmm…Apakah bayangan itu juga yang meminta kalian untuk bermeditasi?” Tanya Varadis,

“Iya, Kek. Bayangan itu juga yang memberikan caranya bermeditasi kepada kita” Jawab Venesia diikuti dan yang lain mengangguk mengikutinya,

“Hmm…” Varadis memikirkan sesuatu sambil mengusap dagunya,

“Satu hal lagi yang harus kalian tahu…” Ucap Arta menyambung percakapan mereka,

“Diujian nanti aku minta kalian untuk tidak takut dengan siapapun lawan kalian…Karena tahun ini adalah tahun keemasan bagi setiap clan…” Lanjutnya,

“Hmm…Karena mereka semua saat ini memiliki kandidat-kandidat yang sangat hebat dalam bertarung” Sambung Albis menjelaskan kepada adik-adiknya,

Richey dan Dyres tiba-tiba menjadi sangat bersemangat mendengar hal itu,

“Hmm!” Dyres menggerram bersemangat,

“Akan ku tunjukkan kalau aku juga hebat!” Ucap Venesia sambil mengepalkan tangan ke langit,

“Aku tidak akan kalah!” Shane mengatakannya dengan lantang kemudian malu sendiri,

Semuanya terdiam lalu tertawa dan tersenyum melihat Shane yang terbakar semangatnya.

“Baiklah…kita tunjukkan seberapa hebat cucu-cucu kakek dan nenek!” Ucap Richey dengan semangat yang membara,

Semuanya tampak senang dan percaya kepada mereka. Hari berlalu dengan cepat pada hari itu.

Semua ketegangan dan kebahagiaan ditutup dengan tenangnya malam saat sumber-sumber kebisingan sedang mengistirahatkan tubuhnya.

~

Malam itu didalam kamar terlihat Richey dan Dyres sudah tertidur pulas,

“Sepertinya mereka sangat kelelahan setelah semua ini terjadi…” Ucap Namira menyelimuti Dyres yang sudah tidur,

“Sepertinya mereka sudah berbeda level dengan manusia normal…” Saut Varadis,

“Annaroth yang mereka miliki sudah seperti kakek…Menyeramkan sekali…” Lanjutnya mengingat Hassac,

“Oh iya…Aku bertemu dengan kakek saat masuk ke alam bawah sadar mereka…” Sambung Namira yang berjalan keluar dari kamar Dyres dan Richey,

“Apa yang dia lakukan disana?” Tanya Varadis mengikuti Namira keluar ruangan dan mengunci pintu kamar itu,

“Uveden…” Ucap Namira sambil berjalan,

“Eee….?” Varadis mencoba mengingat arti dari kata itu,

“Eve segel, Eveden menyegel, U**veden…” Saut Namira menahan kesal,

“Melepaskan segel!...hehe…” Sambung suaminya itu dengan cepat dan wajah yang cemas,

“Dasar…semakin berumur semakin pelupa…” Lanjut Namira,

“Heeee?!” Varadis terlihat terkejut dan berhenti berjalan,

Namira ikut berhenti dan melihat suaminya dengan heran,

“Segel apa yang dia lepaskan?” Tanya Varadis panik,

“Dewron Niewral (Skill Tempur)…” Jawab nenek itu lalu kembali berjalan,

Varadis mengikuti Namira dan mengatakan,

“Apakah skill tempur yang kita wariskan masih kurang?”

“Apakah skill tempur mu bisa mengalahkan skill tempur milik kakek?” Tanya Namira dengan tegas,

“…Tidak” Jawabnya dengan lemas,

“Skill tempur kakek sangat jauh lebih hebat jika dibandingkan dengan skill tempur Ras Manusia” Ucap Namira sambil membuka pintu kamarnya,

“Dia juga melepaskan Annaroth Eve dari tubuh mereka…” Lanjutnya duduk diranjang diikuti Varadis yang berdiri menghadap ke jendela,

“Aku tidak bisa membayangkan beratnya tanggung jawab cucu-cucu kita nanti…” Ucap Varadis yang mengakhiri perbincangan,

Bulan terlihat besar dari kamar itu. Malam yang cerah perlahan termakan kegelapan.

~Bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!