Hangatnya mentari pagi ditemani hembusan angin yang menyejukkan diri. Biru dan kehijauan alam yang dapat direkam oleh mata adalah keindahan Vlarain yang tiada habisnya untuk dinikmati. Namun disebuah ruang latihan,
“Nek….” Ucap Richey yang masih mengantuk,
“Apa yang akan kita lakukan disini?” Lanjutnya,
Namira yang memandangi ruang latihan berkata,
“Tentu saja kita akan berlatih disini”
“Waahhh!!!” Ucap Dyres takjub,
“Yuhuu!!!” Saut Richey yang berubah menjadi bersemangat,
“Apakah Nenek melupakan hukuman kita?” Tanya Richey kepada Dyres dengan berbisik,
"Diam bodoh!" Jawab Dyres kesal,
Venesia menyadari ada seseorang tengah memperhatikan mereka dari sudut pintu ruangan.
‘Syufh!’
Desingan serangan Annaroth yang di hempaskan oleh Venesia mengarah ke orang tersebut,
‘Dbuuh...!’
Suara hantaman Annaroth yang ditahan oleh orang itu. Dia perlahan menunjukkan dirinya. Sedikit demi sedikit cahaya menyinari wajahnya.
“Kamu…” Ucap Venesia terkejut,
Tiba-tiba Venesia berlari ke arah orang tersebut dan mulai menangis. Dia memeluknya erat dan menangis tersedu-sedu.
“Anak-anak…” Ucap Namira memegang kepala Richey dan Dyres,
“Dia adalah Albis, salah satu cucu nenek yang paling tua” Lanjutnya,
“Bisakah untuk tidak menggunakan kata tua untukku nek. Hehe...” Saut Albis,
“Apakah kita harus memanggilnya kakak, Nek?” Tanya Richey,
“I…” Namira hendak menjawab,
‘Syeuwh-syeuwh!’
Tiba-tiba Richey dan Dyres melesat ke arah Albis dan mengarahkan pukulan yang di selimuti Annaroth kepadanya.
‘Dbuh-dbuh!’
Namun Albis dengan cepat menahan serangan mereka sambil memutarkan Venesia ke samping tubuhnya.
“Heeyyy!...Itu berbahaya, kalian ini berpikir apa?!” Bentak Albis kepada mereka berdua,
“Ayo lawan aku!” Jawab Richey tersenyum,
‘Fyuuhh!’
Lesatan kaki Richey mengarah ke rahang Albis,
Tiba-tiba Albis menghilang sesaat sebelum kaki Richey mendarat dirahangnya. Dia berpindah dengan cepat dan menempel pada dinding kanan ruangan latihan.
'Bwuhh!!!'
Dinding ruang latihan hancur akibat terkena gesekan Annaroth dari serangan Richey,
“Jadi mereka yang Arta ceritakan…” Ucap Albis didalam hatinya,
“Siapa yang kau besarkan ini, Nek?” Lanjutnya bertanya-tanya didalam hati,
“Tekstur Annaroth mereka sangat berbeda dari semua orang. Makhluk apa sebenarnya mereka?” Ucap Albis sambil turun dari dinding ruangan latihan,
“Baiklah, akan ku layani kamu terlebih dahulu. Tapi jika kamu kalah, panggil aku ‘Kakak’ ya?” Ucapnya kepada Richey lalu tersenyum,
“Baiklah!” Jawab Richey penuh semangat memasang kuda-kudanya,
Perlahan Richey melebarkan kaki kirinya kebelakang. Dia memejamkan matanya sambil menyilangkan kedua pergelangan tangan di sebelah telinga kirinya. Tangan dia terbuka dengan cepat bersama matanya.
‘Fyuhh!’
Richey melesat ke arah Albis.
‘Dbuuarr!’
Tiba-tiba dinding ruangan latihan hancur dan Albis terhempas jauh keluar ruangan latihan. Asap debu tebal menyelimuti ruang latihan. Richey terlihat berdiri di tengah kumpulan asap debu dengan senyumnya.
Semua yang berada di ruang latihan terkejut melihat serangan yang di lancarkan Richey. Varadis dan Arta yang berada di bangku penonton bagian atas juga ikut terkejut.
“Bhahaha…” Tawa Arta dengan canggung,
“Sepertinya tuan membesarkan seorang monster” Lanjutnya,
“Hmm?” Varadis yang heran melihat serangan Richey,
“A..hahaha, maafkan saya tuan!” Ucap Arta dengan cepat,
Disisi lain, Venesia juga terkejut dengan serangan milik Richey,
“Apa itu tadi, Dyres” Tanya Venesia,
Dyres tersenyum dan menjawab,
“Itu hanya serangan dasar miliknya”
“Ha?...Aku tidak tahu kalau mereka juga ternyata sangat kuat” Ucap Venesia didalam hati,
Dyres mengingat sesuatu ketika dia dan Richey merasakan kekuatan yang sangat besar terpancar dari tubuh Albis sebelumnya. Mereka bertatapan dan tersenyum sesaat sebelum melancarkan serangan pertama.
“Baiklah, setelah ini aku yang akan melawannya!” Teriak Dyres,
Ditengah ruangan, Namira terdiam setelah melihat serangan Richey. Kepalanya mulai memerah dan berasap.
‘Pletak!’
“Bodoh sekali!” Bentak Namira tiba-tiba memukul kepala Richey,
“Bagaimana kamu akan memperbaikinya, Haa?!” Lanjutnya kesal kepada Richey,
“Awww!!! Kenapa Nenek memukulku?” Ucap Richey kesakitan,
“Apa kamu tidak sadar…” Jawab Namira yang terhenti sejenak untuk melompat mundur,
‘Cling!’
Dari luar ruangan, Albis melancarkan serangannya yang mengarah langsung ke Richey.
‘Dbuuhh!’
Richey langsung terpental jauh menghantam dinding ruangan yang berada di belakang Dyres dan Venesia. Mereka berdua hanya bisa berkedip dan tidak sadar akan serangan tersebut.
“Adu..duh..Serangan yang benar-benar hebat. Tidak terlihat sedikitpun oleh mataku” Ucap Richey yang mencoba bangkit,
“Baiklah, mari kita pemanasan. Hihi…” Lanjutnya tersenyum lebar dan membuka kuda-kuda,
‘Syufh...!’
Richey kembali melesat ke arah Albis.
Dari tebalnya asap debu, Richey melihat sepasang mata seram berwarna kuning yang mengarah kepadanya. Sebuah tangan keluar dari tebalnya asap dan menangkap tangan Richey. Sesaat dia tersadar bahwa itu adalah Albis yang memancarkan aura berbeda dari sebelumnya.
‘Fyuh!-Dbuuh..!’
Albis memutarkan arah lesatan Richey ke atas lalu membantingnya dengan keras ke tanah.
‘Syufh...!’
Albis melanjutkan serangannya dengan melemparkan Richey ke daratan di bawah tebing tempat ruangan latihan itu berada.
Richey terlempar sangat cepat namun saat dia terlihat akan menghantam tanah, tidak terdengar adanya suara hantaman.
‘Fwuuh!’
Terdengar suatu lesatan yang mengarah ke Albis,
‘Deb…Bwuh!’
Tiba-tiba Richey telah memukul perut Albis lalu menghempaskannya ke atas dengan kuat,
‘Syuh!’
Richey melesat mengejar Albis yang terhempas,
‘Dbuh!’
Hantaman sangat keras dari Richey yang membuat Albis melesat sangat cepat ke bawah,
‘Dbuar!!!’
Suara tubuh Albis yang terhempas keras ke tanah,
Dari tembok ruang latihan yang jauh, beberapa orang tengah mengendap-ngendap untuk menyaksikan mereka berdua bertarung.
“Hey…Cepat! Dari sini akan lebih jelas” Ucap salah satu orang yang berpakaian kesatria,
“Tidak mungkin…” Saut lainnya saat melihat keadaan area belakang ruang latihan yang hancur,
“Hey lihat... Komandan Albis ada disana!” Ucap salah satu kesatria yang hanya bagian kepalanya saja yang terlihat dari luar tembok,
“Tidak mungkin… Bagaimana bocah itu dapat memojokkan Komandan?” Lanjutnya terheran,
Albis perlahan bangkit, sedangkan Richey sudah mendarat di tanah dengan jarak yang cukup jauh dari Albis.
Dari tebalnya asap, Mata kuning seram kembali terlihat,
“LIGHT ANGER!”
‘Fyuhh!-Dzbur...!’
Semburan cahaya kuning dari sihir Albis melesat cepat ke arah Richey,
“VARIAS”
‘Crryuuh’
Tembakan kilat cahaya terlepas dari tangan Richey,
Kedua serangan itu bertabrakan dan membuat desingan suara yang menyakitkan telinga. Perlahan serangan Albis terbelah dan melebar dengan cepat hingga Varias milik Richey akan mengenainya.
"Celaka..." Ucap Albis dengan wajah yang khawatir,
‘Crriingg…Dbuuhh!’
Hantaman serangan Richey dengan sesuatu menimbulkan suara yang sangat keras tepat sebelum Varias mengenai Albis.
Sesaat sebelumnya,
“Soul Guard”
Ucap Varadis merapalkan sihirnya,
Sebuah tameng raksasa dari Annaroth sihir kuno terbentuk dengan cepat,
“Glorious Mana”
Ucap Namira serentak merapalkannya dengan Varadis,
Annaroth yang tebal melapisi Soul Guard dan memperkuat kekuatan dari skill sihir itu sendiri,
Sesaat suasana menjadi tegang, semua orang terdiam dan tercengang. Dari kabut asap yang melingkar ke atas masih terlihat kilatan-kilatan petir kecil menyambar tak tentu arah. Tanah disekitarnya hancur dan sebagian terangkat keatas.
“Cukup...” Ucap Namira menghampiri Richey dan Albis,
“Apakah kalian berencana menghancurkan tempatku, ha?” Lanjutnya,
“A…hehe…Sepertinya aku telah selesai latihan” Jawab Richey,
‘Swuuh!’
Richey berlari kabur dari tempat itu dengan cepat.
“Jangan seenaknya saja pergi, Richey!” Teriak Namira kesal kepadanya,
“Albis, kamu masih disana? Mari kita istirahat” Lanjutnya,
“Baik, Nek…” Jawab Albis lemas,
“Aku sangat yakin kalau tadi itu masih serangan dasar miliknya. Tapi mengapa Kakek Nenek menggunakan sihir berlapis untuk menahannya?” Lanjutnya didalam hati dengan rasa penasaran,
Kemudian Albis mengingat Richey sesaat setelah dirinya melepaskan skill-nya. Saat itu Richey hanya berdiri tegak menyamping sambil mengayunkan satu tangannya.
“Sepertinya aku masih harus banyak belajar…” Ucapnya sambil mengusap dagu…
‘cit-cit-cit’
Dagu Kakeknya…
“Sepertinya roh jahat telah merasukimu Albis…” Ucap Varadis melihat kelakuan Albis,
“Pergi sana!” Lanjutnya sambil melemparkan Albis,
“Huaaaa!” Jeritan Albis yang terlempar,
Setelah itu mereka kembali ke dalam ruang latihan. Semuanya terlihat lelah setelah melihat pertarungan antara Richey dan Albis. Venesia terlihat ingin bertanya kepada Kakeknya namun dia merasa ragu untuk menanyakannya.
“Kek…” Ucap Venesia ragu,
“Aa…apakah Richey itu sama sepertiku?” Lanjutnya,
“Hmm…Sepertinya kamu sudah menyadarinya, Vene” Jawab Varadis sambil mengusap dagu,
“Karena dia melafalkan mantra yang tidak biasa, Kek. Aku juga tidak mengerti apa yang dia ucapkan” Ucap Vene yang kebingungan,
“Apakah dia dari Ras lain, Kek?” Lanjutnya bertanya,
“Hmm…Kakek juga belum bisa memastikannya. Padahal Kakek sudah bertahun-tahun hidup dengannya” Jawabnya,
Venesia menunduk mendengar jawaban Varadis yang tidak memuaskan rasa penasarannya.
“Oh iya… Apakah kamu masih berhubungan dengan sesuatu yang berada di dalam pikiranmu?” Tanya Varadis,
“Tentu, Kek. Tuan Bayangan mengajariku banyak skill. Tapi saat ini aku belum bisa menguasai
semua yang dia ajarkan” Jawab Venesia,
“Apakah dia baik kepadamu?” Lanjut Varadis bertanya,
“Iya, Kek. Dia baik kepadaku. Dia bahkan mau menemaniku ketika aku ketakutan untuk mengambil makanan dimalam hari, hehe…” Jawab Venesia,
“Hmm…” Varadis memikirkan sesuatu dan terus mengusap dagunya,
Disisi lain Namira tengah merapalkan sihir untuk memulihkan kondisi ruang latihan. Perlahan reruntuhan bangunan menyatu dan menyusun kembali ke bentuk semulanya.
Dari pintu ruang latihan tiba-tiba terlihat seseorang berlari menuju ke arah Namira.
“Nenek!” Teriak orang itu,
“Sepertinya dinding ini sudah kembali ke bentuk aslinya…” Ucap Namira,
Orang itu langsung melompat kearah Namira dengan gembira. Namun dengan santai Namira bergeser sedikit dari pijakannya dan membuat orang itu menabrak dinding.
“Hey! Apa yang kamu lakukan?!” Bentak Namira yang marah kemudian menyadari sesuatu,
“Eeeh…Synathisa!” Ucapnya terkejut,
“Nenek merindukanmu!” Lanjutnya sambil memeluk wanita yang ternyata bernama Synathisa itu,
“Ne…nek…Aku masih kesulitan bernafas…setelah menabrak dinding…tolong jangan ditambahkan, Nek…” Ucap Synathisa yang kesulitan bernafas,
Dari sudut lain, diam-diam Dyres memperhatikan sambil menyantap cemilannya dan mengayunkan kakinya dengan santai.
“Ooo…Synathisa, kamu sudah kembali” Ucap Varadis menghampiri Synathisa dan Namira,
“Ka…kek…tolong…” Jawab Synathisa yang masih kesulitan bernafas,
“Sudahlah sayang, longgarkan sedikit pelukanmu. Kamu bisa membunuhnya” Ucap Kakek itu kepada istrinya,
“Emm...? Maafkan Nenek ya sayang. Nenek sangat merindukan mu” Ucap Namira dengan perasaan gembira kemudian melepaskan Synathisa,
Disudut lain, ayunan kaki Dyres yang semula santai perlahan berubah menjadi cepat. Dengan senyuman yang aneh, ayunan kakinya terlihat semakin cepat.
“Apakah pola makan mu selama bertugas dijaga dengan baik oleh koki batalyon?” Tanya Namira ke Synathisa,
“He’em…Nek. Aku makan 3x sehari” Jawab Synathisa,
“Bagus, jika tidak…akan ku bunuh kepala koki batalyon mu!” Lanjut Namira dengan wajah dan aura seram,
“Hehe…tidak, Nek” Saut Synathisa,
‘Hyuufh...!’
Tiba-tiba Dyres menyerang Synathisa dengan cepat melewati Kakek dan Neneknya,
‘Dassh!’
“Ayo lawan aku!” Ucap Dyres dengan gembira saat serangannya ditahan dengan santai menggunakan telapak tangan Synathisa,
Varadis hanya memasang muka datar, sedangkan Namira masih sibuk mengomel sendiri,
“Kenapa cucuku tidak ada yang memiliki perilaku normal… hehh..” Keluh Varadis,
“Heee?!” Ucap Synathisa kebingunan,
“Kamu siapa?” Lanjutnya,
Dyres yang terlihat sangat gembira dengan lantang mengatakan,
“Aku cucu Kakek dan Nenek!”
“Haaa?!” Saut Synathisa terkejut,
Varadis masih dengan wajah datarnya berjalan menjauh dan mengatakan,
“Aku malas menjelaskannya sekarang. Lebih baik kamu temani dia bermain dulu, Syna”
“Heee?!” Jawab Synathisa yang bertambah bingung,
Setelah mendengar perkataan kakeknya, Dyres segera melakukan kuda-kuda. Kedua kakinya terbuka lebar dan tangan kirinya di tarik ke belakang,
“RIGROS!”
Pukulan yang terselimuti Annaroth hitam dilancarkan dengan cepat ke arah Synathisa.
‘Dbuhhh!’
“Woo!” Ucap Synathisa saat berhasil menghindar dari serangan Dyres,
Terdengar suara reruntuhan yang berjatuhan ke lantai melintas di telinga Nenek mereka. Dia tercengang dan terdiam karena dinding yang baru saja diperbaikinya sekarang telah hancur kembali.
“Hebat sekali kamu bocah!” Ucap Synathisa,
“Kalian…” Ucap Namira dengan geram,
‘Fyuhh-Fyuh!’
“Berlatihlah di luar!” Bentak Namira sambil melemparkan Dyres dan Synathisa keluar satu persatu melalui lubang di dinding tersebut,
“Aaaaaa!” Teriakan mereka berdua saat dilempar oleh Nenek mereka sendiri,
‘Dbussh-Dbush!’
Pendaratan yang kasar membuat mereka kesakitan.
“Aduh...Hei bocah! Kenapa kau menyerang ku?!” Tanya Synathisa kesal,
“Berlatihlah dengan ku, hihihi!” Jawab Dyres dengan gembira,
“Dasar bocah aneh!” Bentak Synathisa hendak meninggalkan Dyres,
‘Fhsyuh!’
Tiba-tiba Dyres melancarkan serangan ke arah Synathisa lagi,
“LION HEART!”
Sebuah tameng sihir api berbentuk kepala singa merah tercipta sesaat sebelum skill Dyres mengenai Synathisia,
‘Dbuuh!’
Synathisa terpental hingga ke dekat dinding ruang latihan,
“Errghh…” Rintihan Synathisia dari balik asap debu akibat benturan kedua skill tadi,
“Apa-apaan bocah ini…” Ucap Synathisia didalam hati sambil melihat tangannya yang meneteskan darah,
“Dia bahkan belum terlihat serius…” Lanjutnya sambil berusaha bangkit,
Setelah bangkit, wanita itu membuka kuda-kudanya dan mulai memusatkan energi sihir di kakinya.
‘Syuwh!’
Synathisa melesat ke arah Dyres dengan sikap siap menyerang. Dyres yang tersenyum berhasil menghindari serangan Synathisa dengan sangat cepat,
‘Dbush-Dbush-Dbush!”
Seketika tanah di sekitar tempat Dyres berdiri sebelumnya hancur dan terhempas keatas,
‘Syiing!’
Laser merah besar dari langit menghancurkan setiap jengkal tanah yang dilewatinya,
‘Dbruuuuhh!’
Kesekian kalinya Dyres berhasil menghindari serangan Synathisa. Namun disaat Dyres hendak menapakkan kakinya ditanah setelah berhasil menghindar, Synathisa dengan cepat melancarkan serangan lanjutan.
“LIONS ROAR!”
Ucap Synathisa merapalkan sihir-nya,
'Zbbuh...!'
Laser merah besar melesat dengan cepat menyerang Dyres,
‘Syiing!’
Sesaat Synathisa merasa telah mengenainya, namun Dyres telah mengaktifkan skillnya terlebih dulu.
“MURVIS!”
Ucap Dyres merapalkan skillnya,
Kilat hitam menyambar keluar dari tangan kiri Dyres. Sedikit demi sedikit dirinya membelah skill milik Synathisa.
“VNIOMOR”
Lanjutnya dengan tenang,
'Zreb...Dbuh-Dbuh-Dbuh!'
Kilat hitam mulai mengamuk tak beraturan dan secara terus menerus di tembakan oleh Dyres. Dengan cepat sihir Synathisa terbelah.
“Errrgghh!” Geraman Synathisa menahan skill Dyres,
‘Sriing!...Dbuh-Dbuh-Dbuuhhrr....!!!’
Hantaman keras terdengar hingga kedalam ruangan, Synathisa terkena serangan Dyres dan terpental sangat jauh hingga ke dasar tebing. Semua orang yang melihat mereka bertarung dari lubang didalam ruang latihan terkejut dengan Gelombang Annaroth yang mengintimidasi dari Dyres.
"Apa ini?" Ucap Albis merasakan tekanan tersebut,
"Badanku terasa berat..." Ucap Arta berlutut,
Varadis menatap Namira seperti sedang menyampaikan sesuatu. Semua yang berada disana terkejut dengan kekuatan yang dimiliki oleh Dyres.
~Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Mr.F
Sampai sini dulu Thor, lanjutkan 😎👍
2023-01-03
1