Intblam Lyne (Gadis Berambut Merah)

Bintang-bintang bertaburan diangkasa menghiasi kegelapan. Cahaya rembulan memberikan kontras tambahan untuk indahnya langit malam. Didalam ruang keluarga terlihat Varadis, Namira, Richey dan Dyres tengah berbincang.

‘Tuk..tak..tuk..tak’

Terdengar suara langkah kaki menghampiri pintu ruangan itu,

Venesia saat itu sedang membawa nampan yang dipenuhi peralatan untuk minum teh, tiba-tiba dia tak sengaja menjatuhkan kunci kamarnya. Dia berhenti sejenak untuk mengambilnya. Dari dalam ruang keluarga terdengar percakapan antara Varadis dan Dyres,

“…tidak seharusnya kamu menyerangnya seperti itu” Ucap Varadis,

“Tapi aku sama sekali tidak serius, Kek” Jawab Dyres,

“Hmm…Kamu tidak faham apa yang ku maksud. Aku ingin kamu menghajarnya dengan serius. Karena dia sebenarnya hanya bermain-main denganmu…” Ucap Varadis sambil melihat ke arah pintu,

“Jika kamu bisa menunjukkan bahwa kamu kuat, kemungkinan besar kamu tidak harus mengikuti ujian masuk dari awal” Lanjutnya menatap Dyres memberikan isyarat,

“Haa?! Jika tahu seperti itu aku…” Saut Dyres dengan suara yang perlahan mengecil,

Suara dari dalam ruang keluarga tiba-tiba menghilang, Venesia yang mendengarkan percakapan itu menyadarinya dan hendak berdiri untuk masuk ke dalam ruangan.

“Haaaa!!!” Teriak Dyres mengagetkan Venesia,

“Aaaa!!!” Venesia terkejut hingga menjatuhkan semua yang dibawanya,

‘Gbrug!..cleteng..tung!”

“Dyres bodoh!” Ucap Venesia kesal,

“Aahahaha!” Dyres tertawa dengan keras,

“Mengapa kamu hanya menguping disini, ayo masuk…” Ucap Dyres sambil mengumpulkan barang yang di jatuhkan Venesia,

“Aku tidak menguping!” Jawab Venesia kesal,

“Sudahlah…kenapa kalian bertengkar disana. Sini duduk…” Kata Namira sambil mengusap kepala Richey yang sedang tertidur dipangkuannya,

“Dyres, Nek!” Saut Venesia kesal sambil berjalan masuk bersama Dyres,

“Hihi…” Dyres tertawa jahil sambil meracik teh,

Saat tertidur Richey mengigau,

“Bisakah kalian tidak melakukan hal bodoh? Hmm..nyem-nyem…” Ucapnya mengigau sambil mengangkat kedua tangannya,

“Aku sedang berusaha untuk tidur…nyam-nyam emm…” Lanjutnya dan tetap tertidur,

Dyres dengan senyum jahatnya melihat kearah Venesia. Mereka berdua tersenyum seperti iblis yang telah mendapatkan semua tujuannya. Richey yang tertidur polos tiba-tiba membuka mata dengan cepat setelah terdengar suara gigitan,

‘Kreg-kreg!’

Dyres dan Venesia menggigit kedua tangan Richey secara bersamaan setelah mereka melihat Namira sedang lengah,

“Aaaaa!” Richey yang sedang tenang tertidur tiba-tiba berteriak dengan keras,

“Huuh! Huh! Huh!” Richey meniup tangannya yang memerah dan berdenyut karena digigit oleh mereka berdua,

“Aahahahaha!” Tawa Dyres dan Venesia melihat reaksi Richey,

“Ternyata kalian dua anjing yang bodoh!” Richey marah dengan wajah pucat kesakitan lalu kembali meniup tangannya,

“Kalian…” Ucap Namira dengan wajah mengkerut,

“Tidak boleh seperti itu…” Lanjutnya sambil mengusap tangan Richey,

“Ahahaha…he..he…Ahahaha!” Lanjut tawa mereka berdua hingga terpingkal-pingkal dilantai,

‘Cek..ngiiik!’

Terdengar suara dari luar rumah,

“Suara apa itu, Nek?” tanya Dyres,

Mereka semua pergi ke balkon untuk melihat yang sedang terjadi diluar,

“Pengumuman Kerajaan!” Ucap seseorang dari atas seekor binatang kuno berbentuk seperti monster paus yang dapat melayang,

“Bertepatan dengan hari ulang tahun kerajaan, ujian masuk Kesatria Sihir akan di adakan di Arena Kolosium yang baru saja selesai kita bangun…” Lanjutnya,

Richey dan Dyres merasa takjub akan besarnya bintang kuno tersebut,

“Wow…Aku ingin memiliki satu yang seperti itu, Nek” Ucap Richey takjub,

“Berhentilah mengatakan hal aneh” Jawab Namira,

“Hal ini sebagai tanda peresmian Kolosium Nedelvort oleh Raja Alion Nedel Furthihosen. Untuk semua yang ingin ikut serta sebagai peserta ujian, diharapkan kehadirannya esok hari untuk pendataan calon peserta. Terima kasih”,

‘Cek..ngiik!’ Tuntasnya dan perlahan pergi menjauh,

“Nenek! Apakah kita tidak bisa memelihara binatang seperti itu?” Tanya Richey kegirangan,

“Berhentilah memikirkan hal bodoh!” Saut Dyres,

Namira geleng-geleng mendengar perkataan Richey, sedangkan Varadis tersenyum ketika mendengarnya.

“Hmm…Apakah bisa kita titipkan data mereka kepada Albis?” Tanya Varadis ke Namira,

“Aku akan panggil Albis besok pagi” Jawab Namira,

“Baiklah, sekarang kalian harus istirahat. Karena besok kalian harus berlatih lagi…” Ucap Varadis kepada mereka bertiga,

“Ayye!” Jawab Richey,

“Baiklah, Kek” Jawab Venesia,

Dalam diam Dyres menyadari bahwa ada seseorang dari kejauhan tengah memperhatikan mereka. Dari atap sebuah rumah yang gelap, terlihat samar seseorang yang menggunakan pakaian wanita tengah berdiri diatasnya. Saat Richey dan Venesia berjalan, Dyres mengikuti sambil menatap ke mata Varadis. Dia yang juga

menyadarinya tiba-tiba menghilang dan berpindah tempat dimana seseorang itu berdiri.

‘Ctap..Tak..Dbussh!’

Dengan cepat Varadis berusaha memegang tangan orang itu, namun orang tersebut menggunakan skillnya untuk menghantam tangan Varadis.

‘Syuh-Syuh..Syuh!’

Orang yang masih belum diketahui itu akhirnya lolos.

“Hmm…” Varadis membiarkan orang itu kabur,

“Sepertinya aku sudah tidak muda lagi…” Lanjutnya didalam hati.

Varadis melihat orang itu menjauh dan mengatakan,

"Apa sebenarnya tujuan orang itu"

Kemudian Varadis kembali berpindah ke rumah dan membiarkan orang itu pergi. Malam perlahan menjadi tenang dan alam pun seperti tengah beristirahat dalam sunyi.

Paginya, Albis terlihat sangat bersemangat karena mendapatkan panggilan dari Nenek Namira. Dia berjalan dengan riang gembira. Disatu tempat dia berhenti dan masuk ke toko untuk membeli sesuatu. Tak lama kemudian dia keluar dengan membawa kotak hadiah ditangannya. Tetap dengan memasang wajah gembiranya yang sangat aneh, dia melanjutkan perjalanannya.

Kemudian dari sudut gang kecil, seseorang menggunakan jubah terlihat samar sedang memperhatikan Albis. Orang misterius itu terus mengikuti Albis hingga dipersimpangan terakhir. Dia terkejut ketika melihat Albis hilang dari pandangannya. Dengan tiba-tiba tangan seseorang memegang pundaknya dari belakang,

“Oh.. Jadi kamu yang mengikutiku…” Ucap Albis memegang pundak orang itu,

“Errghh…Errgh…” Orang itu meronta saat ingin melepaskan tangan Albis dari pundaknya,

‘Slrrpp’

Albis membuka tudung jubah itu. Dia terkejut ketika mengetahui bahwa orang itu adalah anak perempuan berambut merah. Anak perempuan itu tidak sempat untuk menghentikan tangan Albis, namun Albis segera menutupnya kembali sesaat setelah dia terkejut melihat warna rambut anak itu.

“Hey…itu… warna rambut mu…” Ucap Albis dengan nada pelan dan raut wajah cemas,

“Aaaah! Ayo ikut aku saja…” Lanjutnya sambil menarik anak perempuan itu dan tidak sadar telah meninggalkan kotak hadiahnya,

“Eeee! Lepaskan!” Saut anak itu,

Didalam rumah, keluarga Namira dan Varadis tengah bersantai sambil meminum teh yang disediakan oleh pelayan. Perlahan terdengar suara langkah kaki yang datang mendekat. Tiba-tiba Albis membuka pintu dengan keras dan raut wajahnya sangat panik.

“Heeee!” Ucap Venesia setelah melompat ke balik sofa karena terkejut,

“Weee!” Ucap Richey terkejut dan hampir menjatuhkan cangkir tehnya,

“Huuhh…” Dyres menghembuskan nafas karena terkejut oleh Albis sambil bersiap untuk menyerang dengan tangannya,

“Eeee! Lepaskan aku…” Ucap anak perempuan yang ditarik Albis,

“Nenek! Kamu harus melihat ini… Apa yang harus aku lakukan? …Apakah ini ujian hidupku yang sesungguhnya, Nek?!” Ucap Albis sangat panik,

“Kamu tidak memiliki satupun cucu yang sehat, sayang” Ucap Varadis dengan wajah datar menatap Namira,

“Kamu lupa kalau dia juga cucumu?” Jawab Namira mengikuti raut wajah Varadis,

“Hiiiiii!...Kamu menakutkan sekali kalau seperti itu” Lanjut Varadis membelakangi Namira,

“Albis…” Kata Namira menghampiri Albis,

“Sekarang tenang…dan jelaskan. Ada apa…dan ini siapa?” Lanjutnya menenangkan Albis,

“Kalian harus melihatnya…” Jawab Albis kemudian membuka tudung jubah anak itu,

‘Slrrp’

Setelah tudung terbuka, Varadis dan Namira terkejut melihat penampilan anak itu. Sementara itu Dyres dan Venesia seperti telah selesai mendiskusikan sesuatu.

“Kamu…” Ucap Namira terpotong,

“Kamu yang waktu itu diganggu oleh anak-anak ingusan kan? Kan? Kan?” Tanya Richey tiba-tiba,

‘Bad..dbuh!’

Venesia dengan cepat memukul kepala Richey hingga dia terkapar di lantai lalu menariknya dengan kasar,

“Hehehe…Maaf, Nek. Silahkan dilanjutkan” Ucap Venesia dengan wajah panik,

“Silahkan dilanjutkan, Nek” Ucap Dyres dengan senyuman panik,

“Kau hampir membocorkannya, dasar anak bodoh!” Lanjutnya dengan perasaan lega dari dalam hatinya,

Varadis, Namira dan Albis heran melihat tingkah mereka berdua.

“Apakah kamu tersesat di kota?” Tanya Namira kepada anak itu,

“Ti..tidak, Nek. Paman ini yang tiba-tiba mengagetkan ku lalu menarikku kesini” Jawabnya dengan kepala tertunduk,

Saat itu juga Namira mengarahkan wajah marah yang sangat seram ke arah Albis. Albis yang panik hanya bisa berpura-pura tidak mendengar sambil membuang muka.

“Maafkan cucu nenek yang bodoh ini ya…” Ucap Namira dengan senyum hangat ke anak itu,

“Apakah nenek boleh tahu siapa nama kamu?” Lanjutnya bertanya,

“Boleh…Nek…” Jawabnya anak itu sambil mencuri pandang ke arah Richey, Dyres dan Venesia,

“Namaku Shane... Shane Yulan” Lanjutnya merasa malu,

“Nama yang indah. Kalau begitu, sebagai ucapan maaf nenek…” Saut Namira menarik Shane ke sofa,

“Nenek akan buatkan kamu teh ternikmat disini” Lanjutnya sambil meracik teh untuk Shane,

“Terima kasih, Nek. Maaf merepotkan” Balas Shane dengan malu,

“Tidak apa…” Jawab Namira,

“Oh iya… Kamu bukan berasal dari kerajaan ini kan?” Lanjutnya bertanya,

“Emm…Iya, Nek” Jawab Shane dengan malu,

“Lalu…Kamu dari mana?” Lanjut Namira bertanya sambil memberikan teh,

“Aku datang dari sebuah desa kecil di utara kerajaan, Nek” Jawab Shane mengambil teh dari Namira,

Semua mendengarkan dengan seksama percakapan Namira dan Shane. Namira merasa terganggu dengan mereka yang memasang wajah amat serius untuk mendengarkan. Ketika mereka tersadar dengan perasaan Namira, saat itu juga mereka berpura-pura sibuk dan asik sendiri.

“Lalu siapa yang menemani mu datang ke kerajaan ini, nak?” Tanya Namira sambil melihat yang lain berhenti berpura-pura dan mendengarkan kembali,

“Emm-emm…” Ucap Shane sambil meminum tehnya,

“Aku sendirian kesini, Nek” Lanjutnya sambil menaruh cangkir teh,

“Kenapa ayah dan ibumu tidak menemani?” Lanjut Namira bertanya dengan sangat penasaran,

Shane saat itu hanya menggelengkan kepalanya seraya menjawab “Tidak” kepada Namira. Nenek melirik ke Arah Varadis seakan memberikan sebuah sinyal. Dia panik dan hanya bisa memberikan isyarat tubuh seperti menolak kepada Namira.

Richey, Dyres,Venesia dan Albis heran melihat Kakek dan Nenek mereka yang bertingkah aneh. Shane merasa seperti sedang terjadi sesuatu pada Varadis, kemudian dia menoleh ke arahnya yang berada di sebelah kanan.

‘Glegek”

Varadis dengan cepat berpura-pura sedang minum teh sebelum Shane sempat melihatnya. Kemudian dia tersenyum kepada Shane. Sedangkan yang lain masih kebingungan dengan tingkah Kakek dan Nenek mereka.

“Hii…Haa…Hii-Haa…Hiii!” Suara Namira memberikan isyarat ingin menghajar Varadis,

Saat itu Varadis hanya tersenyum kepada Shane sambil sesekali melirik ke arah Namira. Shane akhirnya kembali menoleh kearah Namira. Dia juga dengan cepat kembali keposisi awalnya sebelum Shane sempat melihatnya. Yang lain semakin bingung dengan tingkah Kakek dan Nenek mereka yang semakin aneh.

“Ini akibatnya jika kamu terlalu sering mengatakan hal bodoh kepada mereka…” Bisik Dyres kepada Richey,

“Hmm-hmm!” Saut Venesia mengangguk,

“Eeee?...Aku?” Ucap Richey bingung,

“Maaf, Nak. Nenek tidak mengerti maksud kamu dengan menggelengkan kepala” Ucap Namira kepada Shane,

“Orang tua ku…sudah lama meninggal, Nek” Terang Shane menjelaskan maksudnya,

“Oh…Maafkan nenek. Nenek tidak bermaksud untuk mengungkitnya” Saut Namira,

“Hemm…Tidak apa, Nek. Itu juga sudah lama” Lanjut Shane,

“Baiklah jika seperti itu…” Ucap Namira sambil berdiri dengan semangat,

Semua yang ada disitu melihatnya dengan wajah bingung. Tiba-tiba Namira bertanya suatu hal yang membuat suami dan cucu-cucunya terkejut,

“Apakah kamu mau menjadi cucu nenek?!” Tanya Namira dengan senyuman hangat,

“Heeee?!” Yang lain dengan serentak terkejut mendengar perkataan Namira,

Mereka semua dengan cepat mengerumuni Namira dan memeriksa keadaannya.

"Sepertinya nenek sedang demam..." Ucap Dyres,

"Periksa keningnya" Ucap Varadis melihat Richey,

Richey memegang kening Namira dan mengangguk,

"Celaka..." Lanjut Varadis melihat Richey,

"Maafkan aku karena jarang menanyakan keadaanmu, nek" Ucap Venesia memegang pergelangan tangan neneknya,

“Maafkan nenek kami, mungkin dia sedang tidak enak badan” Kata Albis yang membelakangi mereka dan menghadap ke arah Shane,

“Hahaha…” Tawa Shane yang tidak enak hati dengan mereka,

“Tidak apa… Jika boleh, aku mau menjadi cucu nenek…” Lanjutnya,

Jawaban Shane membuat semua orang terdiam dan terpaku kepadanya,

“Hehehe…” Tawa dari Shane dengan perasaan tidak enak,

‘Dbuhh!’

“Cucuku!” Teriak Namira menghancurkan kerumunan dan dengan cepat memeluk Shane,

Semua yang mengerumuni Namira langsung terhempas tanpa daya,

“Sebaiknya lain kali kamu bawa hewan buas saja kemari, Albis” Ucap Varadis dengan wajah menempel ke dinding ruangan,

"Hadehh..." Ucap Richey tak berdaya dilantai,

"Kepalaku hilang..." Ucap Dyres yang kepalanya menghantam dinding lalu berusaha menyeimbangkan diri,

"Kenapa malam hari cepat datang?" Ucap Venesia dengan wajah diatas lantai,

"Apa yang kalian bicarakan dari tadi?" Tanya Albis dengan kepala yang masih terasa berputar,

‘Cling!’

Tiba-tiba batu kalung yang berada didalam pakaian Shane melayang keluar dan menyinari ruangan dengan cahaya putih yang menyilaukan mata. Semua yang ada disana terkejut dan segera menghalangi cahaya yang langsung menusuk kemata mereka masing-masing.

“Apa itu?” Ucap Albis,

“Cahayanya…” Dyres mengatakannya dan seketika jatuh pingsan,

“Dyres!” Saut Venesia melihat Dyres,

Varadis segera menutupi Dyres, sedangkan Namira hanya melirik sesaat ke arah Varadis dan memperhatikan kalung itu kembali dari sela pakaiannya.

“Cahaya apa itu…” Ucap Namira didalam hatinya,

“Hanya dengan cahaya seperti itu, mampu membuat Dyres pingsan” Lanjutnya didalam hati.

Tak lama kemudian batu itu perlahan berhenti mengeluarkan cahayanya dan saat itu juga Shane ikut terbaring lemas. Namira segera menghampiri shane dan sesaat dirinya melihat Aura putih yang sangat bergelora disekitar Shane. Dia seakan mengingat sesuatu dan mulai menyadari hal yang baru saja terjadi dihapadannya.

Setelah kondisi kembali seperti semula,

“Richey!” Ucap Varadis memanggil Richey,

Semua  yang masih terjaga melihat ke arah Richey karena sautan Varadis. Richey terlihat diam dan tidak bergerak sedikitpun. Kesadaran Richey perlahan memudar, namun dia masih bisa sedikit mendengarkan

orang disekitarnya sedang memanggil namanya.

Richey terjatuh dan terbaring di lantai diikuti oleh Venesia yang tiba-tiba mengalami hal yang sama dengan Richey. Varadis, Namira dan Albis panik serta bingung dengan apa yang sedang mereka alami.

“Richey, Dyres, Vene, Shane!” Ucap Albis berusaha membangunkan mereka satu per satu,

“Kakek..apa yang terjadi kepada mereka?” Lanjutnya,

“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi” Jawab Varadis sambil memegang Dyres,

Kemudian Namira terpikirkan suatu hal dan langsung meminta bantuan kepada Varadis untuk melakukan sesuatu.

“Sayang, bantu aku…” Namira duduk dengan tangan membentuk sebuah segel sihir kuno dan mulai menutup matanya,

“Albis…tolong sejajarkan mereka didepan Nenek” Pinta Varadis,

Kemudian Varadis berpindah ke belakang Namira. Dia bersiap dan mulai mentransferkan Annaroth dengan jumlah besar melalui pundak Namira dengan tangan kanannya. Tak lama berselang, lingkaran sihir kuno terbentuk mengitari mereka.

Disisi lain, Mereka yang tiba-tiba pingsan bertemu di suatu tempat di alam bawah sadar.

“Argh…” Rintih Richey perlahan membuka matanya,

“Hee?” Ucap Dyres menghampiri Richey dan Venesia yang terkapar di tanah,

“Sejak kapan mereka disini?” Lanjutnya bertanya kepada Shane,

Shane tidak membalas ucapan Dyres, namun dia langsung menghampiri dan memangku kepala Richey. Saat itu Venesia juga perlahan mulai siuman. Dia terbangun sambil memegangi kepala bagian belakang.

“Vene…” Ucap Dyres menghampiri Venesia,

“Bersandarlah…” Lanjutnya menahan punggung Venesia dengan tangan kiri.

“Kenapa kepalaku terasa…berat sekali…” Ucap Venesia merintih,

“Sepertinya kita semua merasakan hal yang sama” Jawab Dyres,

Sementara itu,

“Apakah aku sudah mati?” Ucap Richey yang terbaring di pangkuan Shane,

Semuanya memperhatikan Richey yang berbicara ngelantur,

“Setidaknya aku…ditemani…malaikat cantik…” Lanjutnya dengan suara yang perlahan mengecil,

Shane merasa malu dan wajahnya tiba-tiba memerah karena ucapan Richey,

“Ini bukan saatnya kau bermimpi!” Bentak Dyres,

“Bidadari…” Ucap Richey dengan lemah sambil melihat wajah Shane,

Shane semakin bertambah malu. Dia menunduk dengan kepala seperti ingin meledak.

‘Drrrrrr’

Seketika bulu kuduk Richey berdiri,

“Kamu!” Ucap Richey terkejut dan langsung berdiri,

Karena mendengar ucapan Richey tadi, ia sangat malu dan menutup wajahnya.

“Maafkan aku…maafkan aku!” Lanjutnya menundukkan kepala pada Shane,

Disisi lain Venesia tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Richey, sedangkan Dyres membantu Venesia untuk berdiri dengan wajah kesalnya terus menatap Richey.

“Kalian tahu kita ada dimana?” Tanya Richey bingung saat melihat lingkungan disekitarnya,

“Aku juga tidak tahu kita dimana…tapi tempat ini sangat menakjubkan” Jawab Dyres terpukau dengan pemandangan daratan hijau di sekitarnya,

“Kamu benar Dyres…” Ucap Venesia sambil berjalan mendekati Richey dan Shane,

“Apakah kalian sadar, disini lebih indah dari Vlarain” Lanjutnya mengangkat kedua tangan dan menghirup udara,

Venesia yang sedang menikmati alam disekitarnya tiba-tiba tersadar akan sesuatu,

“Perasaanku saja atau memang kita tetap baik-baik saja walaupun tidak bernafas?” Ucap Venesia menoleh ke arah mereka bertiga,

Semuanya mencoba menghirup udara,

“Haaa!” Teriak Richey dan Dyres,

“Ternyata aku memang telah mati…” Ucap Richey menangis putus asa,

“Maafkan aku belum sempat membahagiakan kalian…Kakek…Nenek” Ucap Dyres yang ikut putus asa.

~Bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!