~
Mentari bersinar terang perlahan mendaki langit menuju singgasananya. Siulan burung-burung kecil terdengar nyaring di telinga. Hembusan angin memasuki ruangan, menyejukan setiap sudut yang ada didepannya.
Namira dan ke empat cucunya terbaring tak sadarkan diri di ranjang yang sebelumnya telah disusun oleh Albis dan Varadis.
“Masalah disini biarlah aku yang mengurusnya…” Ucap Varadis kepada Albis sambil memegang pergelangan tangan Namira,
“Lebih baik kamu segera bertugas dan jangan lupakan data anak-anak” Lanjut Varadis sambil melihat wajah cucu-cucunya,
“Apakah kakek yakin?” Tanya Albis khawatir,
“Ya tidak apa…Aku dapat mengurusnya sendiri…” Jawab Varadis menggenggam tangan Namira,
“Baiklah…Aku akan kembali setelah tugas ku selesai. Permisi, Kek” Albis pamit dan meninggalkan ruangan,
Varadis merasa cemas melihat semua orang yang disayanginya tak kunjung sadarkan diri.
Disisi lain, suara langkah kaki dari luar mendekat ke arah ruangan. Seorang pelayan melintas didepan ruangan dan melihat kedalam karena pintunya masih terbuka. Dia terkejut karena melihat mereka berempat terbaring di ranjang. Varadis menyadari pelayan itu dan mempersilahkannya masuk,
“Sen…masuklah”
“Maaf tuan…Permisi” Ucap Sen memasuki ruangan,
“Maafkan saya tuan…Saya terkejut melihat nyonya dan yang lainnya terbaring di ranjang” Jelasnya kepada Varadis,
“Hmm…Aku akan bereaksi sama sepertimu jika aku adalah kamu” Jawab Varadis,
“Bisakah aku meminta tolong untuk siapkan makanan dan antar kemari?” Tanya Varadis,
“Baik tuan…Saya akan siapkan secepat mungkin” Jawab Sen menunduk,
“Saya permisi, tuan…” Lanjutnya meninggalkan ruangan,
Tak berselang lama setelah Sen meninggalkan ruangan, jari telunjuk Namira terasa bergerak. Varadis yang merasakannya segera mendekati wajah Namira dan memanggilnya,
“Sayang…sayang…” Ucapnya sambil mengelus rambut Namira,
“Bertahanlah sebentar…” Lanjutnya bersiap untuk mentransfer Annaroth kepada Namira,
“Hentikan…” Ucap Namira dengan lemas,
Varadis sedikit terkejut karena Namira tiba-tiba bersuara.
“Sayang...Kamu sudah siuman?” Tanya Varadis sambil memperhatikan wajah Namira,
“Iya…” Jawab Namira sambil memegang keningnya,
“Kepala ku seperti habis terbentur sesuatu…” Lanjutnya,
"Ahehehe..." Varadis mengingat bahwa dirinya tidak sengaja membuat kepala Namira membentur siku ranjang saat memindahkannya,
“Sebaiknya kamu istirahat saja…Biar aku yang menjagamu” Lanjutnya,
“Iyaa…Tolong perhatikan anak-anak. Aku berhasil membawa mereka kembali” Ucap Namira sebelum tertidur,
“Terima kasih, sayang” Ucap Varadis sambil mengelus rambut Namira,
Varadis belum merasa lega seutuhnya karena cucu-cucunya belum ada satupun yang siuman. Beberapa jam setelah itu, dia dikejutkan oleh tubuh cucu-cucunya yang tiba-tiba diselimuti oleh Annaroth yang sangat bergelora. Tajamnya Annaroth sampai membuat seisi rumah dapat merasakannya. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dirumah itu.
Arta yang saat itu tengah berjalan untuk kembali kerumah Varadis setelah melapor ke istana, merasakan sesuatu yang janggal datang dari arah rumah Varadis.
“Apa lagi yang sedang terjadi disana?” Ucapnya segera berlari,
Didepan pintu ruangan, para pelayan telah berkumpul karena mereka merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
“Kalian…Tetap tenang dan silahkan kembali bekerja” Ucap Arta yang baru saja tiba,
Para pelayan membubarkan diri dan mulai menjauh. Setelah itu Arta bergegas masuk ke dalam ruangan.
“Maaf tu…” Ucap Arta terkejut melihat Annaroth yang menyelimuti anak-anak,
“Arta, akhirnya kamu datang…” Saut Varadis melihat Arta,
“Apa kamu pernah melihat yang seperti ini?” Tanya Varadis,
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu, tuan…” Jawabnya dengan wajah syok dan masih tidak percaya dengan kejadian yang sedang dia lihat,
Varadis hanya menggelengkan kepala untuk menjawab Arta. Kemudian Arta berjalan ke ranjang paling ujung yang disana ada Richey sedang terbaring dengan Annaroth putih yang sangat tajam.
Dia memperhatikan Annaroth itu lalu mengatakan,
“Tuan…Aku bergegas kemari karena Annaroth ini…” Ucapnya sambil mencoba menyentuhnya,
“Hentikan!” Saut Varadis mengehentikan Arta,
“Kamu hanya akan melukai dirimu sendiri. Didalam dirimu ada Annaroth yang kita sebut dengan sihir. Jika kamu menyentuhnya…kemungkinan yang akan terjadi adalah penolakan dari Annaroth yang menyelimuti mereka…” Lanjut Varadis,
“Mengapa seperti itu, tuan?” Tanya Arta segera menarik tangannya kembali,
“Seperti halnya sihir yang dimasukkan kedalam katalis…Jika aku memasukkan Annaroth Kuno milikku kedalamnya juga, maka kemungkinan…” Ucap Varadis,
“Akan terjadi ledakan…” Saut Arta dengan wajah yang heran,
"Hmm" Jawab Varadis mengangguk,
“Annaroth mereka ini adalah sesuatu yang lain dari pada yang kita miliki…” Jelas Varadis sambil melihat pemandangan di luar jendela,
“Sama halnya seperti milik mu…kakek guru” Lanjut Varadis didalam hati,
"Hmm" Jawabnya kembali mengangguk,
Beberapa jam berlalu dan Annaroth yang menyelimuti mereka telah padam. Richey perlahan membuka matanya. Dengan penglihatannya yang masih samar-samar, dia mendengar percakapan Varadis, Namira dan Arta.
“…untuk saat ini kita rahasiakan dulu dari mereka” Ucap Namira,
“Aku setuju dengan keputusan mu, nyonya…” Jawab Arta lalu tidak sengaja melihat Richey membuka matanya secara perlahan,
“Richey…” Ucap Arta,
Varadis dan Namira melihat ke arah Richey dan menghampirinya.
“Richey..” Ucap Varadis memegang tangan Richey,
“Nak…Apakah kamu bisa mendengar kita?” Tanya Namira,
Richey dengan lemas menganggukkan kepala kepada mereka. Terlihat Arta berlari ke rak makanan yang telah di sediakan sebelumnya oleh Sen. Dia mengambil segelas air lalu diberikan kepada Namira.
“Apakah ada sesuatu yang terasa sakit dibadan mu?” Tanya Namira,
“Tidak, Nek” Jawab Richey,
“Bagus… Minumlah…” Saut Namira meminumkan air kepada Richey,
Tak berselang lama, semua cucunya terbangun. Dyres yang telah duduk diranjang itu bertanya,
“Apa yang terjadi?”
Mereka sedikit terkejut ketika melihat Dyres yang tiba-tiba sudah siuman,
“Dyres…Apakah kau baik-baik saja?” Ucap Arta menghampiri Dyres,
Namira segera memberikan gelas kepada Varadis lalu menghampiri kedua cucu gadisnya,
“Ya, paman… Aku hanya hanya merasa sangat pusing jika terbaring” Jawab Dyres sambil memegang kening,
“Nek…” Ucap Venesia menangis,
“Apa yang terjadi padamu, sayang?” Tanya Namira kepada Venesia,
“Ibu dan Ayah…” Jawab Venesia terus menangis,
“Sudah-sudah…” Saut Namira memeluknya,
“Emm…” Suara dari Shane yang penglihatannya masih buram,
“Sayang…Apakah kamu baik-baik saja?” Ucap Namira sambil menggendong Venesia ke pangkuannya,
“Kemari sayang…” Namira memeluk Shane lalu memangkunya,
“Gunakan Alrein Annaroth di kening mereka untuk mengurangi gejalanya” Pinta Namira kepada Varadis,
“Alrein?” Tanya Arta bingung,
“Alrein adalah Bahasa Vlarain yang berarti Alam…” Jawab Varadis sambil memegang kening Richey dan Dyres,
“Apakah ada hal seperti itu?” Arta bertanya-tanya didalam hatinya,
Sesaat kemudian Namira dan Varadis mengeluarkan Annaroth hijau kekuningan yang terasa sangat kuat oleh Arta.
“Inikah Alrein itu…?” Ucap Arta didalam hatinya,
Perlahan Annaroth itu masuk kedalam kening mereka berempat dan membuat cahaya hijau muncul disekeliling tubuh mereka untuk sementara.
“Baiklah…Bagaimana sekarang?” Tanya Namira,
“Kepalaku…” Ucap Shane heran karena pusing dikepalanya tiba-tiba hilang,
“Hmm..!” Dyres merasa telah membaik,
“Wah aku merasa segar, Kek” Ucap Richey mengepalkan tangannya,
Namira melihat Venesia lalu mengusap air matanya.
“Sayang…” Namira khawatir kepadanya,
“Tidak apa, nek…Aku sudah membaik” Jawabnya setelah menghapus semua air mata dan tersenyum kepada Namira,
Shane tiba-tiba memeluk Venesia dan mengatakan,
“Aku mengerti perasaan mu…”
Mereka berdua berpelukan dengan erat, tak lama Venesia melapaskannya dan menggenggam tangan kiri Shane dengan tangan kanannya.
“Kita harus menjadi lebih kuat…” Ucap Venesia dengan semangat,
“Hmm!” Jawab Shane mengangguk menjawabnya,
Melihat itu, Richey dan Dyres menyatukan kepalan tangannya.
“Kita juga…” Ucap Dyres dengan semangat,
Richey mengangkat kepalanya dan memberikan senyuman kepada Dyres.
Arta bingung dan bertanya,
“Ada apa dengan kalian semua…?”
“Itulah cucuku…” Ucap Namira tersenyum senang melihat mereka,
Varadis tersenyum haru melihat mereka kembali ceria. Tetapi Arta tetap kebingungan,
“Kenapa keluarga ini semakin aneh…” Ucap Arta dengan wajah herannya,
~Bersambung
Tolong berikan tanggapannya ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments