Truant Dist (Tunas Muda)

Dari kejauhan terlihat seseorang menggunakan topeng yang melihat tajam ke arah mereka. Dyres sadar dengan tatapan orang itu dan bersiaga jika sesuatu yang buruk dilakukan olehnya. Tiba-tiba orang itu menghilang dan dengan sekejap berpindah tempat ke depan Nenek, tetapi Kakek dan Richey telah memegang tangan orang misterius itu untuk menghentikannya. Orang itu seperti ingin mencelakai Nenek yang hanya tersenyum didepannya.

“Sudahlah, kalian akan membuat kegaduhan jika meneruskannya…” Ucap nenek dengan senyumannya,

“Lepaskan dia” Lanjut nenek,

“Apa yang akan kamu lakukan hah?!” Bentak Richey kepada orang misterius itu,

'Tok!’

Suara kepala Richey yang dipukul nenek dengan jari telunjuknya,

“Sudah lepaskan dia Richey…” Ucap nenek kembali,

Richey menggeram dengan berpura-pura kuat didepan orang itu.

“Adduuuhhh….Nenek kejam!!!” Teriak Richey kesakitan,

Dan sesaat semua orang disekitar memandang ke arah mereka,

“Dari Annaroth ini…” Kata kakek sambil mengingat,

“Itukah kamu Venesia?” Tanya kakek kepada orang misterius itu,

Orang misterius itu tersenyum dan membuka topengnya. Senyuman manisnya mengarah langsung ke arah kakek dan nenek. Tetes air mata yang tak tertahan akhirnya jatuh dikedua pipi kakek. Dia memeluk Venesia dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Nenek tetap tersenyum tetapi Richey dan Dyres terheran-heran.

Dyres melihat ke arah nenek,

“Apa kamu mau bertanya apa maksudnya hal ini, Dyres?” Tanya nenek,

“Mmm..mm, dia siapa?” Tanya Dyres,

“Nanti Nenek ceritakan…sekarang kita harus ke satu tempat terlebih dulu” Jawab nenek.

Mereka semua melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke sebuah rumah besar dengan pagar kokoh yang mewah.

“Apakah Nenek tersesat?” Tanya Richey sambil melihat rumah besar didepannya,

“Aku akan bertanya ke warga sekitar, Nek” Ucap Dyres hendak berlari,

“Tidak…” Saut nenek sambil memegang kerah baju Dyres,

“Hoeekk…Nek, aku tercekik…” Kata Dyres menderita,

“Ini memang tempat yang Nenek maksud tadi…” Lanjut nenek melepas kerah baju Dyres,

Kemudian nenek mengetuk tembok pagar rumah itu dengan telunjuknya. Tak lama berselang, terlihat seorang pria keluar dari rumah dengan menggunakan pakaian pelayan yang sangat keren. Ditengah jalannya menuju gerbang, pria itu seperti menyadari sesuatu dan tiba-tiba berlari ke arah pintu pagar.

“Selamat datang Nyonya Namira, Selamat datang Tuan Varadis, Nona Venesia…” Ucap pelayan

tersebut sambil membungkuk ke arah kakek dan nenek,

Kejadian ini membuat Richey dan Dyres semakin sulit menggunakan otaknya. Otak mereka akhirnya berhenti berfungsi dan raut wajah mereka terheran dengan amat sangat.

“Maafkan saya karena tidak tahu bahwa Nyonya dan Tuan akan datang, saya…” Ucap pelayan

itu terpotong,

“Aku memang tidak berniat untuk kesini pada awalnya…” Ucap Namira sambil berjalan

masuk dengan Varadis dan Venesia,

“Tetapi aku memutuskan untuk kesini ditengah perjalanan karena ada mimpi yang harus dicapai oleh orang-orang yang ku sayangi…Tolong bawa mereka berdua masuk” Lanjutnya sambil menunjuk Richey dan Dyres yang terdiam dengan raut wajah heran dan mulut terbuka lebar.

Mereka akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah dengan Varadis yang terus memeluk Venesia, sedangkan Richey dan Dyres di angkat oleh pelayan tersebut. Sampailah mereka ke suatu ruangan dengan pemandangan dari luar yang indah.

“Sen…tolong panggilkan Arta kemari, ada yang ingin ku sampaikan padanya” Kata Namira kepada pelayan itu,

“Baik, saya permisi dulu nyonya” Jawab pelayan yang bernama Sen itu sambil melepaskan Richey dan Dyres ke lantai.

“Kalian berdua sadarlah…” Kata Namira ke Richey dan Dyres,

“…atau Nenek akan menghukum kalian” Lanjutnya sambil mengepalkan tangan.

“Siap Nek!” Jawab mereka berdua serentak dan langsung berdiri tegak,

“Apakah kalian akan tinggal disini?” Tanya Venesia kepada Namira dan Varadis,

“Sepertinya begitu sayang…” Jawab Namira,

“Lepaskan dia” Lanjutnya sambil mengambil Venesia dari pelukan suaminya,

“Yey…akhirnya aku bisa tinggal lagi dengan Nenek” Kata Venesia dengan gembira,

“Nek, emm…” Kata Dyres yang tidak enak hati untuk bertanya,

“Hmm?...Oh iya maaf. Nenek lupa menceritakannya…” Kata Namira sambil tersenyum,

“Venesia ini adalah cucu Kakek dan Nenek juga, sama seperti kalian…Hanya saja Nenek tidak selalu sempat kesini untuk merawatnya” Lanjutnya sambil memeluk erat Venesia,

Richey dan Dyres memasang raut muka tidak suka saat melihat Namira memeluk erat dan terlihat sangat menyayangi Venesia.

“Hmm…Kalian berdua jangan cemburu kepadanya” Kata Varadis,

“Hmm! Kita baik-baik saja kok” Jawab Richey dan Dyres serentak dengan menahan kecemburuan,

“Ternyata bagaimana pun mereka itu tetap cucuku…” Kata Namira yang tersirat didalam hatinya,

“Kemari, bagaimanapun kalian juga adalah cucu nenek” Lanjutnya berkata kepada Richey dan Dyres,

Mereka berdua berlari memeluk kakek dan nenek mereka bersamaan. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka pada saat itu, walaupun Venesia merasa sesak karena terhimpit oleh mereka. Air mata tercurah dari kedua mata Varadis dan Namira karena bahagianya memiliki cucu-cucu yang sangat menyayangi mereka.

Kilau keindahan pemandangan dan hembusan angin dari luar terasa menambah keindahan dari keharmonisan momen itu. Saat memasuki ruangan, Arta terpukau akan hal itu. Hal tersebut membuatnya terdiam sejenak dan saat tersadar,

“Maafkan saya…saya lupa untuk mengetuk pintu” Ucap Arta hendak menutup kembali pintu,

“Tidak apa, masuklah…” Jawab Varadis,

“Maaf…Permisi…” Ucap Arta memasuki ruangan,

“Selamat datang Tuan Varadis dan Nyonya Namira, maafkan saya karena tidak tahu anda datang kemari dan untuk masalah tadi…” Lanjutnya dengan perasaan tidak enak kepada mereka,

“Sudah tidak apa, duduklah…” Jawab Namira sedikit kesal,

“Permisi...” Kata Arta sambil duduk,

“Kenapa nyonya tidak menggunakan telapak tangan untuk mengaktifkan Chi di gerbang depan?” Tanya Arta kepada Namira,

‘Tok-tok’

Pelayan masuk dan menuangkan teh untuk mereka,

“Aku tidak ingin membuat kegaduhan disini” Jawab Namira lalu meminum tehyang berada didepannya,

“Baiklah nyonya…Apakah ada tugas untuk saya?” Tanya Arta kembali,

“Ahh…hampir saja aku lupa” Jawabnya sambil menepuk keningnya,

“Aku ingin menitipkan cucu-cucuku tahun ini untuk mengikuti Ujian Masuk Kesatria Sihir” Lanjut Namira dengan senyum,

Richey dan Dyres sangat senang mendengar hal itu dan mengarahkan tatapan gembiranya kepada nenek mereka. Namun, Venesia kaget mendengar hal itu.

“Aa..aku tidak mau, Nek” Ucap Venesia,

“Hmm…apa kamu sudah melupakan mimpi mu, Ven?” Tanya Varadis kepada Venesia,

“Tidak, Kek…tapi aku…” Jawab Venesia terbata-bata,

Semua melihat Venesia dan menunggu lanjutan perkataannya. Gadis itu malu tetapi tidak dapat menahan kata-kata yang ditahan oleh mulutnya,

“Aku sudah kuat tanpa harus menjadi kesatria!” Kata Venesia dengan lantang dan tersipu malu,

“Ven…” Kata kakek sambil mengelus rambut Venesia,

“Didunia ini tidak ada yang tetap… Jika hari ini kamu merasa paling kuat, akan datang saatnya kamu melihat orang yang lebih kuat dari dirimu. Jadi…teruslah berkembang hingga orang lain yang mengatakan bahwa kamu yang paling kuat” Lanjutnya hingga membuat Venesia merasa kagum,

“Baiklah, Kek!” Ucap Venesia dengan perasaan kagum dan membara,

Richey dan Dyres bingung dengan wajah datar mereka ketika melihat Venesia yang bisa berubah dengan cepat hanya dengan mendengar sedikit perkataan kakek mereka.

“Untuk hal itu, saya bisa kerjakan pendaftarannya secepat mungkin” Kata Arta,

“Aku minta kepada mu agar tidak menggunakan stempel emas” Bisik Namira kepada Arta,

“Apa maksud anda nyonya?” Tanya Arta dengan pelan juga,

“Aku ingin mereka belajar tentang arti kerja keras” Jawab Namira,

“Baiklah, jika itu keinginan nyonya. Untuk pendataan ulangnya, kalian bisa memintaku kembali atau meminta Albis yang saat ini sudah berada di kerajaan” Jelas Arta memberikan informasi tambahan,

“Ternyata dia sudah kembali…” Ucap Namira melihat suaminya,

“Jadi…” Kata Varadis sambil berjalan ke arah pintu,

“Sekarang kamu antarkan aku ke taman…” Lanjutnya dengan wajah penuh niat busuk,

“Kamu tidak lupa bahwa aku bisa mendengar isi hatimu kan, sayang?” Tanya Namira kepada suaminya itu,

“Kamu tahu aku akan mencungkil matamu dengan jariku sendiri jika niatmu demi melihat pelayan cantik kan?” Lanjutnya,

“Ahehe…tidak..tidak tidak…aku akan ke aula saja” Jawab Varadis ketakutan,

“Kenapa keluarga kita aneh?” Tanya Richey ke Dyres dengan tatapan bodoh,

“Jangan seenaknya berkata…Dasar bodoh!” Jawab Dyres dengan kesal,

Hari berganti menjadi malam. Bintang-bintang indah bertebaran menghiasi angkasa. Saat itu di balkon rumah, Richey tengah memandanginya.

“Langit disini tidak secerah di rumah kita, huh…” Keluh Richey sambil membuang nafas,

“Kenapa kamu mengharapkan hal yang tidak-tidak?” Jawab Dyres yang tengah merebahkan tubuhnya di ranjang,

“…lebih baik memikirkan seperti apa ujian masuk nanti” Lanjutnya,

“Aku penasaran hasil panen kita dibawa kemana oleh pelayan tadi” Lanjut Richey,

“Bisakah kamu memikirkan hal yang penting!!!” Bentak Dyres kepada Richey yang memikirkan hal-hal aneh,

“Hey lihat!” Kata Richey menunjuk ke arah pusat kota,

“Apakah kamu akan mengatakan bahwa ada meteor terjatuh yang terbakar dan akan menghantam daratan dengan kecepatan tinggi. Yap kamu bodoh!” Ucap Dyres dengan cepat,

“Ada kembang api disana, seperti yang Nenek sering ceritakan!” Jawab Richey dengan gembira,

“Hah?!” Ucap Dyres tergesa-gesa menghampiri Richey,

“Waaaaaa…” Kata mereka berdua yang takjub dengan keindahan kembang api,

“Ayo kita kesana!” Ucap Richey menarik Dyres,

“Hmm!” Jawab Dyres sambil mengangguk,

Mereka melompat dari balkon rumah dan mengarah keluar pagar tembok yang besar. Namun ternyata pagar tersebut telah dibentengi dengan Annaroth kakek dan nenek mereka agar Richey dan Dyres tidak bisa keluar tanpa izin. Mereka terpental saat menghantam penghalang yang tidak terlihat oleh mata itu. Secara tidak sengaja, mata kanan Dyres berubah menjadi pola yang tidak diketahui.

“Arrghh…Aku tidak tahu apa itu, tapi sepertinya itu adalah Annaroth” Ucap Dyres sambil membersihkan pakaiannya yang terkena tanah,

“Eghh…rambutku penuh dengan tanah” Kata Richey membersihkan rambutnya,

“Bagaimana kamu bisa ta…Heee!...Haa?!” Teriak Richey melihat Dyres,

“Dyres…ma..ma…matamu, kamu lihat matamu ke sini” Lanjutnya dengan panik sambil menunjuk kaca jendela

rumah,

“Haaa…?” Jawab Dyres memutar arah menghadap kaca jendela,

“Haaaa!!! Ada apa dimataku ini?!” Teriak Dyres melihat matanya yang berubah,

“Apakah ini adalah hukumanku karena telah banyak membohongi Kakek dan Nenek?” Lanjutnya dengan panik,

“Dyres…Dyres…Dyres!!!” Teriak Richey,

“Matamu sudah kembali normal, lihat…” Lanjutnya,

“Haa?” Kata Dyres kembali melihat matanya dari kaca jendela,

“hah…syukurlah” Lanjutnya tenang,

“Baiklah…Kalau begitu kita terobos saja sesuatu yang menghalangi kita” Ajak Richey kepada Dyres,

Tanpa di sadari Dyres membentuk Annaroth hitam keseluruh tubuhnya dan bersiap melompat menghantam penghalang Annaroth,

“Jangan membebaniku!” kata Dyres melompat dengan cepat,

Richey berdiri tegak menyamping lalu memasang kuda-kudanya dan membentuk Annaroth putih bercahaya di sekeliling tubuhnya,

“Kamu yang akan ada di belakangku!” Jawab Richey melompat mengikuti Dyres,

Benturan kekuatan terjadi dengan kerasnya, hingga menimbulkan getaran diudara. Getaran ini dirasakan oleh seisi rumah dan membuat beberapa dari mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

Sedangkan di ruang tengah,

“Maaf tuan dan nyonya, sepertinya tugas saya harus dimulai sekarang. Saya mohon izin untuk pergi” Ucap Arta kepada Varadis dan Namira setelah menyadari ada sesuatu yang aneh,

“Baiklah…” Jawab Varadis,

Saat itu penghalang Annaroth hancur oleh benturan energi yang dibuat oleh Richey dan Dyres. Mereka berhasil melewati penghalang dengan sekuat tenaga dan bergegas berlari ke arah pusat kota. Tanpa mereka sadari, dari belakang terdapat seorang berjubah hitam mengikuti mereka keluar pagar.

“Cucuku pasti bisa menghadapi setiap masalah yang akan datang” Ucap Namira dengan senyuman bahagia sambil mengambil secangkir teh dari pelayan seksi,

“Aku sampai tidak sadar bahwa seberat…” Sambung Varadis dengan tatapan kotor ke pelayan itu,

“Apa maksud perkataan mu?!” Tanya Namira kesal,

“Aaa…tidak…tid…” Jawab Varadis sebelum dihempaskan dengan jari telunjuk istrinya ke lantai,

‘Dbuuhh!’

Dilain sisi, Arta yang baru saja sampai halaman depan terkejut ketika melihat penghalang Annaroth telah hancur.

“Mustahil…” Ucap Arta terheran,

Salah satu bawahan Arta bertanya kenapa Arta terheran memandangi langit,

“Apa yang terjadi, komandan? Apakah ada yang aneh dilangit?” Tanya bawahan tersebut,

“Aku tidak sedang memandangi langit, tapi aku sedang melihat Soul Guard milik Tuan Varadis hancur…” Jawab Arta dan mulai berlari keluar pagar,

“Haaa!!!” Teriak kaget para bawahan Arta,

“Bukankah Tuan Varadis adalah salah satu pengguna Sihir Kuno?” Ucap salah satu bawahan Arta,

Setelah itu mereka berlari keluar pagar,

“Mustahil sekali hal seperti ini terjadi” Ucap bawahan lainnya,

“Bahkan Nyonya sekali pun akan kesulitan untuk menghancurkannya” Kata Arta gelisah,

“Makhluk apa sebenarnya yang mereka besarkan ini?” Lanjut Arta dari dalam hatinya,

“Komandan Arta…” Ucap salah satu bawahan Arta dari depan pagar,

Arta bergegas menghampiri bawahannya tersebut,

“Jejak mereka mengarah ke kota…” Ucap bawahannya sambil menunjuk ke kota,

“mereka berjumlah 3 orang dan yang terakhir sepertinya sedikit terlambat” Lanjutnya,

“Dasar anak-anak bodoh…Kenapa aku yang harus menjadi pengasuh anak?” Keluh Arta dari dalam hatinya,

“Komandan…Komandan?” Ucap bawahan yang menepuk pundaknya,

“Haiitt…Iya!” Jawab Arta kaget,

“Ehm…Aku ingin satu orang untuk memastikan anak-anak didalam rumah, yang lainnya ikuti aku ke kota” Lanjutnya,

Arta dan pasukannya mulai bergerak untuk memastikan pelakunya, walaupun dia sendiri sudah tahu siapa pelakunya.

Dijalan dekat pusat kota, Richey dan Dyres berada di atap sebuah gedung sambil menikmati pemandangan yang dipancarkan oleh kembang api. Terlihat kerumunan orang berjalan tepat di depan gedung yang mereka pijak.

“Ouh…maaf…” Ucap satu anak perempuan diantara kerumunan itu,

“Haa…?” Jawab anak laki-laki yang tidak sengaja tertabrak oleh anak perempuan itu,

Richey dan Dyres memalingkan sedikit mukanya untuk melihat dan mendengar percakapan mereka dari atas,

“Kau mengotori pakaianku dan kau hanya meminta maaf?” Lanjutnya,

“Apakah kau tidak punya mata?!” Bentak salah satu teman dari anak laki-laki itu,

“Kau ingin mati ya?!” Bentak salah satu temannya yang lain,

‘Dbushh!!!’

Suara tendangan yang menggunakan sihir tertahan oleh sesuatu,

“Pilihlah lawan yang sesuai untukmu” Ucap Richey yang tiba-tiba berada didepan anak perempuan itu dan menahan tendangan anak laki-laki tersebut.

“Huwaa…!!!” Suara teman-teman anak laki-laki itu mengarahkan pukulan ke Richey,

‘Dushh-Dushh!’

Dengan sigap Dyres menangkis keduanya,

“Bisakah kamu untuk tidak ikut campur urusan orang lain, Richey!” Bentak Dyres kepada Richey,

“Wow…” Ucap anak laki-laki itu sambil tersenyum,

“Ternyata kau cukup kuat untuk menahan tendanganku tadi” Lanjutnya,

“Tapi bagaimana dengan yang ini?” Ucapnya bersiap melakukan serangan sambil mengumpulkan sihir didalam tubuhnya,

“Cukup!!!” Bentak seseorang dari belakang anak laki-laki itu,

“Hentikan sampai disitu dan bubarkan diri kalian” Lanjut orang yang berpenampilan seperti Kesatria Kerajaan itu,

“Cihh..” Keluh anak laki-laki tadi,

“Ayo kita pergi” Lanjutnya mengajak teman-temannya pergi,

“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya kesatria tersebut,

“Aa…emmm…Mereka…” Jawab Richey terbata-bata,

“Mereka mengganggu teman kami” Jawab Dyres dengan lantang,

Seketika kesatria itu berubah wujud menjadi anak perempuan,

“Kalian terlalu ceroboh hingga mendapatkan masalah” Ucap kesatria yang ternyata adalah Venesia,

“Haaa…?” Ucap Richey terheran,

“Vene…?” Tanya Dyres bingung,

“Iya iya ini aku…” Jawab Venesia,

“Cukup main-mainnya, kita pulang kerumah” Lanjutnya sambil menarik Richey dan Dyres,

Anak perempuan itu hanya bisa memandangi mereka yang terseret oleh Venesia.

“Ba…baiklah ve..ne..” Ucap Richey yang tercekik kerah bajunya,

Untuk beberapa saat wajah Richey dan Dyres memucat. Venesia melepaskan cengkeramannya dan mereka terjatuh ke tanah setelah diseret untuk beberapa saat.

“Sepertinya…kamu berniat membunuh…kita” Ucap Dyres kesulitan bernafas,

“Kalian memang tidak tahu terima kasih…” Jawab Venesia,

“Asal kalian tahu, Anak tadi itu berasal dari Clan Franbion. Mungkin saja dengan umurnya yang sekarang dia mampu melenyapkan kalian dalam satu kali serangan” Terangnya kepada mereka berdua,

“Apa itu Clan Lampion?” Tanya Dyres,

“Franbion!!!” Jawab Venesia membentak,

“Hiii!!” Dyres ketakutan,

“Ya ya ya…” Ucap Richey dan tersenyum gembira ke arah Dyres,

“Ada apa dengan mu?” Tanya Venesia ke Richey,

Dia merasa ada yang aneh dengan sifat Richey,

“Baiklah mari kita pulang sebelum Kakek dan Nenek sadar kita tidak disana” Ucap Dyres dan membalas senyuman Richey,

“Kalian ini sudah gila ya?!” Teriak Venesia kepada mereka berdua.

Dia semakin merasa aneh dengan mereka berdua. Setelah itu, canda dan tawa terdengar di sepanjang perjalanan pulang.

Sesampainya dirumah,

“Ingat, jangan menimbulkan suara sedikitpun” Ucap Venesia yang dijawab anggukan dengan raut wajah aneh oleh Richey dan Dyres,

Mereka melompat tinggi hingga ke balkon kamar Richey dan Dyres. Sesaat mereka merasa keadaan aman, tetapi lampu tiba-tiba menyala ketika mereka memasuki kamar. Terlihat Kakek dan Nenek mereka yang tersenyum dengan aura jahat menatap mereka bertiga.

“Pe…perasaan ku tidak enak, Dyres…” Ucap Richey ketakutan,

“Diam bodoh…” Jawab Dyres,

“Cucu-cucuku tersayang, hukumannya tidak ringan loh” Ucap Namira dengan senyuman seram,

Malam yang menyenangkan akhirnya berakhir dengan rasa cemas dan ketakutan bagi

mereka.

Apa yang akan dilakukan Namira dan Varadis untuk menghukum cucu-cucu mereka?

Next yok. Ada baku hantam di Chapter 3.

~Bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!