Avon Risen (Anak-anak Suci) #2

~

“Kita harus menjadi kuat…” Ucap Venesia dengan semangat,

“Hmm!” Jawab Shane mengangguk menjawabnya,

Melihat itu, Richey dan Dyres menyatukan kepalan tangannya.

“Kita juga…” Ucap Dyres dengan semangat,

Richey mengangkat kepalanya dan memberikan senyuman kepada Dyres. Arta bingung dan bertanya,

“Ada apa dengan kalian semua…?”

“Itulah cucuku…” Ucap Namira tersenyum senang melihat mereka,

Varadis tersenyum haru melihat mereka kembali ceria. Tetapi Arta tetap kebingungan.

“Kenapa keluarga ini semakin aneh…” Ucap Arta dengan wajah herannya,

Setelah itu,

“Biar aku sa…” Ucap Sen terpotong karena melihat Namira seperti memberikan isyarat “Tidak apa”,

“Makanlah yang banyak…” Ucap Namira menuangkan makanan ke piring Shane,

“Agar ucapan kalian tadi bisa jadi kenyataan...” Saut Varadis,

Semuanya tertawa mendengar ucapan Varadis.

“Sen…sebaiknya kamu duduk juga disana” Ucap Namira mengarahkan Sen untuk ikut serta,

“Tidak...Aku…” Sen terbata-bata karena teringat betapa menakutkannya Namira jika permintaannya ditolak,

“Baik nyonya…” Jawab Sen putus asa dan duduk disebelah Dyres,

Setelah duduk, Dyres menuangkan sayur yang ada dipiringnya keatas piring yang ada dihadapan Sen. Sen terkejut melihat itu.

“Dyres…” Ucap Namira dengan senyum seram mengarah ke Dyres,

Dyres tersenyum panik dengan mulut penuh makanan dan segera mengambil kembali sayurnya tadi.

“Hargai para koki yang telah memasaknya untukmu..” Lanjut Namira,

Sekali lagi Dyres tersenyum panik sambil mengangguk menjawab neneknya. Dia tidak sadar bahwa Richey telah mengambil daging terakhir di piringnya. Saat melihat dagingnya hilang, dia melihat Sen dengan wajah menyeramkan.

“Bbew-bew-bhew-bheww…” Ucap Dyres dengan mulut penuh makanan,

Sen dengan wajah heran terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Dyres!” Ucap Nenek dengan wajah seram,

Dyres meminta maaf dengan menundukkan kepalanya disaat yang lain tertawa karena mengetahui yang sebenarnya terjadi.

Setelah itu dari pintu ruangan, Albis tiba membawa beberapa gulungan di tangannya.

“Ahhh…Aku lupa..” Ucapnya kembali keluar ketika sudah 2 langkah memasuki ruangan,

“Permisi, Kakek..Nenek” Lanjutnya,

Semuanya tertawa melihat melihat kelakuan Albis. Richey terjatuh dari kursinya karena tertawa dan tersedak makanan dimulutnya. Dia segera berdiri untuk minum,

“Kakak ingin membunuhku?” Ucap Richey kesal,

“Nek…” Ucap Albis terhenti,

Hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan Richey.

“Kakak…?” Ucapnya dengan senyum haru,

Dia dengan cepat memeluk erat Richey dan mengatakan,

“Maafkan aku adikku!”

“Nek…dia…ingin membu..nuh ku…” Ucap Richey yang sesak karena pelukan Albis,

Setelah tertawa melihat kedua cucunya itu, Varadis menghentikan mereka,

“Sudah lah Albis…Richey bisa mati lemas jika kamu meneruskannya” Ucap Varadis dengan senyum,

“Oh! …Maafkan kakak ya” Ucap Albis melepaskan pelukan dan menepuk-nepuk kepala Richey dengan senyum anehnya,

Richey yang sesak nafas berusaha menahan tepukan Albis yang dirasa mengganggunya.

“Albis…” Ucap Namira,

“Hmm?” Ucap Albis lalu teringat suatu hal,

“Oh iya…Aku membawakan surat penerimaan kalian untuk mengikuti Ujian Masuk Kesatria Sihir” Lanjutnya sambil tersenyum,

“Waahh!” Ucap Richey dan Venesia,

“Baiklah…” Albis membuka gulungan itu,

“Ini adalah milik Shane…” Lanjutnya,

“”Haa?…Aku?” Tanya Shane bingung,

“Tapi aku belum mendaftar untuk ikut ujian itu…” Jelasnya,

“Aaa…hehe…Karena aku mengingat namamu, jadi sekalian saja ku tulis di dalam pendaftaran calon peserta” Jawab Albis,

“…dan setelah pemeriksaan, Pusat Data Kerajaan menyetujuinya begitu saja…Lalu aku kembali kesini setelah tugasku selesai” Lanjutnya tersenyum kepada Shane,

“Mmm…” Shane khawatir,

“Apakah kamu tidak ingin ikut serta, sayang?” Tanya Namira,

“…Aku takut semua orang akan berkata aku ini aneh” Jawabnya menunduk,

“Karena Annaroth ku…tidak sama seperti milik mereka” Jelasnya,

“Hey!” Ucap Dyres tersenyum bersama Venesia dan Richey kearah Shane,

“Jangan lupakan kita, Shane…” Saut Venesia,

“Kita hancurkan mereka yang berani mengatakan hal it…”

‘Tok!’

“Adu-duh!”

Ucapan Richey terhenti karena kepalanya terkena lemparan sendok dari Namira.

“Apa maksudmu dengan kata itu…?” Ucap Namira dengan aura yang menyeramkan,

“Tidak…” Jawab Richey dengan air mata di ujung matanya,

Semuanya tertawa karena hal itu,

"Tenang saja, anak bodoh itu telah memikirkan jawabannya sejak kita masih kecil..." Ucap Dyres menatap Shane sambil nenunjuk Richey,

"Siapa yang kamu sebut bodoh, hah?" Saut Richey kesal,

Kebahagiaan terus terasa dari wajah mereka yang tertawa melihat kekonyolan mereka berdua. Kemudian Albis menjelaskan detail dari Ujian Masuk Ksatria Sihir yang mereka ikuti.

~

1 jam setelah itu, Richey dan Dyres berjalan di halaman depan,

“Kalian…” Ucap Venesia kepada mereka berdua,

“Apa kalian mendapatkan pesan itu juga?” Tanya Shane,

“Emm!” Jawab Richey sambil mengangguk,

“Kami tahu kemana kita harus pergi…” Jawab Dyres dengan tangan menyilang sebagai sandaran kepalanya,

“Baiklah kalau begitu kita akan ikut kalian…” Saut Venesia,

“Emm…Bagaimana dengan…” Ucap Shane melihat ke arah rumah,

“Tenang saja…” Ucap Richey,

“Apa kamu tidak merasakannya?” Tanya Dyres kepada Shane,

“Kakek dan nenek telah kehabisan Annaroth…Mungkin saja saat ini mereka tengah tidur dikamarnya” Jelas Venesia sambil menyentuh hidung Shane,

“…baiklah” Jawabnya malu,

Mereka akhirnya pergi dari rumah,

Dari sisi sudut luar rumah yang terhalang oleh tanaman,

“Kemana mereka akan pergi…” Ucap Arta didalam hati lalu mengikuti mereka,

~

Setelah itu mereka tiba di sebuah lembah yang berada tepat dibawah tebing tempat ruang latihan milik Namira dan Varadis.

“Kenapa kita tidak menggunakan ruang latihan itu saja?” Tanya Venesia,

“Apakah kamu lupa kejadian terakhir saat kita latihan disana?” Tanya balik Dyres,

“Aaa…iya…” Jawab Venesia dengan wajah tidak enak,

Shane bingung melihat Venesia. Richey sadar dengan perasaan Shane dan mengatakan,

“Kita menghancurkan ruangan itu saat latihan disana…” Ucap Richey kepada Shane,

“Oh...Aku mengerti…” Jawab Shane membayangkannya,

Selang beberapa saat, mereka berhenti di tepian sungai berbatu dengan air terjun yang sangat indah berada diujung jalan. Shane takjub dengan pemandangan yang dia lihat.

“Indah sekali…” Ucapnya,

“Apakah kalian berniat menghancurkan tempat ini?” Tanya Venesia tiba-tiba kesal,

“Tenang-tenang…hehehe…” Ucap Richey panik,

“Kita masih punya tempat lain jika ingin berlatih” Lanjutnya,

“Baiklah…” Saut Venesia,

“Huuhh…” Richey membuang nafas,

“Kita hanya menggunakan tempat ini sebagai tempat meditasi…” Jelas Richey sambil mengingat sesuatu,

“Kurang lebih seperti itu…hehe…” Lanjutnya,

“Emm…Aku mengerti. Dia juga mengatakan hal itu…” Ucap Shane,

“Maksudmu suara yang kita dengar itu?” Tanya Dyres,

“Hmm..” Jawab Shane mengangguk,

“Sepertinya kita semua memiliki pesan yang sama…” Lanjut Dyres,

~

Saat tiba di air terjun…

“Yuhuuu!” Ucap Richey melepas bajunya,

Venesia dan Shane terkejut dan menutup mata mereka karena Richey tiba-tiba melepas bajunya,

‘Cbuurr!”

Richey melompat ke air yang sangat jernih dan dingin. Setelah itu dia muncul kepermukaan air dengan wajah pucat kedinginan lalu mengatakan,

“Airnya sangat tidak bersahabat…brrrr….”

“Richey…” Ucap Shane,

“Dasar bodoh!” Saut Venesia,

“Ahahaha…Akhirnya Shane mengerti seperti apa Richey” Ucap Dyres,

“Baiklah…Kalian berdua tidak harus melepaskan baju kalian” Lanjutnya sambil melepaskan baju,

Perlahan Dyres masuk ke dalam air dan berjalan ke arah air terjun dengan Richey dibelakangnya.

“Aku tidak membawa pakaian ganti…” Ucap Shane,

“Emm…sebentar…” Saut Venesia,

“Cove Amethril”

Venesia melafalkan niewral dan sebuah ruang dimensi terbuka disebelah kanan dirinya,

“Waahh…” Shane kagum dengan kekuatan Venesia,

Venesia masuk kedalam ruang dimensi itu dan keluar dengan membawa beberapa pakaian.

“Kamu suka yang mana?” Tanya Venesia tersenyum,

Dari kejauhan Arta bersembunyi untuk mengawasi mereka.

“Mustahil…” Ucap Arta didalam hatinya,

“Eee….Mengapa aku merasa tidak terlalu terkejut ya?” Lanjutnya sambil duduk ditanah dan berpikir,

“Apakah pikiran ku mulai bosan untuk terkejut melihat keluarga ini…?” Ucapnya sambil berpikir keras,

“Haaa!” Dia menjadi stress kemudian berteriak didalam hatinya sambil meronta-ronta ditanah.

~Bersambung

Mohon tanggapannya. :)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!