Di dalam sebuah kamar di istana Nobuhide, seorang pemuda terlihat sedang berkutat di depan selembar kertas dan menarikan jemarinya yang sudah menjepit sebuah bulu angsa yang sudah dicelupkannya pada tinta hitam dengan begitu lincah.
Pemuda yang tak lain adalah Zhou itu sedang menulis sebuah surat untuk sang istri yang sudah cukup lama tak dikunjunginya. Dan selama ini mereka hanyalah berkomunikasi dengan menggunakan surat saja.
Istriku, aku sangat merindukanmu. Aku akan mengawal pangeran Toshie untuk melakukan lamaran dan pernikahan ke istana Maeda. Setelah kembali ke Nobuhide, aku akan mendapatkan libur beberapa waktu. Dan aku akan mengunjungimu. Baik-baik disana ya, Istriku. Suamimu, Zhou.
Zhou mulai menggulung surat yang baru dia tulis itu dan mengikatnya. Lalu Zhou mulai menyerahkan surat itu kepada seseorang anggota istana yang bertugas sebagai pengirimkan surat.
"Tolong berikan surat ini untuk istriku yang tinggal di desa Nobuhide." titah Zhou dengan nada bicara rendah dan masih menghormati pesuruh itu.
Padahal saat ini Zhou sudah dikategorikan berhasil, karena saat ini sudah menjadi seorang panglima perang dari kekaisaran Nobuhide. Namun dia masih saja selalu rendah hati dan tak pernah meninggi.
Namun Zhou yang berhati mulia dan lembut ini, seketika juga bisa menjadi seperti seorang malaikat pencabut nyawa jika menghadapi seseorang yang sudah berani mengganggu istri maupun siapapun yang berani menghina guru besarnya.
"Baik, Tuan." sahut sang pengantar surat itu lalu segera menjalankan tugasnya.
...⚜⚜⚜...
Suatu ketika, Zhou mendapatkan sebuah perintah dan tugas dari sang kaisar Yoshinao Nobuhide, untuk mengawal putra mahkota Toshie Nobuhide untuk melakukan lamarannya ke kaisaran Maeda.
Mereka melakukan perjalanan yang cukup panjang, bahkan berhari-hari mereka lewati untuk mencapai kekaisaran Maeda.
Mereka juga beberapa kali berhenti di suatu tempat untuk melakukan istirahat dan memulihkan staminanya kembali.
Saat mereka mulai memutuskan untuk beristirahat di suatu tempat, yang berada di dekat sebuah hutan yang terkenal cukup berbahaya dan tak terjamah oleh penduduk sekitar, disaat itulah beberapa hal mulai terjadi.
Sebelum fajar, disaat semua orang masih tertidur dengan lelapnya, Zhou yang sudah bangun lebih dulu mulai memutuskan untuk mencari sesuatu di sekitarnya untuk dia minum.
Karena menurut pengamatan dan pendengarannya, seharusnya ada sebuah sungai besar yang berada tak jauh dari tempat mereka beristirahat saat ini.
Dan benar saja, setelah mencarinya beberapa saat, akhirnya Zhou mulai menemukan sungai besar itu. Zhou mulai memastikan sesuatu dan mengamati sungai itu jika air itu aman untuk dia minum.
Hingga akhirnya Zhou menemukan jika di dalam sungai dengan air yang sangat jernih itu ada kehidupan yang begitu sehat. Ada cukup banyak ikan-ikan kecil yang berenang di dalam sungai itu, seakan menari-nari menikmati kehidupan bebasnya.
"Kehidupan kalian terlihat begitu menyenangkan. Namun sebenarnya akan selalu ada bahaya dimanapun kita berada ..." gumam Zhou lirih.
Tak lama kemudian, beberapa ikan dengan ukuran yang lebih besar mulai datang dan memakan ikan-ikan kecil itu. Zhou menghela nafas panjang melihat semua itu.
"Huft ... begitulah kehidupan. Yang kuat akan selalu bediri di puncak tertinggi! Sementara yang lemah, akan selalu berada di bawah dan diinjak-injak." gumamnya pelan dengan wajah yang sedikit murung.
Kini Zhou mulai menangkupkan kedua jemarinya untuk mengambil air sungai itu lalu meminum air sungai itu untuk menghilangkan dahaganya. Zhou juga menyimpan air sungai itu pada sebuah wadah kecil miliknya untuk dia bawa.
"Udara di sekitar tempat ini dingin sekali. Kabut di tempat ini juga tebal sekali." gumam Zhou mulai berdiri kembali dan mulai menatap alam di sekitarnya.
Namun tiba-tiba saja Zhou mulai melihat sebuah tebing tinggi yang beraura begitu gelap dan mencekam. Di bawah tebing tinggi itu ada sebuah hutan dan diselimuti dengan kabut tebal, hingga pohon-pohon di dalam hutan itu malah terlihat begitu gelap.
Zhou mengkerutkan keningnya saat menatap lembah, tebing dan hutan yang beraura sedikit berbeda itu. Seolah hal ini seperti sebuah dejavu untuknya karena Zhou berfikir jika pernah melihat semua tempat itu.
"Lembah ini ... tebing ini ... dan ... hutan ini ... mengapa sangat tidak asing untukku? Rasanya aku seperti sangat mengenali semua tempat ini. Rasanya ... aku pernah melihat semua tempat ini. Tapi kapan? Aku bahkan tidak pernah pergi sebelumnyanke tempat ini." gumam Zhou berusaha untuk mengingat sesuatu.
Hingga pada akhirnya, setelah beberapa saat Zhou mulai mengingat sesuatu. Kini beberapa potong kenangannya di masa lalu mulai terlihat kembali olehnya meskipun masih samar-samar.
Disaat dirinya diracuni oleh saudara tirinya sendiri, lalu tubuhnya dilukai dengan sebuah tombak oleh anak buahnya sendiri yang rupanya membantu sang adik tirinya untuk mencelakai dirinya. Hingga akhirnya mereka mendorong dirinya hingga terjatuh ke dalam tebing lembah kematian itu.
"Aarrgghhhh ..." Zhou terduduk dan mulai memegangi kepalanya karena merasa kepalanya kini menjadi sangat pusing luar bisasa.
Dunia seakan menjadi berputar-putar, dan semua ingatan itu kembali diingatnya samar-samar. Hingga membuat kepalanya menjadi begitu lebih dan lebih sakit.
"AARRRRGGHHH ... kepalaku sakit sekali!!" erangnya masih menahan sakit.
"Panglima Zhou, apa kamu baik-baik saja?" seorang prajurit tiba-tiba datang menghampiri Zhou dan ikut duduk bersimpuh.
"Kepalaku ... kepalaku sakit sekali ... argghhh ..." Zhou masih saja mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Panggil tabib!! Panglima Zhou sedang kesakitan!!" titah prajurit itu memberikan titahnya untuk prajurit lainnya.
Seorang prajurit mulai berniat untuk memanggilkan seorang tabib yang sedang ikut bersama dengan mereka. Sementara beberapa prajurit mulai membantu Zhou untuk berjalan dan mencari tempat untuk beristirahat di salah satu tenda mereka.
"Tidak perlu!!" ucap Zhou dengan cepat dan mulai menepis pelan tangan para prajurit itu yang berniat untul membantunya berjalan. "Aku baik-baik saja! Tidak perlu memanggilakan tabib untukku!" imbuh Zhou dengan tegas.
"Kalian lanjutkan saja untuk menyiapkan makan dan segala keperluan untuk pangeran!" imbuh Zhou lagi mulai melenggang meninggalkan mereka.
"Baik, Panglima Zhou!" jawab para prajurit itu serempak.
Zhou melenggang semakin mendekati ke arah tebing lembah kematian itu. Pandangannya menatap nanar menatap tempat yang hampir menjadi maut serta kuburan untuknya itu.
Rahang tegasnya mulai mengeras dan kedua tangannya mulai mengepal kuat. Bayangan kenangan ... detik-detik saat naas itu kembali teringat oleh Zhou saat ini, membuat dadanya menjadi sakit dan sesak.
"Zeus ... mengapa kamu melakukan semua itu? Mengapa kamu begitu tega melakukan semua itu padaku? Padahal aku selalu menyayangimu dengan sepenuh hatiku? Kamu sudah seperti adik kandungku yang selama ini selalu aku lindungi. Tapi ... tapi aku tidak memahaminya ..." ucap Zhou lirih dan begitu kecewa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Labib Zack Lee Jr
fast like fast komen yang pasti like seng penting komen
2023-04-10
1
꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂
akhirnya zhou bisa mengingat semua msa lalunya dan zhou sudah tau dalang dari semuanya apa yg akan di lakukan zhou ini
2023-03-02
1
Cherryl⚘⍣⃝కꫝ 🎸
akhirnya zhou ingatannya kembali.
tapi sampai sekarang kok zhou belum bertemu zeus ya🤔
visual zho keren tor😍😍😍
2023-02-25
3