Dua hari kemudian.
Rania masih menjalankan rutinitasnya seperti biasa, ia tetap berjualan dan justru semakin rajin. Ucapan kakaknya tempo hari bagaikan cambuk untuknya supaya semakin semangat mengumpulkan uang. Proses perceraian ini pasti akan berlangsung alot, ia perlu banyak uang agar hak asuh anak-anaknya berhasil ia menangkan.
Alif masih pulang ke kontrakan selama 2 hari terakhir ini, walaupun jelas-jelas Rania sudah mendepaknya. Wanita itu tidak menggubrisnya dan berusaha bersikap tenang agar bisa memanfaatkan waktu untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Sudah berkali-kali Alif mencoba meminta maaf, namun dirinya memilih menghindar.
Pernikahan bukan tentang dua orang manusia, melainkan 2 buah keluarga yang harus di satukan. Jika Ibu mertuanya membencinya, sekuat apapun ia berusaha menjaga mahligai cinta ini tetap utuh akan kalah juga dengan hubungan darah. Seburuk-buruknya ibunya Rania yakin Alif tidak akan lebih memilih dirinya daripada ibunya sendiri. Walaupun saat ini memang terlihat pria itu pro terhadap dirinya, namun sangat besar kemungkinan suatu saat akan terpengaruh kembali. Rania tidak mau lagi bertaruh untuk kebahagiaannya serta keluarga kecilnya, biarlah dia memilih mundur daripada selalu tersakiti.
Tok... tok... tok...
Terdengar pintu di ketuk, Rania yang sedang mengecek barang dagangannya bergegas membukakan pintu.
Plakkk...
Sebuah tamparan melesat di pipinya, Rania yang sangat terkejut masih diam karena bingung apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata ibu mertuanya yang datang dan menamparnya.
"Bu, kita kesini untuk membicarakan masalah pernikahan anak kita, kenapa kamu malah menampar Rania?"
Ternyata ibu mertuanya tidak sendiri, kali ini ayah mertuanya juga ikut. Pria itu mencoba mengingatkan istrinya akan tujuan mereka datang kesana.
"Menantu seperti dia tidak perlu di pertahankan, Pak. Dia sudah membuat Alif berani membentak ku," dengusnya.
"Sebenarnya salah aku apa, Bu? Kenapa ibu selalu menyalahkan ku atas apapun? Aku juga punya perasaan dan sudah tidak mengharapkan pernikahan ini, sekarang ibu puas kan?"
Ibu mertuanya mendorongnya cukup keras hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Rania yang tanpa persiapan pun jatuh.
"Ibu jangan kasar begitu, Rania itu menantu kita," ucap ayah mertuanya.
"Aku sungguh tidak suka dengan perempuan ini, dia telah mengambil Alif putra ku. Aku benci dia,"
Ternyata belum puas mendorong dan menampar Rania, perempuan ini bahkan sekarang menjambak rambut menantunya.
"Akh...sakit Bu, lepaskan,"
Rania mencoba melepaskan rambutnya dari pegangan ibu mertuanya, namun tidak bisa. Ayah mertuanya bahkan membantunya namun di dorong ibu mertuanya hingga menatap dinding rumah.
"Rasakan ini, menantu sialan. Aku memang tidak pernah menyukai mu, kamu itu sudah miskin beraninya ingin merebut anak ku,"
Ia menjambak dengan membabi buta, membuat Rania sangat kesakitan. Ia bisa saja menendang ibu mertuanya namun ada rasa tidak tega di hatinya sebagai seorang menantu.
"Apa yang ibu lakukan, lepaskan istri ku!"
Ternyata Alif sudah berada di depan pintu dan menyaksikan kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Ia sungguh tidak menyangka ibunya akan bertindak sekejam ini kepada Rania, selama ini ia tidak pernah menyerangnya secara fisik. Yang ia tahu hanya sebatas kata-kata dan selama ini ia menganggapnya masih wajar.
Perempuan itu tersentak dengan kedatangan putranya, ia segera melepaskan cengkramannya. Alif menatap nanar kepada ibunya, matanya memerah memendam amarah. Sedangkan Rania masih meringis sembari membenarkan rambutnya yang acak-acakan.
"Aku sudah mendengar semuanya, kenapa Ibu menikahkan kami jika tidak menyukai pilihan ku? Rania tidak pernah merebut aku dari Ibu, justru aku selalu membela ibu walaupun aku tahu yang ibu lakukan tidak benar. Walaupun dia miskin tapi tidak pernah meminta harta Ibu, bahkan dia selalu membantu ku mencari uang tanpa mengeluh,"
Kali ini Alif berkata sambil menangis, ini sebenarnya yang Rania harapkan dari dulu dari suaminya. Ia tidak masalah jika harus berjuang bersama dalam mencukupi kebutuhan keluarga, ia hanya ingin di hargai dan di mengerti. Ia ingin suaminya bersikap sebagai suami yang selalu melindunginya dari apapun termasuk dari kekejaman ibunya.
"Maafkan aku Nak, aku sudah menasehati ibu mu. Tapi dia tidak mau mendengar dan justru mendorong ku,"
Ayahnya merasa ikut bersalah telah menyetujui ide istrinya untuk datang ke rumah menantunya. Itu dia lakukan karena istrinya berkata akan mencari jalan keluar agar pernikahan anaknya tidak kandas begitu saja, namun ternyata istrinya malah memperkeruh suasana.
"Kamu tidak boleh berkata kasar pada ku, aku ini orang yang telah melahirkan mu. Aku yang merawat mu dari kecil, kasih sayang mu tidak boleh lebih besar untuknya yang baru beberapa tahun kamu kenal," ucap ibunya.
"Sikap ibu sudah sangat keterlaluan, itu yang membuat ku kecewa, tidak ada hubungannya dengan Rania. Dia itu istri ku, dia bahkan sudah 2x bertarung nyawa untuk melahirkan keturunan ku. Selama ini aku menyesal tidak peduli dengan perasaannya dan lebih memilih membela Ibu. Aku sungguh kecewa, Bu,"
"Nak, bicarakanlah masalah kalian baik-baik. Jangan pedulikan kata-kata ibu mu, aku akan membawanya pulang,"
Ayahnya memaksa ibunya pulang, namun wanita itu menolak bahkan berteriak-teriak seperti kesetanan. Hal ini membuat Alif semakin murka dan dengan lantang mengusir wanita itu.
"Ibu cepat pergi dari sini, aku tidak mau bertemu Ibu saat ini!" teriak Alif.
Jujur dari hati yang paling dalam Rania senang Alif bisa bersikap tegas, namun sayang hatinya terlanjur mantap untuk berpisah. Ia sebenarnya tidak ingin suaminya berbuat kasar terhadap ibunya, namun ibunya memang sangat keterlaluan. Teriakannya bahkan mengundang tetangga berdatangan, untung Alif bisa meyakinkan mereka untuk segera bubar.
"Rania maafkan aku, maafkan ibu ku juga ya. Aku sadar, kesalahan ku terlalu banyak kepada mu. Aku takut kehilangan diri mu, aku masih ingin kita bersama. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya, demi anak-anak kita..."
Alif meraung-raung mengiba di kaki Rania, sedang wanita itu juga tak kuasa menahan air matanya. Mengapa suaminya baru berani bersikap setelah sekian lama, bahkan tamparannya tempo hari masih menyisakan rasa sakit yang tiara tara di hatinya.
Rania benar-benar dilema, ia bingung harus memutuskan apa. Mengingat kedua buah hatinya tanpa kehadiran sosok ayah dalam hidup mereka membuatnya meragu. Ia tidak boleh mengambil keputusan di saat emosi supaya tidak ada sesal di kemudian hari. Sekalipun sudah tidak ada cinta di hatinya untuk Alif, namun perkembangan anaknya menjadi pertimbangannya saat ini.
"Nia, tolong ingat saat-saat indah kita dulu. Banyak kenangan manis yang kita rajut bersama, aku ingat betapa aku sangat mencintai mu kala itu. Mendapatkan diri mu perlu perjuangan keras, aku tidak rela jika harus kandas begitu saja. Aku masih sangat mencintai mu, cinta yang sama saat awal kita bertemu dulu,"
Alif menggenggam tangan istrinya dengan lembut, mata gadis itu menerawang ke masa silam. Masa-masa di mana hanya ada cinta yang sangat manis dari Alif. Masa yang tidak terlupakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Dewa Rana
bapaknya alif anggota isti ya
2024-09-16
0
SBY army
banyak yg harus dipertimbangkan krana itu kesalah pahaman dan kebohongan
2023-03-04
0
Alifia Najla Azhara
jgan lemah Rania, jgn ragu
2023-02-22
0