Bab 11 Tamu Tak di Undang

Sebulan kemudian.

Usaha Rania semakin sukses, modal awal 1,5 juta sekarang sudah menjadi 5 juta. 3 juta ia putar lagi untuk membeli barang dagangan, sedang 2 juta sengaja ia simpan untuk membuat bayar kontrakan apabila suaminya tidak mampu memenuhi janjinya.

Selama sebulan ini kelakuan Alif memang ada perubahan, ia selalu memberikan uang gajinya kepada istrinya. Pun begitu hasilnya memang tidak banyak, seminggu mungkin sekitar 300 ribu saja yang bisa pria itu berikan. Namun Rania sudah sangat bersyukur, setidaknya suaminya belajar bertanggung jawab terhadap keluarga mereka. Apalagi Alif juga sudah tidak meminta uang lagi padanya, sepertinya pria itu serius mempertahankan pernikahannya.

Berbeda dengan ibu mertuanya yang tetap nyinyir dengan hidupnya, punya uang salah tidak punya juga salah bagi mertuanya. Setiap ia memposting barang dagangannya selalu saja di komentari negatif, namun ia malas menanggapinya dan memilih tidak menanggapi.

"Sayang mumpung hari ini libur sekolah dan mengaji, ibu ingin mengajak kalian berenang," ucap Rania.

"Yang benar bu, kita mau berenang di mana?" tanya Alisa.

"Di dekat sini saja ya, Sayang. Setelah berenang kita makan kentucky di tempat yang ada taman bermainnya itu,"

"Hore, kita jalan-jalan. Semoga rezeki Ibu selalu banyak agar kita bisa sering jalan-jalan,"

"Amin,"

Rania segera mempersiapkan yang harus dia bawa, rencana ini dadakan jadi ia belum memberitahu suaminya. Nanti saja saat di sana akan dia kirimkan videonya.

Pukul 08.00 mereka berangkat menuju kolam renang yang tidak jauh dari kontrakan mereka. Suasana di sana cukup ramai karena hari ini adalah hari libur, banyak keluarga yang juga menghabiskan waktu liburan dengan berenang. Alisa dan Bintang sangat senang sekali, Rania mengawasi anak-anaknya bermain sembari mendokumentasikannya.

"Sayang, tolong jaga adik ya," pesan Rania.

"Iya Bu, boleh kita kesana?" tanyanya.

"Boleh, tapi jangan terlalu jauh ya. Ibu akan tetap mengawasi dari sini,"

Alisa segera membawa adiknya bermain seluncur air, mereka sangat bahagia sekali. Tawa renyah mereka terdengar begitu mendamaikan jiwa. Setelah 3 jam berenang Rania menyuruh mereka untuk naik, awalnya mereka menolak karena ini merupakan momen langka bagi mereka. Selama ini mereka hanya melakukan rutinitas yang menjemukan.

"Ayo Sayang cepat naik, ibu janji suatu saat akan mengajak kalian kesini lagi. Kalian pasti lapar kan, kita akan makan ayam kentucky sambil main mandi bola," bujuk Rania.

"Wah iya, ayo Dik kita cepat ganti baju," ajak Alisa.

Rania segera membilas mereka dan menggantikan pakaian, setelah selesai mereka segera menuju ke tempat makan. Hanya butuh beberapa menit untuk sampai di sana. Sambil menunggu pesanan mereka di antar, kedua buah hatinya asyik bermain beraneka ragam permainan yang merupakan fasilitas tempat tersebut.

Rania segera mendokumentasikan kebahagian mereka dan segera mengirimkannya kepada suaminya. Ternyata Alif ikut senang, bahkan ia berjanji jika nanti ada uang lebih akan mengajak mereka liburan lagi kesana lagi. Karena Alif sedang istirahat, dia memutuskan untuk video call istrinya.

"Halo Ayah, kita sedang makan ayam sambil bermain. Tadi kita berenang, senang sekali rasanya," ucap Alisa sembari melambaikan tangan kepada ayahnya.

"Halo Sayang, ayah juga ikut senang. Nanti kapan-kapan kita pergi jalan-jalan bersama ya. Ayah sayang kalian,"

Alif tidak bisa berlama-lama menghubungi mereka karena harus segera bekerja kembali. Namun ia sangat senang melihat senyum bahagia mereka. Setelah makanan mereka habis, Rania mengajak mereka pulang. Tidak lupa ia posting kebahagian mereka di story wa nya.

☆☆☆

Sore hari selepas ashar mereka semua bangun dari tidur, rasa lelah karena seharian di luar membuat mereka tidur begitu nyenyak. Mereka segera membersihkan tubuh dan bersantai.

Tok... tok... tok...

"Nia, Nia, buka pintunya,"

Rania terkejut sampai ponselnya terjatuh di atas kasur, seseorang menggedor pintu rumahnya bertubi-tubi hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Ia tidak habis pikir siapa yang tidak sopan bertamu ke rumah orang dengan cara bar-bar seperti itu.

"Iya, sebentar,"

Dia segera bergegas membukakan pintu, betapa terkejutnya dia melihat wanita yang menyeramkan melebihi nenek sihir di dunia dongeng. Ya, ibu mertuanya yang ternyata sejak tadi menggedor pintu rumahnya.

"Ibu, ayo masuk Bu," Rania mempersilahkan dengan sopan.

"Kamu itu lelet sekali sih, dari tadi ngapain saja?"

"Tadi aku langsung membukakan pintu kok, Bu,"

"Halah kamu itu memang pandai berbicara, apa kamu tidak suka aku kesini ya? Apa kamu takut aku meminta barang-barang mu? Itu semua dari hasil jerih payah putra ku, harusnya kamu itu tahu diri,"

Panjang lebar ibu mertuanya mengomel membuatnya begitu jengah, kalau tidak ingat wanita itu adalah orang yang melahirkan suaminya mungkin sudah dari tadi di usirnya. Wanita ini memang tidak pernah menyenangkan hati jika berbicara, selalu saja membuat lawan bicaranya sakit hati.

"Maksud Ibu itu apa? Dari tadi aku berbicara sopan, kenapa ibu tidak pernah berkata lembut pada ku. Jika Ibu memang tidak suka kepada ku, berbicaralah kepada Mas Alif untuk mentalak ku. Aku lelah selalu di sudutkan, aku juga punya perasaan,"

Rania tidak mampu lagi membendung air matanya, tatapan penuh kebencian dari ibu mertuanya begitu menyakitkan baginya.

"Tidak perlu drama, tidak ada penonton di sini. Kamu bisa liburan dengan anak-anak mu, bisa berjualan berbagai macam barang tapi bisa-bisanya mengatakan putra ku tidak memberi nafkah yang layak. Kamu itu menantu yang tidak bisa di andalkan, aku akan mengambil sedikit milik anak ku,"

Dia langsung bergegas menuju ke tempat penyimpanan barang dagangan Rania, dia mengambil minyak, beras, gula, sabun dan berbagai macam kebutuhan rumah tangga yang lain.

"Ibu, ibu mau apa? Itu barang ku, jangan ambil Bu. Itu barang-barang aku beli dengan uang ku, bukan uang Mas Alif, lepaskan Bu,"

"Sudah, diam saja kamu. Aku juga punya hak dengan hasil putra ku, kamu pikir aku percaya wanita pengangguran seperti kamu punya uang untuk membeli ini semua,"

Rania masih berusaha mengambil karung yang ibu mertuanya bawa, sepertinya ia memang sudah merencanakan ini semua. Buktinya ia telah sedia karung untung membawa barang jarahannya.

"Berhenti Bu!" perintah Rania.

"Heh, berani kamu membentak ku ya. Akan aku laporkan kepada Alif tingkah laku mu ini. Jangan kira putra ku akan membela mu ya,"

"Silahkan ibu katakan saja semuanya, aku tidak takut. Letakkan semua barang-barang ku dan silahkan Ibu pergi dari rumah ku!"

Rania berkata dengan lantang, kesabarannya sudah benar-benar habis. Sepertinya ibu mertuanya memang tidak bisa di ajak berbicara baik-baik.

"Kamu menantang ku, baik akan aku adukan semuanya,"

Rania mengambil paksa karung itu dan mengeluarkan semua isinya.

"Cepat pergi dari sini," usir Rania.

Terpopuler

Comments

Dewa Rana

Dewa Rana

kok ada mertua begini

2024-09-16

0

Sonya Noya Sonya

Sonya Noya Sonya

bagus Rania lawan saja itu nak lampir

2023-07-20

1

Saiful Bahri

Saiful Bahri

part berikutnya...,mana?

2023-04-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bertengkar Lagi
2 Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3 Bab 3 Sabar
4 Bab 4 Mertua Cerewet
5 Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6 Bab 6 Status Whatsapp
7 Bab 7 Ceraikan Aku
8 Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9 Bab 9 Rasa Yang Memudar
10 Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11 Bab 11 Tamu Tak di Undang
12 Bab 12 Tamparan
13 Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14 Bab 14 Minta Maaf
15 Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16 Bab 16 Cemburu
17 Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18 Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19 Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20 Bab 20 Perubahan Sikap
21 Bab 21 Membayar Kontrakan
22 Bab 22 Bertemu Mantan
23 Bab 23 Permintaan Maaf
24 Bab 24 Bertemu Lagi
25 Bab 25 Belajar Ikhlas
26 Bab 26 Ketahuan
27 Bab 27 Terusir
28 Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29 Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30 Bab 30 Lapor Polisi
31 Bab 31 Mencabut Laporan
32 Bab 32 Surat Panggilan
33 Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34 Bab 34 Sidang Pertama
35 Bab 35 Alisa Menghilang
36 Bab 36 Peringatan Keras
37 Bab 37 Kebun Binatang
38 Bab 38 Resmi Bercerai
39 Bab 39 Alif Sakit
40 Bab 40 Liburan
41 Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42 Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43 Bab 43 Menyatakan Perasaan
44 Bab 44 Alif dan Desi
45 Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46 Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47 Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48 Bab 48 Desi si Penggoda
49 Bab 49 Lewat Masa Iddah
50 Bab 50 Pencurian
51 Bab 51 Undangan Pernikahan
52 Bab 52 Alif Menikah
53 Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54 Bab 54 Terjebak
55 Bab 55 Di Sekap
56 Bab 56 Berhasil Kabur
57 Bab 57 Di Rumah Rangga
58 Bab 58 Kedatangan Alif
59 Bab 59 Bertemu Teman Lama
60 Bab 60 Restu Orang Tua
61 Bab 61 Sifat Asli Desi
62 Bab 62 Alif Minggat
63 Bab 63 Makan Malam Keluarga
64 Bab 64 Membeli Seserahan
65 Bab 65 Lamaran
66 Bab 66 Pisah Ranjang
67 Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68 Bab 68 Persiapan Pernikahan
69 Bab 69 Akhirnya Menikah
70 Bab 70 Malam Pertama
71 Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72 Bab 72 Bulan Madu
73 Bab 73 Alisa di Bully
74 Bab 74 Sosok Laila
75 Bab 75 Cemburu
76 Bab 76 Hamil
77 Bab 77 Rahasia Alisa
78 Bab 78 Ngidam
79 Bab 79 Keadilan
80 Bab 80 Kunjungan Alif
81 Bab 81 Jadi Korban Preman
82 Bab 82 Acara Empat Bulanan
83 Bab 83 Ayah Untuk Akila
84 Bab 84 Jalan-Jalan
85 Bab 85 Dona Salah Paham
86 Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87 Bab 87 Menyakiti Rania
88 Bab 88 Masuk RSJ
89 Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90 Bab 90 Alif Dan Laila
91 Bab 91 Melahirkan
92 Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93 Bab 93 Derita Laila
94 Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95 Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96 Bab 96 Ambisi Michelle
97 Bab 97 Paket Misterius
98 Bab 98 Isinya Mengerikan
99 Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100 Bab 100 Baby Naya di Culik
101 Pengumuman
102 Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103 Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104 Bab 103 Meninggalkan Rumah
105 Bab 104 Minta Maaf
106 Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107 Bab 106 Bertemu Rania
108 Bab 107 Mengunjungi Laila
109 Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110 pengumuman update
111 Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112 Bab 110 Permintaan Michelle
113 Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114 Bab 112 Bunuh Diri
115 Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116 Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117 Bab 114 Akhir Yang Indah
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1 Bertengkar Lagi
2
Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3
Bab 3 Sabar
4
Bab 4 Mertua Cerewet
5
Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6
Bab 6 Status Whatsapp
7
Bab 7 Ceraikan Aku
8
Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9
Bab 9 Rasa Yang Memudar
10
Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11
Bab 11 Tamu Tak di Undang
12
Bab 12 Tamparan
13
Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14
Bab 14 Minta Maaf
15
Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16
Bab 16 Cemburu
17
Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18
Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19
Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20
Bab 20 Perubahan Sikap
21
Bab 21 Membayar Kontrakan
22
Bab 22 Bertemu Mantan
23
Bab 23 Permintaan Maaf
24
Bab 24 Bertemu Lagi
25
Bab 25 Belajar Ikhlas
26
Bab 26 Ketahuan
27
Bab 27 Terusir
28
Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29
Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30
Bab 30 Lapor Polisi
31
Bab 31 Mencabut Laporan
32
Bab 32 Surat Panggilan
33
Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34
Bab 34 Sidang Pertama
35
Bab 35 Alisa Menghilang
36
Bab 36 Peringatan Keras
37
Bab 37 Kebun Binatang
38
Bab 38 Resmi Bercerai
39
Bab 39 Alif Sakit
40
Bab 40 Liburan
41
Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42
Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43
Bab 43 Menyatakan Perasaan
44
Bab 44 Alif dan Desi
45
Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46
Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47
Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48
Bab 48 Desi si Penggoda
49
Bab 49 Lewat Masa Iddah
50
Bab 50 Pencurian
51
Bab 51 Undangan Pernikahan
52
Bab 52 Alif Menikah
53
Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54
Bab 54 Terjebak
55
Bab 55 Di Sekap
56
Bab 56 Berhasil Kabur
57
Bab 57 Di Rumah Rangga
58
Bab 58 Kedatangan Alif
59
Bab 59 Bertemu Teman Lama
60
Bab 60 Restu Orang Tua
61
Bab 61 Sifat Asli Desi
62
Bab 62 Alif Minggat
63
Bab 63 Makan Malam Keluarga
64
Bab 64 Membeli Seserahan
65
Bab 65 Lamaran
66
Bab 66 Pisah Ranjang
67
Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68
Bab 68 Persiapan Pernikahan
69
Bab 69 Akhirnya Menikah
70
Bab 70 Malam Pertama
71
Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72
Bab 72 Bulan Madu
73
Bab 73 Alisa di Bully
74
Bab 74 Sosok Laila
75
Bab 75 Cemburu
76
Bab 76 Hamil
77
Bab 77 Rahasia Alisa
78
Bab 78 Ngidam
79
Bab 79 Keadilan
80
Bab 80 Kunjungan Alif
81
Bab 81 Jadi Korban Preman
82
Bab 82 Acara Empat Bulanan
83
Bab 83 Ayah Untuk Akila
84
Bab 84 Jalan-Jalan
85
Bab 85 Dona Salah Paham
86
Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87
Bab 87 Menyakiti Rania
88
Bab 88 Masuk RSJ
89
Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90
Bab 90 Alif Dan Laila
91
Bab 91 Melahirkan
92
Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93
Bab 93 Derita Laila
94
Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95
Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96
Bab 96 Ambisi Michelle
97
Bab 97 Paket Misterius
98
Bab 98 Isinya Mengerikan
99
Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100
Bab 100 Baby Naya di Culik
101
Pengumuman
102
Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103
Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104
Bab 103 Meninggalkan Rumah
105
Bab 104 Minta Maaf
106
Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107
Bab 106 Bertemu Rania
108
Bab 107 Mengunjungi Laila
109
Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110
pengumuman update
111
Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112
Bab 110 Permintaan Michelle
113
Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114
Bab 112 Bunuh Diri
115
Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116
Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117
Bab 114 Akhir Yang Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!