Bab 3 Sabar

Sore hari, pukul 15.30.

"Mas, kamu berangkat jam berapa? ini sudah jam setengah empat?" tanya Rania membangunkan Alif yang masih tertidur.

Tanpa menjawab Alif segera bangkit dan menuju kamar mandi, setelah shalat ashar dia berganti seragam kerjanya. Dia masih sempat merokok di teras.

"Dek, uangnya aku pinjam 50 ribu untuk pegangan dan beli bensin ya,"

Alif mengambil uang dagangan milik Rania tanpa menunggu jawaban dari istrinya itu.

"Mas, tapi itu untuk modal dagang besok dan membayar uang buku Alisa," ucap Rania.

"Ya, itu kan masih ada. Aku cuma pinjam 50 ribu ini," balas Alif.

"Mana cukup Mas, kamu selalu saja begitu. Bilangnya pinjam tapi tidak pernah di kembalikan, kamu tidak peduli dengan pengeluaran rumah ini. Aku lelah jika terus seperti ini, kamu tidak pernah berubah," ucap Rania mulai terisak.

"Ya, nanti aku kembalikan," balas Alif singkat.

Alif bergegas berangkat kerja tanpa memperdulikan perasaan Rania. Terlalu sering baginya menerima perlakuan suaminya yang semaunya begini, namun tetap saja hatinya terasa sakit. Ia telah menikah dan bersuami, namun kenyataannya ia lebih sering berjuang sendiri untuk mempertahankan hidup keluarganya.

Di usapnya air mata yang menggenangi mata lentiknya. Rania menatap kedua buah hatinya yang masih terlelap, air matanya kembali mengalir. Jika bukan karena mereka mungkin telah lama ia meninggalkan suaminya itu.

"Alisa, bangun Nak sudah waktunya mengaji,"

Rania membangunkan putrinya dengan lembut, setelah menyeka air matanya. Ia tidak ingin putrinya tahu jika ia sedang bersedih.

"Bu, ini sudah waktunya bayar spp," ucap Alisa sembari menyodorkan kartu spp mengajinya.

"Iya Nak, ini ibu bayar. Langsung di berikan supaya tidak hilang ya,"

Rania mengambil uang 25 ribu dan memasukkannya ke kartu spp anaknya. Ia menghela napas panjang, kini uang untuk modal dagang besok semakin berkurang. Padahal bahan gorengan semua sudah habis tak bersisa, ia harus memutar otak lagi agar besok masih bisa menjual gorengan.

"Bu, Alisa berangkat dulu. Assalamualaikum," pamit Alisa.

"Tunggu Nak, ini sangu mu,"

Rania memberikan uang 3 ribu rupiah untuk jajan putrinya karena mengajinya hanya satu jam, sedang 5 ribu rupiah untuk sangu putrinya sekolah. Belum lagi ia harus memikirkan tentang pengeluaran Bintang, beruntung dia sudah lepas dari pampers dan susu bubuk. Namun begitu Bintang sudah mulai minta uang untuk jajan dan membeli susu uht, bisa di bayangkan pengeluaran wajib sehari berapa.

Suaminya tidak pernah memikirkan itu semua, ia harus mencari solusi sendiri agar bisa menghidupi keluarganya. Uang pesangon dan jamsostek sudah habis tak bersisa untuk biaya hidup, dia tidak memiliki harta yang berharga lagi bahkan cincin kawinnya telah lama sekali ia jual guna menutupi kebutuhan hidup. Ia hanya bisa sabar, entah sampai kapan ia juga tidak tahu.

"Mbak Rania," panggil seseorang.

"Iya, eh mbak Rita. Ada apa mbak?"

"Mbak besok kan ada arisan di rumah, apa bisa besok saya pesan gorengannya 150 biji campur ya. Ini uangnya saya berikan dulu, barangkali buat beli bahan-bahannya,"

Mbak Rita memberikan uang kepada Rania, ia bersyukur sekali. Rejeki dari Allah benar-benar tidak di sangka, ia mendapat modal untuk berjualan besok.

"Baik Mbak, besok jam berapa?" tanya Rania penuh syukur.

"Sore Mbak, sehabis ashar sekitar jam setengah 4 ya,"

"Baik, besok saya antar sebelum jam tersebut,"

Mbak Rita lantas berpamitan. Rania segera membereskan dagangannya karena akan memandikan Bintang dan lanjut ke pasar untuk membeli bahan dagangan untuk besok.

Ia segera mengunci pintu dan bergegas ke pasar bersama Bintang, ia harus cepat karena pukul 17.10 Alisa sudah pulang dari mengaji. Gadis itu pasti bingung jika melihat rumahnya terkunci dan ibunya tidak ada di rumah.

Setelah semua belanjaan cukup, Rania segera bergegas pulang. Baru saja memarkirkan motor, putrinya juga tiba.

"Ibu darimana kok bawa belanjaan banyak sekali?" tanya Alisa.

"Ini bahan buat jualan besok Sayang, sekalian belanja buat yang akan di masak besok supaya tidak perlu ke pasar lagi," jawab Rania sembari mengelus kepala putrinya.

Setelah shalat magrib, Rania mengajari Alisa untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Sembari mengajari putrinya ia juga harus menjaga Bintang agar tidak mengganggu kakaknya. Tugas ini terlihat mudah, namun nyatanya cukup sulit membuat keduanya berjalan berdampingan. Hanya seorang ibu yang mampu melakukannya, maka dari itu jangan pernah menyepelekan pekerjaan ibu rumah tangga.

Pukul 21.00 kedua anaknya telah terlelap, ia mulai menyiapkan bahan gorengan untuk besok. Ia mulai mengiris sayuran untuk isian tahu isi dan ote-ote, jadi besok tinggal melanjutkan saja. Sekitar pukul 23.00 semua pekerjaan telah selesai dikerjakan, semua piring telah bersih, jemuran juga sudah di lipat. Baru saja akan terlelap ponselnya berdering.

"Ada apa, Mas?" tanya Rania dengan suara serak karena mengantuk.

"Dek, tolong belikan aku pulsa ya, soalnya penting," jawab Alif.

"Apa? ini sudah jam 11, Mas. Kamu beli saja sendiri, tadi kan kamu sudah pinjam uang dagangan," ucap Rania kesal.

"Tapi aku tidak bisa keluar, belikan 20 ribu saja," balas Alif memaksa.

"Aku ini baru saja selesai dan baru saja mau tidur, Mas kok tega sih. Minta tolong saja sama teman mu, kamu itu selalu menyuruh ku mengerti, tapi di saat aku yang butuh di mengerti kamu kemana!" ucap Rania kesal.

"Ya sudah kalau tidak bisa, aku minta tolong yang lain saja,"

Rania segera memutuskan panggilan, hampir setiap hari suaminya membuatnya kesal. Selama ini segala kepahitan hidup selalu ia telan sendiri, ia tidak berani mengatakan kepada siapapun tentang kehidupannya.

Setiap lebaran atau ada acara keluarga, saudara-saudaranya kadang meledeknya karena berpenampilan kumal dan pakaiannya itu-itu saja. Rania juga tidak punya perhiasan satu pun, satu-satunya aksesoris yang ia pakai hanya jam tangan usang pemberian kakaknya satu tahun yang lalu. Bagaimana mungkin dia memperhatikan kebutuhannya jika untuk kehidupan sehari-hari saja dia sulit.

♥︎♥︎♥︎

Keesokan hari, sesaat setelah adzan subuh berkumandang.

Rania menggeliatkan tubuhnya yang masih terasa letih, rasa mengantuk masih menggelayut manja di kedua matanya. Segera ia mengambil wudhu' untuk selanjutnya bersimpuh di hadapan sang pencipta. Setelah merasa cukup berbagi dengan Tuhannya, ia segera memulai aktivitasnya.

Rania mulai mencuci baju kotor, ini dia lakukan setiap hari agar tidak menumpuk. Karena piring sudah ia cuci semalam ia mulai membuat adonan untuk gorengan. Pukul 06.00 ia membangunkan Alisa untuk, dan menyiapkan semua kebutuhan putrinya.

"Sayang ayo cepat bangun, ini sudah jam 6," ucap Rania.

"Iya Bu, aku akan segera mandi,"

Pukul 06.45 Rania sudah bersiap mengantar Alisa.

"Bu, Bintang belum bangun, bagaimana jika saat ibu mengantar ku dia bangun?" tanya Alisa kuatir.

"Sekolah mu kan dekat, sepertinya dia tidak akan bangun. Ayo cepat, Nak," jawab Rania.

Setelah mengantar Alisa sampai pintu gerbang, ia bergegas pulang.

"Ibu, ibu..."

Rania dikagetkan oleh teriakan Bintang dari dalam rumah, ia segera membuka pintu.

"Astaga, Bintang..."

Terpopuler

Comments

heti lestari

heti lestari

emang perjuangan Rania sbg seorang ibu & isteri sangat luar biasa. Salut utk barisan emak2 yg hebat berjuang demi anak2 & keluarga. Rela jungkir balik banting tulang ga kenal lelah....👍👍👍👍👍

2023-03-26

1

SBY army

SBY army

pny suami kyx alif bikin emosi tiap hari kak

2023-02-12

0

Alkenzie

Alkenzie

iya kak gregetan ya

2022-12-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bertengkar Lagi
2 Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3 Bab 3 Sabar
4 Bab 4 Mertua Cerewet
5 Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6 Bab 6 Status Whatsapp
7 Bab 7 Ceraikan Aku
8 Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9 Bab 9 Rasa Yang Memudar
10 Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11 Bab 11 Tamu Tak di Undang
12 Bab 12 Tamparan
13 Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14 Bab 14 Minta Maaf
15 Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16 Bab 16 Cemburu
17 Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18 Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19 Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20 Bab 20 Perubahan Sikap
21 Bab 21 Membayar Kontrakan
22 Bab 22 Bertemu Mantan
23 Bab 23 Permintaan Maaf
24 Bab 24 Bertemu Lagi
25 Bab 25 Belajar Ikhlas
26 Bab 26 Ketahuan
27 Bab 27 Terusir
28 Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29 Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30 Bab 30 Lapor Polisi
31 Bab 31 Mencabut Laporan
32 Bab 32 Surat Panggilan
33 Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34 Bab 34 Sidang Pertama
35 Bab 35 Alisa Menghilang
36 Bab 36 Peringatan Keras
37 Bab 37 Kebun Binatang
38 Bab 38 Resmi Bercerai
39 Bab 39 Alif Sakit
40 Bab 40 Liburan
41 Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42 Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43 Bab 43 Menyatakan Perasaan
44 Bab 44 Alif dan Desi
45 Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46 Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47 Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48 Bab 48 Desi si Penggoda
49 Bab 49 Lewat Masa Iddah
50 Bab 50 Pencurian
51 Bab 51 Undangan Pernikahan
52 Bab 52 Alif Menikah
53 Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54 Bab 54 Terjebak
55 Bab 55 Di Sekap
56 Bab 56 Berhasil Kabur
57 Bab 57 Di Rumah Rangga
58 Bab 58 Kedatangan Alif
59 Bab 59 Bertemu Teman Lama
60 Bab 60 Restu Orang Tua
61 Bab 61 Sifat Asli Desi
62 Bab 62 Alif Minggat
63 Bab 63 Makan Malam Keluarga
64 Bab 64 Membeli Seserahan
65 Bab 65 Lamaran
66 Bab 66 Pisah Ranjang
67 Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68 Bab 68 Persiapan Pernikahan
69 Bab 69 Akhirnya Menikah
70 Bab 70 Malam Pertama
71 Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72 Bab 72 Bulan Madu
73 Bab 73 Alisa di Bully
74 Bab 74 Sosok Laila
75 Bab 75 Cemburu
76 Bab 76 Hamil
77 Bab 77 Rahasia Alisa
78 Bab 78 Ngidam
79 Bab 79 Keadilan
80 Bab 80 Kunjungan Alif
81 Bab 81 Jadi Korban Preman
82 Bab 82 Acara Empat Bulanan
83 Bab 83 Ayah Untuk Akila
84 Bab 84 Jalan-Jalan
85 Bab 85 Dona Salah Paham
86 Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87 Bab 87 Menyakiti Rania
88 Bab 88 Masuk RSJ
89 Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90 Bab 90 Alif Dan Laila
91 Bab 91 Melahirkan
92 Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93 Bab 93 Derita Laila
94 Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95 Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96 Bab 96 Ambisi Michelle
97 Bab 97 Paket Misterius
98 Bab 98 Isinya Mengerikan
99 Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100 Bab 100 Baby Naya di Culik
101 Pengumuman
102 Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103 Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104 Bab 103 Meninggalkan Rumah
105 Bab 104 Minta Maaf
106 Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107 Bab 106 Bertemu Rania
108 Bab 107 Mengunjungi Laila
109 Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110 pengumuman update
111 Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112 Bab 110 Permintaan Michelle
113 Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114 Bab 112 Bunuh Diri
115 Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116 Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117 Bab 114 Akhir Yang Indah
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1 Bertengkar Lagi
2
Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3
Bab 3 Sabar
4
Bab 4 Mertua Cerewet
5
Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6
Bab 6 Status Whatsapp
7
Bab 7 Ceraikan Aku
8
Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9
Bab 9 Rasa Yang Memudar
10
Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11
Bab 11 Tamu Tak di Undang
12
Bab 12 Tamparan
13
Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14
Bab 14 Minta Maaf
15
Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16
Bab 16 Cemburu
17
Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18
Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19
Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20
Bab 20 Perubahan Sikap
21
Bab 21 Membayar Kontrakan
22
Bab 22 Bertemu Mantan
23
Bab 23 Permintaan Maaf
24
Bab 24 Bertemu Lagi
25
Bab 25 Belajar Ikhlas
26
Bab 26 Ketahuan
27
Bab 27 Terusir
28
Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29
Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30
Bab 30 Lapor Polisi
31
Bab 31 Mencabut Laporan
32
Bab 32 Surat Panggilan
33
Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34
Bab 34 Sidang Pertama
35
Bab 35 Alisa Menghilang
36
Bab 36 Peringatan Keras
37
Bab 37 Kebun Binatang
38
Bab 38 Resmi Bercerai
39
Bab 39 Alif Sakit
40
Bab 40 Liburan
41
Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42
Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43
Bab 43 Menyatakan Perasaan
44
Bab 44 Alif dan Desi
45
Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46
Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47
Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48
Bab 48 Desi si Penggoda
49
Bab 49 Lewat Masa Iddah
50
Bab 50 Pencurian
51
Bab 51 Undangan Pernikahan
52
Bab 52 Alif Menikah
53
Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54
Bab 54 Terjebak
55
Bab 55 Di Sekap
56
Bab 56 Berhasil Kabur
57
Bab 57 Di Rumah Rangga
58
Bab 58 Kedatangan Alif
59
Bab 59 Bertemu Teman Lama
60
Bab 60 Restu Orang Tua
61
Bab 61 Sifat Asli Desi
62
Bab 62 Alif Minggat
63
Bab 63 Makan Malam Keluarga
64
Bab 64 Membeli Seserahan
65
Bab 65 Lamaran
66
Bab 66 Pisah Ranjang
67
Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68
Bab 68 Persiapan Pernikahan
69
Bab 69 Akhirnya Menikah
70
Bab 70 Malam Pertama
71
Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72
Bab 72 Bulan Madu
73
Bab 73 Alisa di Bully
74
Bab 74 Sosok Laila
75
Bab 75 Cemburu
76
Bab 76 Hamil
77
Bab 77 Rahasia Alisa
78
Bab 78 Ngidam
79
Bab 79 Keadilan
80
Bab 80 Kunjungan Alif
81
Bab 81 Jadi Korban Preman
82
Bab 82 Acara Empat Bulanan
83
Bab 83 Ayah Untuk Akila
84
Bab 84 Jalan-Jalan
85
Bab 85 Dona Salah Paham
86
Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87
Bab 87 Menyakiti Rania
88
Bab 88 Masuk RSJ
89
Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90
Bab 90 Alif Dan Laila
91
Bab 91 Melahirkan
92
Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93
Bab 93 Derita Laila
94
Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95
Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96
Bab 96 Ambisi Michelle
97
Bab 97 Paket Misterius
98
Bab 98 Isinya Mengerikan
99
Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100
Bab 100 Baby Naya di Culik
101
Pengumuman
102
Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103
Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104
Bab 103 Meninggalkan Rumah
105
Bab 104 Minta Maaf
106
Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107
Bab 106 Bertemu Rania
108
Bab 107 Mengunjungi Laila
109
Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110
pengumuman update
111
Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112
Bab 110 Permintaan Michelle
113
Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114
Bab 112 Bunuh Diri
115
Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116
Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117
Bab 114 Akhir Yang Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!