Bab 14 Minta Maaf

"Nia, kita harus bicara. Aku tidak mau berpisah, Nia,"

Alif mengetuk-ngetuk pintu kamar yang telah di tutup istrinya. Ia terus berpikir, tidak mungkin Alisa yang masih kecil bisa berbohong.

'Jangan-jangan memang ibu yang telah berdusta' batin Alif.

"Nia, buka pintunya. Apa kamu tega membiarkan aku tidur di luar, aku bahkan belum mandi dan berganti pakaian,"

Dia terus berusaha membujuk istrinya, ia tahu Rania berhati lembut jadi tidak akan tega kepadanya. Pintu tiba-tiba terbuka, Rania menatap suaminya tanpa ekspresi. Ia melemparkan bantal, selimut serta baju ganti pria itu. Alif tercengang, ia tidak menyangka istrinya akan setega ini.

"Sebaiknya kamu segera berkemas dan pergi dari rumah ini, dan cepatlah urus perceraian kita,"

Rania segera menutup pintu kembali tanpa memberi kesempatan Alif untuk melakukan protes. Alif menghela napas dengan kasar, hatinya benar-benar gelisah. Sikapnya yang mudah tersulut emosi dan terlalu menyalahkan istrinya telah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Kini dirinya tidak mengerti lagi harus berbuat apa, ibunya begitu tega membuatnya dalam posisi sulit seperti ini. Dia benar-benar kalut, dia tidak ingin kehilangan istri dan anak-anaknya. Di saat sedang sedih-sedihnya ponselnya berbunyi, dengan malas ia mengangkatnya.

"Bagaimana Lif, apa kamu sudah memberi pelajaran kepada istri mu itu? Kamu jangan percaya ya jika dia mengarang cerita, dia itu hanya ingin mengadu domba kamu dan ibu,"

Ibunya benar-benar ingin mempengaruhi dirinya, namun kenyataannya dia sudah tahu kebenarannya dari Alisa yang tidak mungkin berbohong kepadanya.

"Ibu jangan berdusta lagi, aku sudah tahu semuanya. Kenapa Ibu tega melakukan ini kepada ku? Apa Ibu tidak suka melihat aku bahagia? Mengapa Ibu ingin merusak pernikahan ku, mengapa Bu?" tanya Alif.

Kini pria itu sangat sedih sehingga tidak sanggup untuk menahan laju air matanya yang kini telah mengalir di pipinya. Dia tertunduk sambil menangis, bertopang pada kedua lututnya, air matanya kini telah membasahi lantai. Ia masih diam, menunggu penjelasan dari orang yang melahirkannya, yang selalu ia bela selama ini.

"Dia berbohong Alif, apa kamu lebih percaya istri mu daripada ibu mu yang telah melahirkan diri mu?" tanya ibunya yang masih berkelit.

"Rania tidak mengatakan apa-apa, Alisa yang memberitahu ku tentang semuanya. Ibu tidak perlu berkilah lagi, selama ini aku selalu membela Ibu walaupun aku tahu Ibu yang salah. Aku sangat kecewa, Ibu sudah berhasil membuat pernikahan ku hancur,"

Alif langsung memutus panggilan, rasa kecewanya terlalu besar untuk tetap mendengarkan sanggahan demi sanggahan dari mulut wanita yang telah melahirkannya itu. Perasaannya selama ini telah di butakan rasa bakti yang menurutnya akan mengantarkannya kepada surga, namun nyatanya justru menjadikannya suami yang durjana.

Dengan langkah limbung ia menuju ke kamar mandi, setelah selesai membersihkan badan ia segera membuat kopi sebagai teman gundah gulananya. Malam dingin yang sunyi, kepulan asap rokok dan harumnya bau kopi sedikit mengobati rasa kecewanya.

"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku begitu takut kehilangan mereka? Maafkan hamba mu ini ya Allah, aku tidak ingin berpisah dengan Rania,"

Tiada tempat mengadu selain Allah Yang Maha Esa. Sifat naluriah manusia adalah lupa di saat senang, ingat di kala ada masalah.

☆☆☆

Keesokan harinya.

Rania beraktivitas seperti biasanya. Ia memasak, membersihkan rumah, mengantar Alisa sekolah dan rutinitas lainnya. Namun ia sama sekali tidak menganggap kehadiran suaminya. Entah pukul berapa pria itu tidur sehingga bangun kesiangan, namun tidak ada keinginan Rania untuk membangunkannya. Ia harus mulai terbiasa tidak mencampuri urusan pria itu, karena mereka akan segera berpisah.

"Sayang, ayo kita mandi. Setelah itu kita akan jalan-jalan keluar," ucapnya kepada Bintang.

"Hore, jalan-jalan lagi," teriak Bintang kegirangan.

Teriakan Bintang membuat Alif terbangun, matanya sembab walaupun tak separah istrinya. Pria itu melihat kebahagiaan anak dan istrinya dengan tatapan sedih. Sungguh ia tidak rela jika sampai tidak akan pernah melihat hal indah itu lagi di dalam hidupnya.

"Sayang, Kamu mau jalan-jalan kemana? Ayah boleh ikut ya?"

Bintang tidak menjawab, anak itu justru makin mengeratkan pelukan kepada ibunya. Tampak sorot mata ketakutan membingkai wajah mungilnya. Hati Alif teriris, perangainya semalam telah membuat anak itu merasa takut kepadanya. Betapa ia telah berhasil melukai mental putranya.

"Sayang, jangan takut kepada Ayah. Ayah sayang sama Bintang,"

Alif berusaha mendekat dan ingin menggendong putranya, namun anak itu justru berlindung di balik ibunya.

"Ayah jahat, ayah marah-marah terus, ayah sudah pukul ibu. Ayah jahat, aku tidak mau sama ayah,"

Sakit tapi tak berdarah, mungkin ini yang di rasakan Alif sekarang. Darah dagingnya sekarang membencinya, Bintang dan Alisa sudah tidak sudi bersamanya lagi. Ia benar-benar menyesal atas semua yang terjadi.

"Nia, aku mohon maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi ibu ku yang berbohong. Aku tidak tahu jika ibu ku mampu melakukan ini semua, aku tidak ingin berpisah dengan mu,"

Alif bersimpuh di kaki istrinya, namun Rania segera menjauh. Ia tidak ingin suaminya mengemis kepadanya, hatinya sudah terlalu sakit, bertubi-tubuh luka yang telah pria itu goreskan. Hatinya sudah mantap untuk mengakhiri semuanya.

"Sudah terlambat, aku sudah benar-benar menutup hati ku untuk mu rapat-rapat. Sebaiknya segera kemasi barang-barang mu dan pergi dari sini, aku sudah tidak ingin melihat mu lagi. Jika kamu ingin mengambil anak-anak, kita akan bertemu di pengadilan,"

Rania sudah malas berbasa-basi, ia segera meninggalkan suaminya yang masih termenung meratapi nasibnya. Apa yang kita tanam, itu juga yang kita dapat. Emosi bisa menghancurkan siapa saja, maka dari itu kita wajib menjaganya, karena waktu tidak akan pernah kembali.

☆☆☆

Beberapa saat kemudian.

Rania segera melajukan kendaraannya menuju rumah Tiara, ia ingin mencurahkan segala kegelisahannya. Ia tidak sanggup menahannya sendirian. Ia tahu bercerai bukanlah hal yang sepele, walaupun ia sudah yakin namun ia ingin mendengar pendapat keluarganya juga.

"Rania, sebenarnya sangat di sayangkan sekali jika harus berakhir begini. Namun jika memang itu yang terbaik, aku akan selalu mendukung mu. Sebaiknya kamu juga berbicara masalah ini kepada Mas Bagas dan orang tua kita," saran Tiara setelah mendengarkan cerita Rania.

"Iya Kak, aku akan memberi tahu mereka nanti,"

"Bagaimana jika mereka merebut anak-anak mu, Nia? Mereka itu cucu satu-satunya karena adik Alif belum punya anak, mereka pasti berusaha mengambilnya dari kamu,"

"Aku akan menempuh jalur hukum, Kak,"

"Itu memerlukan waktu yang lama dan uang yang banyak, Nia. Sepertinya keluarga Alif tidak akan melepaskan mu begitu saja,"

Rania terkesiap, keraguan mulai memenuhi hatinya. Ia tidak sanggup jika sampai kehilangan anak-anaknya.

Terpopuler

Comments

Dewa Rana

Dewa Rana

harusnya alif paham siapa ibunya

2024-09-16

0

SBY army

SBY army

itulah kehidupan kita gak bisa menebakx

2023-03-03

0

Alifia Najla Azhara

Alifia Najla Azhara

Alif salah. jadi ank pasti ikut ibunya

2023-02-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bertengkar Lagi
2 Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3 Bab 3 Sabar
4 Bab 4 Mertua Cerewet
5 Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6 Bab 6 Status Whatsapp
7 Bab 7 Ceraikan Aku
8 Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9 Bab 9 Rasa Yang Memudar
10 Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11 Bab 11 Tamu Tak di Undang
12 Bab 12 Tamparan
13 Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14 Bab 14 Minta Maaf
15 Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16 Bab 16 Cemburu
17 Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18 Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19 Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20 Bab 20 Perubahan Sikap
21 Bab 21 Membayar Kontrakan
22 Bab 22 Bertemu Mantan
23 Bab 23 Permintaan Maaf
24 Bab 24 Bertemu Lagi
25 Bab 25 Belajar Ikhlas
26 Bab 26 Ketahuan
27 Bab 27 Terusir
28 Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29 Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30 Bab 30 Lapor Polisi
31 Bab 31 Mencabut Laporan
32 Bab 32 Surat Panggilan
33 Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34 Bab 34 Sidang Pertama
35 Bab 35 Alisa Menghilang
36 Bab 36 Peringatan Keras
37 Bab 37 Kebun Binatang
38 Bab 38 Resmi Bercerai
39 Bab 39 Alif Sakit
40 Bab 40 Liburan
41 Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42 Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43 Bab 43 Menyatakan Perasaan
44 Bab 44 Alif dan Desi
45 Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46 Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47 Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48 Bab 48 Desi si Penggoda
49 Bab 49 Lewat Masa Iddah
50 Bab 50 Pencurian
51 Bab 51 Undangan Pernikahan
52 Bab 52 Alif Menikah
53 Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54 Bab 54 Terjebak
55 Bab 55 Di Sekap
56 Bab 56 Berhasil Kabur
57 Bab 57 Di Rumah Rangga
58 Bab 58 Kedatangan Alif
59 Bab 59 Bertemu Teman Lama
60 Bab 60 Restu Orang Tua
61 Bab 61 Sifat Asli Desi
62 Bab 62 Alif Minggat
63 Bab 63 Makan Malam Keluarga
64 Bab 64 Membeli Seserahan
65 Bab 65 Lamaran
66 Bab 66 Pisah Ranjang
67 Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68 Bab 68 Persiapan Pernikahan
69 Bab 69 Akhirnya Menikah
70 Bab 70 Malam Pertama
71 Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72 Bab 72 Bulan Madu
73 Bab 73 Alisa di Bully
74 Bab 74 Sosok Laila
75 Bab 75 Cemburu
76 Bab 76 Hamil
77 Bab 77 Rahasia Alisa
78 Bab 78 Ngidam
79 Bab 79 Keadilan
80 Bab 80 Kunjungan Alif
81 Bab 81 Jadi Korban Preman
82 Bab 82 Acara Empat Bulanan
83 Bab 83 Ayah Untuk Akila
84 Bab 84 Jalan-Jalan
85 Bab 85 Dona Salah Paham
86 Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87 Bab 87 Menyakiti Rania
88 Bab 88 Masuk RSJ
89 Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90 Bab 90 Alif Dan Laila
91 Bab 91 Melahirkan
92 Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93 Bab 93 Derita Laila
94 Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95 Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96 Bab 96 Ambisi Michelle
97 Bab 97 Paket Misterius
98 Bab 98 Isinya Mengerikan
99 Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100 Bab 100 Baby Naya di Culik
101 Pengumuman
102 Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103 Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104 Bab 103 Meninggalkan Rumah
105 Bab 104 Minta Maaf
106 Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107 Bab 106 Bertemu Rania
108 Bab 107 Mengunjungi Laila
109 Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110 pengumuman update
111 Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112 Bab 110 Permintaan Michelle
113 Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114 Bab 112 Bunuh Diri
115 Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116 Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117 Bab 114 Akhir Yang Indah
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1 Bertengkar Lagi
2
Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3
Bab 3 Sabar
4
Bab 4 Mertua Cerewet
5
Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6
Bab 6 Status Whatsapp
7
Bab 7 Ceraikan Aku
8
Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9
Bab 9 Rasa Yang Memudar
10
Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11
Bab 11 Tamu Tak di Undang
12
Bab 12 Tamparan
13
Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14
Bab 14 Minta Maaf
15
Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16
Bab 16 Cemburu
17
Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18
Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19
Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20
Bab 20 Perubahan Sikap
21
Bab 21 Membayar Kontrakan
22
Bab 22 Bertemu Mantan
23
Bab 23 Permintaan Maaf
24
Bab 24 Bertemu Lagi
25
Bab 25 Belajar Ikhlas
26
Bab 26 Ketahuan
27
Bab 27 Terusir
28
Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29
Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30
Bab 30 Lapor Polisi
31
Bab 31 Mencabut Laporan
32
Bab 32 Surat Panggilan
33
Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34
Bab 34 Sidang Pertama
35
Bab 35 Alisa Menghilang
36
Bab 36 Peringatan Keras
37
Bab 37 Kebun Binatang
38
Bab 38 Resmi Bercerai
39
Bab 39 Alif Sakit
40
Bab 40 Liburan
41
Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42
Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43
Bab 43 Menyatakan Perasaan
44
Bab 44 Alif dan Desi
45
Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46
Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47
Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48
Bab 48 Desi si Penggoda
49
Bab 49 Lewat Masa Iddah
50
Bab 50 Pencurian
51
Bab 51 Undangan Pernikahan
52
Bab 52 Alif Menikah
53
Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54
Bab 54 Terjebak
55
Bab 55 Di Sekap
56
Bab 56 Berhasil Kabur
57
Bab 57 Di Rumah Rangga
58
Bab 58 Kedatangan Alif
59
Bab 59 Bertemu Teman Lama
60
Bab 60 Restu Orang Tua
61
Bab 61 Sifat Asli Desi
62
Bab 62 Alif Minggat
63
Bab 63 Makan Malam Keluarga
64
Bab 64 Membeli Seserahan
65
Bab 65 Lamaran
66
Bab 66 Pisah Ranjang
67
Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68
Bab 68 Persiapan Pernikahan
69
Bab 69 Akhirnya Menikah
70
Bab 70 Malam Pertama
71
Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72
Bab 72 Bulan Madu
73
Bab 73 Alisa di Bully
74
Bab 74 Sosok Laila
75
Bab 75 Cemburu
76
Bab 76 Hamil
77
Bab 77 Rahasia Alisa
78
Bab 78 Ngidam
79
Bab 79 Keadilan
80
Bab 80 Kunjungan Alif
81
Bab 81 Jadi Korban Preman
82
Bab 82 Acara Empat Bulanan
83
Bab 83 Ayah Untuk Akila
84
Bab 84 Jalan-Jalan
85
Bab 85 Dona Salah Paham
86
Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87
Bab 87 Menyakiti Rania
88
Bab 88 Masuk RSJ
89
Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90
Bab 90 Alif Dan Laila
91
Bab 91 Melahirkan
92
Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93
Bab 93 Derita Laila
94
Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95
Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96
Bab 96 Ambisi Michelle
97
Bab 97 Paket Misterius
98
Bab 98 Isinya Mengerikan
99
Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100
Bab 100 Baby Naya di Culik
101
Pengumuman
102
Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103
Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104
Bab 103 Meninggalkan Rumah
105
Bab 104 Minta Maaf
106
Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107
Bab 106 Bertemu Rania
108
Bab 107 Mengunjungi Laila
109
Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110
pengumuman update
111
Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112
Bab 110 Permintaan Michelle
113
Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114
Bab 112 Bunuh Diri
115
Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116
Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117
Bab 114 Akhir Yang Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!