Bab 2 Lelah Yang Terbayar

"Astaga Mas, kamu masih memikirkan rokok di tengah hidup kita yang sudah begini," ucap Rania merasa miris.

"Nanti aku ganti jika sudah gajian," balas suaminya.

"Selalu saja kamu berkata begitu, coba kamu lihat ini hutang kamu sangat banyak. Itu hanya yang besar-besar saja yang aku catat, sudah sekian juta. Harusnya kamu mengerti aku bukan pekerja kantoran lagi, uang itu hasil meminjam malah kamu pakai dan tidak kamu bayar," ucap Rania kesal.

"Ya sudah kalau tidak mau memberi," balas Alif kecewa.

Rania merasa begitu kesal, selama ini dia selalu tidak tega jika suaminya meminta. Asal dia punya uang entah dari hasil bekerja bahkan dari meminjam ia selalu memberinya. Lama-lama ia merasa suaminya tidak betul-betul mencintainya, tapi hanya karena ingin memanfaatkannya.

Sebenarnya ia sudah tidak tahan sejak lama, namun mengingat kedua anaknya membuatnya selalu mengurungkan niat untuk bercerai. Tapi kesalahan yang suaminya buat selalu berulang, membuatnya tidak habis pikir dengan cara pandang suaminya. Usia suaminya lebih tua 5 tahun darinya, namun sikapnya tidak menunjukkan kedewasaan sama sekali. Ini merupakan hasil didikan keluarganya yang terlalu memanjakannya.

"Aku mau pergi dulu," pamit Alif.

"Mau kemana, katanya kerjanya masih nanti sore?" tanya Rania.

"Keluar ke depan, sebentar," jawab Alif.

Ia mengeluarkan motor dan bergegas pergi. Sementara Rania mulai menata dagangannya, dia mengeluarkan meja untuk menaruh semua dagangannya. Semua makanan ringan ia susun rapi. Rania membuatkan susu terlebih dahulu untuk Bintang supaya dia tidak rewel.

Rasa lelah mulai mendekap tubuhnya, namun ia tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia mulai menata gorengan yang sudah matang, pembeli juga mulai berdatangan. Sudah sekitar setengah jam suaminya pergi namun belum juga kembali.

"Gorengannya harganya berapa mbak?" tanya seorang pembeli.

"Semuanya serba seribu, Bu," jawab Rania ramah.

Alhamdulillah dagangannya banyak yang membeli, Rania sangat bersyukur.

"Sudah selesai, Nia?" tanya Alif yang baru datang.

"Belum semua aku goreng, sebagian saja biar tetap hangat saat ada yang membeli. Mas itu bilangnya sebentar tapi hampir satu jam," jawab Rania.

"Iya, tadi tidak sengaja bertemu teman di depan jadi ngobrol dulu," ucap Alif.

"Katanya tidak punya uang, kok bisa beli rokok?" tanya Rania heran.

"Pinjam sama teman," jawab Alif.

Rania heran sekali kepada suaminya, jika pinjam untuk beli rokok dia pasti dapat dan tidak merasa malu, tapi jika di suruh pinjam untuk urusan rumah dia sering bilang tidak ada. Pernah suatu ketika waktu Bintang masih belum genap satu tahun kehabisan susu, saat itu Rania sama sekali tidak punya uang. Dia meminta suaminya untuk membelikan susu Bintang tapi suaminya mengatakan tidak memiliki uang, namun betapa sakit hatinya saat mengetahui suaminya bisa membeli rokok untuk dirinya sendiri.

"Tolong jaga dagangan ku, aku mau mandi lagi badan ku terasa lengket," pinta Rania.

"Iya, tapi jangan lama-lama," ucap Alif.

"Memangnya kapan aku pernah mandi lama, Mas? Baru masuk kamar mandi sebentar saja Bintang sudah terus memanggil ku," balas Rania.

"Iya, maksud ku tidak perlu nyuci biar tidak lama," ucap Alif.

Rania tak menjawab suaminya dan langsung masuk ke kamar mandi. Ia merasa selama ini hidup bagai di dalam penjara, pergi sebentar sudah di suruh pulang. Setiap pergi wajib membawa anak-anak. Setiap mengajak suaminya jalan-jalan selalu menolak dengan alasan membuang-buang uang. Padahal jika ia mengajak pergi pasti dia yang mengeluarkan uang.

"Nia, cepat mandinya ini banyak pembeli. Aku bingung melayani mereka," teriak Alif.

"Iya Mas, ini sudah selesai," ucap Rania.

Ia bergegas mengenakan pakaian, tanpa bedak atau make up ia mulai melayani pembeli. Karena gorengannya hampir habis ia mulai menggoreng kembali.

"Mas, ini waktunya Alisa pulang sekolah, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama," ucap Rania.

"Iya,"

Tugas mengantar dan menjemput Alisa adalah tanggung jawab Rania jika suaminya sedang bekerja. Ia akan meminta tolong suaminya jika ia sedang sibuk dengan hal lainnya, seperti saat ini.

"Wah dagangan mu laris manis, sudah dapat berapa?" tanya Alif.

Ia melihat istrinya sedang menghitung uang saat ia baru tiba, sepertinya dagangan istrinya laris manis.

"Alhamdulillah Mas, sudah dapat 200 ribu," jawab Rania senang.

"Semoga terus seperti ini ya, Nia,"

"Amin,"

Hari sudah siang gorengannya sisa sedikit, Rania meninggalkan dagangannya sebentar untuk makan. Perutnya sudah mulai terasa lapar karena sejak tadi belum terisi nasi sama sekali. Sebenarnya dia punya penyakit maag yang terkadang kambuh, namun kesibukan selalu membuatnya lupa makan. Bahkan terkadang sore baru bisa menyentuh nasi.

"Bu, kata bu guru semua murid wajib membeli buku LKS, harganya 167 ribu," ucap Alisa.

"Ya Nak, besok ibu beri uangnya. Kamu belajar yang rajin ya Nak, agar bisa menjadi orang yang bermanfaat," balas Rania sembari mengelus rambut putrinya.

Alif hanya diam saja mendengar mereka berbicara, selama ini memang Rania yang lebih peduli tentang apapun yang terjadi di dalam rumah tangga mereka. Di saat Rania tidak memegang uang jarang sekali suaminya membantunya namun ketika Alif tidak punya uang tanpa rasa sungkan atau malu ia pasti meminjam bahkan meminta kepada Rania. Baru saja ingin merebahkan tubuhnya ada yang memanggil namanya.

"Rania," panggilnya.

"Eh bu Santi, ada apa ya Bu?" tanya Rania.

"Gorengannya masih ada tidak, aku butuh 50 biji karena nanti akan ada tamu," jawab bu Santi.

"Ada Bu, tapi saya harus menggoreng dulu,"

"Ya sudah tidak apa-apa, nanti tolong diantarkan ke rumah ya. Campur saja gorengannya ya, ini uangnya,"

"Baik Bu, nanti akan saya antarkan,"

Rania bersyukur sekali hari ini dagangannya laris manis, bisa untuk membayar buku Alisa dan modal untuk jualan besok. Ia bergegas berjibaku dengan gorengannya kembali, rasa lelah tidak ia hiraukan lagi. Rasanya begitu panas berada di depan wajan penggorengan, wajahnya yang tadi sudah segar kembali berkeringat. Dulu dia adalah gadis yang modis dan selalu menjaga penampilan, namun seiring tuntutan hidup yang semakin berat ia rela mengalah. Baginya saat ini yang terpenting adalah bagaimana keluarganya bisa tercukupi.

"Mas, tolong kamu jaga Bintang. Aku mau antar gorengan ke rumah bu Santi dulu," ucap Rania.

"Kenapa harus di antar sih, kenapa bukan orangnya yang datang kesini?" tanya Alif kesal tidurnya terganggu.

"Tadi dia sudah kesini, tapi hitungannya habis jadi aku harus menggoreng dulu," jawab Rania.

"Ya sudah sana, jangan lama-lama aku masih mengantuk,"

Rania bergegas ke rumah bu Santi, namun baru beberapa langkah putranya Bintang sudah merengek minta ikut. Sebenarnya Rania tidak tega, namun apa boleh buat tidak mungkin suaminya mau di suruh mengantarnya. Alif membujuk Bintang supaya tidak menangis, namun sepertinya upayanya tidak membuahkan hasil. Rania masih bisa mendengar tangisan Bintang dari kejauhan, membuat dia semakin mempercepat langkahnya.

Terpopuler

Comments

SBY army

SBY army

kasihan rania thor

2023-02-12

0

Alkenzie

Alkenzie

byak loh kak di kehidupan nyata

2022-12-30

0

Alifia Najla Azhara

Alifia Najla Azhara

kasihan Rania, kok ad suami kyx Alif sih

2022-12-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bertengkar Lagi
2 Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3 Bab 3 Sabar
4 Bab 4 Mertua Cerewet
5 Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6 Bab 6 Status Whatsapp
7 Bab 7 Ceraikan Aku
8 Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9 Bab 9 Rasa Yang Memudar
10 Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11 Bab 11 Tamu Tak di Undang
12 Bab 12 Tamparan
13 Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14 Bab 14 Minta Maaf
15 Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16 Bab 16 Cemburu
17 Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18 Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19 Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20 Bab 20 Perubahan Sikap
21 Bab 21 Membayar Kontrakan
22 Bab 22 Bertemu Mantan
23 Bab 23 Permintaan Maaf
24 Bab 24 Bertemu Lagi
25 Bab 25 Belajar Ikhlas
26 Bab 26 Ketahuan
27 Bab 27 Terusir
28 Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29 Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30 Bab 30 Lapor Polisi
31 Bab 31 Mencabut Laporan
32 Bab 32 Surat Panggilan
33 Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34 Bab 34 Sidang Pertama
35 Bab 35 Alisa Menghilang
36 Bab 36 Peringatan Keras
37 Bab 37 Kebun Binatang
38 Bab 38 Resmi Bercerai
39 Bab 39 Alif Sakit
40 Bab 40 Liburan
41 Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42 Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43 Bab 43 Menyatakan Perasaan
44 Bab 44 Alif dan Desi
45 Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46 Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47 Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48 Bab 48 Desi si Penggoda
49 Bab 49 Lewat Masa Iddah
50 Bab 50 Pencurian
51 Bab 51 Undangan Pernikahan
52 Bab 52 Alif Menikah
53 Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54 Bab 54 Terjebak
55 Bab 55 Di Sekap
56 Bab 56 Berhasil Kabur
57 Bab 57 Di Rumah Rangga
58 Bab 58 Kedatangan Alif
59 Bab 59 Bertemu Teman Lama
60 Bab 60 Restu Orang Tua
61 Bab 61 Sifat Asli Desi
62 Bab 62 Alif Minggat
63 Bab 63 Makan Malam Keluarga
64 Bab 64 Membeli Seserahan
65 Bab 65 Lamaran
66 Bab 66 Pisah Ranjang
67 Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68 Bab 68 Persiapan Pernikahan
69 Bab 69 Akhirnya Menikah
70 Bab 70 Malam Pertama
71 Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72 Bab 72 Bulan Madu
73 Bab 73 Alisa di Bully
74 Bab 74 Sosok Laila
75 Bab 75 Cemburu
76 Bab 76 Hamil
77 Bab 77 Rahasia Alisa
78 Bab 78 Ngidam
79 Bab 79 Keadilan
80 Bab 80 Kunjungan Alif
81 Bab 81 Jadi Korban Preman
82 Bab 82 Acara Empat Bulanan
83 Bab 83 Ayah Untuk Akila
84 Bab 84 Jalan-Jalan
85 Bab 85 Dona Salah Paham
86 Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87 Bab 87 Menyakiti Rania
88 Bab 88 Masuk RSJ
89 Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90 Bab 90 Alif Dan Laila
91 Bab 91 Melahirkan
92 Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93 Bab 93 Derita Laila
94 Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95 Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96 Bab 96 Ambisi Michelle
97 Bab 97 Paket Misterius
98 Bab 98 Isinya Mengerikan
99 Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100 Bab 100 Baby Naya di Culik
101 Pengumuman
102 Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103 Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104 Bab 103 Meninggalkan Rumah
105 Bab 104 Minta Maaf
106 Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107 Bab 106 Bertemu Rania
108 Bab 107 Mengunjungi Laila
109 Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110 pengumuman update
111 Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112 Bab 110 Permintaan Michelle
113 Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114 Bab 112 Bunuh Diri
115 Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116 Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117 Bab 114 Akhir Yang Indah
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1 Bertengkar Lagi
2
Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3
Bab 3 Sabar
4
Bab 4 Mertua Cerewet
5
Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6
Bab 6 Status Whatsapp
7
Bab 7 Ceraikan Aku
8
Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9
Bab 9 Rasa Yang Memudar
10
Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11
Bab 11 Tamu Tak di Undang
12
Bab 12 Tamparan
13
Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14
Bab 14 Minta Maaf
15
Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16
Bab 16 Cemburu
17
Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18
Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19
Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20
Bab 20 Perubahan Sikap
21
Bab 21 Membayar Kontrakan
22
Bab 22 Bertemu Mantan
23
Bab 23 Permintaan Maaf
24
Bab 24 Bertemu Lagi
25
Bab 25 Belajar Ikhlas
26
Bab 26 Ketahuan
27
Bab 27 Terusir
28
Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29
Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30
Bab 30 Lapor Polisi
31
Bab 31 Mencabut Laporan
32
Bab 32 Surat Panggilan
33
Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34
Bab 34 Sidang Pertama
35
Bab 35 Alisa Menghilang
36
Bab 36 Peringatan Keras
37
Bab 37 Kebun Binatang
38
Bab 38 Resmi Bercerai
39
Bab 39 Alif Sakit
40
Bab 40 Liburan
41
Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42
Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43
Bab 43 Menyatakan Perasaan
44
Bab 44 Alif dan Desi
45
Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46
Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47
Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48
Bab 48 Desi si Penggoda
49
Bab 49 Lewat Masa Iddah
50
Bab 50 Pencurian
51
Bab 51 Undangan Pernikahan
52
Bab 52 Alif Menikah
53
Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54
Bab 54 Terjebak
55
Bab 55 Di Sekap
56
Bab 56 Berhasil Kabur
57
Bab 57 Di Rumah Rangga
58
Bab 58 Kedatangan Alif
59
Bab 59 Bertemu Teman Lama
60
Bab 60 Restu Orang Tua
61
Bab 61 Sifat Asli Desi
62
Bab 62 Alif Minggat
63
Bab 63 Makan Malam Keluarga
64
Bab 64 Membeli Seserahan
65
Bab 65 Lamaran
66
Bab 66 Pisah Ranjang
67
Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68
Bab 68 Persiapan Pernikahan
69
Bab 69 Akhirnya Menikah
70
Bab 70 Malam Pertama
71
Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72
Bab 72 Bulan Madu
73
Bab 73 Alisa di Bully
74
Bab 74 Sosok Laila
75
Bab 75 Cemburu
76
Bab 76 Hamil
77
Bab 77 Rahasia Alisa
78
Bab 78 Ngidam
79
Bab 79 Keadilan
80
Bab 80 Kunjungan Alif
81
Bab 81 Jadi Korban Preman
82
Bab 82 Acara Empat Bulanan
83
Bab 83 Ayah Untuk Akila
84
Bab 84 Jalan-Jalan
85
Bab 85 Dona Salah Paham
86
Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87
Bab 87 Menyakiti Rania
88
Bab 88 Masuk RSJ
89
Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90
Bab 90 Alif Dan Laila
91
Bab 91 Melahirkan
92
Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93
Bab 93 Derita Laila
94
Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95
Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96
Bab 96 Ambisi Michelle
97
Bab 97 Paket Misterius
98
Bab 98 Isinya Mengerikan
99
Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100
Bab 100 Baby Naya di Culik
101
Pengumuman
102
Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103
Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104
Bab 103 Meninggalkan Rumah
105
Bab 104 Minta Maaf
106
Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107
Bab 106 Bertemu Rania
108
Bab 107 Mengunjungi Laila
109
Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110
pengumuman update
111
Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112
Bab 110 Permintaan Michelle
113
Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114
Bab 112 Bunuh Diri
115
Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116
Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117
Bab 114 Akhir Yang Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!