Bab 16 Cemburu

Tiga hari kemudian.

Alif dan Rania masih tinggal serumah, namun mereka sudah tidak tidur bersama lagi. Rania benar-benar bersikukuh dengan pendiriannya, walaupun begitu ia masih memberikan kesempatan hatinya untuk lebih memantapkan pilihannya.

Sedangkan Alif hanya pasrah, ia tetap menjalankan rutinitasnya bekerja walaupun sudah tidak mempunyai semangat. Ia sangat tidak menyangka istrinya serius menginginkan pernikahan mereka berakhir. Ia hanya berusaha memperbaiki keadaan, melakukan yang terbaik yang ia bisa. Berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan anak-anaknya.

"Sayang, besok kan hari minggu ayah ingin mengajak kalian pergi. Kalian mau kan jalan sama ayah?" tanya Alif saat sore menjelang.

Alisa tampak ragu dan enggan menjawab, sedangkan Bintang diam tanpa ekspresi. Sekalipun mereka melihat ayahnya banyak berubah beberapa hari ini, namun kejadian tempo hari masih menyisakan luka di hati suci mereka. Tindakan ayah mereka yang sangat fatal hingga tega memukul wanita yang telah melahirkan mereka akan membekas seumur hidup anak itu.

"Ehm... aku tanya Ibu dulu ya Yah,"

Alisa segera menemui ibunya yang sedang sibuk memilah barang dagangannya, kesibukan yang padat dan pesanan yang meningkat sedikit mengalihkan perhatian Rania tentang masalah perceraian.

"Bu, apa boleh aku dan Bintang besok jalan-jalan bersama ayah?" tanyanya.

"Boleh, Sayang. Kalau kalian mau pergi saja, ibu tidak keberatan,"

Sebenarnya ia sudah mendengar saat suaminya tadi berbicara kepada mereka, ia juga tidak mungkin membatasi mereka, bagaimanapun mereka adalah ayah dan anak yang tidak mungkin di pisahkan.

"Apa Ibu juga akan ikut?" tanya Alisa lagi.

"Tidak, kalian pergi bertiga saja. Ibu sedang banyak pekerjaan, hati-hati ya jaga adik baik-baik,"

Rania berusaha tetap tersenyum, dia memang menjaga jarak dengan suaminya. Bahkan sering ia sudah menganggap pria itu tidak ada dalam hidupnya. Dirinya tidak lagi melakukan kewajibannya sebagai istri, Alif selalu mengambil makan sendiri, membuat kopi sendiri, bahkan tersentuh sedikit saja Rania akan segera menghindar.

Alif menghela napas kasar, ia kecewa mendengar Rania tidak mau pergi bersama mereka. Jika selama ini dia selalu menolak jika istrinya ingin mengajak jalan-jalan, sekarang justru istrinyalah yang tidak mau di ajak pergi olehnya. Sepertinya memang sudah tidak ada kata maaf lagi untuk dirinya.

☆☆☆

Keesokan harinya.

"Sayang, ibu sudah menyiapkan baju ganti serta perlengkapan kalian untuk berenang nanti ya. Ibu juga membawakan bekal, takut kalian lapar. Ibu hari ini harus mengantar banyak pesanan dan belanja beberapa barang, ibu berangkat dulu ya,"

Rania membangunkan Alisa yang masih mengantuk, ini memang masih pagi sekali. Gadis itu menggeliat sembari menguap menahan rasa kantuk. Matanya reflek melihat ke arah jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.

"Masih jam 6. Ibu cantik sekali, mau kemana?" tanya Alisa.

Tampaknya Alisa memang masih mengantuk, sehingga tidak mendengarkan ibunya berbicara dengannya tadi. Rania mengusap rambut Alisa dengan lembut seraya tersenyum ke arahnya.

"Hari ini ibu akan berbelanja barang dagangan dan mengirim pesanan yang belum ibu kirim. Nanti kalau berangkat kuncinya di taruh di pot bunga seperti biasanya ya Nak. Kalian jaga diri baik-baik, jangan merepotkan ayah ya,"

Alisa menyimak dengan baik ucapan ibunya sambil bermain-main dengan jilbab yang Rania pakai. Ia tampak terpesona melihat penampilan ibunya yang tidak seperti biasanya. Selama ini wanita itu memang tidak pernah berdandan selain ke undangan, jadi wajar anaknya merasa takjub melihat penampilannya saat ini.

Rania segera beranjak dan mengambil tasnya yang ia letakkan di meja kamar, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan suaminya yang baru selesai mandi. Wangi sabun menusuk hidungnya, hati keduanya berdebar. Rania mengalihkan pandangannya dari tubuh suaminya yang bertelanjang dada, sudah lama tidak menyalurkan hasrat membuat napas keduanya terasa berat. Alif tidak dapat memalingkan tatapannya dari istrinya yang terlihat sangat cantik hari ini.

"Rania, Kamu cantik sekali," ucap Alif spontan memuji istrinya.

Wajah Rania tersipu memerah, jujur ia merasa senang di puji begitu. Hal sederhana yang selama ini sudah tidak pernah ia dengar dari mulut suaminya. Namun semua hanya sebentar, karena detik kemudian ia tersadar tentang keputusannya. Rania membisu sambil menetralkan perasaannya yang tadi sempat berbunga.

"Kamu mau kemana, apa mau ikut dengan kami?" tanya Alif merasa gembira.

"Aku mau keluar, tolong jaga anak-anak dengan baik," ia berusaha tetap bersikap tenang.

"Nia, kita masih suami istri. Aku harus tahu kamu akan kemana dengan dandanan cantik seperti itu,"

Alif memegang lengan istrinya untuk mencegahnya terus melangkah. Ia tidak rela kecantikan istrinya di nikmati orang lain di luaran sana.

"Ya Mas, memang saat ini kita masih suami istri. Tapi saat kamu tega memukul ku tempo hari, aku sudah berhenti mencintai mu. Sebentar lagi kita akan berpisah, jadi tolong secepatnya kamu pergi dari rumah ini,"

Rania menepis tangan suaminya dan melanjutkan langkahnya, ia tidak ingin hatinya goyah dengan berlama-lama bersama pria yang sudah menemaninya selama 11 tahun ini.

"Nia, aku tidak akan menceraikan kamu. Aku masih mencintai mu sampai kapanpun,"

Alif berteriak, namun Rania tetap pergi dengan motornya dan tak mengindahkan ucapan suaminya.

"Alisa, ibu mau kemana katanya?" tanya Alif yang masih penasaran.

"Katanya ibu mau belanja barang sama mengantar pesanan," jawab Alisa.

"Apa ibu tidak bilang lagi mau kemana?"

Alisa hanya menggelengkan kepalanya. Alif merasa cemburu, hatinya gelisah melihat istrinya berdandan cantik saat keluar rumah, padahal selama ini Rania tidak pernah berdandan jika tidak ada acara. Ia segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor istrinya, berulangkali mencoba namun tidak ada jawaban.

"Yah kita jadi kan mau pergi jalan-jalan?" tanya Alisa.

"Iya Nak, Kamu mandi dulu sana,"

Alisa segera mandi sedangkan Alif masih sibuk dengan ponselnya.

"Assalamualaikum Kak, apa Rania ada di situ?" tanyanya.

"Tidak ada, dia tidak bilang mau kesini. Memangnya ada apa, apa kalian bertengkar lagi?" tanya Tiara.

"Tidak Kak, ya sudah terima kasih. Assalamualaikum,"

Alif segera memutuskan panggilan, ia tidak ingin kakak iparnya lebih banyak bertanya lagi. Kini hatinya semakin tidak nyaman mengetahui istrinya tidak ada di rumah kakaknya.

Setelah semua selesai berganti baju, mereka berangkat menuju ke kolam renang. Alif berhenti sebentar di minimarket untuk membelikan anaknya camilan, betapa terkejutnya dia melihat istrinya tengah berbicara dengan seorang pria. Hatinya panas, bahkan sudah lama ia tidak melihat senyum istrinya merekah seperti itu, ia terlihat bahagia sekali. Ingin rasanya ia menangis jika tidak mengingat sekarang berada di tempat umum, antara sedih bercampur amarah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Rasa cemburu itu membakar hatinya.

"Nia, jadi ini alasan mengapa kamu mantap ingin kita bercerai?"

Terpopuler

Comments

Dewa Rana

Dewa Rana

sukurin lu alif

2024-09-16

0

SBY army

SBY army

alif keterlaluan

2023-03-16

0

Alifia Najla Azhara

Alifia Najla Azhara

g kebayang 11 tahun Rania hidup dengan pria seperti Alif, pst mendrta

2023-02-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bertengkar Lagi
2 Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3 Bab 3 Sabar
4 Bab 4 Mertua Cerewet
5 Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6 Bab 6 Status Whatsapp
7 Bab 7 Ceraikan Aku
8 Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9 Bab 9 Rasa Yang Memudar
10 Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11 Bab 11 Tamu Tak di Undang
12 Bab 12 Tamparan
13 Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14 Bab 14 Minta Maaf
15 Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16 Bab 16 Cemburu
17 Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18 Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19 Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20 Bab 20 Perubahan Sikap
21 Bab 21 Membayar Kontrakan
22 Bab 22 Bertemu Mantan
23 Bab 23 Permintaan Maaf
24 Bab 24 Bertemu Lagi
25 Bab 25 Belajar Ikhlas
26 Bab 26 Ketahuan
27 Bab 27 Terusir
28 Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29 Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30 Bab 30 Lapor Polisi
31 Bab 31 Mencabut Laporan
32 Bab 32 Surat Panggilan
33 Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34 Bab 34 Sidang Pertama
35 Bab 35 Alisa Menghilang
36 Bab 36 Peringatan Keras
37 Bab 37 Kebun Binatang
38 Bab 38 Resmi Bercerai
39 Bab 39 Alif Sakit
40 Bab 40 Liburan
41 Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42 Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43 Bab 43 Menyatakan Perasaan
44 Bab 44 Alif dan Desi
45 Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46 Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47 Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48 Bab 48 Desi si Penggoda
49 Bab 49 Lewat Masa Iddah
50 Bab 50 Pencurian
51 Bab 51 Undangan Pernikahan
52 Bab 52 Alif Menikah
53 Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54 Bab 54 Terjebak
55 Bab 55 Di Sekap
56 Bab 56 Berhasil Kabur
57 Bab 57 Di Rumah Rangga
58 Bab 58 Kedatangan Alif
59 Bab 59 Bertemu Teman Lama
60 Bab 60 Restu Orang Tua
61 Bab 61 Sifat Asli Desi
62 Bab 62 Alif Minggat
63 Bab 63 Makan Malam Keluarga
64 Bab 64 Membeli Seserahan
65 Bab 65 Lamaran
66 Bab 66 Pisah Ranjang
67 Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68 Bab 68 Persiapan Pernikahan
69 Bab 69 Akhirnya Menikah
70 Bab 70 Malam Pertama
71 Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72 Bab 72 Bulan Madu
73 Bab 73 Alisa di Bully
74 Bab 74 Sosok Laila
75 Bab 75 Cemburu
76 Bab 76 Hamil
77 Bab 77 Rahasia Alisa
78 Bab 78 Ngidam
79 Bab 79 Keadilan
80 Bab 80 Kunjungan Alif
81 Bab 81 Jadi Korban Preman
82 Bab 82 Acara Empat Bulanan
83 Bab 83 Ayah Untuk Akila
84 Bab 84 Jalan-Jalan
85 Bab 85 Dona Salah Paham
86 Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87 Bab 87 Menyakiti Rania
88 Bab 88 Masuk RSJ
89 Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90 Bab 90 Alif Dan Laila
91 Bab 91 Melahirkan
92 Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93 Bab 93 Derita Laila
94 Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95 Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96 Bab 96 Ambisi Michelle
97 Bab 97 Paket Misterius
98 Bab 98 Isinya Mengerikan
99 Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100 Bab 100 Baby Naya di Culik
101 Pengumuman
102 Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103 Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104 Bab 103 Meninggalkan Rumah
105 Bab 104 Minta Maaf
106 Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107 Bab 106 Bertemu Rania
108 Bab 107 Mengunjungi Laila
109 Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110 pengumuman update
111 Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112 Bab 110 Permintaan Michelle
113 Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114 Bab 112 Bunuh Diri
115 Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116 Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117 Bab 114 Akhir Yang Indah
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1 Bertengkar Lagi
2
Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3
Bab 3 Sabar
4
Bab 4 Mertua Cerewet
5
Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6
Bab 6 Status Whatsapp
7
Bab 7 Ceraikan Aku
8
Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9
Bab 9 Rasa Yang Memudar
10
Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11
Bab 11 Tamu Tak di Undang
12
Bab 12 Tamparan
13
Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14
Bab 14 Minta Maaf
15
Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16
Bab 16 Cemburu
17
Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18
Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19
Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20
Bab 20 Perubahan Sikap
21
Bab 21 Membayar Kontrakan
22
Bab 22 Bertemu Mantan
23
Bab 23 Permintaan Maaf
24
Bab 24 Bertemu Lagi
25
Bab 25 Belajar Ikhlas
26
Bab 26 Ketahuan
27
Bab 27 Terusir
28
Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29
Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30
Bab 30 Lapor Polisi
31
Bab 31 Mencabut Laporan
32
Bab 32 Surat Panggilan
33
Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34
Bab 34 Sidang Pertama
35
Bab 35 Alisa Menghilang
36
Bab 36 Peringatan Keras
37
Bab 37 Kebun Binatang
38
Bab 38 Resmi Bercerai
39
Bab 39 Alif Sakit
40
Bab 40 Liburan
41
Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42
Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43
Bab 43 Menyatakan Perasaan
44
Bab 44 Alif dan Desi
45
Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46
Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47
Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48
Bab 48 Desi si Penggoda
49
Bab 49 Lewat Masa Iddah
50
Bab 50 Pencurian
51
Bab 51 Undangan Pernikahan
52
Bab 52 Alif Menikah
53
Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54
Bab 54 Terjebak
55
Bab 55 Di Sekap
56
Bab 56 Berhasil Kabur
57
Bab 57 Di Rumah Rangga
58
Bab 58 Kedatangan Alif
59
Bab 59 Bertemu Teman Lama
60
Bab 60 Restu Orang Tua
61
Bab 61 Sifat Asli Desi
62
Bab 62 Alif Minggat
63
Bab 63 Makan Malam Keluarga
64
Bab 64 Membeli Seserahan
65
Bab 65 Lamaran
66
Bab 66 Pisah Ranjang
67
Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68
Bab 68 Persiapan Pernikahan
69
Bab 69 Akhirnya Menikah
70
Bab 70 Malam Pertama
71
Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72
Bab 72 Bulan Madu
73
Bab 73 Alisa di Bully
74
Bab 74 Sosok Laila
75
Bab 75 Cemburu
76
Bab 76 Hamil
77
Bab 77 Rahasia Alisa
78
Bab 78 Ngidam
79
Bab 79 Keadilan
80
Bab 80 Kunjungan Alif
81
Bab 81 Jadi Korban Preman
82
Bab 82 Acara Empat Bulanan
83
Bab 83 Ayah Untuk Akila
84
Bab 84 Jalan-Jalan
85
Bab 85 Dona Salah Paham
86
Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87
Bab 87 Menyakiti Rania
88
Bab 88 Masuk RSJ
89
Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90
Bab 90 Alif Dan Laila
91
Bab 91 Melahirkan
92
Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93
Bab 93 Derita Laila
94
Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95
Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96
Bab 96 Ambisi Michelle
97
Bab 97 Paket Misterius
98
Bab 98 Isinya Mengerikan
99
Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100
Bab 100 Baby Naya di Culik
101
Pengumuman
102
Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103
Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104
Bab 103 Meninggalkan Rumah
105
Bab 104 Minta Maaf
106
Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107
Bab 106 Bertemu Rania
108
Bab 107 Mengunjungi Laila
109
Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110
pengumuman update
111
Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112
Bab 110 Permintaan Michelle
113
Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114
Bab 112 Bunuh Diri
115
Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116
Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117
Bab 114 Akhir Yang Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!