Bab 9 Rasa Yang Memudar

"Nia, kamu mau kemana?" tanya Alif.

Rania memilih tidak menjawab, ia bergegas menjalankan motor tanpa arah dan tujuan. Ia hanya ingin sendiri menumpahkan segala gundah di hati, tanpa kedua anaknya lihat. Ia berhenti di sebuah taman, sendiri duduk di bangku dengan tatapan kosong.

"Mengapa hidup ku selalu di penuhi penderitaan Tuhan, aku tidak sanggup jika terus seperti ini. Bagaimana nasib kedua anak ku jika terus bersamanya, apa yang harus aku lakukan," ratap Rania di sela tangisnya.

Satu-satunya yang membuatnya kuat dan bertahan hingga saat ini memang hanya kedua buah hatinya, rasa cintanya sudah lama memudar tergerus oleh keegoisan suaminya. Fakta-fakta yang tidak pernah di tunjukkan ketika mereka berpacaran mulai terkuak seiring lamanya mereka berumah tangga. Semua yang ia lakukan kini tidak lebih dari sebuah kewajiban atas nama pernikahan. Suka tidak suka, mau tidak mau tetap harus dia jalani.

Setelah puas mengeluarkan semua yang tersimpan di hati, Rania kembali pulang. Ia tak pernah bisa pergi lama tanpa anak-anaknya, ikatan seorang ibu dengan anaknya memang tidak bisa di pisahkan.

"Ibu... Ibu kemana sih?" tanya Bintang dengan suara khas anak kecil, langsung memeluk Rania.

Mata putranya tampak basah, sepertinya dia habis menangis. Mungkin tadi dia mencarinya, selama ini mereka memang tidak pernah berpisah pun hanya sebentar.

"Maafkan Ibu ya, tadi keluar sebentar tapi karena Bintang sedang sakit jadi tidak ibu ajak," ucap Rania sembari memeluk dan mengelus kepala putranya.

Ia memberikan roti kesukaan putranya yang sempat ia beli, Alisa juga di belikannya karena ia selalu adil kepada anaknya, ia tidak ingin ada rasa iri satu sama lain. Ibu Rania selalu mengajarkan untuk selalu bersikap adil kepada anak-anak sejak kecil, karena itu akan memupuk perasaannya, sikap yang akan mereka tunjukkan saat dewasa kelak.

"Terima kasih, Ibu," ucap keduanya.

Kedua anak itu mendekap ibu mereka penuh kasih. Hal sederhana namun sudah mampu membuat mereka tersenyum merekah, karena sejatinya kebahagiaan itu dapat kita ciptakan sendiri. Rasa bahagia segera memenuhi relung hati Rania hanya dengan melihat mereka tersenyum.

"Nia, ayo kita makan. Dari tadi kamu belum makan," ajak Alif.

Wanita itu baru sadar jika seharian ini belum menyentuh nasi, tadi ia hanya memakan 2 buah gorengan karena lapar. Namun ia masih belum berselera, kelakuan Alif yang tak pernah sadar dan selalu menganggap tidak ada apa-apa setelah bertengkar membuatnya benar-benar merasa muak. Sepertinya pria itu tidak akan berubah dan itu berarti pernikahan mereka akan selesai begitu saja.

"Kenapa kamu tidak menjawab, apa kamu masih marah pada ku? Kenapa sekarang kamu menjadi sangat perhitungan sih?" tanya Alif santai.

"Kamu bilang aku perhitungan, apa aku tidak salah dengar? Bertahun-tahun aku bekerja di kantor, tapi aku bahkan tidak punya barang-barang branded, tidak punya perhiasan, bahkan aku tidak sanggup untuk sekedar memberi orang tua ku uang yang aku dapat dari hasil keringat ku sendiri. Aku lebih mementingkan keluarga kita, karena jika aku memiliki uang kamu bahkan tidak memberi ku nafkah sepeserpun, semua menggunakan uang ku. Kamu baru memberi ku nafkah hanya baru-baru ini saja dan itu jauh dari kata layak, tetap aku yang harus pontang panting memenuhi kekurangannya," jawab Rania.

"Kamu itu seorang pria, kepala rumah tangga namun selama ini tidak menyiratkan itu semua. Aku benar-benar lelah menunggu perubahan mu, aku rasa sudah cukup 11 tahun ini aku berjuang. Hanya satu bulan waktu mu untuk membuktikan, maafkan aku jika harus menggugat mu. Aku tidak mau Alisa dan Bintang hidup bersama ayah yang tidak bertanggung jawab dengan kehidupan mereka," imbuh Rania.

Bagaikan di hantam sembilu, pedih tak terkira yang di rasakan Alif saat itu. Menurutnya selama ini dia telah melakukan semua segenap tenaga, namun tak pernah membuat istrinya puas. Walaupun dia tahu apa yang di berikannya memang jauh dari kata cukup, tapi memang hanya segitu yang bisa ia dapatkan.

Pria itu memilih pergi keluar untuk merokok dan tidak menanggapi kemarahan istrinya, karena dia pasti akan kalah. Siapa yang bisa mengalahkan wanita yang sedang emosi tingkat jiwa, jika nekad sama saja dengan sukarela masuk ke kandang singa, begitulah kira-kira yang ada di kepala Alif saat ini.

"Pergi, pergi saja sana yang jauh dan tak perlu kembali. Memang hanya itu yang kamu bisa,"

Lagi-lagi Rania tidak dapat mengontrol emosinya, sampai-sampai kedua buah hatinya terlihat ketakutan dan hampir menangis. Rania segera mendekap mereka dengan penuh rasa bersalah.

"Maafkan Ibu ya Nak, kalian jangan takut lagi,"

"Kenapa Ibu dan Ayah sekarang sering bertengkar?" tanya Alisa dengan lugunya.

"Maaf ya Nak, mungkin karena ada sedikit beda pendapat makanya kita bertengkar. Tolong jangan di tiru hal-hal yang buruk ya Nak, orang tua juga bisa berbuat salah," jawab Rania.

☆☆☆

Beberapa saat berlalu, Alisa telah berangkat mengaji sedang suaminya juga sudah berangkat bekerja. Rania masih menemani Bintang yang masih terlihat lemah. Uang yang ia miliki sudah tinggal sedikit, entah bagaimana keluarganya akan bertahan hidup sedang gaji suaminya yang tidak pasti turunnya tidak dapat di harapkan. Selain tidak banyak, juga sangat sering terlambat.

Tring... tring...

Suara dering ponsel yang begitu nyaring membuyarkan lamunannya. Ia segera ke nakas untuk mengambil ponselnya yang ia geletakkan begitu saja. Kakak laki-lakinya yang menghubungi.

"Assalamualaikum, Mas," sapanya.

"Waalaikumsalam salam, bagaimana kabar kalian semua di sana?"

"Alhamdulillah baik, hanya saja Bintang sedang sakit. Tadi sudah aku bawa ke dokter, kata dokter hanya sakit biasa tidak parah. Mas Bagas dan keluarga bagaimana kabarnya?"

"Semoga keponakan ku cepat sembuh ya. Alhamdulillah kita semua baik-baik saja, Mas mendengar cerita mu dengan Alif dan keluarganya dari Tiara. Sampai kapan kamu akan bertahan dengan pria seperti itu, Nia? Hidup mu terlalu sia-sia bersamanya, sebagai kakak mu tidak sanggup rasanya melihat adik kesayangan ku menderita,"

Rania tidak dapat membela diri lagi, pasti kakak perempuannya telah menceritakan semuanya. Selama ini dia selalu menjaga nama suaminya di depan keluarganya, namun sepertinya masalah ini sudah tidak bisa ia tutup-tutupi lagi.

"Entahlah Mas, aku memberinya waktu sebulan untuk membuktikan keseriusannya mempertahankan pernikahan ini. Namun jika dia masih belum berubah, mungkin aku memilih berpisah,"

"Apakah kamu masih mencintai pria itu, Nia?"

"Rasa itu telah memudar Mas, aku bertahan hanya demi anak-anak,"

"Perceraian itu sangat di benci Tuhan, namun apabila bersatu hanya menimbulkan kesakitan untuk semua pihak maka tidak ada jalan yang lain. Pikirkanlah matang-matang, jangan pernah mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Apa yang akan kamu putuskan akan berpengaruh besar terhadap hidup mu dan anak-anak mu nanti,"

Rania menghela napas, apa yang di katakan kakaknya memang benar. Ia tidak boleh mengambil keputusan tergesa-gesa. Namun ia tidak yakin mampu memupuk rasa cinta terhadap suaminya lagi, terlalu banyak kekecewaan yang ia terima selama ini dari pria pilihannya itu.

Terpopuler

Comments

Dewa Rana

Dewa Rana

setujuuuu

2024-09-16

0

Dewa Rana

Dewa Rana

kerja apa sih si alif

2024-09-16

0

Dewa Rana

Dewa Rana

gak punya uang tapi masih merokok

2024-09-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bertengkar Lagi
2 Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3 Bab 3 Sabar
4 Bab 4 Mertua Cerewet
5 Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6 Bab 6 Status Whatsapp
7 Bab 7 Ceraikan Aku
8 Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9 Bab 9 Rasa Yang Memudar
10 Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11 Bab 11 Tamu Tak di Undang
12 Bab 12 Tamparan
13 Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14 Bab 14 Minta Maaf
15 Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16 Bab 16 Cemburu
17 Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18 Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19 Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20 Bab 20 Perubahan Sikap
21 Bab 21 Membayar Kontrakan
22 Bab 22 Bertemu Mantan
23 Bab 23 Permintaan Maaf
24 Bab 24 Bertemu Lagi
25 Bab 25 Belajar Ikhlas
26 Bab 26 Ketahuan
27 Bab 27 Terusir
28 Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29 Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30 Bab 30 Lapor Polisi
31 Bab 31 Mencabut Laporan
32 Bab 32 Surat Panggilan
33 Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34 Bab 34 Sidang Pertama
35 Bab 35 Alisa Menghilang
36 Bab 36 Peringatan Keras
37 Bab 37 Kebun Binatang
38 Bab 38 Resmi Bercerai
39 Bab 39 Alif Sakit
40 Bab 40 Liburan
41 Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42 Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43 Bab 43 Menyatakan Perasaan
44 Bab 44 Alif dan Desi
45 Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46 Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47 Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48 Bab 48 Desi si Penggoda
49 Bab 49 Lewat Masa Iddah
50 Bab 50 Pencurian
51 Bab 51 Undangan Pernikahan
52 Bab 52 Alif Menikah
53 Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54 Bab 54 Terjebak
55 Bab 55 Di Sekap
56 Bab 56 Berhasil Kabur
57 Bab 57 Di Rumah Rangga
58 Bab 58 Kedatangan Alif
59 Bab 59 Bertemu Teman Lama
60 Bab 60 Restu Orang Tua
61 Bab 61 Sifat Asli Desi
62 Bab 62 Alif Minggat
63 Bab 63 Makan Malam Keluarga
64 Bab 64 Membeli Seserahan
65 Bab 65 Lamaran
66 Bab 66 Pisah Ranjang
67 Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68 Bab 68 Persiapan Pernikahan
69 Bab 69 Akhirnya Menikah
70 Bab 70 Malam Pertama
71 Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72 Bab 72 Bulan Madu
73 Bab 73 Alisa di Bully
74 Bab 74 Sosok Laila
75 Bab 75 Cemburu
76 Bab 76 Hamil
77 Bab 77 Rahasia Alisa
78 Bab 78 Ngidam
79 Bab 79 Keadilan
80 Bab 80 Kunjungan Alif
81 Bab 81 Jadi Korban Preman
82 Bab 82 Acara Empat Bulanan
83 Bab 83 Ayah Untuk Akila
84 Bab 84 Jalan-Jalan
85 Bab 85 Dona Salah Paham
86 Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87 Bab 87 Menyakiti Rania
88 Bab 88 Masuk RSJ
89 Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90 Bab 90 Alif Dan Laila
91 Bab 91 Melahirkan
92 Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93 Bab 93 Derita Laila
94 Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95 Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96 Bab 96 Ambisi Michelle
97 Bab 97 Paket Misterius
98 Bab 98 Isinya Mengerikan
99 Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100 Bab 100 Baby Naya di Culik
101 Pengumuman
102 Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103 Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104 Bab 103 Meninggalkan Rumah
105 Bab 104 Minta Maaf
106 Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107 Bab 106 Bertemu Rania
108 Bab 107 Mengunjungi Laila
109 Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110 pengumuman update
111 Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112 Bab 110 Permintaan Michelle
113 Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114 Bab 112 Bunuh Diri
115 Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116 Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117 Bab 114 Akhir Yang Indah
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1 Bertengkar Lagi
2
Bab 2 Lelah Yang Terbayar
3
Bab 3 Sabar
4
Bab 4 Mertua Cerewet
5
Bab 5 Tidak Pernah di Hargai
6
Bab 6 Status Whatsapp
7
Bab 7 Ceraikan Aku
8
Bab 8 Ku Beri Waktu Sebulan
9
Bab 9 Rasa Yang Memudar
10
Bab 10 Rezeki Yang Tak Terduga
11
Bab 11 Tamu Tak di Undang
12
Bab 12 Tamparan
13
Bab 13 Akhir Dari Segalanya
14
Bab 14 Minta Maaf
15
Bab 15 Mengenang Masa Lalu
16
Bab 16 Cemburu
17
Bab 17 Kejadian di Kolam Renang
18
Bab 18 Mengancam Bunuh Diri
19
Bab 19 Demi Rasa Kemanusiaan
20
Bab 20 Perubahan Sikap
21
Bab 21 Membayar Kontrakan
22
Bab 22 Bertemu Mantan
23
Bab 23 Permintaan Maaf
24
Bab 24 Bertemu Lagi
25
Bab 25 Belajar Ikhlas
26
Bab 26 Ketahuan
27
Bab 27 Terusir
28
Bab 28 Kejadian di Rumah Alif
29
Bab 29 Kedatangan Ibu Mertua
30
Bab 30 Lapor Polisi
31
Bab 31 Mencabut Laporan
32
Bab 32 Surat Panggilan
33
Bab 33 Di Tuduh Selingkuh
34
Bab 34 Sidang Pertama
35
Bab 35 Alisa Menghilang
36
Bab 36 Peringatan Keras
37
Bab 37 Kebun Binatang
38
Bab 38 Resmi Bercerai
39
Bab 39 Alif Sakit
40
Bab 40 Liburan
41
Bab 41 Mengunjungi Orang Tua Rangga
42
Bab 42 Tidur Satu Ranjang
43
Bab 43 Menyatakan Perasaan
44
Bab 44 Alif dan Desi
45
Bab 45 Kenikmatan Satu Malam
46
Bab 46 Pertemuan Tidak Terduga
47
Bab 47 Ke Sekolah Alisa
48
Bab 48 Desi si Penggoda
49
Bab 49 Lewat Masa Iddah
50
Bab 50 Pencurian
51
Bab 51 Undangan Pernikahan
52
Bab 52 Alif Menikah
53
Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses
54
Bab 54 Terjebak
55
Bab 55 Di Sekap
56
Bab 56 Berhasil Kabur
57
Bab 57 Di Rumah Rangga
58
Bab 58 Kedatangan Alif
59
Bab 59 Bertemu Teman Lama
60
Bab 60 Restu Orang Tua
61
Bab 61 Sifat Asli Desi
62
Bab 62 Alif Minggat
63
Bab 63 Makan Malam Keluarga
64
Bab 64 Membeli Seserahan
65
Bab 65 Lamaran
66
Bab 66 Pisah Ranjang
67
Bab 67 Keputusan Ku Sudah Bulat
68
Bab 68 Persiapan Pernikahan
69
Bab 69 Akhirnya Menikah
70
Bab 70 Malam Pertama
71
Bab 71 Rania Bahagia, Alif Terluka
72
Bab 72 Bulan Madu
73
Bab 73 Alisa di Bully
74
Bab 74 Sosok Laila
75
Bab 75 Cemburu
76
Bab 76 Hamil
77
Bab 77 Rahasia Alisa
78
Bab 78 Ngidam
79
Bab 79 Keadilan
80
Bab 80 Kunjungan Alif
81
Bab 81 Jadi Korban Preman
82
Bab 82 Acara Empat Bulanan
83
Bab 83 Ayah Untuk Akila
84
Bab 84 Jalan-Jalan
85
Bab 85 Dona Salah Paham
86
Bab 86 Rahasia Yang terungkap
87
Bab 87 Menyakiti Rania
88
Bab 88 Masuk RSJ
89
Bab 89 Menikah Ke-3 Kalinya
90
Bab 90 Alif Dan Laila
91
Bab 91 Melahirkan
92
Bab 92 Selamat Datang Abhinaya
93
Bab 93 Derita Laila
94
Bab 94 Akila Jadi Rebutan
95
Bab 95 Kedatangan Teman Lama
96
Bab 96 Ambisi Michelle
97
Bab 97 Paket Misterius
98
Bab 98 Isinya Mengerikan
99
Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya
100
Bab 100 Baby Naya di Culik
101
Pengumuman
102
Bab 101 Selamat Tinggal, Sayang
103
Bab 102 Bu Nani Pembunuh?
104
Bab 103 Meninggalkan Rumah
105
Bab 104 Minta Maaf
106
Bab 105 Bayar Hutang Kalian
107
Bab 106 Bertemu Rania
108
Bab 107 Mengunjungi Laila
109
Bab 108 Mengerjai Mertua Laila
110
pengumuman update
111
Bab 109 Michelle Menyukai Anto?
112
Bab 110 Permintaan Michelle
113
Bab 111 Ternyata Dia Masih Mencintainya
114
Bab 112 Bunuh Diri
115
Bab 113 Cinta Yang Datang Terlambat
116
Bab 113 Kecelakaan Membawa Berkah
117
Bab 114 Akhir Yang Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!