"Nia, kamu mau kemana?" tanya Alif.
Rania memilih tidak menjawab, ia bergegas menjalankan motor tanpa arah dan tujuan. Ia hanya ingin sendiri menumpahkan segala gundah di hati, tanpa kedua anaknya lihat. Ia berhenti di sebuah taman, sendiri duduk di bangku dengan tatapan kosong.
"Mengapa hidup ku selalu di penuhi penderitaan Tuhan, aku tidak sanggup jika terus seperti ini. Bagaimana nasib kedua anak ku jika terus bersamanya, apa yang harus aku lakukan," ratap Rania di sela tangisnya.
Satu-satunya yang membuatnya kuat dan bertahan hingga saat ini memang hanya kedua buah hatinya, rasa cintanya sudah lama memudar tergerus oleh keegoisan suaminya. Fakta-fakta yang tidak pernah di tunjukkan ketika mereka berpacaran mulai terkuak seiring lamanya mereka berumah tangga. Semua yang ia lakukan kini tidak lebih dari sebuah kewajiban atas nama pernikahan. Suka tidak suka, mau tidak mau tetap harus dia jalani.
Setelah puas mengeluarkan semua yang tersimpan di hati, Rania kembali pulang. Ia tak pernah bisa pergi lama tanpa anak-anaknya, ikatan seorang ibu dengan anaknya memang tidak bisa di pisahkan.
"Ibu... Ibu kemana sih?" tanya Bintang dengan suara khas anak kecil, langsung memeluk Rania.
Mata putranya tampak basah, sepertinya dia habis menangis. Mungkin tadi dia mencarinya, selama ini mereka memang tidak pernah berpisah pun hanya sebentar.
"Maafkan Ibu ya, tadi keluar sebentar tapi karena Bintang sedang sakit jadi tidak ibu ajak," ucap Rania sembari memeluk dan mengelus kepala putranya.
Ia memberikan roti kesukaan putranya yang sempat ia beli, Alisa juga di belikannya karena ia selalu adil kepada anaknya, ia tidak ingin ada rasa iri satu sama lain. Ibu Rania selalu mengajarkan untuk selalu bersikap adil kepada anak-anak sejak kecil, karena itu akan memupuk perasaannya, sikap yang akan mereka tunjukkan saat dewasa kelak.
"Terima kasih, Ibu," ucap keduanya.
Kedua anak itu mendekap ibu mereka penuh kasih. Hal sederhana namun sudah mampu membuat mereka tersenyum merekah, karena sejatinya kebahagiaan itu dapat kita ciptakan sendiri. Rasa bahagia segera memenuhi relung hati Rania hanya dengan melihat mereka tersenyum.
"Nia, ayo kita makan. Dari tadi kamu belum makan," ajak Alif.
Wanita itu baru sadar jika seharian ini belum menyentuh nasi, tadi ia hanya memakan 2 buah gorengan karena lapar. Namun ia masih belum berselera, kelakuan Alif yang tak pernah sadar dan selalu menganggap tidak ada apa-apa setelah bertengkar membuatnya benar-benar merasa muak. Sepertinya pria itu tidak akan berubah dan itu berarti pernikahan mereka akan selesai begitu saja.
"Kenapa kamu tidak menjawab, apa kamu masih marah pada ku? Kenapa sekarang kamu menjadi sangat perhitungan sih?" tanya Alif santai.
"Kamu bilang aku perhitungan, apa aku tidak salah dengar? Bertahun-tahun aku bekerja di kantor, tapi aku bahkan tidak punya barang-barang branded, tidak punya perhiasan, bahkan aku tidak sanggup untuk sekedar memberi orang tua ku uang yang aku dapat dari hasil keringat ku sendiri. Aku lebih mementingkan keluarga kita, karena jika aku memiliki uang kamu bahkan tidak memberi ku nafkah sepeserpun, semua menggunakan uang ku. Kamu baru memberi ku nafkah hanya baru-baru ini saja dan itu jauh dari kata layak, tetap aku yang harus pontang panting memenuhi kekurangannya," jawab Rania.
"Kamu itu seorang pria, kepala rumah tangga namun selama ini tidak menyiratkan itu semua. Aku benar-benar lelah menunggu perubahan mu, aku rasa sudah cukup 11 tahun ini aku berjuang. Hanya satu bulan waktu mu untuk membuktikan, maafkan aku jika harus menggugat mu. Aku tidak mau Alisa dan Bintang hidup bersama ayah yang tidak bertanggung jawab dengan kehidupan mereka," imbuh Rania.
Bagaikan di hantam sembilu, pedih tak terkira yang di rasakan Alif saat itu. Menurutnya selama ini dia telah melakukan semua segenap tenaga, namun tak pernah membuat istrinya puas. Walaupun dia tahu apa yang di berikannya memang jauh dari kata cukup, tapi memang hanya segitu yang bisa ia dapatkan.
Pria itu memilih pergi keluar untuk merokok dan tidak menanggapi kemarahan istrinya, karena dia pasti akan kalah. Siapa yang bisa mengalahkan wanita yang sedang emosi tingkat jiwa, jika nekad sama saja dengan sukarela masuk ke kandang singa, begitulah kira-kira yang ada di kepala Alif saat ini.
"Pergi, pergi saja sana yang jauh dan tak perlu kembali. Memang hanya itu yang kamu bisa,"
Lagi-lagi Rania tidak dapat mengontrol emosinya, sampai-sampai kedua buah hatinya terlihat ketakutan dan hampir menangis. Rania segera mendekap mereka dengan penuh rasa bersalah.
"Maafkan Ibu ya Nak, kalian jangan takut lagi,"
"Kenapa Ibu dan Ayah sekarang sering bertengkar?" tanya Alisa dengan lugunya.
"Maaf ya Nak, mungkin karena ada sedikit beda pendapat makanya kita bertengkar. Tolong jangan di tiru hal-hal yang buruk ya Nak, orang tua juga bisa berbuat salah," jawab Rania.
☆☆☆
Beberapa saat berlalu, Alisa telah berangkat mengaji sedang suaminya juga sudah berangkat bekerja. Rania masih menemani Bintang yang masih terlihat lemah. Uang yang ia miliki sudah tinggal sedikit, entah bagaimana keluarganya akan bertahan hidup sedang gaji suaminya yang tidak pasti turunnya tidak dapat di harapkan. Selain tidak banyak, juga sangat sering terlambat.
Tring... tring...
Suara dering ponsel yang begitu nyaring membuyarkan lamunannya. Ia segera ke nakas untuk mengambil ponselnya yang ia geletakkan begitu saja. Kakak laki-lakinya yang menghubungi.
"Assalamualaikum, Mas," sapanya.
"Waalaikumsalam salam, bagaimana kabar kalian semua di sana?"
"Alhamdulillah baik, hanya saja Bintang sedang sakit. Tadi sudah aku bawa ke dokter, kata dokter hanya sakit biasa tidak parah. Mas Bagas dan keluarga bagaimana kabarnya?"
"Semoga keponakan ku cepat sembuh ya. Alhamdulillah kita semua baik-baik saja, Mas mendengar cerita mu dengan Alif dan keluarganya dari Tiara. Sampai kapan kamu akan bertahan dengan pria seperti itu, Nia? Hidup mu terlalu sia-sia bersamanya, sebagai kakak mu tidak sanggup rasanya melihat adik kesayangan ku menderita,"
Rania tidak dapat membela diri lagi, pasti kakak perempuannya telah menceritakan semuanya. Selama ini dia selalu menjaga nama suaminya di depan keluarganya, namun sepertinya masalah ini sudah tidak bisa ia tutup-tutupi lagi.
"Entahlah Mas, aku memberinya waktu sebulan untuk membuktikan keseriusannya mempertahankan pernikahan ini. Namun jika dia masih belum berubah, mungkin aku memilih berpisah,"
"Apakah kamu masih mencintai pria itu, Nia?"
"Rasa itu telah memudar Mas, aku bertahan hanya demi anak-anak,"
"Perceraian itu sangat di benci Tuhan, namun apabila bersatu hanya menimbulkan kesakitan untuk semua pihak maka tidak ada jalan yang lain. Pikirkanlah matang-matang, jangan pernah mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Apa yang akan kamu putuskan akan berpengaruh besar terhadap hidup mu dan anak-anak mu nanti,"
Rania menghela napas, apa yang di katakan kakaknya memang benar. Ia tidak boleh mengambil keputusan tergesa-gesa. Namun ia tidak yakin mampu memupuk rasa cinta terhadap suaminya lagi, terlalu banyak kekecewaan yang ia terima selama ini dari pria pilihannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Dewa Rana
setujuuuu
2024-09-16
0
Dewa Rana
kerja apa sih si alif
2024-09-16
0
Dewa Rana
gak punya uang tapi masih merokok
2024-09-16
0