Keesokan harinya,
Sean yang pagi pagi sudah menyelesaikan jogingnya itu kembali ke asramanya, namun saat joging juga Sean merasa bahwa ponselnya bergetar terus yang ia simpan di sakunya.
Sean melakukan joging pagi sambil mendengarkan musik agar tidak bosan.
Kembali ke asramanya, meminum beberapa air putih lalu membuka ponselnya.
Jam masih menunjukan pukul set 9 pagi, latihan tim hari ini adalah jam 10 pagi dan masih ada waktu sebelum latihan.
Sean melihat bahwa Silva menelponnya berulang kali. Sean juga melakukan panggilan balik pada Silva.
Setelah beberapa saat dan tersambung. suara Silva langsung membombardir telinga Sean.
"Kemana saja kamu?"
"Aku hubungi dari tadi."
"Aku joging seperti biasanya."
"Ya meski begitu seharusnya kamu mengangkat dulu siapa tahu ini kabar buruk atau baik bagimu kan tidak tahu."
"Ya maaf, ada apa?" Tanya Sean.
"Kamu belum membaca surat kabar hari ini?"
"Aku tidak membaca surat kabar harian." Ungkap Sean santai.
"Memangnya ada apa?"
"Kamu ada di surat kabar harian hari ini." Ungkap Silva yang terdengar dari nadanya yang tak percaya namun semangat.
"Hah?" Sean kaget.
"Apa yang kamu bicarakan? Coba ulangi." Ucap Sean yang masih tidak percaya.
"Kamu masuk surat kabar olahraga hari ini."
"Surat kabar yang mana? Cepat, aku akan membelinya." Ungkap Sean yang bersemangat.
Ini merupakan pertama kalinya Sean masuk ke dalam hal seperti itu jadi tentu saja ia senang, meski tidak tahu apa isinya.
"Kamu masuk dalam 3 surat kabar olahraga ini, semuanya surat kabar olahraga yang meliput semua pertandingan liga di portugal mau itu liga 1 atau liga 2."Ungkapnya.
"Aku tahu tentang itu, jadi surat kabar apa saja?"
"Expresso, Correio da Manh, Jornal de Noticias. Semuanya surat kabar olahraga utama."
Sean yang mendengar itu tertegun, meski dia tidak suka membaca surat kabar, ia tahu tentang surat kabar itu karena dulu belum ada media online jadi berita apapun tentang olahraga akan di sampaikan di surat kabar ini, bukan olahraga saja.
"Oke aku akan membelinya sekarang." Ungkap Sean.
"Tunggu, tidak usah membelinya. Aku sudah mempunyai ketiganya, tunggu aku kesitu." Ungkap Silva.
Silva yang menjadi agen Sean juga sekarang tinggal di dekat daerah Sean, dia juga harus pindah beroperasi dan menargetkan pemain muda di daerah dekat tinggalnya sekarang. Jadi mudah untuk berkomunikasi dengan Sean bila ada apa apa.
Sean akhirnya menutup telpon karena Silva bilang dia akan datang. Sean pun kemudian membersihkan dirinya karena keringatnya sudah mulai kering dan tubuhnya juga sudah tidak terlalu panas.
Selesai Sean mandi, ketukan di pintu asrama juga datang, Sean membukanya dan ternyata itu adalah Silva.
"Ini!" Sambil memberikan 3 majalah kepada Sean, lalu dia mencari gelas dan mengambil air minum.
Sean duduk dan membuka halaman surat kabar pertama.
Expresso : Pemuda 17 tahun asal Asia
Judul dari majalah itu hanya begitu, Sean membaca isinya dan isinya adalah apa yang dikatakan oleh Jorge Costa dan Helder Ferreira namun banyak yang dilebihkan lebihkan supaya menarik minat para pembaca.
Di samping isinya ada photo Sean yang sedang menendang bola ke arah gawang namun melihat fotonya itu hanya terlihat punggungnya saja, mungkin di foto dari belakang.
Sean kemudian membuka surat kabar yang kedua.
Correio da Manh : Kekalahan telak oleh pemuda 17 tahun.
Saat melihat dan membaca judulnya Sean merasa aneh, Sean kemudian membaca isinya dan sama saja banyak yang di lebih lebihkan tapi isi kontennya menggunakan kalimat yang benar benar berbeda agar membuat para pembaca penasaran dan tidak bosan juga merasa belum membaca nya padahal isi intinya sama dengan Expresso.
Di sampingnya juga ada fotonya, fotonya sama saat menendang bola, tapi kali ini dari samping jadi terlihat jelas bagaimana Sean menendang.
Sean membuka surat kabar ketiga.
Jornal de Noticias : Apakah benar dia pemuda 17 tahun?
Sean membaca judul ini hampir langsung jatuh dari duduknya karena ia merasa judulnya sangat lucu.
'Ya tentu saja aku 17 tahun.'
Sean kemudian membaca isinya, kali ini isinya sedikit berbeda.
Disana ada kalimat yang mengungkapkan bahwa ketenangan Sean dala. menembak dan mengeksekusi tendangan tidak seperti pemain muda pada umumnya.
Sean membaca ini ingin tertawa karena ia merasa bahwa surat kabar ini terlalu konyol.
'Tentu saja tenang, itu hasil kerja kerasku selama ini. Aku ingin jadi pesepak bola profesional yang mendunia.'
Kemudian Sean melihat fotonya yang sekarang tampak jelas karena photo nya dari depan.
Terlihat juga ekspresi Sean yang tenang saat menendang bola, dengan wajah tampannya itu membuat fotonya sangat bagus.
"Bagaimana? Apakah senang?" Tanya Silva yang sudah duduk di ranjang kasur.
"Haha tentu, aku tidak menyangka semua ini terjadi saat pertana kali aku debut." Ungkap Sean.
"Dengan ini perhatian akan banyak padamu juga, tanggung jawab juga akan lebih besar dari sebelumnya. Kamu harus siap."
Sean mendengar itu juga menjadi serius, ia menyadari hal ini saat membaca tadi, meski Sean terlihat tidak berekspresi saat membaca namun ia memikirkan banyak hal ketika membaca surat kabar, salah satunya memikirkan tanggung jawab yang akan ia bawa di punggungnya, karena dirinya sudah mulai di kenal.
"Aku tahu."
"Baiklah, dengan itu kamu juga akan bisa mendapatkan sponsor jika menunjukan hasil yang lebih baik lagi."
Sean sekarang masih fokus pada masa depan yang akan ia raih, meski uang sponsor penting untuk membiayai hidupnya dan keluarganya, tapi jika kemampuannya belum cukup bagaimana bisa sponsor datang padanya.
"Iyaa."
"Aku tidak tahu, apakah aku boleh mengupload ini di instagramku?" Tanya Sean yang sudah mengeluarkan ponselnya dan akan memotret surat kabar.
"Tentu tak apa, tapi biar aku saja yang mengurusnya, kamu bersiap siap saja berangkat latihan." Ucapnya.
Sean juga melihat jam sudah jam 9 lebih, Sean kemudian bersiap.
Beberapa menit kemudian, diikuti Sean yang pergi berlatih dengan tim, Silva juga kembali ke rumah sewaannya.
Karena dia belum mandi dan belum apa apa. Ia juga harus mencari klien lain lagi untuk meningkatkan pengalaman dan penghasilannya.
Sean yang sampai di tempat latihan melihat belum ada yang datang, ia pun melakukan latihan ringan sendiri.
Ia berlatih tendangan bebas karena ia ingin mempunyai tembakan dan akurasi yang bagus jadi bisa mencetak banyak gol dengan memanfaatkan berbagai situasi.
Sean membuat jarak bermacam macam saat pelatihan tendangan bebas.
Pertama tama, 25 meter di lakukan sampai 5kali, lalu 27 meter 5 kali. Sampai jarak yang menurut Sean adalah jarak yang memungkinkan untuk di eksekusi langsung.
Sean yang berlatih tendangan bebas tidak merasa kelelahan juga. Saat Sean sedang berlatih tendangan bebas, pemain lainnya juga sudah mulai berdatangan bersama dengan para staff.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 255 Episodes
Comments
Tara Muzandi
waduh masih banyak typonya Thor, jadi harus diperbaiki lagi pengetikannya biar para readers bisa membaca dengan nyaman
2023-08-22
0
Taaku
mantap
2022-12-13
2