3 hari berikutnya, Sean masih berlatih di lapangan mini milik Boavista. Lapangan mini ini biasanya di pakai oleh tim tim akademi Boavista.
Sean melakukan latihan di lapangan mini karena ia tidak terpilih masuk daftar besar lagi, karena perrandingannya away, Sean memilih untuk berlatih dari pada ikut menonton ke sana.
2 pemain lainnya juga tidak tahu kemana, Sean tidak memperdulikannya.
Sean masih berlatih seperti biasanya, namun tingkat yang ia raih dalam mendribble semakin meningkat.
Ia juga sudah bisa merasakan bahwa ketika mendribble bola, ia sudah merasakan bahwa bolanya sudah menempel dengan kakinya.
Tapi saat mencoba untuk mencapai kecepatan maksimal seperti berlari tanpa bola, bola itu langsung berantakan dan tidak menempel di kaki Sean lagi.
Namun dengan kemajuan ini juga Sean sudah sangat merasa bangga dan senang.
"Belum cukup." Ujar Sean yang sudah gagal lagi dan lagi saat mencoba memakai kecepatan maksimal.
Di sekitar lapangan mini yang sepi ini, hanya Sean sendiri yang ada. Sean terbiasa dengan kebiasaan ini dan tidak pernah merasakan kesepian.
Bola demi bola di tendang, dan dribble demi dribble di lakukan.
Ada yang gagal dan ada yang sukses, namun saat sukses pun Sean merasa bahwa dia masih kurang.
Waktu berlalu, dan matahari sudah berada di tengah tengah. Sean mengakhiri latihannya dan membereskan bola bolanya.
Untuk beberapa saat, Sean berhenti karena merasa bahwa detak jantungnya berdebar kencang, dia takut.
'Kenapa aku?' Sean panik.
Selama latihan ia tidak pernah merasakan ini, ini baru terjadi sekarang.
Sean yang tidak tahu apa apa tiba tiba merasa pandangannya menjadi gelap, dan tubuhnya sangat lemas dan tak lama jatuh.
...
Di ruangan kesehatan akademi Boavista, Sean sedang berbaring di ranjang kasurnya. Namun matanya masih terturup rapat.
Setelah beberapa saat, mata Sean bergetar dan tak lama terbuka. Membuka matanya dengan bingung, karena merasa bahwa apa yang dilihatnya sekarang berbeda.
"Dimana aku?" Tanya Sean pelan, tidak tahu bertanya pada siapa.
"Kamu di ruang kesehatan, kamu kelelahan dan pingsan di lapangan."
"Jangan terlalu banyak memporsir staminamu, kamu sekarang dalam keadaan terlemah. Jadi jaga kesehatanmu, jangan sampai terulang lagi." Ucap dokter yang ada di ruangan Sean.
"Untuk beberapa hari kedepan, jangan berlatih dulu, kembalikan dulu staminamu sampai penuh, dan tubuhmu juga sepertinya tegang karena terlalu banyak berlatih."
Sean yang mendengar ini hanya merasa bahwa kepalanya sangat pusing karena baru saja bangun dan menerima banyak masukan.
Tapi dia menjawab dengan menganggukan kepalanya pada dokter itu.
Setelah beberapa saat, dokter pun pergi meninggalkan Sean sendirian di ruang perawatan.
"Aku tidak boleh menyerah, tapi dokter bilang harus beristirahat dulu." Keluh Sean.
Sean bingung untuk sementara waktu, tapi kemudian dia memilih untuk mendengarkan nasihat dokter itu.
Melihat ruangan di sekitarnya dan tak sengaja dia melihat ke jendela, "Hah? Sudah malam? Berapa lama aku pingsan?" Tanya Sean terkejut.
Sean memilih untuk berbaring di ranjang kasurnya lagi dan mencoba menutup matanya untuk tidur lagi karena dia merasa bahwa tubuhnya sangat lemah.
Di saat Sean tidur, teman teman tim U 19 nya sedang dalam keadaan buruk karena mereka menderita kekalahan di pertandingan hari ini melawan Tondela yang dimana tim itu berada di klasemen papan bawah, sedangkan tim Boavista u 19 berada di papan tengah.
Keadaan para pemain sangat buruk karena di pertandingan hari ini, pemain belakang mereka mendapatkan kartu merah dan harus bermain dengan 10 pemain.
Bukan itu saja, kekalahan hari ini juga kekalahan telak karena mereka kemasukkan 3 gol dan tidak bisa membalas 1 pun.
"Ku bilang, kamu harusnya dengan cepat mengoper padaku waktu peluang di dalam kotak penalti, jika begitu, mungkin kita bisa membayar 1 gol." Ucap penyerangnya pada salah satu pemain.
Pemain yang di katai itu tidak menjawabnya karena dia juga menyesal tapi mau bagaimana lagi pertandingan sudah berakhir.
"Sudah tidak usah saling menyalahkan, kita kalah dan benahi saja kedepannya." Ucap kapten tim yang mendengar pembicaraan itu.
Setelah itu para pemain juga tidak membicarakannnya lagi hanya bisa menyimpan semua kepahitan dalam diri mereka sendiri.
...
7 hari berlalu lagi,
Sean yang sudah berbaring dan beristirahat selama 7 hari ini di asramanya dan tidak melakukan pelatihan sama sekali mulai merasakan bahwa tubuhnya kembali bugar, bahkan sangat sangat bugar tidak tahu kenapa.
Datang ke tempat latihan sangat pagi, mendahului para staff dan pemain lainnya. Sean mulai pemanasan sendiri.
Setelah beberapa saat, mulai muncul para staff yang mulai mengatur peralatan latihan.
Mereka juga melihat Sean yang sudah datang lebih dulu dan sudah berkeringat deras.
"Sean sebenarnya sangat rajin, tapi kemampuannya masih kurang. Semoga kedepannya dia bisa ikut dengan tim." Ucap salah satu staff yang memperhatikan Sean.
"Benar, dia selalu begini tapi masih kurang. Kita lihat saja 2 hari lagi pertandingan dengan Facos Ferreira akan di gelar, apakah dia bisa masuk ke tim atau tidak." Jawab salah satunya lagi.
Sean tidak tahu apa apa tentang pembicaraan mereka, dirinya hanya fokus pada latihan yang ia lakukan.
Beberapa menit kemudian, para pemain lainnya juga sudah datang dan saling menyapa. Sean juga berhenti dan menyapa mereka.
"Sean, bagaimana tubuhmu sudah sehat lagi?"Tanya sang kapten pada Sean.
"Sudah kapten." Jawab Sean.
Sean pun berbincang dengan yang lainnya sambil menunggu pelatih datang.
Tak lama pelatih pun datang.
"Pemanasan dulu, setelah itu kita mainkan minigame." Ungkapnya setelah datang ke lapangan.
Pemain pun mulai pemanasan dengan langkah yang sudah di siapkan oleh para staff.
15 menit kemudian.
Para pemain selesai selesai dengan pemanasannya.
"Kita mulai mini game dulu. 3 vs 3."
Setelah itu pembagian pun di mulai. Mini game ini tak ada kipernya dan gawangnya pun kecil.
Lapangan juga di batasi sehingga ukuran lapangan sangat kecil.
Ini di buat untuk melatih fokus, passing, pergerakan, kerja sama dan finishing.
Karena di bagi bagi, mini game pun di mulai bersamaan.
Dengan di mulainya mini game, para pemain fokus agar tidak kalah dengan tim lainnya.
Para staff memperhatikannya, sedangkan pelatih dan assistennya mendiskusikan sesuatu sambil memperhatikan jalannya mini game.
"Coach, Sean sepertinya mengalami banyak kemajuan." Ucap asistennya.
"Memang, dia banyak berkembang selama ini. Lihat saja, cara dia bergerak mencari ruang untuk menerima operan, lihat juga cara dia menembak saat menemukan sedikit ruang. Sepertinya kemajuannya tidak sedikit." Ungkap Coach yang sedari tadi memperhatikan.
Sebenarnya coachnya juga sangat mempedulikan Sean karena mempunyai kecepatan yang cepat dan itu sangat di butuhkan bagi tim untuk memulai serangan balik atau pun menyerang melalui bagian sayap.
"Kuharap dia akan mengejutkan ku lagi." Ungkapnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 255 Episodes
Comments
glanter
sean ....
2023-04-26
2
Dikaa
Woaah keren sekali
2023-02-04
1
Ꮩווⲛⲛ࿐
bagus
2022-12-30
1