Wilayah lawan yang kosong akibat para pemain fokus menyerang dan meninggalkan wilayahnya.
Sean menggiring dengan cepat dan sudah melewati tengah lapangan.
Para pemain lawan juga mencoba mengejar dan menghentikan Sean, namun para pemain yang mengejar Sean tertinggal jauh, mencoba menghentikan dengan meraih bajunya namun raihan itu tidak sampai karena Sean yang terlalu cepat.
Saat sudah memasuki jarak 25 meter dari gawang, Sean memperlambat sedikit kecepatannya. Dia melirik ke samping sekilas dan menemukan bahwa pemain bertahan lawan sedang berlari menuju ke arahnya.
Sean tidak bisa menemukan Oliviera atau Victor karena terhalang oleh pemain bertahan lawan pandangannya.
Dia pun mencoba menggiringnya kedepan sedikit lagi, saat jarak dari gawang sudah 20 meter, Sean langsung melakukan tendangan dengan keras menuju pojok kiri.
Posisi kiper yang masih berusaha menutup sisi kirinya akhirnya telat menghadang celah itu, dan dengan terpaksa melompat mencoba meraih bola namun tendangan Sean sangat keras dan cepat sehingga jari jari kiper hanya merasa bahwa embusan angin telah lewat.
Dengan itu gol pun tercetak lagi oleh Sean, Sean yang sudah mencetak gol akhirnya sadar dengan cepat dan berlari menuju sudut lapangan untuk merayakannya.
Sampai di sudut lapangan, Sean langsung melakukan gerakan tangan membentuk tanda love. Setelah itu melakukan sujud seperti pemain muslim lainnya yang mencetak gol.
Rekan rekan tim Sean langsung menekan Sean saat Sean sudah selesai sujud syukurnya.
Sean yang sedang di bawah tidak siap dan merasa nafasnya tertekan namun dia tidak mempermasalahkannya, dia merasa sangat bahagia hari ini.
Wasit pun segera menyuruh para pemain kembali agar pertandingan bisa di mulai lagi.
Sebelum pertandingan dimulai lagi, pelatih Boavista melakukan pergantian.
Staff pertandingan dan wasit pengganti pun memberitahukan pemain yang diganti. Sean melihat kepinggir karena dia tidak tahu siapa yang di ganti oleh pelatih.
Saat melihat papan pengganti,
17 out, 26 in.
Sean langsung sadar bahwa dirinya adalah yang di ganti, dengan cepat dia ke pinggir lapangan.
Memberikan pelukan pada pemain nomor 26 itu dan resmi Sean di ganti.
Sean melangkah ke pelatih untuk berterima kasih dan bersalaman namun pelatih menghampirinya dan memeluknya.
"Kerja bagus." Ungkapnya.
Sean pun senang dan membalas pelukannya lalu kembali ke duduknya dengan para pemain lainnya.
Sean menonton sisa pertandingan yang masih berlangsung di pinggir lapangan.
Tak lama pertandingan pun berakhir.
Dengan skor 3 gol yang di ciptakan Boavista, Boavista meraih kemenangan setelah mengalami kekalahan di pertandingan terakhir.
Kini moral mereka pun terangkat lagi.
Semua pemain kembali ke ruang ganti.
Saat sampai di ruang ganti, pelatih pun bertepuk tangan, "Kerja kalian hari ini sangat bagus, kita sekarang meraih kemenangan dan sekarang kita berhasil naik ke peringkat 9 klasemen."
"Pertahankan kerja kalian seperti ini kedepannya. Baiklah evaluasi akan di lakukan nanti, sekarang bersalin."
Dengan itu para pemain mulai bersalin, namun masih ada yang cuek dan diam saja karena mereka merasa tidak perlu terburu buru, apalagi mereka berada di kandang mereka.
Sean tidak mengikuti mereka dan bersalin dengan cepat, setelah itu para pemain yang sudah bersalin kembali menuju bus.
Berada dalam bus dengan beberapa pemain, Sean mengeluarkan ponselnya untuk mendengarkan lagu supaya menenangkan dirinya.
Para pemain lainnya yang berada di bus juga melakukan hal yang sama.
Saat Sean sedang mendengarkan musik, assisten pelatih menghampirinya.
"Kerjamu bagus hari ini, usaha kerasmu terbayarkan hari ini. Jadi cobalah untuk tetap berusaha lebih keras lagi." Ungkapnya bangga pada Sean, namun tak lupa memberikan masukannya.
Yang di butuhkan pemain muda itu bukan hanya masukan tapi juga pujian agar membuatnya semangat.
"Baik." Sahut Sean. Dengan itu asisten pelatih pun pergi.
'Semoga dia tidak terlalu senang dan malah menjadi malas seperti yang lainnya. Ku harap kamu masih tetap mau bekerja keras.' Batin asisten pelatih yang sudah pergi dan kembali ke tempat duduknya.
...
Malam hari,
Di asrama, Sean yang sudah selesai melakukan ibadahnya pun membereskannya peralatan ibadahnya dengan rapih.
Ia tidak meninggalkan ibadahnya karena pesan orang tuanya, bukan itu saja, Sean juga merasa bahwa dirinya sudah dewasa dan memiliki tanggung jawab besar.
Kembali ke meja belajarnya, Sean mulai belajar bahasa bahasa yang sedang ia pelajarinya.
Sean tidak menyewa guru les karena kurangnya biaya, Keluarganya hanya keluarga biasa biasa saja.
Untuk memberikan kesempatan Sean bersekolah di Portugal saja itu menghabiskan banyak tabungan orang tuanya.
Sean belajar sendiri dan untung saja, dirinya termasuk dalam orang orang yang memiliki otak mudah mengingat. Jadi tak terlalu susah untuk mengingat kata kata bahasa asing.
Saat sedang belajar, ponsel yang ia simpan di kasur pun berdering. Sean melihat bahwa itu panggilan orang tuanya.
"Hallo bu?"
"Ada apa malam malam begini?" Tanya Sean.
"Oh ibu lupa waktu, bahwa di sana sudah malam." Ucapnya.
"Gapapa bu, ada apa?" Tanya Sean lagi.
"I-itu, maaf nak, apakah kamu punya uang di sana?" Tanya nya.
"Ada sedikit bu, aku disini berhemat."
"Oh baguslah, ibu minta maaf karena mungkin tidak bisa mengirim uang lagi untuk biaya hidupmu disana, usaha ayahmu sedang turun." Ungkapnya.
Sean yang mendengar itu pun merasa hatinya sangat sakit padahal dia sedang merasa senang karena bisa bermain dan mencetak gol.
"Oh tidak apa bu, ini cukup kok sampai 6 bulan lagi sebelum kontrak habis." Ungkap Sean mencoba menutupinya. Uang yang dia punya sekarang hanya bisa bertahan sekitar 3 bulanan lagi.
Orang tua Sean biasanya mengirim uang untuk biaya hidup Sean, meski Sean sudah di kontrak namun itu akan habis dan biaya kontraknya juga kecil.
"Kamu tidak menutupinya kan?" Tanya ibunya khawatir.
"Tidak bu, bagaimana kabar ibu, ayah, dan yang lainnya?" Tanya Sean balik.
"Kami baik baik saja di sana. Apakah kamu di sana tidak kesusahan?" Tanya nya lagi.
"Ibu tenang saja, mungkin dalam 1 tahun lagi namaku akan beredar luas." Ungkap Sean mencoba menenangkan ibunya. Ia berbicara asal karena tidak mau ibunya khawatir berlebihan dan mempengaruhi kesehatannya.
"Ohh kenapa?" Tanya ibu nya dengan penasaran.
"Aku sudah bermain di tim dan mencetak gol. Jadi ibu tenang saja, jangan lupa ibu juga doakan Sean supaya Sean sukses." Ungkap Sean.
Sean biasanya menceritakan bagaimana dia hidup di sini, mulai dari tidak masuk daftar besar dan lainnya. Ibunya selalu memberikan semangat dan doa, meski masih terdengar dari nadanya yang selalu khawatir, Sean selalu berusaha menenangkannya supaya tidak khawatir lagi.
"Ohh bagus, selamat. Anak ibu hebat. Doa ibu di terima. Ibu akan terus berdoa untukmu yang terbaik." Ungkapnya. Setelah itu keduanya mulai mengobrol lagi sebentar dan tak lama panggilan pun berakhir.
Sean menyimpan kembali ponselnya dan mulai belajar lagi sebentar sebelum tidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 255 Episodes
Comments
Tara Muzandi
kerja apa?kerja bagus
2023-08-22
0
decco
Good job😁
2023-06-13
4
Ra dhiraemon
lanjut
2023-06-06
2