Mei 2017,
Sean sedang berlatih seperti biasa di lapangan Boavista, dia kini sudah berusia 17 tahun.
Sean yang masih berusia 17 tahun memiliki tubuh setinggi 178 cm, namun tubuhnya belum terbentuk otot otot yang kuat, hanya di bagian kakinya saja.
Sean masih kurang jika ingin bermain di liga, Sean juga ingin membentuk otot ototnya dengan segera, tapi untuk pemain U 19 pelatihan belum menentukan ke arah mana pemain akan di kembangkan.
Jika sudah mendapatkan kontrak profesional, barulah klub juga akan membantunya menentukan arah perkembangan si pemain.
Sean sekarang sedang berlatih sambil menunggu kabar dari Silva yang akhir akhir ini sedang berusaha merundingkan kontrak dengan klub.
Silva sudah mencoba yang terbaik namun klub masih mempersulitnya.
Sean tidak terlalu memikirkannya hanya menunggunya saja. Sean fokus dengan latihannya.
Dalam pelatihan yang sering ia lakukan, Sean merasa bahwa kecepatan berlari tanpa bolanya juga meningkat.
Ketika Sean sedang fokus berlatih, Silva menghampirinya datang ke lapangan Boavista.
"Sean, aku sudah mendapatkan kontrak dari klub." Ucapnya bersemangat.
Sean juga berhenti berlatih dan menghampiri Silva yang sedang bertahan ke arahnya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Sean.
"Aku berhasil, klub setuju dengan permintaanku yang memberikanmu kontrak profesional."
Sean mendengar itu semangat.
'Karir profesional ku di mulai sekarang.'
Jika sudah mendapatkan kontrak profesional, pemain bisa bermain dengan tim utama dan berlatih dengan tim utama, berbeda dengan kontrak awal kemarin, dimana pemain hanya berlatih dan bermain untuk U 19, namun kadang juga jika pemainnya bagus, klub juga akan memberikan apresiasi dengan memberikan pemainnya izin untuk berlatih di tim utama, tapi jika kemungkinan mereka juga akan di berikan kesempatan untuk bermain di liga.
"Tapi melihatmu masih begini, aku juga langsung mengusulkan untuk meminjamkanmu ke tim lain supaya pengalamanmu bertambah dari pada duduk di bangku cadangan atau tidak masuk daftar besar."
"Ahh. Bagus." Ujar Sean yang awalnya tertegun. Sean setuju karena Sean sangat membutuhkan pengalaman yang banyak.
"Jadi klub mana?"
"Klub dan saya akan berusaha mencari klub yang bisa menjaminmu bermain, paling di liga 2 atau ke klub lain."
"Tak masalah dimanapun yang penting bermain."
"Jadi berapa lama kontraknya?"
"Klub meminta 5 tahun awalnya, tapi menurutku itu terlalu lama, jadi aku meminta 3 tahun dengan tambahan 1 tahun jika kamu bermain bagus."
"Biaya pengenalan kontrak tidak ada karena kamu berasal dari akademi."
"Aku mengerti."
"Gaji yang kamu dapatkan untuk saat ini adalah 3000 euro per bulan."
"Besok kamu dan aku akan datang lagi ke kantor untuk menanda tangani kontrak." Ungkapnya.
"Untuk sekarang dan kedepannya latihan yang baik, aku akan mengurus untuk pinjaman klubmu."
"Okee siap." Dengan itu, Silva pun pamit pergi lagi untuk mencari tempat bagi Sean nanti.
Meski baru saja selesai liga, tapi Silva harus bekerja dengan cepat supaya Sean juga bisa dengan tenang memikirkan masa depannya.
Sean melanjutkan latihannya lagi.
..
Malam hari,
Di asrama, Sean yang sudah selesai menunaikan ibadahnya kembali belajar beberapa bahasa lagi yang belum ia terlalu pahami.
Namun Sean terganggu karena ibunya menelpon seperti biasa.
"Hallo bu ada apa?"
"Nak ibu tidak mengganggumu kan?"
"Tidak bu, ada apa?"
"Menanyakan kabarmu, apakah kamu akan pulang ke Indonesia liburan ini?"
"Tidak bu, aku harus berlatih lagi. Maaf."
"Tidak apa. Jadi apakah kamu sudah mendapatkan kontrak baru atau harus mencari klub lain?"
"Jika belum, lebih baik pulang dulu. Di sini juga banyak klub sepak bola."
"Tidak bu, semuanya sudah di urus oleh agenku."
"Agen?"
"Kamu sudah mendapatkan agen?"
"Kenapa tidak bercerita dan bilang dulu?" Tanya ibunya khawatir.
"Maaf bu, mendesak."
"Yasudah ceritakan." Dengan itu juga Sean menceritakan dari awal, dimana dia bertemu Silva dan menandatangani Silva sebagai agennya.
"Semoga agen mu bisa di percaya. Dan juga merawatmu dengan baik."
"Iya semoga saja bu."
"Jadi agen mu sudah mengurus kontrak baru dengan klubmu?" Tanya ibunya.
"Iya sudah, besok aku akan tanda tangan kontrak baru."
"Syukurlah."
"Bu, bagaimana usaha ayah?" Tanya Sean.
"Masih seperti biasa."
"Kalau begitu, nanti aku akan mengirim uang setelah tanda tangan kontrak." Ungkap Sean.
"Jangann." Ibunya langsung menolak.
"Pakailah di sana dulu untuk biaya hidupmu, maaf juga ibu tidak bisa mengirim apa apa kesana."
"Tak apa bu, gajiku di sini lumayan."
"Memang berapa?"
" 3000 euro per bulan." Jelas Sean.
"Besarr."
"Iya bu, jadi nanti akan ku kirim setengahnya untuk biaya ibu disana, dan bisa membantu usaha ayah juga." Jelas Sean.
Ibunya tidak menjawab Sean, ibunya sedang menghitung berapa 3000 euro itu. Setelah menghitungnya, dia berteriak. Sean yang di ujung telpon juga kaget.
"Ada apa bu?"
"I-itu gajimu benar benar 3000 euro?"
"Betul bu, kalau rupiah sekitar 49 juta. Jadi nanti aku kirim ke ibu setengah." Ucap Sean.
Ibunya tidak menjawab lagi hanya menangis, Sean juga mendengar isak tangis ibunya dan memilih untuk diam.
Setelah beberapa saat, "Nak, jaga dirimu disana dengan baik, dan jadilah orang yang baik, jangan terlalu kelelahan. Ibu akan terus mendoakanmu." Ucapnya tiba tiba.
Sean juga merasa hangat hatinya dan hanya meneteskan air mata. Dia sudah tidak bertemu orang tuanya selama 1 tahun, dia juga merindukannya tapi demi mimpinya ia harus bisa bertahan.
"Baik buu." Jawab Sean, dengan itu beberapa obrolan kecil juga di obrolkan, bagaimana adiknya yang mendapatkan ranking 2 di sekolah dan sudah tumbuh jadi gadis kecil yang cantik.
Sean juga sudah lama tidak melihatnya, meski kadang kadang video call tapi tetap saja dia tidak bisa menganggu adik kecilnya itu.
Berakhirnya panggilan, Sean juga memilih untuk tidur karena harus bangun pagi pagi.
...
Keesokan paginya, Sean lari pagi terlebih dulu karena masih pagi, juga Silva menelpon tadi bahwa dia harus menandatangani kontraknya jam 10 pagi.
Karena banyak waktu, Sean juga memilih untuk latihan kecil dulu daripada menyia nyiakan waktu yang berharga itu.
Jam 10 pagi, Silva menunggu Sean di parkiran kantor Boavista.
"Hari ini kamu hanya menandatangani saja dan tidak perlu apa apa lagi."
"Okee." Dengan itu keduanya masuk ke kantor dan berjalan menuju ruangan yang sudah di tentukan.
Sesampainya di ruangan, Sean duduk dengan Silva menunggu kedatangan ketua klub dan yang lainnya.
Setelah beberapa saat, mereka datang. Sean dan Silva juga berdiri dan bersalaman.
"Jadi, sekarang kita sudah selesai. Sean, bagaimana kabarmu? 1 tahun lalu, aku melihatmu hanya pemain muda yang biasa saja, tapi aku tidak menyangka kamu berkembang dengan sangat baik." Ungkapnya dengan senyuman.
Sean yang mendengar itu tersenyum dan mengangguk, "Berkat kerja keras dan masukan para pelatih." ungkap Sean.
"Baiklah, Ayo tanda tangani terlebih dulu."
Sean juga mulai menandatangani kontraknya, Sean secara resmi memulai karir profesionalnya.
"Pilih nomormu?"
Sean tertegun.
"Bukannya saya akan di pinjamkan terlebih dulu?"
"Haha, untuk formalitas saja."
"Kalau begitu ada 17?"
"Ada yang memakainya."
"Kalau begitu 29 saja."
"Oke kosong."
Dengan itu, staff membawakan baju bernomor 29, Sean juga di photo menggunakan baju itu dengan ketua klubnya.
"Sekarang klub akan mencarikan klub untuk masa peminjamanmu, jadi berliburlah untuk saat ini."
"Tidak, saya akan berlatih disini karena saya merasa bahwa saya masih kurang." Ungkap Sean.
Ketua yang mendengar juga bangga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 255 Episodes
Comments
Dimas S
nomor yg sama denganku,,cuma beda posisi
2023-04-29
1
ASIKIN AJA
yang penting konsisten meskipun up lama thor
2023-04-03
0
Buana Lukman
bagus
2022-12-13
2