Ivana memberengut, kala semua dengan berbondong-bondong memindahkan barang-barangnya dari mansion utara menuju ke mansion utama milik Zach. Beberapa pelayan terdengar kasak-kusuk membicarakan tentang pemindahan itu.
Bahkan Ivana sempat mendengar bahwa Ivana-lah wanita yang mendapat perlakuan paling istimewa dibanding perempuan sebelumnya.
Sebelumnya?
Kata itu terus terngiang di rongga kepala Ivana, yang tak mampu ia usir meski banyak hal ia lakukan untuk mengalihkan perhatiannya dari satu hal yang tentu saja mengganggu baginya.
“Bagaimana menurutmu?” tanya sebuah suara bariton berat yang untuk sesaat sempat membuat bulu halus di sekujur tubuh Ivana hampir seluruhnya berdiri.
Ia masih selalu teringat tentang penyatuan antara dirinya dan Zach setiap kali nama pria itu disebut, atau tiap Ivana mendengar suaranya. Dan entah sudah berapa lama, Zach tidak menyebutkan apa pun mengenai penyatuan lain, yang sesungguhnya menjadi hal paling ditunggu oleh Ivana saat ini.
Gadis itu berbalik, memandangi tampilan rupawan di hadapannya. Ivana tak mungkin tidak kagum dengan paras Zach. Pakaian apa pun yang dikenakan oleh pria itu, seolah menyatu dengannya dan selalu tampak apik.
“Tentang apa?” tanya gadis itu. “Jika tentang pemindahan ini, kuberi tahu, kau seharusnya bertanya dan meminta pendapatku dulu. Bagaimana pun, aku punya hak atas diriku sendiri, Zach.”
Zach hanya mengangguk samar. Ia seharusnya tahu, apa pun yang dilakukannya pasti akan salah jika itu sudah berhubungan dengan Ivana.
Ia memang bukan gadis yang bisa ditekuk, hal itu sudah terlihat sejak awal Zach memutuskan untuk memilihnya menjadi ibu bagi anak-anaknya. Dimulai dari permintaannya yang menjadi syarat, lalu sikapnya yang keras kepala, bahkan ia menolak kemewahan yang Zach berikan. Padahal semua itu tertera dalam kontrak dan menjadi salah satu yang disyaratkan oleh Ivana sendiri.
“Aku hanya ingin menjauhkanmu dari ....”
Alis Ivana berkerut seketika saat Zach menjelaskan alasan mengapa ia memindahkan Ivana menuju ke mansion utama. Apakah ini artinya Zach mengetahui tentang Jeffry yang datang ke kamarnya?
Namun, bukankah Ivana sama sekali tidak mengatakan apa pun mengenai itu? Bagaimana caranya ....
“Intinya aku ingin melindungimu, Ivana. Kau akan tinggal di kamar yang berada di samping kamarku,” imbuh pria itu.
“Mengapa tidak di kamarmu sekalian? Bukankah aku ini sudah menjadi istrimu?” todong Ivana yang tak terima karena Zach masih saja membuat sekat antara dirinya dan Ivana.
“Karena aku tidak bisa. Sejak dulu—“
“Oke, tidak perlu dilanjutkan! Kau memiliki banyak kandidat. Itu yang ingin kau katakan, bukan? Dan lalu apa? Jika aku tidak berhasil memberimu anak, apakah kau akan memilih wanita lain yang sudah kau incar sejak lama?”
Zach tampak menghela napas, lalu mengembuskannya perlahan. Bukan seperti itu yang ia mau. Juga bukan begitu konsepnya. Seingatnya, ia telah menjelaskan mengenai jodoh pada Ivana. Ia telah mengatakan bahwa Ivana adalah jodohnya. Apakah itu kurang bisa menjelaskan pada gadis itu bahwa apa pun yang terjadi sama sekali tidak seperti yang ia pikirkan?
“Ivana ini bukan seperti apa yang kau pikirkan, ini—Ivana!”
Ivana sudah tidak lagi berada di kamarnya, melainkan sudah duduk di ruang tamu sembari menggulir telepon genggamnya.
“Aku belum selesai bicara,” ucap Zach, setelah berhasil menyusul Ivana. Namun, tak juga ada jawaban dari gadis itu, yang menandakan bahwa dirinya mendengar apa yang dikatakannya. “Apa yang kau lakukan dengan ponselmu? Bawa kemari! Apakah mantan bosmu itu menghubungimu lagi?”
Zach jelas tampak geram. Ia tak suka apa yang menjadi miliknya lantas ingin dimiliki oleh pria lain. Bukankah itu sifat dasar para lelaki? Meski Zach masih juga tidak serta-merta memberikan hatinya pada Ivana, tetap saja rasa cemburu terus menggelitik hatinya tiap kali seseorang memerhatikan Ivana.
Pernah terjadi, salah satu pengawal yang ia tunjuk untuk menjaga Ivana justru kerap melirik hingga terbengong memandangi paras Ivana.
Zach langsung memberhentikan pengawal tersebut dan menggantinya.
Kali ini, Ivana tidak sempat menyembunyikan ponselnya sebelum Zach meraih, karena gerakan pria itu ternyata jauh lebih gesit dibanding dirinya.
“What the hell, Zach!? Apa kau tidak sadar kalau ini sangat tidak adil? Kau boleh mengaturku, sementara aku tidak pernah bisa menyentuhmu atas keinginanku sendiri!” protes Ivana, yang tak mendapat respon dari Zach yang tengah sibuk memeriksa ponsel sang istri.
Ia tak menemukan apa pun, lantas mengembalikannya pada Ivana, kemudian hendak pergi begitu saja.
“Zach, tunggu!”
Pria itu berbalik dan menemukan Ivana sudah dengan tas pundaknya.
“Kau mau ke mana?” tanya Zach, yang mulai terdengar posesif. Namun, itu belum seberapa. “Kau tidak boleh ke mana pun jika tidak bersamaku.”
“Aku bosan hanya di rumah. Aku ingin pergi ke suatu tempat. Aku hanya sebentar.”
Zach memandangi penampilan Ivana sekilas. Dress sifon dengan motif bunga yang sedikit menerawang dan panjangnya hanya sebatas paha, rambut panjang tergerai yang tidak diikatnya, menguarkan aroma vanilla yang memabukkan.
“Dengan pakaian seperti itu?” Lelaki itu menajamkan tatapannya pada sang istri yang hanya berdiri mematung sembari mengerucutkan bibirnya. “Tidak! Kau tidak boleh pergi!”
Zach kemudian melanjutkan langkahnya yang tetap diikuti oleh Ivana yang tampak tak rela dengan keputusan sang suami.
Sejak menikah, ia tak pernah sekali pun keluar dari lingkungan mansion. Bahkan yang paling menyedihkan, tak pernah sekali pun Zach mengajaknya ke suatu tempat jika tidak diminta olehnya.
Ivana merindukan pemandangan luar mansion. Ia biasanya akan berkeliling dulu menikmati udara malam sepulang bekerja di kelab dulu. Bahkan pengawal yang dibayar oleh Jeffry untuk mengantarnya, selalu bersedia membawanya berkeliling sebentar.
Sementara, suaminya sendiri ....
Ivana sadar, pernikahan mereka tanpa didasari cinta, tetapi tidak seperti ini juga, kan? Setidaknya, Zach meluangkan waktu untuk mengajaknya sekadar melihat pemandangan di pantai. Ivana pasti akan sangat bahagia.
"Sebaiknya kau beristirahat, karena aku ingin membawamu memeriksakan diri ke dokter sekali lagi," saran Zach, sudah dengan kalimat dan intonasi yang cukup lemah lembut menurutnya. Namun, Ivana masih bergeming di tempatnya sekarang.
"Untuk apa? Aku sehat dan tidak terluka sama sekali."
"Memeriksakan kandunganmu."
Ivana memutar bola matanya, kemudian menghadap pada pria yang masih tenang di mana ia berada sebelumnya.
"Kau sudah tahu kalau aku tidak mengandung, kan? Lalu untuk apa lagi—"
"Kita akan memprogramnya. Ini mengenai bayi—"
Ivana mengangkat tangannya ke udara sebagai tanda agar Zach berhenti bicara. Ia tak suka pria itu berbuat seenaknya dan mengatur kehidupan Ivana.
"Kalau begitu temani aku berjalan-jalan. Jangan hanya aku saja yang harus melakukan segala keinginanmu, aku juga punya keinginan dan kau seharusnya memberikannya. Seperti yang tertera dalam kontrak, kuharap kau tidak lupa. Sekarang temani aku ke pantai."
Zach tak memberi jawaban, ia melirik benda yang melingkar di pergelangan tangannya, seolah waktunya lebih berharga dibanding Ivana. Mungkin memang begitu, tetapi seharusnya ia sadar apa yang dikatakan Ivana beberapa menit lalu juga sama sekali tidak keliru.
“Hanya diam? Tak ingin memberi apa yang kuminta? Baiklah ... kalau begitu aku tak peduli dengan perintahmu, Tuan Pemaksa! Aku akan tetap pergi. Persetan dengan kau!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments