Bittermoon

Wajah Ivana memucat seketika. Haruskah penanaman benih itu dilakukan malam ini juga? Tak bisakah jika ia meminta agar ritual itu ditunda sampai ia benar-benar siap?

Ivana menoleh ke belakang, menatap iris hazel milik lelaki yang berdiri tak jauh darinya. Zach membelai ceruk leher Ivana, membuat gadis itu tanpa sadar meloloskan desah*an lirih dari bibirnya.

“Zach ....”

Pria itu berlutut di hadapan Ivana demi bisa mendengar perkataan yang hendak diucapkan oleh gadis itu.

Ia memandang bola mata indah itu dalam-dalam, ada hal yang terbaca oleh Zach, tetapi tak bisa ia terjemahkan. Bisa jadi Ivana takut melakukannya, atau bisa juga karena berubah pikiran.

“Apakah harus malam ini?” tanya Ivana, yang sejak tadi didera cemas. Ia takut akan seperti yang dikatakan banyak orang, bahwa bercinta pertama kali akan sangat menyakitkan.

Zach bisa mengerti, meski belum pernah ada wanita yang berhasil menjalani tugas ini. Ia bahkan punya ketakutan yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Ivana.

Bagaimana jika hasilnya sama seperti sebelumnya?

Bagaimana jika Ivana mengalami hal seperti yang dialami wanita-wanita sebelumnya?

Bagaimana ....

“Apakah kau takut?” tanya pria itu. Ivana mengangguk. Matanya tak lepaskan tatapan dari sosok pria rupawan yang masih berjongkok di hadapannya.

“Aku akan melakukannya perlahan. Aku janji.”

Memang seperti itu yang harus dilakukan oleh Zach. Karena bisa saja Ivana merasakan lebih dari apa yang dialami wanita lain. Dan juga mungkin akan sama mendebarkan seperti sebelum-sebelumnya. Oleh karena itu, tak bisa disalahkan jika Zach sedikit didera trauma.

Pria itu akhirnya memutuskan untuk bangkit dan membantu Ivana untuk berdiri berhadapan dengannya.

“Ehm ... masalahnya, Zach ....” Ivana menjeda perkataannya, membuat lelaki itu menunggu cukup lama. “... aku sedang datang bulan.”

Zach hanya mengernyit.

Selama ini ia lupa kalau perempuan tentunya berbeda dengan lelaki, secara biologis. Ia tidak memperkirakan hal yang satu ini, yang artinya, ia masih harus menunggu untuk melakukan penanaman benih pada Ivana yang kini telah menjadi istrinya.

Pria itu sempat dibuat gamang sesaat, merasa kalau apa yang baru saja ia lakukan menunjukkan seolah dirinya sungguh-sungguh menginginkan Ivana secara se*sual, bukan hanya kepentingan menyewa rahimnya.

Sebenarnya tidak begitu.

Zach kini telah memasuki usia tiga puluh lima tahun, dengan bayang-bayang bahwa dirinya tak akan pernah memiliki keturunan, tentu saja membuatnya tak bisa berpikir jernih. Toh ia nanti melakukan itu pun bukan dikarenakan cinta.

Tidak sama sekali.

Semuanya murni karena keinginan untuk memiliki penerus. Persetan dengan perasaan Ivana—yang kenyataannya tak masalah dengan sikap Zach barusan.

Masalahnya hanya karena gadis itu sedang datang bulan, bukan karena menolak untuk berhubungan dengan Zach, bukan?

“Tak masalah. Kabari aku kalau kau sudah ‘bersih’.”

Pria itu kemudian keluar dari kamar Ivana, dan pastinya kembali ke mansion utama. Sementara Ivana, dengan hati yang gundah, masih memikirkan apa yang akan terjadi padanya jika ia tetap dengan kehidupan semacam ini.

Lihat saja, Zach pergi begitu saja ketika tahu bahwa Ivana tak bisa melakukan hubungan ba-dan dengannya.

Zach akan datang, hanya jika ia ingin melakukan penanaman benih, seperti yang ia katakan, dan itu tentu saja membebani Ivana.

Apakah itu artinya ia akan dikunjungi hanya ketika Zach mencari sebuah pemuasan? Lantas apa bedanya dia dan wanita simpanan kalau seperti itu cara mainnya?

“Tidak. Zach bukan pria seperti itu, aku yakin. Ia bahkan tidak pernah sembarangan menyentuhku, ia juga sudah menjelaskan kalau dirinya hanya menginginkan keturunan dan tak bisa menjanjikan cinta. Itu sudah jelas, Ivana. Jangan terlalu berharap,” gumam Ivana, bermonolog, kemudian bangkit dan berbaring di ranjangnya.

Anggap saja malam ini ia gagal melakukan simulasi. Karena sesungguhnya dirinya tidak sedang datang bulan, melainkan masih ragu untuk melakukannya.

...➿〰️➿...

Ivana sedang berada di mansion utama, menanti Zach yang tengah membersihkan diri dan siap untuk berangkat bekerja, sementara dirinya akan di rumah seharian dan tidak pergi ke mana pun.

Ia segera mendatangi Zach saat melihat lelaki itu sudah berdiri di depan kaca, dengan handuk masih melilit di pinggangnya dan dada yang masih telan*jang.

“Zach! Apakah kau akan bekerja?” tanya Ivana, langsung merebahkan tubuh di atas sofa dan menghadap pada zach yang tengah bersiap.

“Hmm ....”

“Apakah kau tidak meminta cuti? Kita bisa berjalan-jalan menikmati bulan madu kita.” Ivana mengulas senyum ceria, membayangkan akan melakukan wisata kuliner dan menatap indahnya pemandangan di sekitar kanal.

Entah mengapa pikirannya tertuju pada Venezia. Kota impian yang selalu menjadi tempat tujuan, saat nanti menemukan cinta sejatinya.

Namun, dengan kehidupan yang ia pilih sekarang, mungkinkah ia akan menemukan cinta sejati?

Zach tidak langsung menjawab pertanyaan Ivana, seolah dengan diamnya sudah merupakan jawaban pasti. Memang benar, meski mereka pergi untuk berlibur ke mana pun, tak menjamin Ivana akan memberi kesempatan Zach untuk melakukan penanaman benih.

Ivana hanya ingin bersikap sedikit idealis dengan mengulur waktu.

Dulu, ia sempat berpikir, ingin memberikan keperawanannya pada lelaki yang ia cintai, tetapi sering kali hal yang terjadi justru di luar bayangan.

“Kau ingin ke mana, memangnya?” tanya lelaki itu, setelah selesai memakai losion dan lainnya. “Bisakah kau keluar dulu? Aku tidak bisa berpakaian kalau kau ada di sini.”

Ivana mencebik, lalu bangkit dari sofa.

“Kau juga tidak akan bernafsu terhadapku, kan? Lagi pula, pernikahan ini hanya demi agar kau mendapatkan keturunan, jadi aku tidak takut meski kau tidak berpakaian, tidak akan terjadi sesuatu. Benar begitu, kan?”

Zach hanya mendengkus.

“Tunggu aku di luar. Setelah selesai berpakaian, kita akan diskusikan tentang cuti, atau apa pun yang kau mau.”

Ivana akhirnya hanya bisa patuh pada apa yang dikatakan oleh Zach. Wajar jika lelaki itu tidak terlalu antusias, mungkin sama seperti dirinya yang masih ragu untuk menyerahkan hal yang paling ia jaga selama ini.

Ia bahkan tak pernah membayangkan kalau keperawanannya akan dibayar dengan materi dan risiko lain termasuk hal yang ia sukai sebagai penyanyi kelab.

Apa bedanya Ivana dengan perempuan yang rela jadi simpanan? Semua demi materi juga, bukan? Meski Ivana tidak menghancurkan pernikahan orang lain, tetap saja, ia seorang simpanan sekarang.

Dan tak hanya Ivana yang merasakan kegamangan. Zach pun merasakan hal yang sama. Ia, di dalam ruangannya, tidak juga berpakaian seperti yang ia katakan, melainkan tengah menimbang apa yang dikatakan oleh Ivana.

Zach mengingat kembali apa saja yang diminta oleh gadis itu sebagai syarat dalam perjanjian antara mereka. Hal sederhana yang tak pernah terpikirkan oleh gadis lain yang pernah ia kenal.

Ivana hanya meminta hatinya, bukankah itu tidak sulit?

Ivana menunggu, hingga Zach keluar dari kamarnya dengan tampilan seperti biasa. Namun, ada hal yang membuat senyuman Ivana terkembang saat melihat kedatangan lelaki itu.

Zach tidak mengenakan setelan jas kerja, melainkan kaos oblong dengan blazer sebagai outer.

“Kita akan pergi ke mana dulu? Kau yang menentukan.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!