Ivana sudah setuju dengan apa yang ia tanda tangani, artinya ia dan Zach akan memulai segalanya. Fitting baju pengantin juga sudah selesai sejak kemarin, taman di belakang mansion milik Zach sudah ditata sedemikian rupa oleh wedding organizer yang dipilih oleh pria itu.
Ivana sudah mengabari Zach bahwa dirinya akan memindahkan beberapa barang dari flatnya ke mansion utara di kediaman Zach.
Belum resmi menjadi sepasang suami istri, Zach sudah menunjukkan kepemilikan terhadap Ivana. Ia tak rela jika gadis itu pergi seorang diri, sehingga memutuskan untuk menemani.
“Mana saja barang yang akan kau bawa?” tanya Zach saat melihat ruangan berukuran sempit yang selama ini menjadi tempat tinggal calon istrinya.
“Aku sudah memindahkannya ke dalam box dan kita tinggal membawanya. Apakah kau bisa membantu mengangkatnya?”
Zach hanya mengangguk, kemudian ia membawa satu per satu barang tersebut naik dan menuruni tangga beberapa kali. Pria itu melakukannya sendiri dan melarang Ivana untuk ikut serta membantunya. Namun anehnya, Zach sama sekali tidak tampak kelelahan.
Ivana sedikit merasa curiga, bahkan pria itu tak sedikit pun menitikkan keringat akibat apa yang baru saja dikerjakan. Napasnya masih begitu normal seperti tak pernah melakukan apa pun.
Tidak! Itu bisa jadi hanya hal kecil yang menyelinap di benaknya. Ia tepis semampunya kemudian mengekor langkah Zach yang sudah tiba di mobilnya.
Mereka memindahkan barang dibantu beberapa orang, langsung memasukkannya ke mansion utara di mana Ivana nantinya akan tinggal. Ivana kini didera tanya, berapa jumlah mansion Zach dan siapa yang menghuninya?
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Ivana yang sudah tak tahan dengan berbagai gema di kepalanya yang memaksa gadis itu untuk meluruskan masalah perkara mansion.
Itu memang bukan haknya, tetapi ia tak bisa mencegah dirinya untuk mencari tahu apa yang membuatnya terombang-ambing oleh keraguan karena hal sepele itu.
Ia harus memastikan bahwa dirinya adalah satu-satunya. Ia cemburu jika ada yang lain.
“Tanyakan saja, tetapi jika kau sudah mengetahui segalanya, jangan berpikir untuk melarikan diri dari tempat ini, apalagi dariku!” tegas Zach.
“Aku hanya ingin bertanya, kau memberi nama mansion utara, apakah berarti ada timur, barat, dan selatan? Jika ada, siapa yang menghuninya?”
Zach terdiam sejenak. Ia lalu berbalik demi menatap bola mata hazel milik gadis di sampingnya. Kini mereka telah berhadap-hadapan, Zach ingin memastikan gadis itu tak salah paham terhadapnya.
Entah sejak kapan pendapat gadis itu mengenai dirinya menjadi begitu penting.
“Kau benar. Memang ada empat mansion di kediamanku. Dan kurasa tak masalah jika aku memberi sedikit garis besar, agar kau tidak salah paham.” Zach menjeda sebentar, tubuhnya ia putar menghadap ke arah utara.
“Mansion utara, itu milikmu, dan mansion barat, seharusnya kau juga sudah tahu.” Tangan Zach menunjuk pada bangunan yang paling megah di antara lainnya. “Itu tempatku. Dan yang menghuninya tentu saja hanya aku. Tak ada siapa pun selain aku dan para pelayan yang tugas mereka hanya di bagian belakang.”
Zach kemudian menghadap arah lain dan melanjutkan penjelasannya.
“Selatan, adalah tempat tinggal semua pelayan dan orang-orang yang bekerja untukku. Mansion selatan ini sering di sebut sayap, karena mereka seperti bertugas untuk melindungi mansion lain. Dan ... yang timur, itu lahan kosong. Sama sekali belum dibangun, dan kau seharusnya bisa mengenalinya. Itu yang menjadi altar pernikahan kita nanti.”
...➿〰️➿...
Ivana tidak melakukan apa pun selain berdiam dan mempercantik diri karena setelah resmi menjadi nyonya Levy, maka ia harus memenuhi apa yang diminta oleh Zach.
Ivana kini berdiri sejajar dengan altar yang nantinya akan menjadi tempat mereka mengikat janji.
Janji pernikahan palsu yang sudah tertulis dalam kontrak. Namun, Ivana yang tak ingin rugi, telah mengajukan syarat agar dipenuhi oleh Zach, tetapi lelaki itu tetap tak memberi kepastian.
Setidaknya katakan kalau dirinya akan mengusahakan agar bisa mencintai Ivana, tetapi Zach tetap bergeming.
“Aku mau bunga berwarna ungu, boleh?” tanya Ivana pada Zach yang ada di sampingnya dan turut mengawasi kinerja orang-orang yang ia sewa.
Permintaan Ivana, apa pun itu tentu saja dengan mudah akan ia penuhi.
“Apa pun yang kau suka. Berapa banyak?” tanya Zach yang mulai mengambil ponsel dan tampak menghubungi seseorang.
“Buat jadi karangan berbentuk pilar dengan puncak berbentuk hati. Meski pernikahan ini tanpa cinta, aku mau berakhir dengan cinta,” tuturnya dengan tatapan yang ia kunci pada manik lelaki tampan di sampingnya.
Zach terdiam sejenak, lalu mulai bicara dengan seseorang di sambungan telepon, meminta seperti apa yang Ivana inginkan. Jelas sekali di mata Ivana kalau lelaki itu memang sengaja menghindari perbincangan mengenai hal berbau cinta dengannya.
Ivana akan menjadi ratu di mansion itu sebentar lagi. Dan ia tak akan menyiakan sedikit pun.
Bukan untuk mendapatkan harta Zach, melainkan hati pria itu, tentunya.
Dan tak terasa tibalah hari yang dinantikan oleh keduanya, hari pernikahan mereka.
Zach dan Ivana berdiri berhadapan dan mengucapkan ikrar janji suci pernikahan di hadapan seorang tetua—yang dihormati dalam keluarga Zach, katanya—yang bertugas menjadi saksi dan mengikat keduanya secara sakral.
Kini Ivana telah duduk di dalam kamarnya, di mansion utara kediaman Zach, seperti yang dijanjikan pria itu.
Ia telah menjadi Nyonya Ivana Levy, sekarang.
Salah seorang pelayan pribadi yang disewa Zach untuk melayani Ivana, datang dengan membawakan air hangat di dalam bak kecil untuk merendam kaki gadis itu.
“Biar kubasuh dan kupijat kakimu, Nyonya Levy,” ucap pelayan itu, kemudian mulai melepaskan sepatu heels yang dikenakan oleh Ivana sejak tadi.
“Oh, jangan panggil aku nyonya, aku jadi merasa tua. Panggil Ivana saja. Aku memaksa,” balas Ivana sembari memejamkan mata menikmati pelayanan gadis yang usianya tampak lebih muda dibanding Ivana.
“Siapa namamu?” tanya Ivana.
“Elia, Nyonya. Maaf, aku tidak bisa memanggilmu hanya dengan nama.”
Ivana mengedikkan bahu, kemudian ia bangkit dari ranjang, duduk menghadap pada Elia.
“Apakah kau sudah lama bekerja untuk Zach?” tanya Ivana pada gadis yang masih memijat kakinya.
Gadis itu mengangguk.
“Sejak aku berusia belasan tahun, Nyonya. Apakah ada yang bisa kubantu? Mungkin kau ingin mengetahui beberapa hal mengenai tuan Levy.”
Wajah Ivana berbinar saat mendengar tawaran Elia. Ia mengangguk cepat, lalu gadis itu bersiap dengan apa pun pertanyaan yang akan diajukan oleh Ivana.
“Berapa usia Zach? Apakah ia sudah punya istri? Dan ... apakah dia pernah mencintai seorang perempuan sebelumnya?”
Elia terdiam sejenak seolah tengah mengingat. Ia kemudian mendekat pada Ivana, membisikinya sesuatu.
“Jadi dia pernah patah hati?” Elia mengangguk, sementara Ivana yang kini didera kegamangan. “Apakah itu sebabnya ia tidak memberi kepastian mengenai permintaanku?”
Dan Ivana terus memikirkan tentang itu hingga malam menjelang.
Ivana tengah berada di kamar, duduk di meja riasnya, saat menyadari kehadiran seseorang masuk dan sudah berada di ruangan yang sama dengannya.
Ivana tak perlu menoleh, karena pantulan bayangan pria itu sudah terlihat pada cermin di hadapannya.
“Apakah ini sudah waktunya?” tanya Ivana. Jantungnya berdegup tak karuan, membayangkan seperti apa rasanya melakukan pertama kali dengan seorang pria.
Ia sungguh belum pernah tersentuh siapa pun. Baik pria maupun wanita. Bukan karena menjaga diri, melainkan belum ada yang benar-benar berhasil memikat hatinya.
“Kau sudah siap? Jika sudah, kita akan melakukannya malam ini.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
💜Marlin🍒
wuuuuaaaaahhhh meleh ku di buat nya 🤧🤧🤧
2022-12-16
2