...🔥❤️WARNING!❤️🔥...
...🔥STEAMY SCENE! RESTRICTED TO UNDER 18!🔥...
...🔥❤️Happy reading, all❤️🔥...
“B-bagaimana kalau nanti malam saja? Kau bilang akan ada desainer, kan? Dan kau sudah terlambat bekerja, Zach!” tolak Ivana yang tak membuat Zach bergeming dari apa yang hendak dilakukannya terhadap Ivana.
Gadis itu makin tak karuan. Dadanya bergemuruh, gelisah ia rasakan kini, karena tak mungkin lagi membuat alasan jika ternyata Zach meminta hal itu padanya sekarang juga.
Malam nanti sekalipun, tetap saja terdengar mengerikan.
Bagaimana jika seperti yang dikatakan orang-orang bahwa melakukan itu pertama kali akan sangat menyakitkan? Tulang-tulangmu seakan patah, kedua pangkal paha akan terasa seperti robek, dan macam-macam kengerian lain yang mereka gambarkan.
Benar tidaknya, Ivana tak tahu dan tak ingin tahu.
Selama ini ia menjadi perempuan yang sangat kuno dengan menjaga keperawanannya yang ia niatkan hanya untuk suaminya kelak. Dan sekarang, Zach sudah menjadi suaminya, tetap saja ia tak yakin untuk menyerahkan miliknya yang berharga.
Bagaimana pun, pernikahannya dengan Zach tanpa didasari cinta. Jadi, wajar kalau Ivana tidak yakin untuk berserah pada pria itu.
“Tak masalah meski desainernya menunggu. Dan masalah pekerjaan, aku bosnya,” jawabnya.
Tanpa babibu, pria itu mengangkat tubuh Ivana dengan begitu mudah, lantas membopong di pundaknya. Ia kemudian mendudukkan gadis itu di atas meja bar yang bersih.
Tangan Zach meraih sebuah tombol yang tak jauh letaknya dari meja, menekannya sekali dan sebuah pintu geser bergerak menutup, memberi ruang privat bagi keduanya untuk melakukan apa pun yang mereka suka.
“Kau tak perlu cemas. Mereka sudah tahu, kalau ruangan ini sudah tertutup, artinya aku butuh privasi.”
Bukan! Bukan masalah itu yang Ivana cemaskan, melainkan judul cerita yang masih sama. Akan sakit atau tidak.
Zach tak ingin mendengar alasan lain dari istrinya. Ia kembali mendaratkan ciuman di bibir Ivana yang masih terasa manis dan seharum cherry, Zach tak tahan untuk tidak mengecupinya. Beberapa detik yang berlalu, Zach merasakan sensasi seperti orang mabuk, hingga yang tampak di matanya hanyalah pesona Ivana.
Ivana yang memesona ....
Ivana yang menggoda ....
Ivana yang wangi, yang memabukkan, yang mengg*airahkan ....
Dan segala kata-kata indah yang pantas menggambarkan gadis cantik bernama Ivana yang kini telah menjadi istrinya.
Zach boleh menyentuh gadis itu, sekarang—meski dalam tradisi keluarganya, ia seharusnya boleh menyentuh Ivana meski tanpa melalui prosesi sakral yang dinamakan pernikahan.
Jika telah dikatakan bahwa Ivana adalah jodohnya, yang mungkin akan memberi keturunan baginya, maka sudah seharusnya ia berhak atas gadis itu. Seluruhnya.
Ivana kini tak bisa berkutik. Zach jelas tak akan memberi ampun padanya, atau bahkan sekadar jeda. Karena nyatanya sejak tadi, kecupan dan pagutan yang ia hadiahkan pada gadis itu tak juga cukup mengobati rasa yang mungkin serupa dahaga.
Zach seakan tengah meneguk air laut, yang tak bisa menyembuhkan rasa hausnya. Ia tak akan pernah cukup hanya satu kali, jika itu dengan Ivana.
Sementara itu, bagaimana dengan Ivana sendiri? Apakah ia merasakan hal yang sama?
Tentu sama saja, karena sejak awal Zach sudah berhasil menarik perhatian dan hatinya. Dan kini, merasakan sentuhan pria yang telah menjadi suaminya, terasa luar biasa berbeda dibanding apa yang ia bayangkan.
Jadi seperti inikah rasanya berciuman? Karena ini adalah ciuman pertama Ivana.
Beginikah sensasi saat tangan seseorang menelusur tiap-tiap jengkal permukaan kulitnya? Terlebih, Zach yang melakukannya.
Ivana tak ingin berhenti ... ia tak akan biarkan Zach berhenti.
Entah sudah berapa kali, ia tak mampu menahan agar tak meloloskan desa*an liar yang sembarangan keluar dari mulutnya. Bahkan racauan tak tentu yang sesekali sempat membuat Zach tergelak sesaat.
“Kau ini kenapa, Ivana?” Zach memberi jeda, yang artinya kesempatan bagi Ivana untuk bernapas sebentar. “Apakah kau takut?”
“T-takut? Tidak sama sekali!” jawabnya, pongah. Zach tersenyum simpul, sebelum kemudian melanjutkan permainannya.
Baiklah ... kita lihat buktinya kalau Ivana memang tidak merasakan takut, seperti yang baru saja ia ucapkan.
Zach dengan beringas menarik kedua sisi pakaian Ivana dengan kedua tangannya, yang membuat helaian kain yang membungkus tubuh padat berisi itu tercabik tak keruan. Zach kemudian memandangi tubuh polos gadis yang masih berada di atas meja bar—menutupi dadanya yang terbuka dengan kedua tangannya menyilang di sana.
Ivana melemparkan pandangan ke arah lain. Malu, pastinya, karena dipandangi sedemikian rupa.
“Jangan seperti pria mesum, memandangiku seperti itu! Lakukan apa yang ingin kau lakukan!” sergah gadis yang wajahnya mulai semerah buah plum.
Bagi Zach, Ivana cocok memakai lipgloss dengan rasa cherry itu, karena sedikit banyak menggambarkan gadis itu secara karakter dan fisik.
Ivana layaknya buah cherry, kecil dan padat—secara fisik. Dan karakternya ... ia manis, sedikit masam, wangi, dan menggoda. Tak ada yang tidak menyukai cherry, bahkan orang yang pertama kali merasakannya, pasti akan menginginkannya lagi.
Sama seperti Ivana.
Mungkinkah Zach mendadak jatuh cinta pada Ivana?
Tidak, tidak ... tidak mungkin!
Zach mungkin hanya terbuai ... tergoda akan pesona gadis yang semula dianggapnya tidak terlalu menarik, hingga ia heran ketika banyak lelaki yang menawarkan hal-hal berbau erotisme pada gadis itu.
Kini ia tahu alasannya.
Bukan Zach yang punyai sihir menggoda di dalam kedua bola matanya, melainkan Ivana, dengan segala yang ia miliki dalam dirinya.
Dan kini, berhubung Ivana sendiri yang memerintahkan Zach untuk melakukan apa yang sejak tadi memang ia niatkan untuk ia lakukan pada gadis itu, maka ini saatnya. Dengan sekali gerakan, ia nyaris mengobrak-abrik pertahanan Ivana yang cukup kuat selama dua puluh lima tahun ini.
Namun, sayang, belum juga berhasil sepenuhnya, gadis itu sudah memekik kesakitan.
“Kau mau aku berhenti?” tanya lelaki itu.
Mengejutkan, karena Ivana menjawab dengan gelengan.
“Kau tidak mungkin berhenti di tengah jalan, kan?” jawab Ivana, dengan peluh yang mulai membanjiri kening dan sekujur tubuhnya. Benar kata orang-orang, ini menyakitkan. Bahkan SANGAT menyakitkan.
“Kau tidak mengatakan kalau kau masih ‘tersegel’, Ivana!” keluh Zach yang masih bergerak, tetapi dengan ritme yang sangat pelan. Dan ia siap berhenti kapan pun Ivana memintanya untuk berhenti.
Namun, gadis itu sudah bertekad tak akan membuat Zach mundur dari serangannya, meski sesakit apa pun nanti jadinya. Dan kini ia sedang melunasi janjinya sendiri.
“Apakah aku terlihat seperti perempuan nakal, Zach?” tanya Ivana dengan napas terengah, merasakan sensasi yang bercampur aduk di bawah sana. “Aku bukan perempuan seperti yang kau kira. Itu sebabnya aku masih virgin.”
“Maafkan aku, kalau begitu. Lalu bagaimana sekarang?” tanya pria itu, terdengar sedikit mendesak, karena ledakan hormon yang mulai tak mampu ia bendung lagi.
Andai ia boleh bersikap egois, maka ia akan lanjutkan tanpa peduli bagaimana kondisi Ivana.
“Lanjutkan sampai kau selesai, bodoh!” erang gadis itu. Kukunya tanpa ia sadari mencakar permukaan meja berbahan stainless steel. Bukan nikmat yang dirasakannya, melainkan nyeri yang hebat. Setelah ini selesai, bisa jadi ia akan kapok melakukannya lagi, atau bahkan menginginkannya tanpa henti.
Entahlah ....
Zach, setelah mendapat mandat dari sang ratu—mempercepat ritmenya, membuat keduanya berhasil mencapai pelepasan bersamaan. Ia menembakkan seluruh pelurunya tepat sasaran, sementara Ivana sudah tak berdaya karena sensasi ledakan luar biasa yang ia rasakan untuk pertama kalinya.
Dikuasai sensasi ledakan tak terbendung, Zach tanpa sadar menarik rambut Ivana di sela erangnya, kemudian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu dan menancapkan taring tajamnya. Tak lupa, kuku panjang Zach yang tiba-tiba muncul, ia goreskan di sana, juga di pergelangan tangan Ivana, tepatnya di sisi sebelah dalam.
"Ah! Apa yang kau lakukan, Zach? Itu sakit!" pekik Ivana, saat gigi dan kuku Zach menancap di permukaan kulitnya.
"Maafkan aku. Nanti akan kuberi obat untuk lukamu." Zach kemudian mengecup kening Ivana, dan menjauhkan tubuhnya dari istrinya yang masih terbaring di tempat yang sama seperti sebelumnya. Ia memakai celananya serampangan, lalu memakaikan kemeja miliknya di tubuh Ivana.
Zach kemudian mengambil salep luka dan mengobati bekas tanda di tubuh Ivana yang dibuat olehnya. Ivana kini sudah menjadi miliknya dan tak akan bisa dimiliki oleh pria lain.
Sementara itu, Ivana masih bergeming. Ia tak akan lupa rasa yang dihadiahkan oleh Zach beberapa menit lalu, bahkan akan selalu mengingatnya. Karena ia pastikan, dirinya akan menginginkannya lagi, keesokan harinya.
Atau bahkan mungkin setelah ini, ia akan meminta sesi kedua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
💜Marlin🍒
semangat thor 🥰🥰🥰
2022-12-20
2